23.3 C
Indonesia
18 Juni 2019
Esai

Islam Moderat; Resolusi Konflik Antar Sekte

Oleh Khalwani*
www.penasantri.id Islam Moderat; Resolusi Konflik Antar Sekte
www.penasantri.id Islam Moderat; Resolusi Konflik Antar Sekte


Hubungan antar umat beragama di Indonesia tampaknya mengalami cobaan dan ujian berat beberapa tahun terakhir, sebenarnya ujian ini sudah berlangsung sejak lama tapi masih dalam lingkup lokal dan masih bisa diatasi oleh pemerintah dan masyararakat, akan tetapi kalau kita amati bahwasanya hal tersebut masih akan berlangsung cukup lama. Berdasarkan analisa penulis hal ini mulai mencuat dari kasus penistaan agama yang dilakukan oleh saudara terdakwa calon gubernur Jakarta saudara Basuki Cahaya Purnama (Ahok), belom lagi kasus ini selesai ditambah lagi tuduhan terhadap ketua FPI, Habib Muhammad Rizieq Shihab yang dilaporkan oleh aliansi pemuda katolik karena tuduhanya telah menistakanan agama Kristen dan katolik. Padahal sebenarnya ada agenda politik lain dibalik semua kejadian itu, namun begitu jika hal ini terus berlangsung dan tanpa adanya penyegahan dari pemerintah dan segenap masyarakat dan bangsa Indonesia dikwatirkan akan menggangu kehidupan beragama di Indonesia.
Memulihkan hubungan yang semula tampak harmonis dan kemudian mengalami keretakan, bukanlah hal yang mudah. Namun masa depan kita bergantung dari kemampuan pemulihan hubungan tersebut, kegagalan dalam hal ini dapat mengakibatkan terancamnya hubungan keberagaman yang sudah tercipta di Indonesia dan terpecah belahnya kita sebagai bangsa yang besar. Oleh karena itu, mau tidak mau kita harus mengerahkan kemampuan sekuat tenaga untuk mewujudkan pemulihan hubungan antar umat beragama itu. Kita harus terlebih dahulu memahami sebab-sebab paling dasar dari retaknya hubungan dan sisi-sisi multidimensional dari kemelut yang dihadapi. Tanpa mengetahui penyakitnya, tentu tak akan ditemukan obatnya, dan penyembuhan tidak akan dilakukan.
Penulis akui langkah-langkah yang diambil pemerintah sudah cukup baik untuk mengantisipasi terpecah belahnya umat beragama di Indonesia, dimulai dari langkah konsolidasi yang dilakukan presiden dengan menemui berbagai ormas keagamaan untuk bersama-sama menjaga keutuhan bangsa. Kita sebagai warga Negara Indonesia yang beragam agama dan etnis harus mempunyai rasa saling mengerti dan memiliki terhadap keragaman tersebut, jika kita tak mempunyai rasa memiliki “keindonesiaan” atau dengan bahasa lain “kebinekaan” dan hanya mengedepankan rasa pengertian saja tanpa adanya rasa saling memiliki ini adalah pondasi keagamaan yang lemah seperti yang dikatakan KH Abdurrahman Wahid pola hubungan “harmonis” seperti itu, dengan sendirinya tidak memiliki daya tahan yang ampuh terhadap berbagai tekanan yang datang dari perkembangan politik, ekonomi, dan budaya. Kerukunan yang ada hanyalah kondisi yang rapuh.
Oleh karena itu kita harus mengembangkan rasa saling pengertian yang tulus dan berkelanjutan, kita hanya akan mampu menjadi bangsa yang kukuh kalau antar umat beragama saling mengerti satu sama lain, bukan hanya saling menghormati, yang diperlukan adalah rasa saling memiliki (sense of belonging), bukan hanya saling bertenggang rasa satu terhadap yang lain. Dari sini penulis dapat menginduksikan bahwa pondasi dasar untuk islam damai dan menjaga keberagaman umat beragama di Indonesia adalah mengembangkan sikap saling pengertian yang tulus dan berkelanjutan serta adanya rasa saling memiliki satu sama yang lain. Ada banyak hal yang menyebabkan dan mengancam islam damai di Indonesia, sebelum penulis memberikan upaya dan solusi untuk menjaga islam damai di Indonesia yang sudah berlangsung berabad-abad sejak Islam datang ke Indonseia yang diajarkan oleh Wali Sembilan “Walisongo”.
Wajah Islam yang disampaikan oleh para Wali Sembilan adalah wajah islam yang damai, toleran dan selalu menghindari perpecahan. Hal ini terbukti dari beberapa langkah wali sembilan dalam menyebarkan islam di Indonesia ketika kerajaan hindu di bawah majapahit masih berkuasa maka islam datang bukan dengan cara perang tapi dengan pendekatan budaya dan sikap toleransi dan pada akhirnya ajaran islam lebih diterima dibandingkan ajaran hindu. Dengan diterimanya ajaran islam dikalangan raja majapahit maka islam menyebar cepat keseluruh Indonesia khususnya daerah jawa.  
Sebagai contoh lagi adalah upaya damai dan akulturasi yang dilakukan oleh sunan kudus ketika datang didaerah kudus. Disana beliau melihat bahwa masyarakat hindu masih dominan dan mereka mensucikan hewan sapi. Melihat hal seperti ini beliau tidak secara langsung menentang keadaan masyarakat kudus pada waktu itu, tapi ia mencoba mengislamkan masyarakat kudus dengan cara akulturasi yaitu dengan membangun masjid yang masih sangat kental dengan ornament hindu, dan beliau juga mengharamkan sapi untuk menarik simpati masyarakat kudus, padahal sapi dalam agama islam adalah hewan yang halal untuk dimakan. Ini adalah contoh bahwasanya islam datang ke Indonesia dengan cara damai dan selalu menghindari perpecahan masyarakat. 
Islam yang diajarkan dan disebarkan oleh para Wali Sembilan adalan Islam ahlus sunah wal jama’ah. Islam yang bisa melekat dengan kebudayaan masyarakat, maksudnya adalah ajaran Islam memberikan ruh terhadap kebudayaan masyaraat, bukan Islam yang bercampur lebur dengan kebudayaan masyarakat, ini artinya islam menjadi inti dan ruh dari segala kebudayaan. Islam yang diajarkan oleh wali sembilan ini islam ahlus sunah wal jama’ah kemudian menjadi identitas masyarakat islam di Indonesia. Islam ahlus sunah wal jamaah melekat erat dengan perilaku dan segala aspek kehidupan masyarakat. Hal ini pula didukung oleh beberapa kerajaan Islam di Indonesia dimulai dari kerajaan Pasai, Demak sampai pada kerajaan Mataram. Islam ahlus sunah wal Jama’ah menjadi identitas khusus islam di Indonesia, hal ini menjadikan islam ahlus sunah wal Jama’ah semakin kuat di Indonesia.  
Selama itu pula, dengan berpegang teguh pada ajaran Islam ahlus sunah wal jama‟ah, Indonesia dikenal sebagai Negara Islam yang toleran, moderat dan cinta akan perdamaian, hal ini menjadikan Islam Indonesia menjadi kiblat Islam Moderat dan Islam rahmatan lil‟alamin diseluruh dunia. Wajah Islam Indonesia yang moderat ini kemudian ditahun 2016 oleh organisasi Islam terbesar di Indonesia yaitu Nahdhotul „Ulama dinamakan Islam Nusantara.  Oleh karena itu untuk menjaga Islam yang damai di Indonesia harus mempertahankan islam nusantara islam ahlus sunah wal jama’ah dengan cara melembagakan secara resmi islam ahlus sunah wal jama’ah di masyarakat Indonesia seperti yang dilakukan oleh para walisembilan dan kerajaan islam di Indonesia.
Setelah era kerajaan Islam di Indonesia berakhir dan masuklah kolonialisme di Indonesia, islam ahlus sunah wal Jama’ah masih melekat kuat masyarakat Indonesia. Hal ini terbukti dari berbagai perlawanan para pahlawan nasional seperti pangeran diponegoro yang memegang teguh islam ahlus sunah waljamaah dan menjadi dasar untuk melawan segala macam kolonialisme barat. Walaupun islam ahlus sunah wal Jama’ah masih kuat dimasyarakat di Indonesia tapi pada masa ini tidak ada organisasi kuat yang membentengi islam ahlus sunah di Indonesia, karena tidak ada yang membentengi islam tersebut maka banyak aliran islam masuk ke Indonesia dan banyaknya upaya ekpansif pembaharuan islam di indonesia hal ini dirasakan oleh pendiri Nahdhotul Ulama KH Hasyim Asy’ari, sebelum beliau pergi ke tanah harom untuk menuntut ilmu beliau merasakan praktek keagamaan muslim jawa dikenal sebagai penganut ahlus sunah wal jamaah yang taat terhadap madhab Syafi‟i dalam bidang fiqih, dan dalam bidang teologi mengikuti madhab Imam Abu Hasan Al Asy‟ari, dan dalam bidang tasawuf mengikuti madhab Imam Al Ghazali. Namun pada awal tahun 1990-an ketika ia pulang dari tanah harom hal ini bersamaan dengan munculnya organisasi islam modernis seperti Jam’iyat Khair (1905 M), Perserikatan Ulama’ (1911 M), Muhammadiyah (1912 M).
Proyek purifikasi yang menjadi orientasi utama masing-masing organisasi tersebut, pada saat yang sama bagi KH Hasyim Asy’ari dipandang mengancam keberlangsungan gagasan dan praktek umat islam didaerah jawa. KH Hasyim Asy’ari juga mengamati pada tahun 1911 M pola keberagaman umat islam di Indonesia telah terpolarisasi menjadi sedemikian komplek, termasuk didalamnya salafiyun, kelompok pembaharu shiah dan ibahiyah. Secara singkat KH Hasyim Asy‟ari mempolarisasi islam ditanah air saat itu menjadi berbagai kelompok, yang pertama kelompok yang tetap mempertahankan tradisi keagamaan lama dan tetap berada dalam koridor salafiyun. Islam kelompok pertama adalah islam yang menggambarkan wajah islam moderat di Indonesia Islam Nusantara yang dikembangkan oleh ulama sejak berabad-abad sebelumnya.
Kedua, kelompok muslim jawa yang dalam pemikiranya dan perilaku keberagaman mengikuti pola pemikiran Muhammad abduh, rasyid ridho, Muhammad bin abdul wahab, kelompok ini suka mengharamkan praktek keagamaan yang sebelumnya telah disepakati sebagai mandub sunah dan menolak taqlid.
Ketiga, kelompok yang mengikuti madhab syi’ah yang dalam menjalankan ajaran agama suka mencela dan membenci keberadaan dan peran para sahabat. keempat kelompok muslim jawa yang sudah terjangkiti paham yang cenderung memperbolehkan melakukan apa saja ibahiyun atau dalam istilah popular adalah liberalism. Kelima dan keenam kelompok yang menyakini kebenaran reinskarnasi dan tasawuf falsafi terutama pengakuan terhadap doktrin hulul dan ittihad. Melihat semakin banyaknya kelompok islam di Indonesia membuat kwatir KH Hasyim Asy’ari akan semakin lemahnya islam ahlus sunah waljamaah di Indonesia dengan melemahnya ajaran ahlus sunah maka hilanglah wajah islam moderat di Indonesia. Hal ini jelas akan membahayakan keberagaman di Indonesia. Ditambah lagi gerakan takfiri dan ekspansi wahabi dinusantara, terutama di daerah jawa.

Related posts

Puasa, Alat Untuk Menaklukan Iblis

khalwani ahmad

Nasionalisme Kaum Santri

admin

Sumur Zamzam dan Nazar Kakek Rasulullah SAW

admin

Hukum Debat Kusir

PENA SANTRI

Membumikan Al-Qur’an di Tengah Masyarakat

Khalilullah

R.A. Kartini Dari Kaca Mata Santri

KH. Dr. M. Ishom el Saha, M.Ag.

Leave a Comment