26.2 C
Indonesia
23 September 2019
Islam Standar

Islam  Standar

“Islam Stabdar” tema menarik yang telah lama saya taksir kecantikannya. Ini berawal dari serial kisah dunia yang kian hari kian marak berkembang dengan obsesi tunggal yang –saya rasa—up normal. Mengapa tidak, bila melakukan suatu perbaikan harus melului jembatan perusakan, mengerjakan perintah agama—dari sisi lain—malah  meninggalkan perintah Agama, berbuat atas kebangsaan dan kemanusiaan  harus menciderai nilai kebangssan dan  kemanusiaan yag lain.

Al-kisah, Robiah al-Adawiyah telah berhasil sampai pada puncak demensi ketuhanan yang maha agung dengan konsep Hubbub yang iya selami di masa hidupnya. Kecintaannya kepada Tuhan tak tergadaikan dengan kursi mahkota seorang raja dan segunug emas permata. Suatu ketika Hasan al-Basri hendak memperistri Robiah menjadi pendamping hidupnya, namun  ia tak sedikit pun ada respon posiitif. Bahkan  dalam sathahatnya ia katakan “maafkan aku Muhammad bila kau tidak mendapat ruang  dalam hati ini, lantaran cinta ini hanya  untuk Allah semata, Aw Kama Qalat”.

Melihat dialektika kaum sufi yang demikian—mungkin bagi penulis terlalu dini untuk mengambil kesimpulan bahwa ajaran Sumfisme hanya akan membuat manusia up normal—aliran sufistik akan menjauhkan manusia dari tugas pokoknya sebagai Khalifa fi al-Ard serta akan mengesampingkan manusia dari urusan dunya wiyah. Padahal, jelas agama, al-ur’an mengabarkan bahwa tujuan Tuhan mencipta manusia untuk menjadi peminpin di muka bumi dengan segala perangkat keistimewaan manusia berupa Akal dan fikiran. Bila demikian, habislah harapan Tuhan, hancurlah nilai  agama yang sarat dengan kompleksitas ajaran persatuan, kemanusiaan dan kebangsaan. Ini salah siapa, Dogma dan diktat Agama atau salah kita yang dengan mudah menelan Dogma  tersebut?

Ada juga yang merasa paling bijaksana, hendak menjalankan perintah Agama untuk senantiasa menjadi Khaifah yang memperjuangkan keshalehan malah over dan sok benar, hingga akhirnya misaplication. Hal ini bisa  kita  lihat  pada kisah mengerikan 11 September 2009. Al-Qada telah meratakan bangunan bertingkat 47 yang setiap pancangan tiangnya dibuat dengan dua kapal terbang, dari isi selatan dan utara (baca, Suara Bawah Tanah). Hal ini tak lain  adalah  hasil obsisi Agama terhadap umatnya untuk senantiasa menghentikan kemunngkaran, man  ra’a minkum  mungkaran fal yuwayyir biyadihi dst. Sedang al-Qaeda menafsiri ayat ini, pemberantasan kemungkaran melalui pemusnahan terhadap titik sentral terjadinya kemungkaran itu sendiri dengan segala kekuatan yang dimilikinya adalah  suatu kewajiban setiap umat  Islam. (baca, al-Qaeda).

Hancurnya gedung kembar WTC ini menjadi cikal  bakal bermulanya Amerika memusuhi teroris yang mereka proyeksikan Islam sebagai sang otak masalah. “di saat orang masih berfikir tentang bagaimana  hal itu terjadi dan kesedihan anggota keluarga korban, media telah  mereka-reka kapan Amerika akan memulai peperangan dengan teroris,” (rajaebokgratis.com). Dogma Islam untuk memusnahkan  kemungkaran ini malah melahirkan serial gerakan kemungkaran lain yang berlapis-lapis. Kasus serupa terjadi pada peristiwa bom bunuh diri bali. Dan mereka yang sok bijaksana menjadi khalifa, amsal Islamic State Irak and Syiriah (Isis), Fon Pembela Islam (FPI) dan beberapa oeganisasi lain yang  tak mungkin  panulis  sebut disini malah bersikokoh untuk senantiasa mengusahakan  terbentuknya Daulah/Khilafa Islamiyah. Ini salah siapa, Dogma dan diktat Agama atau salah kita dengan mudah menafsirkan seruan agama tak cukup syrat?

Selanjutnya, sejarah mencatat lelucon umat beragama yang salah tafsir tidak cukup-selesai sampai di sini, pada kesalahan gerak vertikal dan pendekatan diri kepada tuhan, pada sejrh keriminl tersebabkan memperjuagan  agam di tengah-tengah kompleksitas umat berbangsa dan beragma. Lebih dari itu di antara sesama Muslim pun sering juga merebut medali emas kebenarn golongan dan ajaran  sekte mereka. Sebut saja Qadariyah dan Jabariyah yang tidak pernah keluh memperdebatkan keesaan Tuhan, naib manusia dan taqdir. Khwarij, Syiaah dan Murjiah telah lama—sejak 14 abad yang lalu—bontang-banting merebut kebenaran  siapa sebenarnya  yang layak menjadi pengganti Nabi menjadi Khalifah, yang pada akhirnya masing-masing diantara meraka menjadi sekte sempalan yang tidak pernah akur. Namun, entah ajran dan  golongan mereka hingga abad ini masih bertahan dtu sudah lapuk dimakan zaman.  Tapi yang jelas, pertikaiaan antar golongan sampai saat ini semakin  subur berkembang biak di tanah ibu pertiwi.

Penentuan awal Ramadhan dan 1 Syawal (awal Ramadhan dan Idul Fitri) antara NU dan Muhammadiyah sudah sering meningalkan fitnah pengkafiran satu sama lain. Muhammadiyah mendeklarasikan Trawih 10 rakaat, menetapkan label Bid’ah pada kita  yang lumrah menjalankan ritual tawassulan dan ziarah  kubur seta berbagai kreatifitas tradisi keagamaan. Begitupun dengan NU yang tambah hari tambah kreatif memproduksi pola, mahana culture keagamaan, sehingganya menambah spirit kalangan Muhammadiyah  untuk memproduksi label biid’h, haram  dan kafir sekalipun. Lebih-lebih ketika NU semakin fariatif membentuk gagasan ideologi, sebut saja akhhir-akhir ini muncul istiah Aswajah Annahdliyah dan sebutan Islam Nusantara. Ini yang membuat sekte lain manggelang-gelengkan kepala, mana ada Aswajah an-Dahliyah? Aswajah selain  Nahdliyah siapa dan seperti apa? Apa itu Islam Nusantara dan validitas kebenaran Islam Nusantara dari mana? Ada-ada saja.

 

Agamaku Nilai dan Kyaiku Figur

Berbincang masalah ikhtilaf, seakan  sudah tak ada angka yang dapat menghitungnya. “Aslim, Taslam,” tulis Nabi dalam surat yang ia kerimkan kepada Raja Hiraklius setelah kesekian kalinya ia mengajaknya untuk masuk Islam namun ia enggan dengan ajakan Muhammad (baca, Taridus Sharikh/Bukhari). Di lain kesempatan, Nabi talah menjamin  keselamatan bagi kalangan Muslim itu sendiri “al-muslimu  man salima al-muslimuna biyadihi wa lisanihi”. Ayat ini menyiratkan bahwa sesama muslim tidak akan perna ada pertikaian,  kriminal dan bahkan pengkafiran. Islam  adalah agama damai yang  selalu  menjadi rahmat bagi seluruh alam. Memilih Islam berarti memilih ketentraman, ketenganan  dan  kebersamaan. Namun kenapa sampai saat ini masih ada stigma bahwa Islam adalah embrio terjadinya perlakuan  teror, kalangan Muslim di belahan dunia dan bahkan di tengah-tengah kita masih ada yang bakat untuk saling  menghujat dan menyalahkan. Yang lebih miris ketika memlihat  salah  satu  sekte sempalan Agama Islam yang menganggap saudaranya sesama Islam Najis dengan menyiram tempat solat kaum muslim itu sendiri (realita di Talango dan Baluto). Ini siapa yang mesti diperbaiki?

Selain Islam adalah juru penyelamat, Islam juga  mangajarkan persaudaraan, persatuan, kemanusiaan dan  kebangsaan sebut saja surat Al-maidah: 2, al-balad: 12-16, Ali Imron: 103. Selain itu, statement Ya Ayyuha an-Nasu terlalu banyak  terdapat di dalam al-Qur’an yang mengajak kita untuk senantiasa menggandrungi sifat kemanusiaan. Lalu, apa ini tidak cukup mengajak kita untuk menjadi orang yang tidak apatis pada realita ketimpangan sosial,  ketertindasan, kebobrokan moral serta tidak peduli pada kemajmukan dan perbedaan sosio kultural? Seumpama kaum Sufi  yang tak lain kerjanya hanya Dzikir tapi tidak pernah Fikir dan Amal shaleh, Islam  garis keras yang hanya ingin selalu amal  shaleh tapi tidak didasari atas nilai Dzikir dan fikir terlebih dahulu, higa serangkaian gerakannya malah menimbulkan  keriminal tan bertubi-tubi. Sungguh tidak ada gunanya

Bila demikian keislaman  mereka dan  apalagi kita harus di telaah kembali. Kita sudah tergolong pada bagian yang mana?. Islamkah kita? Tau kalau Islam masih belum  bisa membuat para pemeluknya damai, amai  tentram dan sejahtera maka apa yangharus  kita lakukan? Bagi penulis menjadi umat beragama agama tidak cukup pada peniruan kita pada mereka yang mengerjakan solat, zakat, puasa tanpa tahu apa yang  ingin Tuhan sampaikan dengan kewajiban-kewajiban tersebut. Beragama tidak  cukp  hanya menjalai ritus-ritus keagamaan. Beragama tida cukup hanya membaca teks keagamaan tanpa tahu apa maksud dan arti dari apa yang kita  baca. Beraga harus bisa menjalankan kompleksitas ajaran dan nilai agama itu sendiri. Dan ketika teks, dogma dan diktat agama hanya memperparah keadaan—seperti mereka yang ekstrim—dan beragama hanya akan membuat kita meninggalkan kemanusiaan dan  kebangsaan kita—seperti cerita sufi diatas—maka memilih nilai dan membentuk diri sebagai figur adalah suatu keniscayaan.

Jadi, adalah hal yang tidak  melampaui kewajaran  seruan Nitzshe ‘Tuhan telah mati’, Agama/’selamat’  tanpa juru penyelemat. Lantaran setelah Feodalis dan sosialis komunnis lalu kapitalis hingga Agama tidak bisa mengentaskan kemelut permasalahna  bangsa dari ketimpangan sosial dan  kriminalitas maka menjadi selamat tanpa juru  penyelat adalah pilihan. Semuanya sudah terdistorsi dengan kesalahan dan kelemahan masing-masing maka akhirnya  semua setiap manusia harus menjadikan pribadi penyelamat yang berpegang teguh nilai ketuhanan, kemanusiaan dan kebangsaan dengan mengusahakan diri sendiri sebagai figur dan teladan.

Agama nilai berarti agama yang tidak terpatri pada teks keagaamaan serta pada dogma dan diktat agama yang kita sering salah dalam menerjemahkannya. Akan tetapi yang mesti  kita harus pertontonkan dalam  keseharian kita adalah nilai-nilai keagamaan itu sendiri. Maka dari itu fokus kajian  para kesarjana dan para mufassir abad ini adalah memahami teks. Guna  mengambil  hikmah  dan pesan yang  mau disampaikan dalam teks tersebut. Sebut  saja Fazlur Rahman (Double Movement), Muhammad Abduh (Subtansialis), Amin  Al-Khulli (Idealis Linguistik) hingga pada Gadamar dan Paul Recour telah mengusahakan modul baru di dalam dialektika tefir kontemporer mulai dari Tanda, Petanda, Penanda, Signifikansi (baca: Elemin-Elemin  Semiologi, Ronand barthes), sistem linguistik, sintagma, paradigma (baca: Teori Interpretasi, Paul Recour) hingga hemeneutika (baca, Kritik terhadap Study al-Qur’an Kaum Liberal), semiotika, semantik dan sistematika (baca,  Hiper Semeotika) hal ini semua diproyksikan untuk  mengetahui Agama secara komplks dan universal. Bukan  di fahami secara sepenggal-sepenggal seperti beberapa kalanganyang  saya  sebut di atas.

Figur Kyaiku merupakan suatu usaha yang  mesti kita laksanakan adalah  memantakan diri sebagai panutan dan menjadikan siri sendiri sebagai pijakan di dalam segala tindak tannduk kesahrian kita. Yang harus kita ikuti adalh naluri demi kemaslahatan bukan  mereka yang berpredikat kyai/guru/dosen atu palah katamu yang bisanya hanya menerima zakat kala Ramadan dan memerintahkan   orang lain ditambah lagi ia tidak peduli pada nasib bangsa ini. Wallahu a’lam!

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy