25.5 C
Indonesia
25 Agustus 2019
Islam Madura (Bagian II) 1

Islam Madura (Bagian II)

Islam Madura di Tangan Raja-raja Madura

Seiring dengan pesatnya perkembangan Islam di Jawa, penyebaran Islam sudah masuk ke lingkungan keraton. Banyak penguasa kerajaan yang sudah memeluk agama Islam. Seperti halnya, Sunan Ampel yang berhasil membuat beberapa tokoh kerajaan memeluk Islam, antara lain: 1) Adipati Arya Damar, isteri, serta anak di Palembang. 2) Prabu Brawijaya dan permaisurinya putri Cempa (yang berhasil hanya permaisurinya saja). 3) Sri Lembu Petteng dari Madura .[1]

Secara intensif di Madura  juga terjadi pembauran di kalangan elit keraton, dengan maksud jika penguasa beragama Islam dan mengesahkan dirinya sebagai raja yang beragama Islam serta memasukkan syariat Islam ke dalam daerah kerajaannya, maka rakyatnya akan lebih mudah untuk memeluk agama Islam.[2] Seperti pernikahan antara Sayid Ali Murtadlo (raja Pandita) atau kakak Sunan Ampel yang melangsungkan pernikahan dengan putri Arya Babirin. Sedangkan Sunan Ampel sendiri selain menikah dengan putri Arya Teja (mantri Tuban) yang bernama Raden Ayu Candrawati, juga menikah dengan putri Kiai Bangkoneng dari Pamekasan.[3]

Dikabarkan bahwa beberapa elit keraton Madura  yang lain juga telah memeluk agama Islam sekaligus menjadi penyebar ajaran Nabi Muhammad Saw., seperti Jokotole (penguasa Sumenep), Lembu Petteng (penguasa Sampang), Arya Menak Sunoyo (penguasa Proppo), Bonorogo (penguasa Pamekasan), dan Ki Arya Praghalba (penguasa Bangkalan). Berikut akan diceritakan proses masuk Islam, beberapa penguasa Madura  di atas.

  1. Islam di Karaton Sumenep

Sumenep Jokotole yang bergelar Socoadiningrat III memegang pemerintahan sekitar tahun 1415-1460 M.[4] Diceritakan bahwa di suatu daerah dekat Desa Parsanga Sumenep, datang seorang penyiar agama Islam. Ia memberi pelajaran agama Islam kepada rakyat Sumenep yang diakomudasi dengan pendekatan kultural. Apabila seorang santri telah dianggap dapat melakukan rukun Islam, maka ia lalu diman-dikan dengan air yang dicampur macam-macam bunga sehingga baunya sangat harum. Dimandikan secara demikian disebut “e dudus”. Karena itu, kampung tersebut dinamakan Kampung Padusan yang sekarang masuk Desa Pamolokan Kota Sumenep, dan guru yang memberi pengajaran agama Islam tersebut dinamakan Sunan Padusan.

Menurut riwayat silsilah keturunannya, ia masih berkerabat dekat dengan Sunan Ampel. Pada waktu itu, rakyat Sumenep sangat tertarik mempelajari agama Islam, sehingga hal itu juga berpengaruh kepada rajanya, Pangeran Jokotole yang kemudian masuk Islam. Sunan Padusan lalu diangkat menjadi anak menantu Jokotole dan tinggal di Keraton Batu Putih. Ketika raja sudah beragama Islam maka hal ini akan mempermudah dalam penyebaran Islam untuk selanjutnya.[5] Dikatakan bahwa agama Islam berkembang pesat pada masa pemerintahan Jokotole.[6]

  • Islam di Karaton Sampang

Lembu Petteng, pada saat berkuasa ia mengutus seorang pungawanya untuk mempelajari agama Islam, tetapi setelah punggawa tersebut tiba di keraton, ia sudah memeluk Islam terlebih dahulu sebelum Lembu Petteng. Begitu tertariknya Lembu Petteng terhadap agama baru ini, akhirnya ia memutuskan pergi ke Ampel untuk berguru ke Sunan Ampel, sampai meninggal di sana.[7]

Dalam cerita lain dikatakan bahwa kedatangan Lembu Petteng ke Ampel adalah untuk membunuh Sunan Ampel karena telah menghasut masyarakat Majapahit untuk memeluk agama Islam. Namun, ketika sampai di sana ia sadar bahwa Sunan Ampel adalah orang benar. Akhirnya, ia memeluk Islam dan mempelajarinya hingga meninggal di sana.[8]

  • Islam di Karaton Pamekasan

Bonorogo (ayah Ronggosukowati) merupakan penguasa Pamelingan atau saat ini disebut Pamekasan. Meskipun tidak secara terang-terangan menyatakan dirinya muslim, dia dkenal sebagai muslim. Hal ini dibuktikan dengan ucapannya bahwa pada saat ia meninggal akan terjadi gempa, dan kebetulan saat ia meninggal (1530 M) terjadi gempa, maka ia disebut juga pangeran Lendhu (gempa). Oleh sebab itu, ia dimakamkan secara Islami.[9]

  • Islam di Karaton Bangkalan

Ki Arya Praghalbamerupakan keturunan Ki Demang Palakaranpenguasa Arosbaya (Bangkalan), kemudian diganti putranya bernama Ki Arya Praghalba. Pada masa pemerintahannya, Ki Arya Praghalba mengutus patihnya yang bernama Mpu Bagenno untuk mempelajari Islam kepada Sunan Kudus. Sesampainya Mpu Bagenno di keraton, ia menceritakan apa saja yang diajarkan Sunan Kudus serta menyatakan dirinya telah memeluk agama Islam.

Mendengar cerita tersebut raja Praghalba sangat marah disebabkan, sang patih telah menduhului dirinya dalam memeluk agama Islam. Maka raja memutuskan untuk menghukum mati sang patih, tetapi putra raja Praghalba bernama pangeran Pratanu (Lemah Duwur) memohon agar sang patih tidak dihukum mati. Karena rasa sayang yang sangat besar kepada putranya akhirnya sang patih dimaafkan. Tapi raja Praghalba tetap belum menerima agama Islam. Singkat cerita, pada saat raja Praghalba hampir meninggal putranya pangeran Pranatu meminta agar ayahnya segera memeluk Islam dengan membaca kalimat syahadat, tetapi ayahnya hanya aonggu’ (menganggukkan kepalanya). Karena itu, ia disebut pangeran Islam ongguk.[10]

Dari uraian ini, pada prinsipnya dapat disimpulkn bahwa raja-raja Madura  telah memeluk Islam sejak abad 15 walau harus dengan cepat peran penting kerajaan ini harus dipindahkan pada proyek Islamisasi yang lebih masif lagi melalui jalur Ulama. Namun paling tidak, sifat terbuka raja-raja Madura  atas Islam, walau harus melalui berbagai pendekatan tersebut, telah membuka kesempatan yang seluas-luasnya bagi orang Madura  untuk tidak lagi bebas belajar Agama Islam. Hagemen, sebagaimana dikutip Jonge, menegaskan bahwa pada pertengahan abad ke 16 M, setelah raja-raja memeluk agama Islam dan mendorong penyebaran ajaran Nabi Muhammad, Sumenep merupakan kawasan dengan pemeluk agama Islam terbanyak dibanding Pamekasan dan Madura  barat.[11]


[1] Effendi Zarkasi, Unsur Islam dalam Pewayangan (Jakarta: Alfa Daya, 1981), h. 68.

[2] Muchtarom, Islam di Jawa, h. 49.

[3] Fath, Pamekasan dalam Sejarah, h. 27.

[4] Abdurachman, Sejarah Madura, h. 10.

[5] Abdurachman, Sejarah Madura, h.17.

[6] Agus Trilaksana, dkk, Sejarah Sumenep (Surabaya: Pemerintah Provinsi Jawa Timur, 2003), h. 4.

[7] Fath, Pamekasan dalam Sejarah, h. 59.

[8] Sulaiman, Sangkolan: Legenda ban Sajara Madhura, h. 56-57.

[9] Sulaiman, Sangkolan: Legenda ban Sajara Madhura, h. 60.

[10] Sulaiman, Sangkolan: Legenda ban Sajara Madhura, h. 73-74.

[11] Jonge, Pedagang, Perdagangan Ekonomi, dan Islam. Suatu Studi Antropologi Ekonomi, h. 240-241.

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy