25.3 C
Indonesia
16 Juli 2019
Islam Lokal

Islam Madura (Bagian III)

Peran Ulama terhadap Islamisasi Madura

Sebagaimanan sebelumnya telah dituturkan bahwa pada masa kekuasaan Pangeran Jokotole telah datang seorang Ulama yang dikenal dengan nama Sunan Padusan. Ia datang di awal abad ke-16. Dia diklaim sebagai keturunan Maulana Malik Ibrahim, pendakwah Islam mula-mula di wilayah pantai utara Jawa, yang membangun perkampungan Islam di pesisir Gresik.[1] Maka atas sikap keterbukaan raja Sumenep, sunan Padusan diambil menantu oleh Jokotole.

Hampir bersamaan dengan itu, Sunan Kudus mengutus santrinya yang bernama Syekh Achmad Baidawi untuk melanjutkan dakwah Islam ke pulau Madura. Ketika di Madura, belia mangajarkan cara bercocok tanam yang efektif kepada masyarakat setempat. Sehingga, banyak masyarakat Sumenep pada masa itu mulai berdekatan dengannya. Ketertarikan masyarakat kepadanya dijadikan kesempatan untuk mengajari Islam, bahwa kalau mau bertanam sebelum menancapkan tongkat ke tanah harus membaca “bismillahi al-rahmani al-rahimi”, dan sebelum menanam biji harus membaca syahadat. Syekh Baidawi juga memperkenalkan penggarapan tanah dengan menggunakan tenaga sapi yang digunakan sebagai penarik bajak untuk bercocok tanam. Dari sinilah kemudian berkembang tradisi karapan sapi sebagai perayaan syukur setelah panen.[2]

Di Pamekasan, juga terdapat cerita Modin Teja. Nama aslinya adalah Abdullah. Nama Teja diambil dari wilayah di mana dia menetap dan melakukan aktivitas dakwahnya. Ia datang saat keraton masih memegang teguh ajaran Budha. Di Teja, dia tidak hanya mengajarkan Islam, tapi juga membangun irigasi sederhana yang dimanfaatkan oleh para petani di sekitarnya. Dia berhasil mengajak orang-orang di sekitarnya memeluk Islam. Namun gagal mengislamkan keluarga keraton Pamekasan, tugas yang kemudian sukses dilanjutkan oleh menantunya, Abdurrahman.

Abdurrahman dikirim untuk belajar Islam pada seorang ulama di Sampang. Setelah menyelesaikan pendidikannya, santri Abdurrahman tidak kembali ke Teja tapi melanjutkan dakwah Islam dengan metode yang kurang lebih sama, di daerah selatan. Di tempat barunya, dia berhasil membangun pertanian, keberhasilan yang membuat sang rato tertarik. Dari sini kemudian terjalin kontak dengan keraton yang pada akhirnya membuat sang rato memeluk Islam. Para santri yang telah menyelesaikan pendidikannya kemudian menjadi agen penyebar Islam di desanya masing-masing. Sementara santri-santri istimewa mendapat mandat khusus untuk melakukan dakwah di tempat-tempat tertentu. Misalnya, Kiai Abdullah yang dikenal dengan sebutan Ki Bungso[3], murid istimewa Abdurrahman, diminta untuk mendirikan pesantren di wilayah Sumenep.[4]

Ki Bungso kemudia menikah dengan Nyai Nurima yang masih keturunan Pangeran  Natapraja  (Pangeran Bukabu Raja Sumenep 1339-1348),  ini memiliki anak yang bernama Bindara Saod. Kemudia bindara Saod nyantri kepada K. Faqih. Melalui proses pematangan diri yang dilaluinya selama mondok di pesantren, akhirnya oleh gurunya Mohammad Saod dinikahkan dengan Nyai Izzah yang masih keturunan Sayyid Ahmad Baidlawi (Pangeran Katandur) Bangkal Kota Sumenep. sedangkan Pangeran Katandur cucu dari Sunan dari Kudus (Sayid Jakfar Shadiq). Dari hasil pernikahanya dengan Nyai Izzah Bindara Saod dikarunia dua orang putra, yaitu R. Baharuddin Aryo Pacenan dan Raden Asiruddin Panembahan Somala. Isteri Keduanya adalah R. Ayu Rasmana yang memberikan seluruh tanggung jawab pemerintahan Sumenep kepada suaminya dengan gelar Tumenggung Tirtonegoro (1750-1762 M).[5] Dari sinilah pesantren menemukan momentumnya hingga hari ini. Kerajaan memberi tanah perdikan kepada pengajar agama di berbagai daerah sebagaimana di desa Sendir (Sumenep), Batuampar (Pamekasan) dan Brambang (Sumenep).[6]

Di bangkalan terdapat seorang ulama bernama KH.. Abdul Latif yang juga mengasuh benyak santri di Demangan Bangkalan. KH. Abdul Latif memiliki keturunan bernama KH. Kholil Bangkalan (1252 H/1834 M).[7] Jalur pendidikan Islam melalui Ulama inilah selanjutnya memberi corak baru dalam sejarah Islam Madura yang lebih dekat pada ilmu pengatahuan. Mbah Kholil sendiri dikenal dengan Ulama yang ahli Fikih dan pengajaran literasi arab beserta ilmu alatnya, Nahwu Sharraf[8] yang diperolehnya dari berbagai pondok pesantren, layaknya pesantren Kedung, Bangkalan Madura [9] dan Haramain Mekkah. Dari mbah Kholil ini pula terbangunlah jaringan ulama Nusantara yang terus mengawal kemerdekaan Indonesia. Jaringan ulama yang dimaksud di sini adalah teman-teman sependidikan layaknya KH. Hasyim Asy’ari (Tebuireng), KH. Manaf Abdul Karim (Lirboyo Kediri), KH. Mohammad Sidik (Jember), KH. Bisri Syamsuri (Jombang), KH. Munawir (Krapyak Yogyakarta), KH. Maksum (Lasem), KH. Abdullah Mubarak (Suryalaya Tasikmalaya), dan KH. Wahab Has-bullah (Jateng) yang pada selanjutnya melahirkan banyak pesanren se-Nusantara.[10]

Disamping itu tak jauh dari masa perkembangan pendidikan pesantren di Madura, yang dimotori oleh Kiai Kholil Bangkalan. Segera menyusul ajaran Tareka mulai berkembang di Madura. Syekh Abdul Adzim dari Bangkalan (w. 1335/1916), seseorang yang telah lama bermukim di Mekkah dan telah menjadi khalifah dari Muhammad Shalih Al-Zawawi Al-Maqdi[11] sepulang ke Madura  mengajarkan islam melalui pendekatan khusus, tarekat Naqsabandiyah. Syekh Abdul Adzim adalah Ulama Madura yang pertama kali mengajarkan Tarekat Naqsabandiyah Ahmadiyah Muzhariyah di Madura  dan bahkan di Nusantara.

Dari garis Tarekat Naqsyabandiyah Ahmadiyah Muzhariyah ini, Syekh Abdul Adzim memiliki tiga orang murid yaitu:

  1. Syekh Muhammad Sholeh dari Toket Pamekasan,
  2. Syekh Zainal Abidin dari Kwanyar Bangkalan,
  3. Syekh Hasan Basuni dari Pakong Galis Bangkalan.

Masing-masing dari mereka memiliki seorang murid yang bernama Syekh Ahmad Jazuli dari Tengkinah Pamekasan, Syekh Ahmad Syabrowi dari Alfurjani Sampang dan Syekh Ahmad Sirajuddin dari Kaju, Sampang. Kemudian Syekh Ahmad Syabrowi Sampang ini memiliki seorang murid yang bernama Syekh Khudzaifah atau nama lainnya adalah Haji Ma’fud dari Sumberpapan Pamekasan yang merupakan kakek dari Syekh Ahmad Ja’far, mursyid Tarekat Naqsyabandiyah Ahmadiyah Muzhariyah saat ini. Syekh Khudzaifah memiliki seorang murid yang bernama Syekh Ali Wafa dari Ambunten Sumenep.[12]

Sejarah Panjang Islam Madura yang telah dijabarkan ini, selanjutnya akan diketahui apa pentingnya ketika dilihat pengaruhnya pada realitas situasi kultur dan budaya Madura. Tentu masuknya Islam ke Madura  memberi dampak yang dominan dalam pembentukan peradaban Madura.


[1] Mansurnoor, Islam in an Indonesian World Ulama of Madura, h. 21.

[2] Sutjitro, “Gengsi, Magik, dan Judi: Kerapan Sapi di Madura”, dalam Soegianto (ed.), Kepercayaan, Magi dan Tradisi dalam Masyarakat Madura, (Jember: Tapal Kuda, 2003), h. 157-158.

[3] Fath, Pamekasan dalam Sejarah, h. 72.

[4] Mansurnoor, Islam in an Indonesian World Ulama of Madura, h. 22-23.

[5] Trilaksan, dkk, Sejarah Sumenep, h. 82.

[6] Mansurnoor, Islam in an Indonesian World Ulama of Madura, h. 17.

[7] Saifur Rahman, Biografi dan Karomah K.H. Mohammad Kholil Bangkalan: Surat kepada Anjing Hitam, (Jakarta: Pustaka Ciganjur, 1999), h. 80.

[8] Siti Fatimah, Peran K.H. Muhammad Kholil dalam Mengembangkan Islam di Bangkalan Madura, (Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah, 2011), h. 8.

[9] H. Abd. Rauf Djabir, Dinamika Pondok Pesantren Qomaruddin Sampurnan, Bungah Gresik (1775-2014), (Bungah Gresik:  Yayasan Pondok Pesantren Qomaruddin Sampurnan, 2014), h. 34.

[10] Mien Ahmad Rifai, Manusia Madura: Pembawaan, Perilaku, Etos Kerja, Penampilan, dan Pandangan Hidupnya Seperti Dicitrakan Peribahasanya (Yogyakarta: Pilar Media,2007), h. 42-43.

[11] Martin van Bruinessen, Tarekat Naqsyabandiyah di Indonesia, (Bandung: Mizan, 1996, cet. 4), h. 69.

[12] Tarekat Naqsyabandiyah Ahmadiyah Muzhariyah di Madura, h. 40. Diakses dari http://digilib.uinsby.ac.id/13543/6/Bab%203.pdf pada Kamis, 4 April 2019.

Related posts

Sejarah Islam di Tanah Batak

admin

Menelusuri Jejak Islam di India

admin

Islam Madura: Legenda dan Fakta

PENA SANTRI

Mengenal Sunda Wiwitan dan Agama Sunda yang Lain

PENA SANTRI

Pesantren dan Tarekat

khalwani ahmad

Islam Minangkabau (Bagian 1)

khalwani ahmad

Leave a Comment