26.1 C
Indonesia
18 Agustus 2019
Penasantri Islam banjar II

Islam Banjar (2)

Perpaduan Kultur Demak dan Samudera Pasai
Oleh: Khoirul Anam dan Umi Hasanah
C.                Watak dan Manifestasi Islam Banjar
Urang Banjar dikenal sebagai masyarakat yang Islami. Hal itu terlihat dari maraknya kegiatan-kegiatan keberagamaan di urang Banjar. Daerah Banjar juga dikenal sebagai daerah seribu langgar (musholla). Suatu keadaan yang menunjukkan bahwa nafas Islami sangat kental di daerah ini.
Urang Banjar yang Islami itu tentu tidak terbentuk begitu saja seperti turun dari langit. Ada proses kompromistis yang terus menerus antara budaya lokal dengan budaya baru, dialektika antara urang Banjar dan Islam sebagai sistem pengetahuan.[1]
Agama dan budaya memiliki sejarah yang berkesan dalam setiap diri manusia. Sehingga budaya merupakan bagian dari kehidupan manusia yang melekat dan sulit untuk dipisahkan. Nilai-nilai budaya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan manusia.[2]
Islam diketahui telah tersebar di kawasan Banjarmasin secara luas melalui berbagai saluran penyebarannya serta perjumpaannya dengan aneka ragam kebudayaan setempat, telah mempengaruhi watak keislaman masyarakat Banjar secara tidak langsung.  Hal tersebut kiranya digerakkan oleh spirit Islam itu sendiri, setiap muslim akan berusaha untuk menjadikan ajaran Islam sebagai penuntun hidupnya, serta menginginkan nilai-nilai keislaman dapat hidup dilingkungannya. Sehingga kecenderungan tersebut memunculkan corak keislaman yang berbeda sesuai dengan kebudayaan yang telah mengakar di lingkungan mereka.
Secara umum Islam Banjar memiliki watak Islam yang akomodatif, terbuka terhadap lokalitas yang ada. Hal tersebut dapat dilihat dengan beragamnya tradisi dan budaya Banjar yang tetap dijaga pasca penyebaran Islam yang hampir merata. Banyak sekali budaya lokal yang masih sampai sekarang dilakukan di daerah Banjarmasin dan sekitarnya. Baik budaya tersebut dilakukan secara periodik dan bersifat sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Diantaranya yang akan penulis bahas dalam makalah ini antara lain: maulitan, baayun maulid, batapung tawar, bapalas bidan, serta Baarwahan dan Bahaulan.
Baayun Maulid[3]
Tradisi Maayun atau Baayun Anak yang kemudian disandingkan dengan peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW atau maulud Rasul (sehingga kemudian berubah menjadi Baayun Maulid) memberikan wawasan dan cara pandang lain, tetapi memiliki tujuan yang sama, yaitu mendoakan agar anak yang diayun menjadi anak yang berbakti, anak yang saleh, dan anak yang mengikuti Nabi Muhammad SAW sebagai uswah hasanah dalam kehidupannya kelak.
Menurut catatan sejarah, Baayun Anak semula merupakan upacara peninggalan nenek moyang orang Banjar ketika masih beragama Kaharingan. Tradisi ini semula hanya ada di Kabupaten Tapin (khususnya di Desa Banua Halat Kecamatan Tapin Utara) kemudian berkembang dan dilaksanakan di berbagai daerah di Kalimantan Selatan.
Orang-orang Dayak Kaharingan yang berdiam di Kampung Banua Halat biasanya melaksanakan upacara aruh ganal yang diikuti dengan prosesi Baayun Anak. Upacara ini dilaksanakan secara meriah dan besar-besaran ketika sawah menghasilkan banyak padi. Aruh ganal yang diisi oleh pembacaan mantra atau mamangan dari para balian dan dilaksanakan di balai.
Setelah Islam masuk dan berkembang serta berkat perjuangan dakwah para ulama, akhirnya upacara tersebut dapat diislamisasikan. Akulturasi terhadap tradisi ini terjadi secara damai dan harmonis serta menjadi substansi yang berbeda dengan sebelumnya, yaitu menjadi tradisi baru yang bernafaskan Islam.
Berdasarkan kenyataan di atas, Baayun Maulid atau Baayun Anak adalah proses budaya yang menjadi salah satu simbol kearifan dakwah ulama Banjar dalam mendialogkan makna hakiki ajaran agama dengan budaya masyarakat Banjar. Maulid adalah simbol agama dan menjadi salah satu manifestasi untuk menanamkan, memupuk, dan menambah kecintaan sekaligus pembumian sosok manusia pilihan, manusia teladan, Nabi pembawa Islam. Sedangkan Baayun Anak penerjemahan dari manifestasi tersebut, karena dalam Baayun Anak terangkum deskripsi biografi Nabi Muhammad SAW sekaligus doa, upaya, dan harapan untuk meneladaninya.
 
Islam Banjar (2) 1
 
Upacara Adat Pernikahan
1.         Basasuluh
Basasuluh merupakan kegiatan untuk saling mengenal antar calon mempelai. Kegiatan ini seperti tradisi ta’aruf dalam Islam dimana mempelai pria yang didampingi oleh keluarga berusaha untuk mendapatkan informasi mengenai calon yang ingin dinikahinya. Bila kedua calon telah mendapatkan informasi satu sama lainnya dan merasa cocok maka bisa dilanjutkan dengan upacara badatang.
2.         Badatang
Badatang merupakan kegiatan dimana mempelai pria dan beserta keluarganya mendatangi keluarga calon mempelai wanita yang ingin diperistri. Tradisi badatang hampir sama dengan tradisi lamaran. Calon mempelai pria dan keluarga menyampaikan maksud dan tujuannya untuk meminang calon istri. Di dalam acara badatang kemudian akan ditetapkan pula waktu untuk melaksanakan pernikahan.
3.         Nikah
Acara nikah suku Banjar biasa disebut juga dengan ‘Meantar Jujuran’. Pada acara nikah, mempelai pria dan mempelai wanita dinikahkan sesuai dengan hukum agama yang berlaku. Bila calon mempelai beragama Islam maka pernikahan dilakukan sebagaimana hukum pernikahan dalam Islam dengan menghadirkan penghulu, mahar, ijab qabul dan juga saksi-saksi.
4.         Batimung
Batimung merupakan upacara mandi uap yang dilakukan oleh pengantin pria dan pengantin wanita. Biasanya dilakukan 3 hari sebelum upacara pernikahan dan resepsi pernikahan. Upacara mandi uap dilakukan untuk menguras keringat kedua calon agar lebih bersih dan wangi, sehingga ketika nanti tiba waktu persandingan, kedua mempelai pengantin tidak akan mengeluarkan keringat lagi.
5.         Badudus
Tradisi badudus adalah kegiatan mandi kembang yang dilakukan oleh mempelai wanita. Mirip seperti tradisi siraman pada masyarakat suku Jawa. Tradisi badudus dilakukan pada pagi hari sebelum acara persandingan. Mempelai wanita dimandikan dengan air yang telah dilengkapi dengan berbagai macam taburan bunga. Pada saat tradisi badudus ini pula dilakukan tradisi yang namanya Belarap, yakni tradisi mencukur dan membentuk rambut pengantin wanita.
6.         Batapung Tawar
Upacara Batapung Tawar dilakukan bersamaan dengan upacara badudus. Upacara batapung tawar dilakukan sebagai bentuk penebusan atas berakhirnya masa perawan dari seorang wanita yang akan menikah. Dalam upacara batapung tawar disediakan berbagai perangkat yang melambangkan keperluan pokok rumah tangga. Diantara perangkat yang disiapkan adalah seperti beras, kelapa, gula merah, ayam, telur ayam, pisau, lilin, uang koin (receh), jarum dan benang, sirih, rokok daun dan berbagai rempah-rempah dapur. Masing-masing perangkat memiliki kandungan makna filosofisnya sendiri-sendiri yang menggambarkan makna kehidupan berumah tangga. Berbagai perangkat tersebut dimasukkan kedalam sebuah keranjang yang kemudian diserahkan kepada tetua adat kampung yang memimpin jalannya upacara badudus.
7.         Walimahan
Upacara walimahan merupakah acara resepsi atau pesta pernikahan yang dilaksanakan oleh keluarga pengantin dengan mengundang sanak keluarga dan kerabat untuk memberikan restu kepada pengantin. Pada acara walimah suku Banjar, kegiatan gotong royong sangat kental terasa. Dalam tradisi mereka, tuan rumah penyelenggara resepsi tidak diperbolehkan untuk mengurus kepanitiaan pernikahan, para tetanggalah yang kemudian secara gotong royong membentuk semacam kepanitiaan guna mengurusi segala macam keperluan pesta pernikahan yang akan diselenggarakan, mulai dari kebutuhan tenda, sajian kesenian, sajian makanan bagi para tamu undangan dan berbagai urusan dan kebutuhan pesta lainnya.
8.         Petataian
Petataian merupakan kursi dan hiasan pelaminan khas Banjar yang disiapkan sebagai tempat pengantin untuk menerima para tamu undangan. Petataian biasanya diberi hiasan dibagian belakang kursi pengantin maupuan di sisi kanan dan sisi kirinya, seperti hiasan ornamen kain, maupun gucci dan tanaman sebagai pemanis dan pengindah pelaminan.
9.         Batataian
Batataian merupakan kegiatan puncak pernikahan. Pengantin pria dan wanita bersanding di kursi petataian dan kemudian keduanya menerima para tamu undangan. Namun sebelum pengantin menerima tamu undangan biasanya didahului dengan upacara sujud pada orang tua serta makan bersama, baru kemudian pengantin diarak untuk duduk di petataian.[4]
Satu hal lagi yang perlu dicatat adalah dalam upacara perkawinan Urang Banjar biasanya selalu mengenakan kain sasringan (sejenis tenun) berwarna kuning bagi mempelainya, keharusan ini karena warna kuning dianggap memiliki nilai sakral.
Budaya Jujuran pada Adat Perkawinan Banjar
Jujuran adalah pemberian dari pihak laki-laki kepada pihak perempuan, baik berupa uang atau benda yang dimaksudkan sebagai biaya pesta pernikahan mereka.[5] Jujuran ini berbeda dengan mahar, karena mahar adalah kerelaan hati calon mempelai laki-laki untuk memberikan mahar kepada calon mempelai perempuan.
Rifqi Akbari dalam skripsinya mengungkapkan faktor-faktor yang mempengaruhi besaran uang jujuran yang harus dikeluarkan mempelai pria kepada mempelai perempuan,[6]yaitu:
a.                   Pasaran daerah calon mempelai perempuan,
b.                  Status sosial orang tua calon mempelai perempuan,
c.                   Tingkat pendidikan calon mempelai perempuan,
d.                  Kecantikan calon mempelai perempuan, dan
e.                   Permintaan orang tua calon mempelai perempuan.
Tradisi ini masih terus dilaksanakan hingga sekarang meski mengalami penyederhanaan dalam praktiknya.
Kesenian Hadrah al-Banjari
Seni hadrah al-banjari merupakan sebuah kesenian Islami sebagai pengiring nasyid dan salawat –terlepas dari perdebatan asal usulnya, namun Banjarmasin telah berperan penting dalam memasyarakatkan kesenian tersebut hingga penamaannya dinisbatkan kepada Banjarmasin Kalimantan. Iramanya yang menghentak, dan variatif menjadikan kesenian ini menarik khalayak pada umumnya.
Hadrah merupakan jenis musik rebana yang mengguanakan alat musik tradisi Melayu berjenis gendang yang tergolong dalam kategori membranophonesebagai pengiringnya. Alat musik ini mempunyai kerangka yang bulat dan terbuat dari dari kayu dan sebelah depannya ditutupi oleh kulit binatang.[7]
Dalam konteks dakwah, rebana di gunakan alat dakwah ampuh melalui bidang kesenian oleh ulama penyebar Islam terdahulu untuk merangkul masyarakat Indonesia yang kebanyakan menyukai kesenian musik, di mana di dalam kesenian rebana tersebut berisi syair-syair penghormatan terhadap Rasulullah SAW dan nasehat serta pesan agama.[8]
Ditengah gerusan modernisasi, hadrah al-Banjari hingga kini cukup dikenal luas dan masih hidup di kawasan Nusantara, terutama bagi kalangan masyarakat pesantren. Kesenian ini seringkali digelar dalam acara-acara seperti maulid nabi, isra’ mi’raj, ataupun hajatan. Terlebih lagi hadrah al-Banjari juga sering dilombakan di dingkat daerah maupun tingkat nasional. Oleh karena itu kesenian khas Banjar tersebut telah memberi pengaruh besar dalam menjaga tradisi keislamannya sunni.


[1] Muhammad Iqbal Noor, “Nalar Keislaman Urang Banjar”, h. 185.
[2] Zakiah Daradjat, dkk, Ilmu Pendidikan Islam, Cet.V (Jakarta: Bumi Aksara, 2004),h. 29.
[3] Zulfa Jamalie, “Akulturasi Dan Kearifan Lokal Dalam Tradisi Baayun Maulid Pada Masyarakat Banjar,” dalam jurnal el Harakah Vol.16 No.2 Tahun 2014, h. 235-236
[4] https://ilmuseni.com/seni-budaya/kebudayaan-suku-banjar, diakses pada 03 Maret 2019
[5] Rifqi Akbari, Jujuran dalam Adat Banjar (Kajian Etnografis Hukum Islam dalam Perkawinan Adat banjar), Skripsi, (Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah, 2018), h. 38
[6] Rifqi Akbari, h. 40-42
[7] Muhammad Ashsubli, Islam dan Kebudayaan Melayu Nusantara, (Menggali Hukum dan Politik Melayu dalam Islam), (Jakarta, Penerbit Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia, 2018), h. 227.
[8] Muhammad Ashsubli, Islam dan Kebudayaan Melayu Nusantara, (Menggali Hukum dan Politik Melayu dalam Islam), h. 228.

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy