25.3 C
Indonesia
16 Juli 2019
Islam Lokal

Islam Madura (Bagian VI, Habis)

Budaya Nyantre dan Ketaatan Orang Madura Kepada Kiai

Nyantre (menjadi santri) adalah bagian tak terpisahkan dari orang Madura. Nyantre adalah berusaha menjadi santri dan berkelakuan ala santri. Sedangkan bhangsa santreh adalah mereka yang menekuni dan melaksanakan ajaran-ajaran Islam secara murni dan konsekuen. Itulah sebabnya, pada umumnya orang Madura  sangat fanatik terhadap agama yang dianut, yaitu agama Islam. Karena itu pula, apa yang disebut golongan abangan di Jawa, di Madura  tidak dijumpai karena sampai sekarang bengsa santreh mendominasi masyarakat Madura .[1]

Tradisi Nyantre sejatinya adalah iktikad untuk memperbaiki karakter, watak dan tingkah laku (mejhejjher pekker, meloros ate, matepak tenka kuli). Sebab itulah orang Madura  sangat fanatik pada menilai tingkah laku (ngabas tengkna) dan memegangi ucapan (negguk caca).[2] Sebab inilah orang Madura  dalam melihat orang lain lebih menekankan pada watak, sifat, karakter dan tingkah lakunya. Terutama dalam proses memilih pasangan hidup.

Sebagai dampaknya, orang Madura mesti berpedoman pada dawuh kiai, atau yang biasa disebut dengan bhupa’-bhebu’, guruh, ratoh (bapak-ibu, guru, dan ratu) sebagai landasan filosofi kehidupan sehari-hari mereka. Selain orang tua (bhupa’-bhebu”) yang menjadi panutan utama dalam hidup orang Madura, juga ada Kiai yang menjadi figur dan teladan di tengah-tengah masyarakat. Oleh karena itu, peranan kiai bagi masyarakat Madura sangatpenting. Kapasitasnya sebagai agamawan dan keutuhan kepribadiannya dari berbagai sifat khilaf menjadikan masyarakat di sekitarnya merasa sungkan hingga menaruh hormat yang tinggi dan mengikuti apa yang disampaikannya. Mereka menjadi elit agama, dan karenanya menjadi pemimpin masyarakat, penunjuk jalan kebenaran, tempat bertanya dan pelindung masyarakat., Dengan demikian, tugas dan kewajiban utama seorang kiai adalah menjadi taladan dan pemangku kebijakan moral bagi orang Madura .[3]

  1. Carok dan Kerapan Sapi, Tradisi yang Tidak Banyak Dipengaruhi Islam

Carok adalah salah satu tradisi masyarakat Madura yang dilakukannya hanya untuk mempertahankan martabat dan harga dirinya. Menurut Latif Wiyata, carok hanya akan terjadi setalah terpenuhinya lima unsur. Menurut Latif Wiyata, ada lima hal mendasar yang harus dipahami secara utuh terkait dengan carok, yaitu tindakan atau upaya pembunuhan antar laki-laki, pelecehan harga diri, terutama berkaitan dengan kehormatan perempuan (istri), perasaan malu (malo), adanya dorongan, dukungan, serta persetujuan sosial disertai perasaan puas dan perasaan bangga bagi pemenangnya.[4]

Carok Madura kerap kali terjadi hanya sebab urusan kecil yang dibesar-besarkan. Pada realitasnya, carok kerap kali terjadi hanya karena persoalan rebutan air, rebutan istri dan hujatan yang memalukan perasaan seorang. Carok terjadi apabila kedua belah pihak saling bersepakat (tidak ada yang mau minta maaf) untuk memepertaruhkan suatu perkara tersebut secara jantan. Namun seiring dengan perkembangan pendidikan masyarakat Madura mulai menyadari bahwa carok bukanlah satu-satunya solusi yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan persoalan.

Budaya carok baru akhir-akhir ini mendapat perhatian yang serius dari para tokoh agama serta para akademisi untuk—pelan tapi pasti—menghilangkannya dari tradisi Madura. Awalnya, tradisi para kiai yang terbilang memiliki kedigdayaan tinggi, turut andil dalam persoalan carok ini. Wiyata menyebutkan kiai kerap kali memberi azimat dan kesaktian pada orang yang pamit untuk carok.[5] Namun, akhir akhir ini para tokoh agama tersebut cenderung menyerankan penyelesaian masalah dengan kekeluargaan. Sehingga carok terkurangi dengan peran penting kiai yang juga turut melihat riskan terhadap tradisi ini.[6]

 Peranan kyai terhadap budaya carok sangat penting sekali. Sebab sebagaimana dituturkan oleh Jonge bahwa masyarakat Madura mempunyai sikap takdzim yang tinggi kepada Kiai. Maka, kuatnya pengaruh kyai di tengah masyarakat Madura sulit untuk dipisahkan dengan oraganisasi sosial dan sistem simbol masyarakatnya. Oleh karena itu, kiai bagi masyarakat Madura adalah sosok yang sangat dibutuhkan dan penting sekali pengaruhnya.[7]

Dalam menangani masalah carok seorang kiai memiliki wibawa untuk meredam terjadinya. Itu sebabnya karena kiai benar-benar menjadi figur yang baik dan panutan untuk masyarakat sekitarnya. Jika petuah kiai akan larangan carok tersebut dilanggar begitu saja, maka seoran tersebut akan mendapat stigma nigatif lain dari masyarakat. Sejak keikut sertaan kiai dalam persoalan ini, carok Madura mulai terkurangi seiring dengan perkembangan pendidikan masyarakat yang terus membaik.

Hal yang serupa dengan budaya carok adalah tradisi kerapan sapi Madura. Sejatinya kerapan sapi adalah pesta rakyat Madura di setiap tahun panin. Sebagaimana sejarahnya, sapi dikenalkan oleh Sunan Paddusan untuk menggarap sawah sejaka masa dulu, maka pesta perayaan atas hasil tani sejak itu pula dirayakan dengan adu lari sapi (kerrap).

Sejauh ini, tradisi kerapan sapi Madura memiliki imbas negatif yang jauh lebih banyak dari postitifnya. Unsur penyiksaan terhadap binatang sangat kentara, dipertontonkan (oleh joki) di hadapan ribuan pengunjung sambil diiringi tepuk tangan meriah penonton, adalah gambaran sederhana tentang tradisi kerapan sapi Madura. Selain itu tradisi kerapansapi biasanya menjadi ajang empuk bagi para petaruh, berjudi. Maka, dalam kasus ini selain mempertaruhkan hewan ternak, juga terjadi pertaruhan harta benda berupa uang dan sejenisnya. Sehingga dari itu, kerapan sapi kerap kali menimbulkan konflik yang kadang-kadang bisa menelan korban jiwa. Walau besamaan dengan itu kerapan sapi memiliki nilai tawar budaya yang tingi, mestinya harus dipertingkan kembali.[8]

Berkaitan dengan tradisi kerapan sapi ini, sejuah ini hanya menjadi hiburan masyarakat umum yang tidak banyak memperoleh perhatian dari tokoh-tokoh agama dan akademisi. Kendati kerapan sapi seringkali menjadi objek penelitian dan diskusrus kebudayaan yang menarik, rata-rata hanya dipahami sebagai suatu tradisi, fakta sosial. Baru akhir-akhir ini wejangan para kiai Madura yang mengungkap praktek yang kurang elok dari tradisi kerapan sapi itu sendiri. Namun demikian tidak jarang dari kalangan kiai yang juga politisi yang juga memanfaatkan moment kerapan sapi sebagai ajang kampanye. Hal ini menunjukkan keikut sertaan kiai dalam praktek kerapan sapi madura. Atas dasar realitas inilah, penulis berni berkesimpulan bahwa tradisi kerapan sapi dan carok adalah budaya primitif Madura yang kurang mendapat sentuhan dari pada Islam. Sehingga dari itu penting untuk didiskusikan lebih lanjut, untuk mempertemukan Islam dengan tradisi yang demikian ini.


[1] A. Wahid Zaini, Dunia Pemikiran Kaum Santri, (Yogyakarta: LKPSM, 1994), h.125-126., lihat pula Abd. Halim Soebahar dan Hamdanah Utsman, Hak Reproduksi Perempuan dalam Pandangan Kiai (Yogyakarta: Ford Foundation dan PPK Universitas Gadjah Mada, 1999), h. 29.

[2] Zaini, Dunia Pemikiran Kaum Santri, h.125-126.

[3] Zaini, Dunia Pemikiran Kaum Santri, h.128-130.

[4] Wiyata, Carok, h. 69-72.

[5] Wiyata, Carok, h. 32.

[6] Ahmad Wisnu Broto, “Peran Kiai terhadap Budaya Carok,” (Skripsi S1 Fakultas Syariah UIN Sunan Kalijaga, 2010), h. 40.

[7] Wisnu, Peran Kiai terhadap Budaya Carok, h. 44.

[8] Mohammad Kosim, “Kerapan Sapi; “Pesta” Rakyat Madura” KARSA, Vol. XI No. 1 (April 2007), h. 74.

Related posts

Bali dan Kehidupan Umat Muslim di Tanah Seribu Pura

admin

Sejarah Islam di Tanah Batak

admin

Mengenal Sunda Wiwitan dan Agama Sunda yang Lain

PENA SANTRI

Peradaban Islam Negeri Di Atas Awan

khalwani ahmad

Benteng-Benteng Warisan Kerajaan Islam di Nusantara

admin

Islam di Kenya: Cerita Hukum Islam

admin

Leave a Comment