30.1 C
Indonesia
8 Desember 2019
Islam Tak Mengajarkan Radikalisme

Islam Tak Mengajarkan Radikalisme

Jakarta-Deputi V Kantor Staf Presiden, Jaleswari Pramodhawardani menegaskan, radikalisme tidak identik dengan agama Islam. Menurut Jaleswari, publik tidak boleh mengidentikan radikalisme seolah-olah Islam.

“Jangan sampai kita salah pengertian, seakan-akan radikalisme itu berawal dari agama Islam. Enggak, bukan seperti itu,” ujar Jaleswari di kawasan Menteng, Jakarta, Minggu (3/11/2019) saat dimintai tanggapan terkait pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menyebutkan radikalisme dengan istilah manipulator agama.

Menurut Jaleswari, radikalisme yang disebut Jokowi adalah kekerasan ekstrimisme (violent extremism), yakni orang yang dengan keyakinan menghukum orang lain yang berbeda keyakinan atau pandangan dengannya.

“Bagaimana orang melalui keyakinannya menghukum orang yang berbeda, melalui keyakinannya mempersekusi orang-orang yang berbeda keyakinan, pandangan dengannya,” terang dia.

Jaleswari menilai, istilah manipulator agama lebih netral karena tidak langsung merujuk kepada agama Islam. Menurut dia, radikalisme bisa muncul dari agama apa pun atau padangan tertentu. “Iya, (istilah manipulator agama) netral, itu sama sekali tidak merujuk kepada agama Islam,” tegas dia.

Lebih lanjut Jaleswari mengatakan, alarm bahaya radikalisme, ekstremisme, terorisme, dan intoleransi sudah ada. Menurut dia, masyarakat tidak boleh mengabaikan hal tersebut dan menyatakan seolah-olah tidak ada.

“Perlu kerja sama dalam memberantas dan mencegah radikalisme atau para manipulator agama. Tidak bisa pemerintah dibiarkan sendiri, perlu kerja sama berbagai stakeholder,” pungkas Jaleswari.

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy