26.5 C
Indonesia
25 Agustus 2019
Islam Minangkabau (Bagian 3, Habis) 1

Islam Minangkabau (Bagian 3, Habis)

  • 6. Adat dan Budaya Islam Di Minangkabau

Kata adat berasal dari bahasa Arab yang secara etimologis berarti kebiasaan yang berlaku berulang kali. Dalam bahasa Indonesia kata adat biasa dirangkai dengan kata “istiadat” yang juga berasal dari basaha Arab dengan arti suatu yang dibiasakan. Rangkaian kedua kata tersebut dalam pengertian Minangkabau berarti peraturan yang mengatur cara pergaulan antara masyarakat dengan perorangan serta pergaulan antara perorangan sesamanya.[1]

Tradisi diartikan sebagai sesuatu kebiasaan yang berkembang pada masyarakat baik yang menjadi adat kebiasaan, atau yang diasimilasikan dengan ritual adat atau agama. Tradisi ini berlaku secara turun temurun baik melalui informasi lisan berupa cerita, serta informasi tulisan seperti kitab-kitab lama dan catatan-catatan berupa prasasti yang ada. Dikutip dari Muhaimin tentang istilah tradisi dimaknai sebagai pengetahuan, dokrin, kebiasaan, praktek, dan yang dipahami sebagai pengetahuan yang telah diwariskan secara turun temurun termasuk cara penyampaian dan praktek tersebut.[2]

Di dalam pepatah adat terdapat ucapan tentang sifat adat Minangkabau Yaitu: “Tidak lapuk oleh hujan, tidak lekang oleh panas, dialih tidak akan layu, dicabut tidak akan mati”. Pepatah ini menunjukkan kekuatan yang langgeng, tidak akan mengalami pengaruh dari luar. Disamping itu terdapat pula pepatah “sekali air besar sekali tepian beralih” yang mengandung arti bahwa adat dapat mengalami perubahan. Bila terjadi suatu perubahan besar yang diibaratkan dengan air besar atau banjir yang menggeser tepian. Hal ini berarti bahwa adat Minangkabau dapat menyesuaikan diri dengan suatu perubahan yang terjadi. Adapun adat istiadat, tradisi, dan budaya Islam di Minangkabau diantaranya adalah:

  1. Adat Perkawinan dalam Tradisi Bajapuik

a. Memilih Calon Menantu (meresek)

Menurut Navis (1984), pada masyarakat Minangkabau perkawinantidak hanya melibatkan dua pasang insan yang akan melangsungkan perkawinan, tetapi juga melibatkan kaum kerabatnya mulai dari mencarikan jodoh hingga pada masalah pasca perkawinan. Sebuah keluarga berkewajiban mencarikan jodoh dan mengawinkan anak kemenakannya jika sianak telah patut untuk berumah tangga. Besarnya kewajiban keluarga mencarikan jodoh dan mengawinkan anak kemanakannya menyebabkan seorang anak harus menjalankan kewajiban pribadinya menerima pilihan keluarga. Menolak seseorang yang telah dipilihkan keluarga bukanlah tidak boleh dilakukan, tetapi hal itu sangat sulit terlaksana karena bisa menyebabkan mamak dan anggota kaum lain merasa tersinggung.[3]

Untuk pencarian jodoh pada umumnya diawali dengan penjajakan terhadap calon yang terpilih. Meskipun penjajakan dapat dilakukan oleh kedua belah pihak; tetapi yang berlaku umum pihak perempuan yang terlebih dahulu memulainya. Istilah itu dalam masyarakat Minangkabau disebut dengan ma-anta asok atau meresek, yaitu proses mencari jalan kesepakatan dua keluarga untuk mengawini anak mereka. Penjajakan ini bertujuan untuk; 1) meminta kesediaan pihak keluarga laki-laki (terutama orang tuanya), agar mau melepas anaknya untuk dijadikan menantu atau sumando orang yang datang. 2) penelusuran bertujuan menyelidiki jati diri dari calon mempelai; seperti asal usul keturunan, kepribadian, agama sampai kepada pendidikan dan pekerjaannya. 3) Menentukan jumlah uang jemputan dan uang hilang serta syarat-syarat lain yang harus dipenuhi oleh pihak perempuan.[4]

  • b. Pertunangan (Duduk Ninik Mamak)

Pertunangan adalah kesepakatan antara pihak laki-laki dan pihak perempuan untuk mengikat suatu hubungan, yang ditandai dengan bertukar tanda (tukar cincin). Tanda yang dipertukarkan biasanya dalam bentuk benda seperti emas (cincin) dan ada pula dalam bentuk benda lain, yang berupa kain sarung. Apapun jenis dan bentuk benda yang dipertukarkan pada saat pertunangan tergantung kesepakatan yang dibuat oleh kedua belah pihak. Pertemuan tersebut disebut acara duduk ninik mamak. Pada acara itu, pihak perempuan membawa bingkisan yang berisi lauk-pauk yang terdiri dari goreng dan gulai ikan, ayam, daging dan sebagainya. Selain itu, pembawaan ini juga dilengkapi dengan kue-kue dan berbagai jenis makanan lainnya. Pertemuan itu tidak hanya untuk pengukuhan pertunangan, tetapi sekaligus membicarakan dan menetapkan persyaratan adat khususnya mengenai uang jemputan, uang hilang, uang tungkatan dan tungkatan yang akan dibawa pada saat penjemputan marapulai. Selain itu, tanggal pernikahan dan pesta ditetapkan pula pada saat itu.[5]

  • c. Akad Nikah (Bajapuik)

Pada pelaksanaan pesta perkawinan ini keterlibatan anggota keluarga sangat diperlukan, baik moril dan materil, mulai dari persiapan sampaipelaksanaan pesta dan setelah pesta (malam baretong). Bahkan keterlibatan anggota keluarga/kerabat itu berlangsung pula dalam proses perkawinan itu sendiri agar perkawinan itu dapat berjalan dengan baik seperti dalam proses manjapuik marapulai dan acara bako-ba bakian. Pada proses manjapuik marapulai diawali dengan utusan yang datang ke rumah pihak laki-laki. Kemudian dalam proses bako-ba-bakian— pihak ayah (bako) datang secara resmi. Mereka datang berombongan sekaligus memberikan ucapan selamat kepada anak pisangnya dan membawa berbagai macam bingkisan.[6]

  • d. Manjalang

Manjalang adalah mempelai perempuan pergi secara resmi ke rumah mertua untuk pertama kali setelah pesta perkawinan dilakukan. Acara ini bisa dilaksanakan pada hari yang sama, atau satu sampai tiga hari setelah pesta diselenggarakan dan tergantung pada kesepakatan yang dibuat sebelumnya. Pada saat ini mempelai perempuan, pergi bersama rombongan yang terdiri dari ; sumandan, kerabat dan tetangga terdekat.[7]

  • e. Baretong

Malam baretong adalah malam pada saat menghitung jumlah biaya yang dikeluarkan dan jumlah uang yang diterima dalam pelaksanaan perkawinan. Malam baretong disebut juga dengan malam penutupan pesta dan pencarian dana.[8]

  • 2. Adat Balimau

Balimau adalah sebuah upacara tradisional yang istimewa bagi masyarakat Minangkabau untuk menyambut bulan suci Ramadhan. Acara ini biasanya dilaksanakan sekali setahun yaitu sehari menjelang masuknya bulan puasa, upacara Balimau ini selain sebagai ungkapan rasa syukur dan kegembiraan memasuki bulan penyucian diri. Balimau bermakna mandi dengan menggunakan air yang di campur jeruk yang oleh masyarakat Minangkabau sendiri disebut limau. Limau yang biasa digunakan adalah limau parut, limau nipis, limau kapas yang di sertai wangi-wangian, biasanya dipakai ke wajah dan tangan atau semacam luluran. Bagi masyarakat, pengharum badan ini dipercayai dapat mengusir segala macam rasa dengki yang ada dalam pikiran seseorang, sedangkan untuk pengharum rambut masyarakat Minangkabau menggunakan wangi-wangian saat berkeramas. Bagi masyarakat Minangkabau pengharum rambut ini dipercayai dapat mengusir segala macam rasa dengki yang ada dalam kepala, sebelum memasuki bulan puasa.

Persiapan acara Balimau dilakukan dengan cara terlebih dahulu mempersipkan perlengkapan dan peralatan. Perlengkapan dan perlatan yang akan dipersipkan pada saat dilangsungkannya acara adalah, baju enam warna yaitu putih, hijau, merah, kuning, hitam, dan kelabu. Pakaian berwarna putih secara khusus digunakan oleh pemimpin upacara, sedangkan sisanya oleh masyarakat yang lain. Guci atau kendi yang digunakan adalah guci khusus yang telah berumur ratusan tahun. Ramuan khusus ini terbuat dari campuran air yang diambil dari sumur kampung yang telah dibacakan mantera dan dicampur dengan jeruk nipis 7 buah. Buah ini melambangkan penguasaan terhadap ilmu sakit. Pinang 7 Butir melambangkan kesucian batin. Bonglai kering 76 iris melambangkan sikap pemberani, pemberantas jin dan iblis, serta ahli politik sebagaimana sifat dan keahlian. Kunyit 7 mata, benda ini mempunyai arti bahwa orang yang rajin musuhnya iblis, dan orang malas kawannya iblis. Mata mukot 7 jumput dan bawang merah 7 biji melambangkan sifat penurut. Arang using melambangkan sifat sabar, pandai menyimpan rahasia dan kuat. Pelaksanaan merupakan acara yang dilakukan sesudah semua persiapan telah siap semua. Tata cara pelaksanaan Balimau campurkan semua bahan-bahan ini, kemudian tuangkan dalam air panas suam-suam kuku. Bersihkan badan terlebih dahulu untuk mengikis kotoran yang menempel pada tubuh, sucikan hati dengan niat lahir batin akan menunaikan ibadah puasa sepenuh hati karena Allah SWT. Guyurlah tubuh dengan ramuan tersebut. Yakini diri kita bahwa kita tidak melakukan hal yang bertentangan dengan agama, melainkan semata ingin merealisasikan khazanah budaya yang ada di ranah kita serta ibadah kepada Allah SWT, setelah semua persiapan cukup, acara Balimau dimulai. Peserta mengucapkan niat sebelum memulai, kemudian pemimpin upacara dengan didampingi lima laki-laki mengenakan kain hijau, merah, kuning, hitam dan kelabu membaca doa dan memanterai air ramuan yang ada dalam kendi. Acara pemandian dimulai dengan membasahi telapak tangan kanan dan dilanjutkan dengan tangan kiri, kemudian dilanjutkan dengan kaki kanan lalu kaki kiri, setelah itu membasahi ubun-ubun dilanjutkan dengan seluruh badan, setelah semua peserta upacara selesai mandi, dipentaskan tarian nampi.

Dilanjutkan dengan pelaksanaan tradisi adat yaitu membawa makanan secara bergotong-royong di suatu tempat seperti masjid dan setelah itu acara selesai. Pelaksanaan selesai maka masyarakat Minangkabau membaca surat yasin dan makan bersama. Mereka makan bersama mereka saling bermaaf-maafan dan silaturahmi anatara satu sama lainnya.[9]

  • 3. Adat Bagurau Saluang dan Dendang

Istilah bagurau muncul dari tradisi budaya masyarakat Minangkabau, yakni tradisi budaya lisan yang merupakan salah satu ciri khas kebudayaan Minangkabau. Tradisi bercakap-cakap atau budaya bercerita dalam suasana yang akrab, sindir-sindiran melalui ungkapan-ungkapan bahasa yang tajam merupakan kebiasaan yang sudah umum dan dikenal luas dalam masyarakat Minangkabau. Kebiasaan masyarakat Minangkabau untuk berkumpul bersama sambil bercerita dan bercanda, dengan tema-tema pembicaraan yang saling sindir-menyindir, bahkan juga bisa saling (mencemooh), dalam suasana yang dialogis dan akrab, menyebabkan masyarakat Minangkabau dikenal sebagai masyarakat yang suka dan pintar bicara.

Jadi pengertian bagarau sebagai bentuk pertunjukan saluang dan dendang yang selalu diasosiasikan dengan bagurau, karena pelaksanaannya selalu melibatkan penonton. Pemain dan penonton sama-sama aktif. Mereka berbaur di tempat pertunjukan dalam suasana kebersamaan. Konsep pertunjukan inilah yang kemudian memberikan arti pada pertunjukan sebagai suatu pengalaman bersama, dimana penonton dan pemain saling dapat berhubungan. Bentuk pertunjukan tradisional di Indonesia pada dasarnya termasuk golongan seperti ini, yaitu di mana bisa terjadi percakapan antara pemain dan penonton, bahkan juga pemain swaktuwaktu bisa masuk di antara penonton, dan penonton bisa ikut bermain. Pertunjukan bagurau saluang dan dendang merupakan sebuah pertunjukan musikal yang dipadukan dengan kekuatan pantun-pantun yang didendangkan dengan iringan alat musik saluang. Alat musik saluang termasuk memainkannya yang lebih khusus yakni ditiup dari bagian ujungnya Fungsi alat musik saluang adalah untuk mengiringi dendang-dendang yang berisi pantun-pantun yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat Minangkabau.[10]

Hubungan antara agama Islam dan budaya (adat), sebagaimana yang diungkapkan dasar falsafah Minangkabau, “Adat bersendi Syarak, Syarak bersendi Kitabullah”, mungkin dapat dijadikan dasar pemahaman kenapa perempuan dibatasi bahkan dilarang tampil dalam kegiatan pertunjukan. Meskipun dalam praktek, sebetulnya tidaklah sekaku tersebut, karena dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Minangkabau, tetap ada kegiatan-kegiatan kesenian yang didukung oleh kaum perempuan, meskipun sebatas kegiatan upacara adat Minangkabau itu sendiri. Menurut Ketua Lembaga Kerapatan Alam Minangkabau, Kamardi Rais dt. P simulie, kalau sudah tidak lagi dalam acuan adat Minangkabau, itu sudah tidak pantas lagi dilakukan kaum perempuan. Hadirnya pendendang perempuan dari generasi tahun 1960-an akhir sampai sekarang, yang “melawan” tradisi budaya sebelumnya, secara jelas memperlihatkan peranan perempuan pendendang membentuk suatu kenyataan sosial yang baru melalui pertunjukan. Tanpa perempuan pendendang yang keluar dari tradisi, mungkin pertunjukan bagurau saluang dan dendang tidaklah berkembang seperti sekarang. Dengan demikian dapat dikatakan, bahwa pendendang perempuanlah yang telah melakukan sebuah perubahan dan inovasi sosial melalui kegiatan mereka mengembangkan kehidupan pertunjukan bagurau saluang dan dendang di Minangkabau.[11]

  • 4. Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah

Landasan ideal muzik Islami sebagai seni bernafaskan Islam yang hidup dan berkembang dalam wilayah kebudayaan Minangkabau akan berhubungan dengan nilai dan norma Islam dan adat istiadat yang digunapakai oleh masyarakat. Berdasarkan nilai dan norma inilah secara ideal orang Minagkabau membangun kehidupan, antara lain kehidupan dalam berkesenian. Dalam hal ini, ladasan ideal muzik Islami Minangkabau akan berhubungan dengan konseps “Adat Bersendi Syarak, syarak bersendi kitabullah.” Minangkabau sejak dahulu hingga sekarang, tatanan kehidupan masyarakatnya sangat ideal kerana didasari nilai-nilai, norma-norma adat dan agama Islam yang menyeluruh, dalam satu ungkapan adat berbunyi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Adat dan syarak di Minangkabau merupakan benteng kehidupan dunia akhirat yang disebutkan dalam petatah adat “kesudahan adat ka balairung, kasudahan syarak ka akhirat” (penyelesaian adat bertempat di balerong (rumah gadang), penyelesaian agama di akhirat). Mamangan ini menyiratkan teguhnya benteng orang Minangkabau yang terkandung di dalam adat dan kokohnya perisai Islam yang di pagar oleh syarak. Dengan penyeruan umat ke arah penyempurnaan pola hidup di dunia dan menuju akhirat itu akhirnya antara golongan niniak mamak dan golongan tuangku atau alim ulama menyusun satu falsafah yang dikenal dengan adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah yang artinya adat bersendikan pada agama, dan agama benrsendi pada kita Allah. Adat dan agama di Minangkabau selalu seiring dalam perkembangannya, perubahan kebudayaannya (termasuk muzik Islami) dapat dipertimbangkan menurut alur jo patut, raso jo pareso (alur dengan patut, rasa dengan periksa) sepanjang adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah. Hakikatnya, selama suku Minangkabau menganut syarak, berarti adat mereka itu selamanya langgeng dan lestari. Dalam syarak terkandung dua unsur pokok, iaitu aqidah dan syari‘ah Islam. Oleh itu, segala sesuatu yang berkaitan dengan adat dan syarak akan saling berjalan secara sinkron, sehingga dalam pelaksanaannya tercurai pepatah “syarak mengato, adat memakai” (agama mengatakan, adat memakai); dan kukuhnya adat itu terletak dalam keputusan, bahawa “adaik nan kawi, syarak nan lazim” (adat yang kawi, agama yang lazim) disertai lagi dengan “adaik babenteng syarak, syarak babenteng adat, sanda menyanda kaduonyo” (adat berbenteng agama, agama berbenteng adat, sandar menyandar keduanya).[12]

Akibat dari bersatunya ajaran adat dan ajaran Islam mempengaruhi terhadap struktur pemerintahan dalam adat Minangkabau, iaitu adanya tiga golongan yang selalu sangat mempengaruhi terhadap kehidupan bernagari dan bermasyarakat, iaitu golongan niniak mamak, golongan alim ulama, dan golongan cadiak pandai, sedangkan yang berada diluar golongan itu disebut dengan golongan urang. Golongan niniak mamak (ninik mamak) terdiri dari para penghulu atau kepala suku yang tetap ada pada masing-masing persukuan. Ia bertugas memimpin, membimbing aktiviti anggota persukuannnya baik dalam kehidupan intern maupun dalam hidup bermasyarakat di suatu nagari.  Golongan alim ulama adalah terdiri dari orang-orang yang tahu dan faham tentang ajaran agama Islam. Mereka bertugas mendidik mental dan spiritual masyarakat kepada jalan yang benar sesuai dengan ajaran Islam seperti menjadi imam waktu shalat, mengajar mengaji, mengajar ilmu-ilmu Islam dan memimpin upacara-upacara rakyat yang berhubungan dengan aspek-aspek ajaran Islam. Golongan cerdik pandai pula terdiri dari orang-orang yang mempunyai pengetahuan luas tentang tata cara kehidupan tradisional Minangkabau. Fikiran dan pendapat mereka dijadikan pedoman dan pegangan untuk menjalani kehidupan oleh orang-orang lain secara individu maupun bermasyarakat. Sedangkan orang kebanyakan adalah orang yang tidak termasuk kepada tiga golongan di atas, mereka tergolong pada masyarakat biasa.

  • 5. Budaya Surau

Tumbuhnya tradisi surau sebagai tonggak tua untuk pengenalan kesenian bernuasa Islam di daerah ini telah bermula semenjak abad ke-17. Surau yang amat terkenal sebagai pusat pengembangan agama Islam dan kesenian yang bersifat islami di Minangkabau adalah surau Syekh Burhanudin Ulakan.1 Pada surau Ulakan inilah kesenian bernuansa Islam diperkenalkan kepada murid-murid surau, di samping proses pembelajaran dengan menggunakan sistem halaqah. Tradisi halaqah surau Ulakan itu juga menghadirkan nilai-nilai estetika Islam yang berpadu dengan budaya lokal dalam pengembangan ajaran Islam, sehingga tradisi ini telah mampu mempercepat penyebaran Islam di Minangkabau. Tujuannya adalah agar murid-murid merasa mudah dan merasa senang menuntut ilmu agama di surau. Akhirnya, surau dijadikan sebagai tempat shalat dan tempat pengembangan amalan-amalan keagamaan yang dinyanyikan. Penyeruan umat dengan ritualisasi tersendiri, seperti berzikir yang dinyanyikan dengan maksud untuk mencapai makrifatullah adalah suatu kaedah menarik pada zaman proses perkembangan Islam di Ulakan Minangkabau. Pada akhirnya daerah pesisir Ulakan menjadi pusat kebangkitan Islam dan kesenian bernuansa Islam terawal di Minangkabau, selanjutnya tersebar ke daerah-daerah lain di Minangkabau. Pendekatan empatik yang menonjolkan nilai-nilai kultural serta kemampuan adaptasi yang digunakan oleh ulama-ulama Islam menjadi sangat ampuh dalam rangka islamisasi tersebut, iaitu diperkenalkan dengan bahasa yang mudah diterima.[13] Pendekatan budaya (kesenian) demikian merupakan cikal bakal yang mendorong tumbuhnya kesenian Islam Minangkabau. Jenis muzik islami yang berkembang di surau-surau pada zaman surau itu ada yang memakai alat muzik ddan ada pula yang tidak. Antara jenis nyanyian yang tidak menggunakan alat muzik seperti berzanji. Manakala yang menggunakan alat muzik rebana untuk mengiringi nyanyian seperti dikia rabano, salawat dulang dan indang. Kadang-kadang nyanyian ini dilakukan sambil menari dengan diiringi muzik rebana. kesenian dikia rabano (dikia rabano). Persembahannya adalah berupa penyajian kitab Al Bazaji yang terdiri daripada beberapa bab dan fasal-fasalnya. Dalam persembahannya, teks Al Barzanji yang sering dinyanyikan adalah fasal amintaza, iaitu fasal fasal qasidah burdah yang terdiri daripada 87 baris. Qasidah burdah ini merupakan nyanyian sunyi yang berisikan sifat-sifat Nabi Muhammad, perjuangan dalam mendakwah, ajaran-ajaran yang disampaikan, dan sebagainya. Penyajian teks ini dilakukan oleh beberapa orang secara bergantian dan sambung menyambung dalam bentuk responsorial sambil memukul-mukul rebana ukuran besar. Selanjutnya kesenian salawat dulang, penyajiannya terdiri daripada dua kumpulan yang bertanya jawab tentang pelbagai persoalan keagamaan. Setiap kumpulan terdiri daripada dua orang. Alat muzik yang dipergunakan adalah “dulang.” Tema utama persembahan “salawat dulang” berhubungan dengan masalah akidah iaitu perasaan cinta sedalam-dalamnya terhadap Allah S.W.T, dan cinta terhadap Nabi Muhammad S.A.W.

  • 6. Budaya Kesenian Nuansa Islam

Fenomena kesenian bernuansa Islam yang menarik dalam penyajian syair-syair keagamaan yang dinyanyikan seperti pada dikia rebana, salawat dulang dan indang. Barzanji, adalah sebuah tradisi pembacaan kitab sastra Arab Majmu’atul Mawaalid2 menceritakan latar belakang, kisah kelahiran, dan kemuliaan sifat Nabi Muhammad s.a.w. Pembacaan kisah itu disampaikan secara bernyanyi dalam suasana ritual Islami. Penganut tarekat Syattariyah pada umumnya tidak hanya menganggap barzanji sebagai sebuah seni vokal Islami, tetapi juga memandangnya sebagai sebuah ibadah yang berpahala mengamalkannya. Oleh karena nyanyian tersebut berfungsi sebagai media beribadah, maka nyanyian barzanji dapat dikategorikan sebagai sebuah nyanyian religius, kerana di dalam prakteknya tersimpul spiritualitas Islami. Penyajian barzanji adalah berupa persembahan kitab sastra Majmu’atul Mawaalid tanpa diiringi oleh alat musik.

Persembahannya dikia rabano adalah berupa penyajian kitab Al-Barzanji yang terdiri daripada beberapa bab dan fasal-fasalnya. Dalam persembahannya, teks berzanji yang sering dinyanyikan adalah fasal amintaza, iaitu fasal-fasal Qasidah burdah yang terdiri daripada 87 baris. Qasidah burdah ini merupakan nyanyian sunyi yang berisikan sifat-sifat Nabi Muhammad S.A.W., perjuangan dalam mendakwah, ajaran-ajaran yang disampaikan, dan sebagainya. Penyajian syair ini dilakukan oleh beberapa orang secara bergantian dan sambung menyambung dalam bentuk “responsorial” sambil memukul-mukul rebana. Dalam persembahan dikia rabano syair tersebut hanya dinyanyikan sekitar delapan sampai sepuluh baris saja, sebab dalam sajiannya syair tersebut tidak dibaca sebagaimana adanya, tetapi digarap dengan menambah kata-kata dan kalimat lain seperti aeeii, Oooo, iiiii, Allah, maulai, lailahaillallah. Penambahan tersebut dilakukan karena memenuhi keperluan melodi dari lagu dikia rabano.

Demikian juga pada kesenian salawat dulang. Salawat dapat mengartikulasikan cinta seseorang muslim kepada Rasulullah saw, dan kesiapannya untuk taat dan mengikutinya. Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya berSalawat untuk nabi. Hai orang-orang yang beriman, berSalawat kamu kepada nabi, dan ucapkanlah salam penghormatan kepadaNya (QS Al Ahlzab: 56). Salawat kepada Nabi berarti pujian dan rahmat untuk beliau dihadapan malaikat. Sedangkan shalawat para malaikat adalah doa, berkah, dan ampunan. Kemudian, kata dulang analogi dengan “talam” alat bejana yang difungsikan sebagai instrumen pengiring melodi nyanyian. Lagu salawat dulang terdiri daripada lima bahagian, iaitu: 1) lagu imbauan, 2) lagu khutbah, 3) lagu batang, 4) lagu ya Molai, dan 5) lagu cancang. Masing-masing lagu tersebut memiliki ciri-ciri tertentu dalam penyampaian topik.

Aspek kebahasaan kata imbauan sebagai simbol untuk lagu pertama persembahan salawat dulang. Imbauan dalam konteks struktur salawat dulang memiliki dua makna simbolis: pertama, penyerahan diri pada Yang Maha Kuasa untuk memulai aktivitas; dan kedua, sebagai sebuah pemberitahuan, bahawa salawat dulang siap untuk dimulai sekaligus ajakan kepada para penonton untuk menyaksikan sajian salawat dulang. Hal ini disebabkan imbauan merupakan pemula dari satu siklus persembahan salawat dulang. Syair lagu imbauan seperti berikut: Oii aaaiii yooo-Oii yoo umat Nabi yoo-Oii aaaii-Oii Allah Allah yo Allah-Oii yo Junjuangan yo Junjuangan.

Demikian juga pada kesenian indang. Syair yang disajikan pemain indang dalam bentuk prosa berirama umumnya diambil dari kisah Nabi Muhammad yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Minangkabau. Selain itu ada juga syair tentang kisah para ulama mengembangkan agama Islam hingga sampai ke Pariaman dan berkembang lebih luas di Minangkabau, kisah tentang nabi (Adam dan Muhammad), dan suasana Pariaman atau Minangkabau sebelum masuknya agama Islam. Namun ada pula syair yang diambil dari cerita-cerita yang terdapat dalam tambo Minangkabau yang kaya dengan unsur simbolik dan kiasan.[14]

  • 7. Penutup

Minangkabau berada di pulau Sumatra bagian barat. Akan tetapi hakikatnya Minangkabau sangatlah luas melebihi wilayah Sumatra Barat, karena masyarakat Minangkabau sangatlah suka  berkelana terlebih masyarkatnya yang giat berwirausaha hingga ke berbagai wilayah, sehingga hal ini  membuat semakin luasnya msyarakat Minangkabau.

Masyarakat Minangkabau merupakan masyarakat yang kaya akan budaya dan adat yang telah mendarah daging di hati masyarakat. Namun, adat dan budaya tersebut tidak lepas dari aturan syariat Islam. Sebagaimana yang  telah termaktub dalam Piagam Marapalam yaitu “Adat Basandi Sarak, Syarak Basandi Kitabullah”. Hal ini menunjukkan segala aturan adat harus berdasarkan syariat Islam tidak boleh dilanggar, karena syariat Islam berasal dari kalam Ilahi.

Sebelum Islam datang dan menjadi bagian tradisi di Minangkabau, orang Minangkabau pernah menganut kepercayaan animisme-dinamisme sebagai sistim kepercayaan mereka. Hal itu bisa ditemukan dalam catatan M.D. Mansoer cs bahwa masyarakat Minangkabau kuno memiliki kepercayaan khusus terhadap ruh-ruh nenek moyang serta tempat-tempat yang di anggap keramat seperti gunung-gunung dan makam-makam nenek moyang mereka. Namun lama kelamaan dengan semakin berjalannya waktu, saat para pedagang Muslim dari Arab datang dan membawa Islam, saat itu pula Islam mulai dikenal dan dianut oleh masyarakat Minangkabau bahkan para raja-rajapun turut mengembangkan Islam di Minangkabau.

Hal lain yang menjadi pembeda suku Minangkabau dengan suku yang lain adalah garis matrilineal. Garis keturunan dalam masyarakat Minangkabau diperhitungkan menurut garis matrilineal. Seseorang termasuk keluarga ibunya dan bukan keluarga ayahnya. Seorang ayah berada diluar keluarga anak dan istrinya. Seorang ayah dalam keluarga Minangkabau termasuk keluarga lain dari keluarga istri dan anaknya, sama halnya dengan seorang anak dari seorang laki-laki akan termasuk keluarga lain dari ayahnya.. Oleh karena masyarakat Minangkabau menganut sistem matrilineal, maka susunan masyarakatnya ditarik dari garis keturunan ibu. Dalam hukum adat Minangkabau, terdapat sejumlah aturan-aturan dan susunan masyarakat yang masih besar pengaruhnya hingga saat ini. Semua aturan dari hukum adat Minangkabau itu terangkum dalam empat tingkatan adat, yaitu Adat Nan Sabana Adat, Adat Nan Diadatkan, Adat Nan Teradat, dan Adat Istiadat. Mengenai warisan, di Minangkabau terdiri atas dua jenis, yaitu sako dan pusako. Sako sendiri mempunyai arti sebagai warisan yang tidak bersifat kebendaan seperti gelar pusaka. Didalam bukunya Amir Ms menyatakan: “sako adalah segala kekayaan asal, yang tidak berwujud, harta tua berupa hak atau kekayaan tanpa wujud.”

Adapun adat dan budaya masyarakat Minangkabau diantaranya adalah adat Balimau, Bagurau Saluang dan Dendang, Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah, Budaya Surai dan Kesenian bernuansa Islami.


[1] Amir Syarifuddin,  Alam Terkembang Jadi Guru: Adat dan Kebudayaan Minangkabau, (Jakarta: Temprint, 1984 ), h.143

[2]Muhaimin AG,  Islam Dalam Bingkai Budaya Lokal: Potret Dari Cerebon, (Ciputat: Logos Wacana Ilmu,2001), hal 11. 

[3] Navis, AA, Dialektika Minangkabau : Dalam Kemelut Sosial dan Politik, (Padang: Genta Singgalang Press, 1983). h. 96

[4] Chatra, Emeraldy. 2000. Adat Salingka Desa. Padang. Pusat Studi Pembangunan dan Perubahan Sosial Budaya Unand, h. 94

[5] Chatra, Emeraldy. 2000. Adat Salingka Desa. Padang. Pusat Studi Pembangunan dan Perubahan Sosial Budaya Unand, h. 95-96

[6]Chatra, Emeraldy. 2000. Adat Salingka Desa. Padang. Pusat Studi Pembangunan dan Perubahan Sosial Budaya Unand, h. 97

[7] Chatra, Emeraldy. 2000. Adat Salingka Desa. Padang. Pusat Studi Pembangunan dan Perubahan Sosial Budaya Unand, h. 97

[8] Chatra, Emeraldy. 2000. Adat Salingka Desa. Padang. Pusat Studi Pembangunan dan Perubahan Sosial Budaya Unand, h. 97

[9] Hakimy, H. Idrus, Rangkaian Mustika Adat Basandi Syarak di Minangkabau, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1991), h. 29

[10] Noni, Sukmawati, “Bagurau Saluang dan Dendang dalam Perspektif Perubahan Budaya Minangkabau”. Jurnal Forum Ilmu Sosial, Vol. 35 No. 2 Desember 2008, h. 162

[11] Noni, Sukmawati, “Bagurau Saluang dan Dendang dalam Perspektif Perubahan Budaya Minangkabau”. Jurnal Forum Ilmu Sosial, Vol. 35 No. 2 Desember 2008, h. 168

[12] Hakimy, H. Idrus, Rangkaian Mustika Adat Basandi Syarak di Minangkabau, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1991), h.32

[13] Azyumardi Azra, Surau: Islam Tradisional Dalam Transisi dan Modernisasi, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2003),  h. 44

[14] Ediwar, Din, dkk, “Kesenian Bernuansa Islam Suku Melayu Minangkabau”, Jurnal Melayu (5) 2010: 227-249, h. 227.

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy