25.5 C
Indonesia
25 Agustus 2019

Ini Dalil Hubbul Wathan dalam Al-Quran

Ini Dalil Hubbul Wathan dalam Al-Quran 1
Sebagian kelompok berasumsi bahwa cinta tanah air tidak ada dasarnya dalam Al-Quran.
Bahkan mereka menganggap tanah air layaknya segenggam tanah yang tak bernilai. Sebab,-kata mereka-konsep bernegara dan berkebangsaan bertentangan dengan konsep khilafah yang didengungkannya. Semua negara di dunia ini mereka anggap hanya batas-batas geografis semata yang dibuat oleh para imperialis kafir. Tentu pemahaman dan asumsi ini harus diluruskan selurus-lurusnya.
Mufassir kenamaan sekelas Fakhruddin Al-Razi (w. 606 H), saat menyitir QS Al-Nisa’ [4]: 66
وَلَوْ أَنَّا كَتَبْنَا عَلَيْهِمْ أَنِ اقْتُلُوا أَنفُسَكُمْ أَوِاخْرُجُوْامِن دِيَارِكُمْ مَا فَعَلُوْهُ إِلَّا قَلِيْلٌ مِنْهُمْ
Andai saja kami wajibkan bagi mereka untuk membunuh diri kalian atau keluar meninggalkan tanah air kalian, tidak akan ada dari mereka yang melakukannya kecuali segelintir orang saja.
Al-Razi menangkapkesan nasionalisme pada ayat ini. Beliau dalam tafsirnya Mafâtîhal-Ghaib(1981) menyatakan bahwa Allah swt sengaja mensejajarkan bunuh diri dengan meninggalkan tanah air. Kesan ini ditangkap dan diresapi secara mendalam oleh ulama muda al-Azhar masa kini, Usamah al-Sayyid al-Azharî. Menurutnya, angkat kaki meninggalkan kampung halaman (hijrah)merupakan hal yang sangat berat dilakukan dan butuh kesabaran ekstra. Rasa berat dan sulit ini kadarnya menyamai rasa sakit saat jiwa ini terbunuh. Hal ini menunjukkan hubungan seseorang dan rasa kecintaan terhadap tanah airnya memiliki tempat terdalam di hati. Demikian penjelasannya dalam al-Haqq al-Mubîn fî al-Radd ‘alâ man Talâʻaba bi al-Dîn (2015).
Al-Azharî kemudian memperkuat pendapatnya dengan pandangan Al-Mulâ Ali al-Qarî (w. 1014 H) dalam Mirqâh al-MafâtîhSyarhMisykâh al-Mashâbîh(2014) bahwa QS al-Baqarah [2]: 191 yang menyebutkan bahwa cobaan (fitnah)yang dimaksud dalam al-fitnah asyadd Min al-Qatl adalah keluar meninggalkan tanah air sebab sebelumnya disebutkan akhrijûhum min Haitsu Akhrajûkum. Sehingga meninggalkan tanah air merupakan cobaan terberat dalam hidup.
وَأَخْرِجُوهُمْ مِنْ حَيْثُ أَخْرَجُوكُمْ وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْل
Usirlah mereka sebagaimana mereka mengusir kalian (dari kampung halaman kalian) dan cobaan (fitnah) itu lebih berat dari pembunuhan.
Selain ayat di atas, ada juga ayat yang mengisyaratkan rasa nasionalisme di dalamnya, yakni QS al-Qashash [28]: 85
إِنَّ الَّذِي فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لَرَادُّكَ إِلَى مَعَادٍ
Sesungguhnya Dzat Yang menurunkan Al-Quran (serta mewajibkan mengamalkan isinya) pasti mampu mengembalikanmu menuju tempat kembali
Redaksi maʻâyang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan tempat kembali mempunyai multi tafsir di kalangan mufassirin. Salah satu tafsir menyebutkan yang dimaksud dengan maʻâd adalah kota Mekah. Tafsiran tersebutdicantumkan dalam mayoritas kitab-kitab tafsir. Bahkan ‘gembong’-nya kitab tafsir –yang nota bene menjadi rujukan utama penafsiran para mufassirin- semisal al-Thabarî dan Ibn Katsîr juga menyebutkannya dengan sanad yang bersambung hingga Turjumân al-Qur’an, sahabat Abdullah bin Abbas.
Ismail Haqqî al-Khalwatî al-Istanbûlî (w. 1715)dalam h al-Bayân fî Tafsîr al-Qur’an (1331 H)menyatakan bahwa ayat di atas mengisyaratkan cinta tanah air salah satu bentuk keimanan (Hubb al-Wathan min al-Îmân). Sebab Nabi saw sering mengucapkan al-wathan… al-wathan… hingga Allah swt mewujudkan permintaan dengan memberi janji larâdduka ilâ maʻâd (pasti mengembalikanmu menuju Mekah).Demikianlah gambaran besarnya kecintaan Nabi saw terhadap tanah airnya.

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy