30 C
Indonesia
5 Desember 2019
Penasantri Islam Banjar

Islam Banjar (I)

Perpaduan Kultur Demak dan Samudera Pasai
Oleh: Khoirul Anam dan Umi Hasanah
A.                Sejarah Banjar, Budaya dan Proses Islamisasinya
Banjar adalah salah satu daerah yang berada di Provinsi Kalimantan Selatan. Di Kalimantan Selatan, yang biasaya disebut sebagai orang Banjar ialah penduduk (asli) daerah Kota Banjarmasin. Daerah ini meluas sampai kota Martapura, ibukota Kabupaten banjar dan wilayah sekitarnya. Orang-orang dari Hulu Sungai yang bepergian ke daerah tersebut menyebut kepergian mereka dengan “labuh ke Banjar”.[1]
Sama halnya dengan wilayah lain yang berada di Nusantara, Banjar memiliki akar sejarah dan budaya tersendiri baik yang berasal dari dalam maupun luar daerah Kalimantan. Dalam hal bahasa, terdapat persamaan besar antara bahasa yang dikembangkan suku Banjar dengan bahasa Melayu, hal ini dimungkinkan saja bahwa nenek moyang sukubangsa Banjar bagian pecahan sukubangsa Melayu yang lebih dari seribu tahun lalu berimigrasi besar-besaran dari wilayah Sumatera dan sekitarnya.[2]
Imigrasi besar-besaran dari sukubangsa Melayu kemungkinan tidak terjadi dalam satu gelombang sekaligus. Barangkali suku Dayak Bukit yang sekarang ini mendiami Pegunungan Meratus adalah sisa-sisa dari imigran-imigran Melayu gelombang pertama karena bahasa mereka dapat diidentifikasikan sebagai bahasa Banjar yang agak kuno serta tidak memiliki tradisi mengayau (tradisi berburu dan memenggal kepala manusia) seperti suku Dayak lainnya.
Mungkin sekali mereka pada mulanya mendiami wilayah yang jauh lebih ke hilir tetapi mereka kemudian terdesak oleh kelompok-kelompok imigran yang datang belakangan dan juga dalam proses selanjutnya kelompok-kelompok Banjar mendesak mereka pula sehingga akhirnya mereka berada lebih jauh di Pegunungan Meratus. Imigran yang datang belakangan inilah barangkali yang menjadi inti dan kemudian, setelah berlalu waktu dan banyak kelompok Bukit, Manyan dan Ngaju melebur ke dalamnya lalu berkembang menjadi sukubangsa Banjar. Nama Banjar diperoleh ketika pusat kekuasaan berada di Banjarmasin dan sesuai dengan kesultanan yang memerintah dinamakan Kesultanan Banjarmasin atau disingkat Banjar.
Asal usul suku bangsa Banjar juga dapat dilihat dalam Hikayat Banjar yang berisi tentang sumber sejarah bagi riwayat suku Banjar pada zaman kuno serta cerita asal usul sultan-sultan Banjar. Hikayat menyebutkan bahwa asal usul terbentuknya Kerajaan Banjar bermula dari kedatangan rombongan imigran dari Kaling, India yang mencari tanah  air baru di kawasan ini. Meskipun hikayat menyebut jelas tentang India, tetapi ada beberapa pendapat bahwa negeri asal imigran adalah salah satu tempat di Jawa Timur yaitu sebuah negara bernama Kalingga. Seperti yang dinyatakan oleh van der Thuuk bahwa istilah Keliang atau Kaling ada hubungannya dengan Jawa, bukan Kalingga India. Di Jawa Timur terdapat distrik dengan nama Kaling serta dalam cerita-cerita Jawa dikenal sebagai nama alternatif dari Kuripan atau Jenggala.
Adalah Empu Jatmika, pimpinan atau raja di Negara Dipa, yang barangkali terletak di sekitar kota Amuntai saat ini. Negara Dipa merupakan sebuah kerajaan yang berasal dari saudagar, hal ini karena Empu Jatmika adalah keturunan saudagar. Ia membangun candi yang bernama Candi Agung di Amuntai sebagai pusat kekuasaannya dan memakai gelar Maharaja Di Candi. Setelah Negara Dipa lalu muncul Kerajaan Negara Daha dan membangun Candi Laras sebagai pusat kekuasaan. Sekitar abad ke-14. Hal ini menunjukkan bahwa kerajaan menganut ajaran Hindu-Buddha yang sezaman dengan Majapahit.[3]
Pada akhir abad ke-15 Kalimantan Selatan masih dibawah pimpinan Kerajaan Daha, yang pada saat itu dipimpin oleh Maharaja Sukarama, ia mempunyai tiga orang anak yaitu Pangeran Mangkubumi, Pangeran Tumenggung, dan Putri Galuh. Peristiwa kelahiran Kerajaan Banjar bermula dari konflik yang dimulai ketika terjadi pertentangan dalam keluarga istana.Konflik terjadi antara Pangeran Samudera dengan pamannya Pamengaran Tumenggung, yang mana Pangeran Samudera adalah pewaris sah Kerajaan Daha.[4]Inilah yang turut menjadi cikal bakal Islamisasi di tanah Banjar.
Masuknya Islam ke daerah ini dikisahkan dalam Hikayat Banjar. Pada masa itu Negara Daha dipimpin oleh Maharaja Sukarama, setelah meninggal digantikan oleh Pangeran Tumenggung. Tetapi tidak lama kemudian terjadi perselisihan dengan Pangeran Samudera, cucu Maharaja Sukarama yang lebih berhak atas kerajaan. Sejak masa kecilnya, Pangeran Samudera mengasingkan diri dan setelah dewasa ia dinobatkan sebagai Raja Banjar oleh Patih Masih, Balit, Muhur, Kuwin dan Balitung. Terjadilah perang antara kerajaan Banjar dan Negara Daha di daerah hulu sungai. Hikayat Banjar mengisahkan bahwa Pangeran Samudera kemudian meminta bantuan Raja Demak dengan perjanjian akan masuk dan memeluk Islam berikut seluruh rakyatnya. Dengan bantuan tentara Demak, Kerajaan Negara Daha dapat dikalahkan dan Pangeran Tumenggung tunduk kepada Pangeran Samudera. Pangeran Samudera pun menepati janji dan diberi gelar Sultan Suryanullah. Sejak saat itulah Islam diperkenankan masuk ke Kerajaan Banjar.[5]
Dikisahkan bahwa Raja Demak mengirimkan Khatib Dayan untuk mengislamkan Pangeran Samudera beserta seluruh rakyatnya.[6]Melihat dari jabatan kepenghuluan  Demak,  maka  pada  masa 1521-1524  penghulu  Demak  dipegang oleh  Penghulu  Rahmatullah.[7]  Dengan  demikian,  Khatib Dayan  bukanlah  seorang  penghulu Demak,  tetapi  hanyalah  seorang  utusan dari  penghulu  Demak  yang  bertugas untuk  meng-Islamkan  Pangeran Samudera  dan  seluruh  pengikutnya  di Banjarmasin.
Dalam catatan keluarga Syarif Bistamy yang dituangkannya dalam buku Riwayat Singkat Raja-Raja dan Kaum Bangsawan di Kompleks Makam Sultan Suriansyah, justru meyakini jika Khatib Dayan yang bernama asli Syaikh Maulana Syarif Hidayatullah Al-Idrus ini berasal dari Samudera Pasai.[8]Dia mengungkapkan kehadiran Khatib Dayan tak hanya menyebarkan Islam, tapi juga menghimpun kekuatan poros kesultanan Islam menghadapi aksi penjajahan yang mulai menjarah nusantara baik Belanda maupun Portugis.
Selain itu, Khatib Dayan juga memiliki peran dalam menyebarkan ajaran tasawuf sunni di Banjar. Hal ini dibuktikan dengan Sultan Suriansyah yang segera membangun masjid sebagai bagian dari arahan Khatib Dayan. Syarif Bistamy juga mengakui jika Islam yang ada di Tanah Banjar merupakan perpaduan antara syiar ala Walisongo di Jawa, serta sentuhan ulama-ulama dari Samudera Pasai.
Demikian tersebarnya agama Islam di kawasan Banjar tersebut menjadikan masyarakatnya hampir keseluruhan memeluk agama Islam. Dari data statistik pemerintah provinsi Kalimantan Selatan tahun 2018, menunjukkan bahwa Islam menempati urutan pertama sebagai agama yang paling banyak dipeluk oleh masyarakat Kalimantan Selatan dengan jumlah 3.807.976 orang dari total jumlah penduduk 4,1 juta jiwa.[9]
Adapun jumlah pondok pesantren di Provinsi Kalimantan Selatan berjumlah 240 buah terdiri dari sistem pendidikan Salafiyah, Khalafiah dan kombinasi. Jumlah santri yang belajar di 240 buah pondok pesantren tersebut secara keseluruhan berjumlah 43.677 orang dengan rincian santriwati berjumlah 23.246 orang, santriawan 20.431 orang. Adapun jumlah ustadz yang mengajar di berbagai pondok itu berjumlah 4.589 orang.[10]
B.                 Religiusitas Orang Banjar
Islam Banjar (I) 27
 
Secara umum kepercayaan awal sebelum kedatangan Islam yang tumbuh di Kalimantan Selatan adalah animisme dan dinamisme sebagaimana ini juga terjadi di hampir seluruh daerah Nusantara. Kedua kepercayaan ini meyakini adanya kekuatan-kekuatan supranatural (keramat). Kekuatan-kekuatan itu pada animisme dan dinamisme termanifestasi dalam apa yang disebut sebagai alam roh. Oleh karenanya, nalar keagamaan yang terbangun dalam paham-paham awal ini adalah nalar mitis, yakni nalar yang dibangun dari mitos atau keyakinan akan kekuatan supranatural tertentu.
Nalar mitis keagamaan itu terlihat pada upacara daur hidup, tradisi tolak bala tercermin pada sesaji yang disebut piduduk pada setiap kegiatan batapung tawar, mandi-mandi pengantin, mandi-mandi kehamilan, baayun mulud dan lain-lain. Contoh lain, simbol cacak burung (+) dioleskan para pembuat tape pada tempat memproses makanan tersebur, dengan harapan tidak diganggu dan hasilnya memuaskan. Simbol ini juga digunakan untuk pengobatan anak kecil yang sakit panas (Banjar: kapidaraan), yaitu dengan mengoleskan antara kedua alis dengan bahan kunyit dicampur kapur sirih.[11]
Setelah Islam tersebar ke kesultanan Banjar, Islam telah menjadi ciri masyarakat Banjar sejak berabad-abad silam. Memeluk Islam merupakan kebanggaan tersendiri dan telah menjadi identitas mereka. Unsur-unsur religiusitas oraIslam Banjar (I)ng Banjar tercermin dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari baik dalam hal kepercayaan, struktur masyarakat, sistem ritual dan lain-lain. Peristiwa masuknya ajaran Islam yang masuk telah memberikan bingkai dalam kebudayaan orang Banjar dan berintegrasi di dalamnya.
Kepercayaan yang berasal dari ajaran Islam bukanlah satu-satunya kepercayaan religius yang dianut masyarakat Banjar, sistem ritual dan sistem upacara yang diajarkan Islam bukanlah satu-satunya sistem upacara yang dilakukan. Keseluruhan kepercayaan yang dianut orang Banjar menurut beberapa Sejarawan Banjar telah dibedakan menjadi tiga kategori. Yang pertama ialah kepercayaan yang bersumber dari ajaran Islam. Isi kepercayaan ini tergambar dari rukun iman yang ke enam. Kedua, kepercayaan yang berkaitan dengan struktur masyarakat Banjar pada zaman dahulu, yaitu pada masa sultan-sultan dan sebelumnya. Orang-orang Banjar pada waktu itu hidup dalam lingkungan keluarga luas, yang dinamakan bubuhandan juga bertempat tinggal dalam lingkungan, bubuhan pula. Pada abad ke-16, masyarakat Banjar terdiri dari kelompok-kelompok kekerabatan ambilinial bubuhan yang menempati wilayah pemukiman tertentu dan masing-masing merupakan unit pemerintahan sendiri-sendiri yang otonom.[12]
Ketiga, kepercayaan yang berhubungan dengan beragam tafsiran dari masyarakat atas alam lingkungan sekitarnya, yang mungkin adakalanya berkaitan pula dengan kategori kedua kepercayaan. Untuk kategori pertama mungkin lebih baik dinamakan kepercayaan Islam, kategori kedua kepercayaan bubuhan dan kategori ketiga kepercayaan lingkungan.
Lebih lanjut lagi dapat dijelaskan bahwa pemikiran Islam di Banjar mengalami perkembangan yang cukup signifikan, terutama dipicu oleh adanya interaksi dari kalangan penuntut ilmu asal Nusantara dengan para ulama di kawasan Timur Tengah. Interaksi para penuntut ilmu itu membawa perubahan-perubahan pemikiran di samping penguatan terhadap gagasan Islam yang telah berkembang sebelumnya. Pada awalnya, banyak orang yang menduga bahwa perkembangan pemikiran Islam di kawasan Nusantara sebelum abad ke-20 mengalami pelambatan pembaruan. Namun, studi Azyumardi Azra membuktikan bahwa akar-akar pembaruan Islam di Nusantara telah berlangsung paling tidak sejak abad ke-17. Menurutnya, terjadinya pembaruan itu didorong oleh interaksi muslim Nusantara dengan ulama Timur Tengah yang kemudian menjadi sarana efektif transmisi pemikiran-pemikiran baru ke wilayah Nusantara.[13]
Azyumardi Azra mencatat sejumlah ulama Nusantara yang mendorong terjadinya dinamisasi dan pembaruan pemikiran di wilayah Nusantara selama abad ke-17 dan 18. Mereka adalah Syekh Yusuf al-Maqassari (1627-1699 M) dan Syekh Nur al-Din al-Raniri (1068-1658 M), dan Abd al-Ra‘uf al-Sinkili (1615-1693 M) untuk abad ke-17;  Syekh Abd al-Samad al-Falimbani (1704-setelah 1789)  dan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari (1710-1812 M) untuk abad ke-18. Akar-akar pembaruan Islam di Nusantara menurut Azra dapat dibuktikan dari karya dan aktivitas akademik para ulama ini.[14]
Menariknya, salah satu dari ulama Nusantara yang disebut-sebut sebagai penggagas pembaruan Islam di Nusantara adalah Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Dari sejumlah catatan dan biografi tentang dirinya, ia merupakan ulama Banjar terbesar pada masanya dan pengaruhnya terus hidup sampai saat ini. Dia berhasil menekan kecenderungan yang berlebihan terhadap corak tasawuf terutama tasawuf falsafi di kalangan masyarakat Banjar pada masanya dan masa setelahnya. Kehadiran karyanya, Sabil al-Muhtadin dan disusul beberapa karya fiqih lainnya, mendorong muslim Banjar untuk memperhatikan aspek syariah atau fiqih secara lebih intens dari sebelumnya. Di samping itu, ia juga menulis tentang akidah, Tuhfat al-Raghibin, untuk meluruskan akidah umat Islam dan mengkritik beberapa praktik budaya Banjar yang dinilainya bertentangan dengan prinsip akidah Islam seperti tradisi manyanggar dan membuang pasilih.
Setelah Syekh Arsyad al-Banjari wafat, perannya digantikan oleh keturunannya dan para ulama lainnya yang bertebaran di wilayah Kalimantan Selatan. Walaupun secara genealogis, pemikiran mereka terkait kuat dengan Syekh Arsyad al-Banjari namun tidak diragukan bahwa pemikiran mereka juga dapat dihubungkan dengan para ulama kawasan Asia Tenggara lainnya dan para ulama Timur Tengah di mana mereka belajar. Hal itu disebabkan tingginya mobilitas para penuntut ilmu asal Banjar untuk melakukan perjalanan rihlah ilmiah ke Timur Tengah.
Kondisi ini selain memicu munculnya jaringan intelektual baru, perkembangan ini juga mendorong berkembangnya referensi intelektual baru (karya-karya ulama) baik referensi yang berasal dari tulisan guru mereka maupun tulisan (kitab atau risalah) yang populer berkembang pada masa mereka belajar dan sesuai dengan ‘mazhab’pemikiran mereka. Referensi intelektual baru ini selain menambah kedalaman pengetahuan keislaman kelompok terpelajar muslim dari kalangan masyarakat Banjar, juga mendorong mereka untuk memproduksi atau mereproduksi pengetahuan keislaman mereka dalam bentuk karya tulis (kitab atau risalah). Dalam beberapa kasus, karya yang mereka hasilkan ternyata merupakan respon terhadap pemikiran tertentu atau polemik tertentu yang sedang berkembang pada masa mereka masingmasing.
Pasca merosotnya pengaruh tasawuf falsafi model Abdul Hamid Abulung, pada masa Syekh Arsyad al-Banjari,  pemikiran Islam memasuki era baru pada abad ke-19,  yaitu semakin kokohnya neosufisme yang memiliki perhatian yang tinggi terhadap syariah. Pada abad ini, corak pemikiran Islam hampir sepenuhnya diwarnai oleh ajaran Ahlussunnah Waljamaah. Ini kemudian diperkokoh pada masa berikutnya, di mana sejumlah referensi dan produk pemikiran yang bermunculan pada abad ke-20 digunakan untuk terus memperkokoh corak tersebut dan mempertahankannya sebagai arus utama pemikiran Islam di Kalimantan Selatan.
Namun pada abad ke-20 juga gelombang pembaruan yang melanda wilayah ini menjadi ujian berat terhadap pemikiran arus utama terutama ketika para ‘kaum muda’ bermunculan dan organisasi keagamaan berhaluan reformis mulai ‘menggugat’ corak pemikiran Islam masyarakat Banjar. Ini tentu saja mendapat perlawanan dari para ulama Banjar ‘arus utama’ sehingga terjadilah polemik pemikiran di kalangan mereka. Beberapa referensi keagamaan yang merupakan karya ulama Banjar yang muncul sepanjang abad ke-20 bahkan pada awal abad ke-21 merupakan wujud nyata dari  ‘perlawanan’ terhadap gugatan itu. Sementara beberapa ulama Banjar yang tidak menulis karya tertulis memberikan testimoni pada risalah tertentu yang membela tradisi mereka untuk menyatakan keberpihakannya.
Ketika gelombang pembaruan Islam melanda masyarakat Banjar, sebagian besar para penuntut ilmu asal Banjar sepanjang abad ke-20 tetap mempertahankan genealogi intelektual mereka pada ulama Haramain yang berseberangan dengan Wahabisme. Para ulama Haramain baik yang hidup pada akhir abad ke-19 maupun abad ke- 20 menjadi guru intelektual mereka dan tidak jarang karya-karya mereka dijadikan sebagai referensi utama di pengajian dan pesantren yang mereka dirikan. Keyakinan terhadap otoritas ulama Haramain turut memberikan spirit yang kuat kalangan tradisional untuk terus mempertahankan tradisi pemikiran yang ada.
Harus pula diingat bahwa pada abad ke-20 juga berkembang arus pemikiran baru yang diwakili setidaknya oleh tiga kelompok, yaitu (1) para alumni al-Azhar Mesir,  (2) alumni pesantren modernis (Gontor), dan (3) para akademisi dan alumni perguruan tinggi Islam. Kehadiran tiga kelompok ini berikut dengan produk pemikiran mereka memberikan warna baru dan mendorong dinamisasi intelektualisme Islam masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan. Dari ketiga kelompok ini, gerakan pembaruan terutama dalam bidang pemikiran mengalami dinamisasi dan akselerasi yang lebih cepat.[15]
——-
Catatan Kaki:
1)                    Alfani Daud, Islam dan Masyarakat Banjar, (Jakarta: PT RajaGrafindo Pustaka, 1997), h.1.
2)                    Alfani Daud, Islam dan Masyarakat Banjar, h. 25.
3)                    Yusliani Noor, Islamisasi Banjarmasin, (Yogyakarta:  Penerbit Ombak, 2016), h. 107.
4)                    Saifuddin Zuhri, Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia, (Bandung: Al-Ma’arif, 1979), h. 386.
5)                    Daliman, Islamisasi dan Perkembangan Kerajaan-Kerajaan Islam di Indonesia, (Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2012), h. 198.
6)                    Saifuddin Zuhri, Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia, h. 220
7)                    Ideham, Sejarah Banjar, (Banjarmasin: Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan, 2003), h. 63.
8)                    http://jejakrekam.com/2017/11/27/islam-banjar-perpaduan-kultur-demak-dan-samudera-pasai/
9)                    Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Selatan, Provinsi Kalimantan Selatan Dalam Angka 2018, (Banjarmasin: BPS Kalimantan Selatan, 2018), h. 143
10)                  Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Selatan, Data Keagamaan Tahun 2014 (Banjarmasin: Kemenag Provinsi Kal-Sel, 2014), 67-69.
11)                  Muhammad Iqbal Noor, “Nalar Keislaman Urang Banjar”, dalam Jurnal Al-Banjari Vol. 10, No. 2, Juli 2011, h. 191.
12)                  Alfani Daud, Islam dan Masyarakat Banjar, (Jakarta:  Raja Grafindo Pustaka, 1997), h. 541.
13)                  Baca terutama bab IV buku Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII: Akar Pembaruan Islam Indonesia (Edisi Revisi), (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2007), h. 197-297.
14)                  Lihat bab IV dan bab V buku Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara, h. 197-323.
15)                  Rahmadi, dkk. Islam Banjar: Dinamika dan Tipologi Pemikiran Tauhid, Fiqih, dan Tasawuf, (Banjarmasin: IAIN Antasari Press, 2012), h. 4


[1] Alfani Daud, Islam dan Masyarakat Banjar, (Jakarta: PT RajaGrafindo Pustaka, 1997), h.1.
[2] Alfani Daud, Islam dan Masyarakat Banjar, h. 25.
[3]Yusliani Noor, Islamisasi Banjarmasin, (Yogyakarta:  Penerbit Ombak, 2016), h. 107.
[4]Saifuddin Zuhri, Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia, (Bandung: Al-Ma’arif, 1979), h. 386.
[5]A. Daliman, Islamisasi dan Perkembangan Kerajaan-Kerajaan Islam di Indonesia, (Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2012), h. 198.
[6]Saifuddin Zuhri, Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia, h. 220
[7] Ideham, Sejarah Banjar, (Banjarmasin: Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan, 2003), h. 63.
[8]http://jejakrekam.com/2017/11/27/islam-banjar-perpaduan-kultur-demak-dan-samudera-pasai/
[9] Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Selatan, Provinsi Kalimantan Selatan Dalam Angka 2018, (Banjarmasin: BPS Kalimantan Selatan, 2018), h. 143
[10] Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Selatan, Data Keagamaan Tahun 2014 (Banjarmasin: Kemenag Provinsi Kal-Sel, 2014), 67-69.
[11] Muhammad Iqbal Noor, “Nalar Keislaman Urang Banjar”, dalam Jurnal Al-Banjari Vol. 10, No. 2, Juli 2011, h. 191.
[12] Alfani Daud, Islam dan Masyarakat Banjar, (Jakarta:  Raja Grafindo Pustaka, 1997), h. 541.
[13] Baca terutama bab IV buku Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII: Akar Pembaruan Islam Indonesia (Edisi Revisi), (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2007), h. 197-297.
[14] Lihat bab IV dan bab V buku Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara, h. 197-323.
[15] Rahmadi, dkk. Islam Banjar: Dinamika dan Tipologi Pemikiran Tauhid, Fiqih, dan Tasawuf, (Banjarmasin: IAIN Antasari Press, 2012), h. 4

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy