4 Juni 2020
Islam Nusantara: Resolusi Santri Untuk Perdamaian Dunia

Islam Nusantara: Resolusi Santri Untuk Perdamaian Dunia

Muktamar Pemikiran Santri Nusantara Ke-3 (re: tentang Islam Nusantara) kembali digelar, pada tanggal 28-30 September kemarin. Muktamar kali ini dilaksanakan di  Pondok Pesantren Assiddiqiyyah Pusat, Kedoya Utara, Kebun Jeruk, Jakarta Barat. Muktamar Pemikiran Santri Nusantara ke -3  bertajuk tema    Santri Mendunia: Tradisi, Eksitensi dan Perdamaian Global”. Semarak Muktamar ke-3 berhasil menghadirkan special panel dari narasumber yaitu Lukman Hakim Saifuddin (Menteri Agama RI), Kamaruddin Amin, Ahmad Zayadi, KH. Noer Muhammad Iskandar, Nadirsyah Hosen (ketua PCINU Australia dan Selandia Baru), Oman Fathur Rahman, Teuku Faizansyah dan Chandra Malik.

Selain diikuti oleh para santri, se-Indonesia, tokoh akademisi juga memberikan sumbangsih dalam acara muktamar kali ini melalui seleksi paper. Paper kali ini dikelompokkan dalam tujuh tema. Tema pertama: Santri dan Wajah Ramah Pesantren di Dunia, tema kedua:  Pedagogi Pesantren dan Perdamaian Dunia, tema ketiga: Modalitas Pesantren dalam mewujudkan Perdamain Dunia (Pesantren’s Capitals in Promoting Peaceful), tema keempat: Pesantren dan Resolusi Konflik, tema kelima: SantriCyber War, dan Soft Literacy, tema keenam: akar Moderasi dan Perdamaian (as-Silm) dalam Tradisi Kitab Kuning, tema ketujuh: Kesusastraan dan Pesan Damai Pesantren. Mereka dihadirkan untuk bedah paper masing-masing melalui presentasi dan diskusi panel.

Baca Juga  Belajar Islam Pada Cheng Ho (Bagian I)

Tema-tema tersebut menjadi bahan diskusi, sebab melihat kondisi politik luar negeri saat ini tidak lagi “bergerak cepat” terkait konflik peperangan. Akan tetapi, lebih mengorientasikan pada sudut pandang sensifitas agama. Berharap dengan bermodalitaskan nilai-nilai pesantren perdamaian dunia dapat terwujud. Senada dengan sambutan dari Menteri Agama RI, Lukman Hakim menyatakan, bahwa “pesantren tidak hanya semata sebuat lembaga pendidikan, namun juga sebagai aset dalam mengembangkan dakwah yang luwes dan ramah di tengah lingkungan masyarakat, menyebarkan dakwah yang rahmatan lil alamin. Lebih-lebih pesantren harus mampu mewujudkan perdamaian dalam kancah dunia. Sehingga memperkuat wajah eksistensi santri dalam upaya perdamaian dunia”.

Gus Nadir Menjelaskan Pesantren dan Resolusi Konflik.

Dalam sambutannya, Gus Nadhir, menjelaskan tentang peng-istilahan Islam Kaffah atau Islam yang nyunnah. Perdebatan terkait kata Kaffah yang mempunyai pengertian ( yaa ayyuhalladzina amanu udkhulu fisilmi kaffah), masukkan ke dalam Islam secara keseluruhan. Menurut tafsir Kemenag, kata “keseluruhan” itu ada pada “Islam”. Berbeda dengan tafsir Ibnu Katsir, kata “keseluruhan”nya ini merujuk pada orangnya. Namun jika ditarik dalam pembahasan fiqih, tenyata kata As-sulhu (perdamaian) itu bermakna harta. Bisa jadi konflik pada zaman dahulu itu ada pada harta. Oleh karena itu, pesantren sekarang harus mampu mengembangkan kata assulhu−ditarik pada konflik perdamain yang sekarang bersumber dari fiqih perdamaian. Kajian atas makna as-sulhu memang sudah sering dikaji dalam perpektif NU dan Muhammadiyah. Jika NU memaknai kata as-sulhu itu berpegang pada surat ali-Imron: 103, sedang Muhammadiyah berpegang pada surat ali-Imron: 104.

Baca Juga  Mengapa Islam Nusantara Baru Diperkenalkan di Era Millennial?

Islam Nusantara Sebagai Jawaban Pemikiran dari Santri untuk Perdamaian Dunia

Dilanjut dengan diskusi panel kedua yang bertajuk tema Santri, Tradisi dan Perdamian Global” oleh Oman Faturrahman yang lebih dikenal dengan kang Oman. Kang Oman ini merupakan ahli di bidang filologi manuskrip. Ia menjelaskan bahwa santri harus mampu mempunyai pemikiran yang genuine untuk menanggapi koflik perdamaian dunia. Dan,  karya genuine pesantren itu berupa sastra. Salah satunya bisa melalui transmisi (proses transfer knowledge), pribumisasi, lokalisasi, jaringan dan lain sebagainya. Kemudian narasumber berikutnya yaitu Candra Malik yang dikenal dengan Gus Candra. Ia menambahkan bahwa pemikiran yang genuine dari santri, untuk perdamian dunia, selain merevitalisasi sastra juga tidak lepas dari peran Islam Nusantara.

Tulisan ini diambil dari situs resmi crisfoundation. Cek di Sini.

CRIS Foundation

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy