23.3 C
Indonesia
18 Juni 2019
Islam Lokal

Islam Minangkabau (Bagian 1)

  • 1. Pendahuluan

Masyarakat Minangkabau sangat menjunjung tinggi nilai-nilai adat dan budaya sebagaimana yang tertuang dalam Piagam Marapalam yaitu “Adat Basandi Sarak, Syarak Basandi Kitabullah”. Keinginan untuk menghayati dan mengamalkan adat secara murni dan konsekwen menjadi pegangan dalam kehidupan bermasyarakat di Ranah Minang. Hal ini juga dipertegas oleh “patatah patitiah” yang mengatakan “tasindorong jajak manurun, tatukiak jajak mandaki, adat jo syarak kok tasusun, bumi sanang padi manjadi”, artinya antara misi yang disampaikan oleh agama sejalan dengan adat istiadat yang berlaku di RanahMinang.

Disamping sebagai daerah yang menjunjung tinggi Nilai adat dan Budaya, Para intelektual Minangkabau pada awal abad ke-20 memainkan peran utama dalam pergerakan nasionalis dan pergerakan Islam, dan merekalah penentu sastra dan budaya Indonesia.

Peta jalan kota mana pun di Indonesia pastilah berisi jalan-jalan raya dengan nama Haji Agus Salim (lahir 1884) sebagai negarawan dan menteri luar negeri, Mohammad Hatta (lahir 1902) sebagai wakil presiden pertama, Muhammad Yamin (lahir 1903) sebagai filsuf nasionalis, Muhammad Natsir (lahir 1908) sebagai politikus Islam, Hamka (lahir 1908) sebagai ulama, Sutan Sjahrir (lahir 1909) sebagai sosialis dan perdana menteri pertama, Rasuna Said (lahir 1910), pemimpin revolusioner dan politikus serta Tan Malaka (lahir 1896). Rakyat Minangkabau sangat bangga akan pemimpin-pemimpin generasi pertama ini beserta sejumlah besar politikus, ulama, dan cerdik cendekia Minangkabau yang kurang terkenal tapi yang juga punya peran penting dalam sejarah Indonesia.

Lebih dari itu Minangkabau merupakan salah satu daerah penting dalam sejarah Islam di Indonesia karena dari daerah inilah bermulanya penyebaran cita-cita pembaharuan ke daerah-daerah lain. Pembaharuan yang terjadi di Minangkabau dimulai dengan adanya Gerakan Paderi pada awal abad ke19 yang bertujuan untuk memurnikan ajaran Islam. Pembaharuan selanjutnya dilakukan oleh Kaum Muda pada awal abad ke-20, yang terutama dilakukan melalui pembaharuan sistem pendidikan agama lewat lembaga Perguruan Sumatera Thawalib dan Diniyah School di Padangpanjang[1]. Meskipun jarang tercatat dalam buku sejarah, Kerajaan Islam Pagarruyung di Minangkabau merupakan salah satu kerajaan yang sangat berpengaruh di Sumatera,  bahkan Marsden[2], mengatakan bahwa wilayah kekuasaannya pernah meliputi seluruh Sumatera. Melihat sejarah Islam di Minangkabau yang begitu menarik, dan agar pembahasan lebih terstruktur maka penulis merumaskan Masalah sebagai berikut :

  1. Bagaimana kondisi geografis dan sosio-kultural Minangkabau…?
  2. Bagaimana agama dan kepercayaan pra Islam di Minangkabau…?
  3. Bagaimana kedatangan Islam, islamisasi dan perkembangan Islam di Minangkabau…?
  4. Bagaimana Warisan Matrilinial Islam Minangkabau…?
  5. Bagaima potret tradisi dan budaya islam di Minangkabau…?
  • 2. Kondisi Geografis dan Sosio-Kultural Minangkabau

Secara umum ketika mendengar kata Minangkabau, mindset masyarakat pasti akan tertuju kepada  provinsi Sumatera Barat. Padahal hakikatnya Sumatera Barat adalah daerah administratif pemerintah Republik Indonesia, sedangkan Minangkabau adalah teritorial kebudayan yang luasnya melebihi dari provinsi Sumatera Barat[3].

Sebagian besar alam Minangkabau adalah bukit dan dataran tinggi, Christine Dobbin[4] menyebutkan bahwa penduduk dataran tinggi Sumatra Tengah adalah Orang Minangkabau. Kampung halaman klasik orang Minangkabau adalah dataran tinggi di bagian tengah Sumatra, di kedua sisi tempat yang dilalui khatulistiwa. Pusat daerah pemukiman orang Minagkabau terdiri atas empat lembah di dataran tinggi. Keempat lembah itu terletak dalam pelukan bukit barisan di satu titik yang mencapai lebar 50 mil dan menjadi dua pegunungan yang terpisah.

Alam Minangkabau secara kultural terbagi atas dua, yaitu darek dan rantau[5]. Darek adalah sebutan untuk wilayah yang berada di daerah pedalaman dengan karakteristik dataran tinggi dan lembah-lembah, terbentang dari perbatasan Jambi di selatan, Riau di timur dan Sumatera Utara di utara. Menurut sejarah lisan, darek merupakan permukiman pertama orang Minangkabau tepatnya dari Gunung Merapi. sedangkan Rantau merupakan sebutan untuk wilayah yang berada di luar daerah darek, berada di kawasan pesisir dengan karakteristik dataran rendah yang terbentang dari perbatasan Bengkulu di selatan dan Sumatera Utara di utara.

Begitu kuatnya Sistem kekerabatan Matrilineal ini menimbulkan suatu tradisi yang tidak bisa dilepaskan dari masyarakat Minangkabau, yakni merantau. Merantau atau meninggalkan kampung halaman dan tentu saja melepaskan diri dari ikatan primordial, meskipun mungkin hanya untuk sementara saja adalah salah satu fenomena sosial-kultural yang telah bermula sekian abad yang lalu. Hanya saja yang jelas ialah bahwa merantau sampai kini tetap merupakan bagian dari irama kehidupan orang Minang. Merantau sebagai keharusan tetapi sekaligus diideal kan bagi anak muda yang menjelang dewasa. Ketika akan memasuki hidup berkeluarga maka bertualang sambil menuntut ilmu di “rantau nan batuah” secara kultural dianggap sebagai pengalaman yang mendewasakan. Meskipun merantau secara individual ini ada juga kaitannya dengan keharusan ekonomis, tetapi sistem kekerabatan matrilineal, yang mempunyai dampak langsung pada struktur pemilikan rumah dan sawah ladang, tidak bisa dipisahkan dari tradisi merantau yang bersifat individual ini. Keharusan struktural yang dipantulkan oleh sistem kekerabatan ini antara lain remaja laki-laki tidak lagi mempunyai tempat di rumah ibunya, di rumah gadang dijadikan sebagai perilaku kultural yang diidealkan. Maka sang tokoh adatpun bisa ber petuah bahwa merantau sesungguhnya adalah perwujudan dari pengakuan akan “kebesaran alam semesta”[6].

Sedangkan Asal usul nama Minangkabau menurut ceritanya adalah dari seekor kerbau yang menang. Ceritanya adalah bahwa di zaman kabur prasejarah suatu tentara penyerbu muncul di dataran tinggi Sumatra Barat dan menuntut penduduk lokal menyerah. Penduduk lokal mengusulkan agar, alih-alih perang berkepanjangan, kedua pihak mengadu kerbau. Kekalahan kerbau salah satu tentara akan berarti kekalahan tentara itu. Pihak penyerbu setuju dan mengajukan seekor kerbau jantan besar. Penduduk lokal menajamkan tanduk seekor anak kerbau. Ketika dilepaskan, si anak kerbau berlari untuk menetek pada kerbau jantan itu, hingga merobek perutnya.

  • 3. Agama dan kepercayaan Pra Islam di Minangkabau.

Pada umumnya, soal agama orang Indonesia diyakini menganut Animisme. Mereka percaya bahwa benda-benda mati memiliki ruh, pohon-pohonan dan makhluk lain-nya hidup. Lebih dari itu, mereka juga menyembah ruh nenek moyang mereka. Orang-orang Indonesia kuno juga percaya bahwa ruh benda-benda itu, misalnya gunung, pohon atau nenek moyang mereka dapat mendatangkan rasa aman, meyebabkan penyakit bahkan kematian. Untuk menghormati ruh-ruh yang baik dan mengusir yang jahat, sejumlah ritual dilembagakan pada momen-momen penting tertentu dalam kehidupan mereka seperti kelahiran bayi, perkawinan dan kematian. Sisa-sisa peninggalan kuno tersebut dalam bentuk batu dan tempat peribadahan dapat ditemukan di Jawa Timur dan Sumatera[7].

Sekalipun bukti-bukti arkeologis budaya Hindu-Budha seperti Candi, sebagai indikasi agama nenek moyang orang Minangkabau pra-Islam, memang hampir tidak ditemukan di wilayah Minangkabau seperti yang banyak ditemukan di Pulau Jawa, tetapi agama ini seperti penuturan Zainun Kamal pernah eksis di wilayah ini. Hal ini diantaranya bisa dilihat dalam penggunakan terma sambahyang untuk terminologis shalat. Selain itu, terdapatnya Parahiangan sebagai salah satu nama wilayah di daerah ini merupakan indikasi yang tidak bisa diabaikan.

Orang Minangkabau pernah menganut kepercayaan animisme-dinamisme sebagai sistim kepercayaan mereka. Hal itu bisa ditemukan dalam catatan M.D. Mansoer cs bahwa masyarakat Minangkabau kuno memiliki kepercayaan khusus terhadap ruh-ruh nenek moyang serta tempat-tempat yang di anggap keramat seperti gunung-gunung dan makam-makam nenek moyang mereka.[8].

Christine Dobbin menyebutkan kepercayaan orang Minangkabau pra Islam dengan sebutan agama petani. Menurutnya di Minangkabau, seperti juga didaerah lain dikepulauan Indonesia, kebudayaan petani bertumpu pada substratum kepercayaan animistik. Tokoh kunci agama petani Minangkabau adalah Cenayang. Pada zaman Islam, sebutan cenayang ini berganti dengan sebutan Malim. Dalam Istilah Minangkabau umumnya disebut sebagai pawang. Pawang dipercaya bisa berhubungan dengan kekuatan-kekuatan ghaib dan mendatangkan rasa aman bagi keluarga yang malang. Agama Petani memiliki kepercayaan kepada roh-roh yang menempati tempat tertentu, atau benda yang dianggap keramat sehingga ada kebiasaan bahwa orang-orang Minangkabau yang hendak mendaki gunung merapi lebih dahulu harus menyembelih kerbau untuk menenangkan roh-roh digunung[9].

Selain kepercayaan animisme, orang-orang Minangkabau telah menganut agama Hindu-Budha. Para pemerhati sejarah Minangkabau seperti A.A.Navis berpendapat bahwa agama nenek moyang orang Minangkabau sebelum mereka mengkonversikan agama mereka kedalam Islam  adalah Hindu-Budha[10]. Kedatangan Hindu-Budha ke Minangkabau melaui dua tahap yaitu perdagangan dan kekuasaan. Tahap pertama yaitu perdagangan. Yang mula-mula datang kesana adalah nahkoda pedagang yang datng dari Hindia, karena pedagang dari Hindia ini beragama Budha Hinayana, maka agama itulah yang mula-mula masuk dan berkembang di Minangkabau belahan timur. Pengaruh dan pengembangan agama Budha dalam tahapan ini diperkirakan berlangsung abad ke-IV M[11].

Tahap Kedua penyiaran agama Hindu-Budha di Minangkabau mulai berlaku pada waktu Raja Adityawarman memerintah di Minangkabau pada tahun 1347-1375M. Ia adalah seorang pangeran dari Majapahit yang dilahirkan oleh seorang Ibu asal Melayu yang bernama Dara Jingga. Sebagai raja dibawah pengaruh Majapahit, ia diperintahkan untuk melebarkan kekuasannya ke pedalaman Sumatera dengan tujuan disamping merebut tempat perdagangan lada, juga untuk mengembangkan agama Budha dan membendung perkembangan agama Islam yang juga sudah mulai masuk ke daerah itu.

Zaman Hindu-Budha di Minangkabau tidak terlalu banyak diketahui, meskipun demikian dapat dipastikan bahwa pada tahun 1356 Adityawarman mendirikan biara Budha dekat Bukit Gobak. Biara itu rupanya menjadi tempat berkumpul para pemuda untk mempelajari pengetahuan suci. Contoh ini tentu merupakan pemecahan yang idelal untuk masalah social yang sangat jelas. oleh sebab itu, di desa-desa tertentu, Islam menyusun sarana atas dasar surau dari zaman pra Islam[12].

  • 4. Kedatangan Islam, Islamisasi dan Perkembangan Islam di Minangkabau

Kapan agama Islam pertama kali bersentuhan dengan komunitas Minangkabau masih merupakan sebuah misteri yang debatable. Para pemerhati sejarah Minangkabau belum secara aklamasi menentukan periodesasi kedatangan Islam ke wilayah ini.

Berdasarkan berita dari China, Hamka (1976) mengatakan bahwa pada tahun 684 M sudah didapati suatu kelompok masyarakat Arab di Minangkabau[13]. Hal ini berarti bahwa 42 tahun setelah Nabi Muhammad SAW wafat, orang Arab sudah mempunyai perkampungan di Minangkabau. Sehubungan dengan itu Hamka memperkirakan bahwa kata “Pariaman”, nama salah satu kota di pesisir barat Minangkabau berasal dari Bahasa Arab, “barri aman” yang berarti tanah daratan yang aman sentosa. Selanjutnya diduga pula bahwa orang-orang Arab ini di samping berdagang juga berperan sebagai mubaligh-mubaligh yang giat melakukan dakwah Islam, sehingga pada waktu itu diperkirakan sudah ada orang Minangkabau yang memeluk agama Islam[14].  

Sejalan dengan itu, M.D. Mansur[15], juga menyimpulkan bahwa pada abad ke-7 agama Islam sudah dikenal di Minangkabau Timur, mengingat pada waktu itu telah ada hubungan dagang antara Cina di Asia Timur dan Arab di Asia Barat melalui Selat Malaka. Pada waktu itu di Asia Barat, dengan Damaskus sebagai pusat, sedang berkuasa Daulat Umayyah. Mereka sekaligus juga menguasai hubungan perdagangan antara Timur (China) dan Barat (Laut Tengah). M.D Mansur CS juga menyatakan hal ini diperkuat dengan adanya Korespondensi antara Khalifah Umar Abdul Aziz dengan Sri Maha Raja Srindrawarman yang masih terdapat di salah satu museum di Spanyol-Madrid. Beliau mengindikasikan bahwa agama Islam telah bersentuhan dengan komunitas Minangkabau bahagian timur pada paruh pertama abad ke-7 M. Beliau memaparkan bahwa khalifah Umayyah pertama berusaha untuk mengusai area perdagangan rempah-rempah seperti lada dan lain-lain yang terdapat di wilayah Minangkabau Timur agar tidak terlalu tergantung kepada China Tang.  Kedua imperium ini, Mu’awiyah dan China Tang, berusaha keras untuk mengusai wilayah ini untuk suplai rempah-rempah mereka. Untuk menindak lanjuti kebijakan politik ekonominya itu, Khalifah Umayyah mengirimkan suratnya kepada raja Sriwijaya yang berkedudukan di Sabak, Jambi untuk memeluk agama Islam dan mengadakan hubungan dagang langsung dengan damaskus. Politik ekonomi Mua’awwiyah ini di lanjutkan oleh cucunya Sulaiman Abdul Madjid yang mengirim 35 kapal, untuk mengekspansi Muara Sabak untuk memonopoli perniagaan lada.

Tome Pires, seorang ahli obat-obatan dari Lisabon (yang lama menetap di Malaka, yaitu pada tahun 1512 hingga 1515), pada tahun 1511, mengunjungi Jawa dan giat mengumpulkan informasi mengenai seluruh daerah Malaya-Indonesia. Dalam bukunya yang berjudul Summa Oriental, sebagaimana yang dikutip Ricklefs[16], dia mengatakan bahwa pada waktu itu sebagian besar raja-raja Sumatera beragama Islam, tetapi masih ada negeri-negeri yang masih belum menganut Islam. Menurut Pires, mulai dari Aceh di sebelah utara terus menyusur daerah pesisir timur hingga Palembang, para penguasanya beragama Islam. Raja Minangkabau dan seratus pengikutnya disebutkan sudah menganut agama Islam, tetapi penduduk Minangkabau lainnya belum. Meskipun demikian, Pires menyebutkan bahwa agama baru itu makin hari makin bertambah pemeluknya di Minangkabau.

Ismail Ya’qub menyatakan bahwa abad ke-15 M kemungkinan besar komunitas pesisir timur Sumatera bersentuhan dengan Islam. Hal ini dibuktikan dengan adanya Sultan Malaka, Manshur Syah yang meninggal 1475 M, penguasa Kampar dan Indragiri di Riau. Implikasinya adalah merangsang para penguasa lain untuk melakukan konversi kedalam Islam, termasuk orang Minang[17]. Slamet Mulyana lebih memilih abad ke-16 sebagai periodesasi awal masyarakat Minangkabau mengkonversikan agamanya kedalam Islam, hal itu dilakukan oleh para pedagang Islam yang berlayar dari Malaka menyusuri sungai Kampar dan Inderagiri[18].

Azra juga menyatakan sekalipun persediaan literatur tentang Minangkabau pada abad ke-16 M tidak memadai, setidaknya, masyarakat Minangkabau mengkonversikan agama mereka kedalam Islam sekitar abad tersebut, dan sungai pesisir barat dan timur merupakan kemungkinan jalur yang dilaluinya. Pelabuhan bagi perdagangan pesisir barat kaum muslim Arab dan India yang berasal dari Gujarat mempunyai peranan penting kusus dalam penyebaran agama Islam dalam komunitas Minangkabau. Tiku, pelabuhan utama bagi perdagangan saat itu di islamisasikan menjelang dekade kedua abad ke-16 M. Para pejabat administrasi dan pelabuhan yang semuanya bergelar Muslim, dan para guru-guru Islam yang semua mengerti dengan baik ayat-ayat al Qur’an adalah diantara bukti-bukti yang tersedia di pelabuhan. Pariaman dan Ulakan kemudian menyusul dalam hal konversi terutama pasca dominasi Aceh atas pantai barat, Tiku dan Pariaman[19].

Dari pendapat-pendapat yang dikemukakan di atas dapat disimpulkan bahwa, agama Islam masuk ke Minangkabau pada akhir abad ke-7. Akan tetapi abad ke 16 merupakan periode yang amat penting dalam sejarah Minangkabau, karena mencakup awal instisionalisasi Islam dalam struktur sosial Minangkabau. Pada Abad tersebut proses Islamisasi berkembang dengan cepat, dan Islam telah menginjakkan kakinya dengan kokoh[20].

Sedangkan menurut Syaridufin, islamisasi Minangkabau melalui tiga tahap yaitu: melalui perdagangan yaitu dibawa oleh saudagar Islam yang berkunjung ke Minangkabau dan menyebarkannya secara diam-diam dan tidak terencana. Kedua yaitu melalui pengaruh tarekat dan kekuasaan Aceh di pesisir barat Minangkabau yang menyiarkan agama agak terencana. Dan yang ketiga melalui penguasa Minangkabau sendiri yang menyiarkannya secara teratur dan terencana[21].

Tahap pertama yaitu melalui jalan dagang, dapat berlaku karena sifat keterbukaan suku bangsa Minangkabau serta memilih komoditi dagang yang diperlukan, mengundang datangnya saudagar-saudagar bangsa asing untuk memasuki dan mengembangkan pengaruhnya di Minangkabau. Pada abad ke VII M. Pedagang-pedagang yang berasal dari Persia, Arab dan Gujarat telah banyak mendatangi perdagangan lada di Minangkabau sebelah timur. Pada waktu itu pedagang-pedagang yang datang dari Persi, Arab maupun Gujarat telah memeluk Islam. Sesuai dengan sifat seorang muslim yang merasa terpanggil untuk berdakwah dengan cara apapun, maka tidakah mustahil pada masa-masa itu telah berlangsung penyiaran agama secara tidak resmi, baik melalui pergaulan maupun perkawinan. Penyiaran Islam melalui perdagangan ini dapat dipahami dari penggunaan kata lebai untuk guru atau pengajar agama sampai waktu ini. Kata tersebut berasal dari kata “Illepai” dari bahasa Tamil yang berarti saudagar. Hal ini memberi petunjunjuk bahwa mula-mula penyiarannya, yang mengajarkan dan menyiarkan agam itu adalah para saudagar yaitu pada masa ramainya perdagangan lada di Miningkabau timur yang diperkirakan berlaku pada abad ke VII M atau awal abad ke VIII M.

Penyiaran agama Islam tahap kedua berlaku pada saat pesisir barat Minangkabau berada dibawah pengaruh Aceh. Aceh adalah salah satu bagian pulau sumatera yang lebih dahulu masuk Islam, karena letaknya dipintu terdepan yang lebuh dulu dapat kemungkinan untuk menerima pengaruh dari luar. Pada abad ke XV, seluruh pesisir barat Minangkabau telah berada dibawah pengaruh poitik dan ekonomi Aceh. Sebagai umat yang berasal dari wilayah Indonesia yang lebih dahulu memeluk Islam, saudagar mubaligh Aceh giat menyiarkan Islam di daerah pesisir yang telah menjadi daerah pengaruh Aceh. Dapat disimpulkan bahwa pengislaman Minangkabau secara besar-besaran dan terencana terjadi setelah pesisir dibawah pengaruh Aceh.

Salah seorang putra Minangkabau asal Koto Panjang Pariaman bernama Burhanuddin, pergi ke Aceh untuk menuntut ilmu agama Islam dari Syekh Abdur Ra’uf. Sepulangnya dari aceh ia mengajarkan agama Islam secara teratur dan mengambil tempat di Ulakan. Perguruan ini dikunjungi oleh orang-orang Minangkabau dari seluruh pelosok negeri. Melalui murid-murid syekh Burhanuddin ini Islam semakin merata berkembang sampai ke darek. Dari kejadian ini muncul pepatah adat: “Syara’ mendaki adat menurun” yang berarti bahwa agama Islam mula-mula berkembang dipesisir kemudian meluas kedarek. Karena darek mempunyai tempat yang lebih ketinggian letaknya dari pesisir. maka diibaratkan dengan kata “syara’ mendaki”. adat berasal dari darek dan berembang ke pesisir, hingga dikatakan “adat menurun” . Dibagian lain yaitu melaui pesisir timur berkembang pula ajaran Islam dan meluas sampai ke darek. Hal ini dapat terjadi karena adanya hubungan antara alam Minangkabau dan Malaka. Sebagai tanah asal dengan rantaunya, berlangsung saling kunjungan antara Minangkabau dengan Malaka.

Dalam abad ke XIV M. Islam sudah merata berkembang di Malaka. Seseorang yang berasal dari Siak  mempunyai pengetahuan yang cukup tentang agama Islam di Malaka, pulang ke Siak dan mengajarkan agama Islam disana. Karena kepintarannya menyiarkan agama, maka dalam waktu yang cepat banyak orang yang mengikuti ajarannya. kemudian ia bersama murid-muridnya masuk kebagian dalam Minangkabau untuk menyiarkan agama. Dalam waktu yang cepat banyak pengikut-pengikutnya, oleh karena guru itu berasal dari Siak, maka orang yang telah dapat pengetahuan Agam itu dikatakan telah terpengaruh oleh orang Siak. Selanjutnya orang yang mempunyai pengetahuan agama dan mengajarkannya disebut “Orang siak”. Sampai saat sekarang ini kata “urang siak” dipergunakan sebagai istilah untuk orang yang mempunyai ilmua agama Islam. Hal ini menunjukkan adanya penyebaran agama Islam melalui arah Timur.

Perkembangan dan penyiaran Islam tahap tiga berlaku pada waktu kekuasaan kerajaan Islam di Pagarruyung. Islam lebih dahulu masuk dan berkembang didaerah pesisir yang merupakan daerah rantu Minangkabau. Dari daerah pesisir agama Islam mendaki dan berkembang di Agam Minangkabau atau darek. Walaupun di pusat kerajaan yaitu Pagaruyung raja masih beragama Budha, tetapi sejak awal abad ke XV M, sebagian daerah Minangkabau telah memeluk agama Islam. Setelah raja Anggawarman Mahadewa memeluk agama Islam dan mengganti namanya menjadi Sultan Alif, maka secara resmi Islam telah masuk di istana Pagaruyung. Kerajaan Pagarruyung diperintah berdasarkan Adat dan Syarak seperti dirumuskan dalam pepatah “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”, sampai saat datangnya pemurnian agama Islam di Minangkabau yang dilakukan oleh Haji Miskin, Haji Piobang, dan Haji Sumanik. Setelah tiga orang haji tersebut pulang ke Minangkabau (1803) dimulailah usaha pemurnian ajaran agama melalui “Gerakan Paderi”. Dengan berkuasanya Islam di istana raja, besar sekali pengaruhnya terhadap perkembangan Islam di Mingangkabau dan semenjak itu seluruh rakyat Minangkabau resmi memeluk agama Islam.

Perkembangan Islam Pada Awalnya dipengaruhi Oleh Ajaran Syekh Burhanuddin. Ajaran Syekh Burhanuddin semakin mendapat sambutan luas dari masyarakat, murid-muridnya bahkan banyak pula yang datang dari pedalaman Minangkabau, terutama dari Agam dan Lima Puluh Kota. Pengaruh Syekh Burhanuddin di daerah pedalaman Minangkabau menjadi besar sekali. Para tuanku dan guru agama terpenting di daerah Darek pada akhir abad ke-18 hampir semuanya belajar di Ulakan. Di Pamansiangan, Luhak Agam, kemudian didirikan pula pusat pengajian aliran Syattariah dengan pemimpinnya Tuanku Pamansiangan. Meskipun demikian, dari Luhak Agam masih ada yang menuntut ilmu ke Ulakan kepada Syekh Burhanuddin. Salah seorang di antaranya yang terpandai adalah Tuanku Nan Tuo yang biasa dikenal dengan Tuanku Koto Tuo[22].

Perkembangan Islam di Minangkabau pada masa itu diwarnai pula dengan perbedan pendapat yang cukup mendasar sampai memasuki awal abad ke-19, ketika di Pandai Sikek muncul Kaum Paderi atau Kaum Putih yang menganut paham Wahabi di  bawah pimpinan Haji Miskin yang baru pulang dari Mekkah. Pengikut Haji Miskin adalah murid-murid Tuanku Koto Tuo yang memang sudah berkeinginan untuk mengadakan pembaharuan di Minangkabau. Haji Miskin dan para pengikutnya mendapati praktik-praktik keagamaan di Minangkabau yang sangat mengkhawatirkan, seperti guru-guru agama masih berkhidmat kepada kuburan yang dianggap keramat, sabung ayam menjadi menu harian, judi merajalela, dan sebagainya. Gebrakan yang dilakukan Kaum Paderi dimulai dengan menata kekuatan pada tahun 1801-1806. Tahun 1826-1837, mereka mulai menebar pengaruh, termasuk dengan cara kekerasan, yang membawa mereka dalam perselisihan panjang dengan kaum adat. Belanda yang sedang berusaha meluaskan pengaruhnya mendapatkan jalan dengan mendukung Kaum Adat, sehingga gerakan agama kemudian berubah menjadi perlawanan menantang masuknya pengaruh dan kekuasaan Belanda di Minangkabau yang terkenal dengan Perang Paderi. Meskipun pada akhirnya Kaum Paderi kalah, namun banyak perubahan yang terjadi dalam praktik keagamaan di Minangkabau dan Minangkabau pun memasuki fase baru.


[1]Deliar Noer, Gerakan Moderen Islam di Indonesia, (Jakarta: LP3ES, 1988), h. 67.

[2]William Marsden, Sejarah Sumatra, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1999), h. 49.

[3]  I. H. Dt. Rajo Penghulu, Pokok-Pokok Pengetahuan Adat Alam Minangkabau, (Bandung: Remaja Karya, 1994), h. 18.

[4] Christine Dobbin, Gejolak Ekonomi, kebangkitan Islam dan gerakan Padri: Minagkabau 1784-1847, (Depok: Komunitas Bambu, 2008),h. 3-4.

[5] Amir M.S, Adat Minangkabau Pola dan Tujuan Hidup Orang Minang, (Jakarta: Mutiara Sumber Widya, 2003), h. 87-89.

[6] Jeffrey Hadler, Sengketa Tiada Putus: Matriakat, Reformisme Islam, Dan Kolonialime Di Minangkabau, (Padang: Fredom Institute, 2010), h. xxxi.

[7] Alwi Shihab, The Muhammadiyah Movment and It’s Controversy with Cristian Missin in Indonesia, Ihsan Ali Fauzy (penerjemah), Membendung Arus: Respon Gerakan Muhammadiyah Terhadap Gerakan Penetrasi Kristen Di Indonesia, (Bandung: Mizan, 1998), h. 16-17.

[8] Naim, Mochtar. “Nagari versus desa: Sebuah Kerancuan Struktural”, dalam Nagari, Desa dan Pembangunan Pedesaan di Sumatera Barat, diedit oleh eddy utama, (Padang: Yayasan Genta Budaya, 1990), h. 45.

[9] Christine Dobbin, Gejolak Ekonomi, kebangkitan Islam dan gerakan Padri: Minangkabau 1784-1847, h.188.

[10] A.A. Nafis, Alam Terkembang Jadi Guru: Adat dan Kebudayaan Minangkabau, Cet. I, (Jakarta: temprint, 1984), h. 86.

[11] Amir Syarifuddin, Pre Islamic Minangkabau. (Sumatera Research Bulletin 4, no 1,1974), h. 2.

[12] Christine Dobbin, Gejolak Ekonomi, kebangkitan Islam dan gerakan Padri: Minangkabau 1784-1847, h.192

[13] Pendapat ini dikemukakan Hamka dengan mengutip Sir Thomas Arnold yang juga mengutip dari W.P. Groeneveldt, Notes on the Malay Archipelago and Malacca, dikumpulkan dari sumber China, 1880.

[14] Hamka, Sejarah Ummat Islam IV, (Jakarta: Bulan Bintang. 1976), h. 45.

[15] Mansoer, M.D, Sejarah Minangkabau, (Jakarta: Bhratara, 1970) h. 135.

[16] Ricklefs, M.C, Sejarah Indonesia Modern, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1995). h. 234.

[17] Isma’il Ya’qub, Sejarah Islam di Indonesia, (Jakarta, Balai Pustaka, 1956), h. 22.

[18] Slamet Mulyana, Runtuhnya Kerajaan Hindu Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara, (Jakarta: Bathara, 1963), h. 43.

[19] Azyumardi Azra, Surau: Pendidikan Islam Tradisional Dalam Transisi  dan Modernnisasi, Cet. I, penerjemah Iding Rasyidin, (Jakarta, Logos Wacana Ilmu, 2003), h. 19.

[20] Azyumardi Azra, Surau: Pendidikan Islam Tradisional Dalam Transisi  dan Modernnisasi, h. 43

[21] Amir Syarifuddin, Pre Islamic Minangkabau. (Sumatera Research Bulletin 4, no 1,1974), h. 45.

[22] Martamin Mardjani, Tuanku Imam Bonjol, (Jakarta: Depdikbud, 1986), h. 57.

Related posts

Benteng-Benteng Warisan Kerajaan Islam di Nusantara

admin

Simbol Harmoni Kerukunan Islam-Dayak yang Menginspirasi

admin

Warisan Islam di Alexandria

admin

Sejarah Islam di Tanah Batak

admin

Islam Minangkabau (bagian 2)

khalwani ahmad

Islam Minangkabau (Bagian 3, Habis)

khalwani ahmad

Leave a Comment