28 November 2020

Islam Moderat Solusi Islam Damai di Indonesia (Bagian-II)

Setelah era kerajaan Islam di Indonesia berakhir dan masuklah kolonialisme di Indonesia, islam ahlus sunah wal Jama’ah masih melekat kuat masyarakat Indonesia. Hal ini terbukti dari berbagai perlawanan para pahlawan nasional seperti pangeran diponegoro yang memegang teguh islam ahlus sunah waljamaah dan menjadi dasar untuk melawan segala macam kolonialisme barat. Walaupun islam ahlus sunah wal Jama’ah masih kuat dimasyarakat di Indonesia tapi pada masa ini tidak ada organisasi kuat yang membentengi islam ahlus sunah di Indonesia, karena tidak ada yang membentengi islam tersebut maka banyak aliran islam masuk ke Indonesia dan banyaknya upaya ekpansif pembaharuan islam di indonesia hal ini dirasakan oleh pendiri Nahdhotul Ulama KH Hasyim Asy’ari, sebelum beliau pergi ke tanah harom untuk menuntut ilmu beliau merasakan praktek keagamaan muslim jawa dikenal sebagai penganut ahlus sunah wal jamaah yang taat terhadap madhab Syafi‟i dalam bidang fiqih, dan dalam bidang teologi mengikuti madhab Imam Abu Hasan Al Asy‟ari, dan dalam bidang tasawuf mengikuti madhab Imam Al Ghazali. Namun pada awal tahun 1990-an ketika ia pulang dari tanah harom hal ini bersamaan dengan munculnya organisasi islam modernis seperti Jam’iyat Khair (1905 M), Perserikatan Ulama’ (1911 M), Muhammadiyah (1912 M).

Proyek purifikasi yang menjadi orientasi utama masing-masing organisasi tersebut, pada saat yang sama bagi KH Hasyim Asy’ari dipandang mengancam keberlangsungan gagasan dan praktek umat islam didaerah jawa. KH Hasyim Asy’ari juga mengamati pada tahun 1911 M pola keberagaman umat islam di Indonesia telah terpolarisasi menjadi sedemikian komplek, termasuk didalamnya salafiyun, kelompok pembaharu shiah dan ibahiyah. Secara singkat KH Hasyim Asy‟ari mempolarisasi islam ditanah air saat itu menjadi berbagai kelompok, yang pertama kelompok yang tetap mempertahankan tradisi keagamaan lama dan tetap berada dalam koridor salafiyun. Islam kelompok pertama adalah islam yang menggambarkan wajah islam moderat di Indonesia Islam Nusantara yang dikembangkan oleh ulama sejak berabad-abad sebelumnya.

Kedua, kelompok muslim jawa yang dalam pemikiranya dan perilaku keberagaman mengikuti pola pemikiran Muhammad abduh, rasyid ridho, Muhammad bin abdul wahab, kelompok ini suka mengharamkan praktek keagamaan yang sebelumnya telah disepakati sebagai mandub sunah dan menolak taqlid.

Ketiga, kelompok yang mengikuti madhab syi’ah yang dalam menjalankan ajaran agama suka mencela dan membenci keberadaan dan peran para sahabat. keempat kelompok muslim jawa yang sudah terjangkiti paham yang cenderung memperbolehkan melakukan apa saja ibahiyun atau dalam istilah popular adalah liberalism. Kelima dan keenam kelompok yang menyakini kebenaran reinskarnasi dan tasawuf falsafi terutama pengakuan terhadap doktrin hulul dan ittihad. Melihat semakin banyaknya kelompok islam di Indonesia membuat kwatir KH Hasyim Asy’ari akan semakin lemahnya islam ahlus sunah waljamaah di Indonesia dengan melemahnya ajaran ahlus sunah maka hilanglah wajah islam moderat di Indonesia. Hal ini jelas akan membahayakan keberagaman di Indonesia. Ditambah lagi gerakan takfiri dan ekspansi wahabi dinusantara, terutama di daerah jawa.

Gerakan ekspansi wahabi ini merupakan ancaman serius bagi keberlanjutan pola keberagaman muslim yang telah sekian lama dikembangkan oleh para ulama Nusantara. Prof Azumardi Azro mengilustrasikan wahhabisme yang didukung oleh pemerintah Suudiyah ini menjelma menjadi gerakan Islam Radikal yang cenderung pada kekerasan. Gerakan ini melancarkan jihad pada kaum muslim yang dianggap telah menyimpang dari ajaran islam yang murni dan sebaliknya banyak mempraktekan bid’ah, khurafat, takhayul dan semacamnya.

Dalam bahasa lain gerakan wahabisme tidak hanya berupa purifikasi teologi tetapi dalam prakteknya juga menyertakan pertumpahan darah dan penjarahan makah dan madinah, yang diikuti pemusnahan monumentmonumen historis yang mereka pandang sebagai sumber praktekpraktek yang menyimpang. Mereka melakukan itu semua dengan jargon “mengajak kepada tauhid dan meninggalkan syirik. Mereka juga meyakini akan jaminan masuk surge untuk siapapun yang berhasil membunuh orang-orang syirik, sedangkan praktek tawasul dan mohon syafa‟ah kepada nabi dan orang-orang sholeh, serta berbagai amalan yang selama itu melekat pada tradisi umat islam dianggap sebagai perbuatan bid’ah dan syirik oleh karena itu untuk mempertahankan dan melegalitaskan ajaran ahlus sunah walJama’ah serta untuk mengkonter ajaran wahabiyah yang radikal KH Hasyim Asy’ari melakukan bebera langkah yaitu dengan pendirian organisasi yang bernama Nahdhotul Ulama, organisasi ini bertujuan untuk mengkonter gerakan puritan wahhabi dan untuk mempertahakan praktek keagamaan ahlus sunah wal jama’ah.

Dengan berdirinya organisasi ini ajaran ahlus sunah akan terus eksis karena didukung oleh suatu lembaga yang kuat. Itulah upaya yang dilakukan oleh KH hasyim Asy’ari untuk menciptakan islam yang damai. Dimulai dari zaman Wali Sembilan, Kerajaan Islam, pahlawan nasional yang berdasarkan ajaran ahluh sunah dan KH Hasyim Asy’ari selalu menampilkan islam yang damai, islam yang moderat dan selalu menghindari perpecahan. Salah satu penyebab dasar mulai lemahnya ajaran islam damai dan islam moderat adalah gerakan ekspansi yang dilakukan oleh wahabi yang ajarannya radikal dan suka mengkafirkan praktek ibadah muslim ahlus sunah wal jamaah.

Oleh karena untuk mempertahankan islam damai, islam yang moderat, islam yang selama ini menjadi identitas islam nusantara perlu dilaukan beberapa langkah Pertama, perlu adanya kerjasama yang kuat antara lembaga Islam dengan pemerintah, dan adanya upaya untuk melegalkan ajaran islam damai dan moderat menjadi ajaran resmi suatu Negara, hal ini dilakukan untuk mengkonter gerakan radikal ala wahabi yang didukung oleh pemerintah suudiyah. Dengan diterapkan ajaran islam moderat menjadi ajaran resmi suatu Negara maka dengan mudah ajaran islam radikal akan dapat dicegah, karena ajaran islam yang radikal disamping membahayakan umat islam juga sangat mengancam kedaulatan Negara Indonesia.

Walaupun Indonesia bukan Negara islam tapi mayoritas warganya adalah warga islam oleh karena itu dirasa penting untuk menetapkan ajaran islam moderat menjadi ajaran resmi Negara, hal ini juga pernah dilakukan oleh pemerintah Al-Qodir (1031 M) dari Dinasti Abasiyah, yang secara resmi menegaskan bahwa ahlus sunah walJama’ah sebagai paham resmi Negara. Hal seperti ini sangat penting untuk perkembangan islam moderat ahlus sunah wal jammah, karena akan menjadi lebih konprehensif dan bisa menekan ajaran islam radikal. Dengan dijadikan islam moderat sebagai paham resmi suatu Negara maka pemerintah dan ulama bisa melegalkan ajaran dalam bidang teologi, syariah, tasawuf dan sosial politik. Dalam permasalahan teologi bisa melegalkan ajaran asy’ariyah dan maturidiyah sebagai dasar, dalam permasalahan syariah bisa melegalkan ajaran madhab arba’ah, karena menurut ilmuan kontenporer Dr Muhammad Said Romadhon Albuti mengatakan tidak bermadhab dalam masalah syari’ah merupakan bid‟ah terbesar yang dilakukan umat islam.

*Khalwani, Penulis Asal Demak yang sedang menyelesaikan Program Studi Islam Nusantara di UNUSIA Jakarta

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy