28 November 2020

Intruksi Langsung al-Qur’an dan Hadis Hormat Kepada Ibu


Oleh Fairozi*
Mengapa ibu lebih muliah dari laki-laki? karena ia dapat melahirkan. Salah satu tujuan paling muliah dari pernikahan adalah untuk membina keluarga dan meneruskan keturunan. KH. Muhammad Khalil Bangkalan dalam kitabnya, As-Silah bana An-Nikah menuturkan bahwa fungsi utama pernikahan adalah untuk membuahi anak solih-solihah yang senantiasa mendoakan kedua orang tuanya.
Seorang ibu menjadi sangat muliah dan bahkan oleh rasulallah disebutkan berulang tiga kali “ibumu” saat ditanya siapa yang harus dihormati/ditaati, tersebabkan karena karena ia telah mengandung dan melahirkan seluruh manusia (kecuali Nabi Adam). Maka dengan terus berlangsunya keturunan manusia dari rahim seorang ibu, tidak sia-sialah seorang Adam mengimpikan perempuan yang disebut Hawa di zaman azali itu.
Dalam al-Qur’an diwasiatkan bahwa menghormati kedua orang tua, terutama ibu merupakan kewajiban tak terelakkan bagi setiap manusia. Dalam surah Luqman ayat 14 Allah SWT berfirman:
وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُۥ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَٰلُهُۥ فِى عَامَيْنِ أَنِ ٱشْكُرْ لِى وَلِوَٰلِدَيْكَ إِلَىَّ ٱلْمَصِيرُ
Artinya: Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.
Tentang ayat ini dalam Mafatihul Ghaib Ar-Rozi menafsirkan kata wahnan ala wahnin dengan tiga (tiga) pengorbanan jerih-payah seorang ibu. “Seorang ibu mengalami tiga fase kepayahan, mulai dari fase kehamilan, kemudian melahirkan, lalu menyusui. Karena itu, ibu berhak mendapatkan kebaikan tiga kali lebih besar dibandingkan ayah,”.
Bukhari Muslim meriwayatkan, pada suatu ketika datanglah seorang sahabat kepada Rasullah dan bertanya: “Wahai Rasulullah, kepada siapakah seharusnya aku harus berbakti pertama kali?”. Nabi memberikan jawaban dengan ucapan “Ibumu” sampai diulangi tiga kali, baru kemudian yang keempat Nabi mengatakan “Ayahmu”. (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)
Imam Al-Qurthubi menjelaskan, “Hadits tersebut menunjukkan bahwa kecintaan dan kasih sayang terhadap seorang ibu, harus tiga kali lipat besarnya dibandingkan terhadap seorang ayah. Rasullah menyebutkan kata ibu sebanyak tiga kali, sementara kata ayah hanya satu kali. Hal itu karena kesulitan dalam menghadapi masa hamil, kesulitan saat melahirkan, dan kesulitan ketika menyusui dan merawat anak, hanya dialami oleh seorang ibu.
Ketiga bentuk kehormatan itu hanya dimiliki oleh seorang ibu, sementara seorang ayah tidak memilikinya. (Tafsir Al-Qurthubi : 239)
*Mahasiswa UNUSIA Jakarta yang alumni Tafsir Hadis Institut Ilmu Keislaman Annuqah.

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy