27.8 C
Indonesia
20 Mei 2019
Islam Lokal

Islam Madura (Bagian V)

Langgar, Tanian Lanjhang dan Menguatnya Islam di Pedalaman

Sebagai salah satu ciri khas masyarakat Madura adalah sisitem sosial kemasyarakatan yang dibangun atas dasar kekeluargaan. Asas kekeluargaan ini miniaturnya dapat dilihat pada adat Tanian Lanjhang yang sejauh ini masih kuat di pedalaman. Yaitu suatu adat yang mengatur tatanan struktur bangunan rumah atas dasar kekeluargaan (sa anak potoan). Tanian lanjhang dihuni oleh satu atau lebih keluarga luas. Dalam satu stuktur tanian lanjhang di antara keluarga-keluarga inti terdapat kerjasama yang erat, seperti saling membantu pekerjaan lahan dan mempunyai ternak serta peralatan pertanian bersama, bahkan juga saling membantu mengurus anak.

Tanian lanjhang ini merupakan figurasi sosial terpenting di masyarakat pedalaman desa. Tanian lanjhang menjadi peran kedua setalah keluarga inti. Kultur tanean lanjhang berpijak pada basis uksorilokal yang berakulturasi dengan ajaran Islam (sebagai agama dominan dalam penduduk masyarakat Madura) terutama tentang posisi ibu terhadap anak-anaknya, menyebabkan terbangunnya kultur penghormatan kepada ibu menempati posisi utama. Penghormatan, rasa segan masyarakat Madura jauh lebih besar kepada ibu dibandingkan kepada bapak, kendati kepatuhan ibu-bapak tetap rnengatasi kepatuhan kepada pihak lain.[1]

Bila dikaji lebih mendalam secara secara filosofis, bentuk pemukiman tanean lanjhang mencerminkan pola religiusitas orang Madura. Hal ini dilambangkan dengan dibangunnya langgar (surau) di setiap ujung barat tanian lanjhang. Langgar di sini memiliki fungsih sebagai tempat jamaah solat se-ruang lingkup tanian lanjhang tersebut.[2]

Posisi langgar berada di bagian barat, sebab dalam tradisi orang Madura,  langgar adalah tempat istimewah (tempat ibadah) yang juga merangkap fungsi sebagai tampat berkumpulnya keluarga, dan termasuk tamu dari luar jika tidak memungkinkan di ruang tamu rumah. Susunan tanian lanjhang nampak dalam deretan rumah yang dibangun berurutan dari arah barat ke timur dimulai dari anak perempuan tertua di sebelah barat sampai anak perempuan termuda di sebelah timur. Urutan ini seolah hendak menunjukkan kepada kiblat selalu berada di sebelah barat dan yang lebih tua merupakan panutan. Pola seperti itu akan membentuk sistem nilai budaya, dan biasanya merupakan bagian dari kebudayaan yang berfungsi sebagai pengarah dan pendorong kelakuan manusia[3].

Melihat kultur tradisi tanian lanjhang tersebut, perlu disadari bahwa tradisi ini memiliki andil yang penting untuk menguatkan Islam di Madura. Langgar dan tanian lanjhang tidakhanya dapat diartikan sebagai salah satu bentuk tradisi madura belaka. Akan tetapi langgar juga dijadikan tempat anak-anak mereka menimba ilmu pengetahuan dan belajar ngaji al-Quran sejak masih kecil.  Dan tanian lanjhang selalu memberi perhatian pada anak-anak mereka untuk senantiasa melaksanakan solat jamaah bersama dan belajar agama kepada kepada keluarga yang lebih alim ilmu agama, kiai kampung. Dari sinilah terbangun sistem pembentukan karakter untuk mejadi agamawan yang baik di tingkat keluarga. Maka tak ayal kemudian apabila dikatakan bahwa orang Madura sudah menjadi NU sejak dalam kandungan.


[1] Dhurorudin Mashad, dkk, Kiai dan Konflik Kepentingan Politik dalam Pemilihan Bupati Sampang, dalam Konjlik AntarElit Politik Lokal dalam Pemilihan Kepala Daerah (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), h. 31

[2] Koentjaraningrat, Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan, (Jakarta: FT. Gramedia, Get. 7,1994), h.387.

[3] Leo Suryadinata, dkk., Penduduk Indonesia: Etnis dan Agama dalam Era Perubahan Politik, (Jakarta: LP3ES, 2003), h.46-48.


Oleh Ahmad Fairozi

Related posts

Mengenal Sunda Wiwitan dan Agama Sunda yang Lain

PENA SANTRI

Islam Madura (Bagian II)

Ahmad Fairozi

Islam Banjar (I)

PENA SANTRI

Islam Minangkabau (bagian 2)

khalwani ahmad

Pesantren dan Tarekat

khalwani ahmad

Islam Madura (Bagian III)

Ahmad Fairozi

Leave a Comment