25.3 C
Indonesia
16 Juli 2019
Islam Lokal

Islam Madura (Bagian IV)

Pengaruh Islam Terhadap Budaya Madura

Berbicara Madura, tidak dapat dipisahkan dengan berbagai tradisi dan adat istiadat yang telah dijiwainya secara tumurun. Para peneliti terdahulu telah mengungkap bahwa masyarakat Madura memiliki ciri khas dan karakter budaya dan tradisi khas yang tidak dimiliki oleh bangsa lain. Wiyata dalam Carok misalnya menyebutkan orang Madura sebagai entitas masyarakat yang menjunjung tinggi tradisi budaya yang telah diwariskan oleh nenek moyangnya. Bukan hanya tradisi dan budaya sosial keagamaan saja, seumpama kompolan, rokatan dan nyadran saja yang sampai hari masih terus dilestarikan. Namun, sampai pada tradisi—yang bagi penulis dianggap—primiif layaknya carok dan kerapan sari masih tetap dibudidayakan. Sebab yang demikian ini telah menjadi karakter dan ciri khas orang Madua untuk senantiasa menjamin martabat dan hargadirinya agar tidak dipermainkan oleh orang lain.

Sub bahasan ini akan mengulas tentang pengaruh Islam terhadap budaya dan tradisi Madura yang selama ini telah mendarah daging di tengah-teangah masyarakat Madura. Upacara Nadran yang oleh Greetz dianggap sebagai warisan Budha, rokatan, tanian lanjhang bahkan carok dan kerapan sapi adalah poin-poin tradisi dan kebudayaan Madura yang menarik untuk diulas kembali.

Dua sub pokok pembahasan sebelumnya, Selayang Pandang Madura  serta sejarah proses islamisasi madura menjadi bekal yang cukup untuk menganalisis kultur dan tradisi budaya Madura mulai dari bentuk aslinya hingga persingngungannya dengan Islam. Sebagai tesa awal, penulis hendak menyampaikan bahwa Madura telah membuat Geertz gagal untuk sekedar memrumuskan kelas-kelas sosial layaknya Santri, Abangan dan Priyai yang berlaku untuk Jawa. Sebab, pada dasarnya mencari klasifikasi keberislaman orang Madura sangat tidak sangatlah sulit bila mengingat masyarakat Madura hampir sepenuhnya merupakan penduduk muslim yang taat beragama.[1]

Bagi penulis, Islamisasi di Madura berlangsung relatif lebih “tuntas” ketimbang Jawa. Hal ini setidaknya dapat dibuktikan dengan ketaatan orang Madura dalam menjalankan agama Islam sesuai panduan Kiai itu sendiri. Sehingga hampir seluruh praktek sosial-budaya madura tidak bertentangan dengan ajaran nilai-nilai syariat Islam.[2] Maka, untuk melihat sejauh mana pengaruh Islam terhadap perkembangan kultur dan tradisi masyarakat Madura, penulis akan menyajikan penjabarannya dalam beberapa sub bahasan selanjutnya.

  1. Rokatan, Upacara Nyadran dan Islamisasi Tradisi

Di antara berbagai tradisi masyarakat Madura yang cukup kompleks, tak sedikit di antaranya merupakan warisan dan peninggalan nenek moyeng mereka. Sebut saja Nyadran dan Rokatan. Tradisi yang demikian ini adalah peninggalan pola selamatan masa Hindu Budha yang masih terus dilestarikan hingga hari ini.

Rokatan merupakan implementasi dari masyarakat Madura yang secara hirarki ekomis tidak dapat dipisahkan dengan keberadaan tani dan nelayan. Pola hidup mamsyarakat Madura yang menjadikan pertanian sebagai jantung mata pencahariannya, di satu sisi memberi dampak positif pada Islamisasi Madura. Syekh Achmad Baidawi misalnya, seorang pendatang ke tanah Sumenep, mengajarkan Islam melalui jalur cocok tanam. Salah satu ajarannya adalah membaca basmalah dan syahadat serta menggunakan sapi sebagai penarik bajak.[3]

Oleh karena kehidupan orang Madura banyak bergantung kepada hasil bumi, maka tanah memiliki arti penting bagi orang Madura. Sehingga ketika tanah mulai kajal (kurang produktif), oleh orang Madura dilakukanlah rokatan (selamatan) atas tanah yang mulai mati.

Dalam tradisi primitif Madura, Rokatan ini diniatkan untuk menyambugnkan kembali kekuatan mata batin manusia dengan kekuatan magic yang dimiliki alam.[4] Roy Edward Jordaan mengatakan bahwa tradisi rokatan sejatinya adalah untuk menghindari kemalangan dan marah bahaya yang mungkin datang dari tanah. Untuk tanah produktif, rokatan diniatkan untuk menjaga kesuburan tanah dan menghindari dari wabah tanah. Sedangkan untuk tanah pakarangan (tanah yang ditempati rumah) diniatkan untuk menjaga kelangsungan hidup yang baik dalam keluarga. Dan tradisi ini sejak masa Hindu-Buda adalah dipercai sebagai suatu yang wajib.[5]

Hal sama, tradisi rokatan juga dilakukan untuk laut yang disebut dengan rokat tase’. Tradisi rokat tase’ ini yang pertama merupakan ritual tahunan bagi nelayan yang menandai musim untuk mencari ikan di laut. Adapun tujuan dari rokat tase’ ini adalah meminta keselamatan dan berkah kepada kekuatan penguasa laut dan yang oleh orang Madura disebut dayang penjaga desa.[6] Ritual ini jelas memperlihatkan adanya unsur Hindu Budha yang masih kental.

Di balik praktik rokat, terdapat sistem keyakinan terhadap kekuatan-kekuatan supranatural, yang jahat maupun yang baik. Maka, untuk memastikan keselamatan dan kesejahteraan hidupnya, orang Madura meyakini bahwa makhluk-makhluk ini harus dijinakkan melalui ritual-ritual tertentu. Dalam menjalankan ritual ini, diperlukan orang yang memiliki kekuatan magis (kadigdajan atau kasaktian) yang bisa melakukan komunikasi dengan makhluk-makhluk lelembut tersebut.[7]

Setalah kedatangan Islam, para pengajar Islam lambat laun mengislamisasi praktek rokatan dengna pengubah niat dan tujuan persembahan rokatan tersebut dari yang asalnya memohon kesalamatan kepada para penguasa tanah dan tase’, dialihkan niat dan praktek persembahannya untuk Allah.[8]  Namun demikian, Greef membedakan situasi sosio-religious orang Madura dan orang Jawa. Greef tidak menemukan alasan untuk berkesimpulan bahwa agama Hindu-Buda pernah mengakar kuat di tengah-tangah masyarakat layaknya di Jawa. Sebab selama pemerintahan raja-raja—yang diperkirakan menganut agama Hindu Budha—sang raja tidak pernah mendakwahkan dan bahkkan mewajibkan rakyatnya untuk mengikuti agama kerajaan.[9]

Tradisi lain yang juga mendapat banyak pengaruh dari Islam adalah upacara Nyadran. Suatu upacara pemujaan roh-roh leluhur, tempat keramat, dan tokoh sakti yang itu jelas termasuk ritual dan praktek keagamaan yang dilakukan oleh Hindu Buda.[10] Tradisi primitif ini merupakan perwujudan masyarakat Madura yang masih percaya pada kekuatan Animisme dan Roh Leluhur. Upaccara ini dilaksanakan di tempat-tempat yang dipercayai memiliki kekuatan magic semisal buju’ (pemakaman leluhur nenek moyang)dan tapak dang dang (perempatan jalan) selalu didatangi dan menghidangkan rarampathen (sasajen berisi makanan) dengan tujuan untuk mendapatkan berkah, restu, dan perlindungan.[11]

Setelah Islam masuk Madura, upacara Nyadhar tidaklantas dihilangkan dan bahkan dilarang. Akan tetapi pera pengajar agama—yang dalam hal ini adalah ulama tokoh dan Madura—memanfaatkan tradisi ini untk mengunjungi para wali dan ulama-ulama terdahulu yang telah berjasa dalam islamisasi Madura. Jika upacara Nyadhar sebelumnya dilakukan dengan ritual-ritual penyembahan kepada roh-roh leluhur nenek moyang orang Madura, di tangan Santri Nyadhar diisi tahlian dan yasinan.[12]

Bahkan, upacara nyadhar yang masih tetap dipraktekkan oleh masyarakat Madura dialihkan perhatiannya pada aktifitas-aktifitas keislaman seumpama ziarah maqbarah sesepuh, maqbarah para wali dan ulama sesepuh. Sebagimana yang disampaikan Bambang Samsu dalam hasil risetnya di Desa Ketawang Karay, Ganding, Sumenep atas upacara nyadran di Buju’ Kiai Karay menegaskan bahwa setiap Kamis sore para santri berbondong-bondong mendatangi buju’ (ziarah kubur) dengan membacakan surat Yasin dan Tahlil bersama.[13]

Dari uraian ini, dapat disimpulkan bahwa corak keberislaman bangsa Madura lebih dekat pada corak NU. Keberislaman yang tidak tidak menolak tradisi yang walaupun itu adalah warisan dari nenek moyang yang berafiliasi Hindu dan Budha. Bahkan tradisi yang demikian ini diislamisasi dan dijadikan alat untuk menguatkan ajaran Islam itu sendiri. Tentu dengan memasukkan nilai-nilai keislaman di dalamnya. Dari itu kita dapat menegaskan bahwa boleh saja suatu tradisi berasal dari non muslim, layaknya upacara nyadran dan tradisi rokatan, selama bisa diislamisasi maka perbaikilah. Karena sejak awal diperkenalkan Islam di Nusantara ini, melalui cara-cara akulturasi terhadap tradisi dan budaya dimana Islam itu disebarkan. Dan yang demikian ini terus dikembangkan oleh NU.


[1] Hamidi, Rasionalitas Tauthid dan Kebebasan Berekpresi: Kajian Sosiologis Konversi Tindakan Keagamaan, (Malang: UMM Pres, 2003), h.71-72., Lihat juga Shodiqin Nursa, Tabiat Buruk Kiai NU: Kasus Kerusuhan Antar Warga NU di Pekalongan (Yogyakarta: ITTAQA Press, 2005), h. 31.

[2] Jamal D Rahman, Islam Madura dan Kesenian: Pengalaman dan Kesan Pribadi, (Sumenep: Makalah, 2007), h. 3-4.,  Lihat juga A. Latief Wiyata, Carok: Konflik Kekerasan dan Harga Diri Orang Madura (Yogyakarta: LKiS, 2002), h, 41-42.

[3] Sutjitro, “Gengsi, Magik, dan Judi: Kerapan Sapi di Madura”, dalam Soegianto (ed.), Kepercayaan, Magi dan Tradisi dalam Masyarakat Madura, (Jember: Tapal Kuda, 2003), h. 157-158.

[4] Kodiran, “Kebudayaan Jawa”, dalam Koentjaraningrat (ed.), Manusia dan Kebudayaan di Indonesia (Jakarta: Djambatan, 2007), h. 347

[5] Roy Edward Jordaan, Folk Medicine in Madura (Indonesia), (Leiden: Leiden University, 1985), h. 65.

[6] Roy Edward Jordaan, Folk Medicine in Madura (Indonesia), h. 65-73.

[7] Mansurnoor, Islam in an Indonesian World, h. 3-4.

[8] Geertz, The Religion of Java, h. 6-7.

[9] Ahmad Zainul Hamdi, Pergeseran Islam Madura (Perjumpaan Inlam Tradional dan Islamisme di Bangkalan, Madura, Pasca-Revormasi), (Desertasi Doktoral UIN Surabaya, 2017), h. 102.

[10] Samsu, Rumah, Tanah, dan Leluhur di Madura Timur, h. 89-90.

[11] Bambang Samsu, “Rumah, Tanah, dan Leluhur di Madura Timur”, dalam Soegianto (ed.), Kepercayaan, Magi dan Tradisi dalam Masyarakat Madura, (Jember: Tapal Kuda, 2003), h. 77.

[12] Budiono, “Tradisi Nyadhar bagi Masyarakat Penggirpapas di Madura”, dalam Soegianto (ed.), Kepercayaan, Magi dan Tradisi dalam Masyarakat Madura, (Jember: Tapal Kuda, 2003), h. 209.

[13] Samsu, Rumah, Tanah, dan Leluhur di Madura Timur, h.90-92.

Related posts

Bali dan Kehidupan Umat Muslim di Tanah Seribu Pura

admin

Peradaban Islam Negeri Di Atas Awan

khalwani ahmad

Selayang Pandang Awal Mula Islam di Madura

Ahmad Fairozi

Istana Warisan Kesultanan Islam di Nusantara

admin

Islam Delhi dan Simbol Kekuatannya

admin

Islam Minangkabau (Bagian 3, Habis)

khalwani ahmad

Leave a Comment