4 Juni 2020
islamisasi-atau-arabisasi

Islamisasi atau Arabisasi

Oleh Suryono Zakka*

Ada kalangan yang belum bisa membedakan antara Islam dan Arab. Antara Islami dan Arabi. Islami berarti sifat atau nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran Islam seperti perdamaian, cinta kasih, persaudaraan, toleransi dan sebagainya. Sedangkan Arabi adalah sifat kearab-araban.

Sesuatu yang bersifat Islami tentu sudah mesti baik namun sesuatu yang bersifat Arabi atau budaya Arab belum tentu baik. Ada yang baik dan ada yang buruk. Budaya Arab yang baik adalah budaya Arab yang selaras dengan ajaran Islam sedangkan budaya Arab yang buruk sudah tentu bertabrakan dengan ajaran Islam, misalnya budaya Arab Jahiliyah.

Sebagai muslim tentu yang kita sebarkan adalah nilai-nilai Islaminya, bukan yang penting Arab, bukan nampak Arab secara lahiriyah karena nilai-nilai Islami ini tidak harus datang dari Arab. Budaya Nusantara juga ada yang mengandung nilai-nilai Islami. Islam akan menyerap budaya apapun selagi sesuai dengan ajaran Islam. Jadi Islam bukanlah semata-mata agama penghancur budaya lokal.

Dengan demikian, kita sebagai muslim Nusantara tak selayaknya membumihanguskan budaya-budaya Nusantara selagi tidak menabrak ajaran Islam. Kita pertahankan yang baik dan kita tinggalkan yang buruk. Justru dengan mempertahankan budaya Nusantara yang baik itulah maka Islam di Nusantara akan semakin kokoh. Tanpa ditopang dengan budaya-budaya lokal maka Islam akan sulit berkembang dimanapun berada.

Baca Juga  Syariah Tak Pantas Jadi Hukum Negara

Kearifan lokal inilah yang kemudian ulama NU meramunya dengan konsep “Islam Nusantara”. Islam yang hidup dan berkembang dengan tradisi Nusantara yang tidak menabrak syari’at. Islam yang membumi sesuai dengan karakter masyarakat Nusantara. Menyerap ajaran Islam dengan tidak menanggalkan budaya leluhur yang baik.

Mengapa perlu konsep “Islam Nusantara”? Tujuannya agar budaya muslim Nusantara tidak digerus dan tidak digempur oleh gerakan Arabisme/Arabisasi. Ada kelompok yang berupaya menghancurkan semua budaya Nusantara dengan dalih menyebarkan ajaran Islam. Bahkan muslim Nusantara yang tidak bergaya Arab dianggap tidak muslim alias Islamnya tidak kaffah. Ahli bid’ah, musyrik dan sebaginya. Mereka inilah yang gagal dalam memahami ajaran Islam yang sebenarnya.

Ingat, menjadi muslim tidak harus menjadi Arab. Kita perlu cerdas memilah mana yang esensi ajaran Islam itulah yang kita serap dan mana yang hanya bungkus Arabnya tak perlu kita ambil jika tidak selaras dengan ajaran Islam. Tidak harus tergila-gila dengan Arab, tidak waton Arab karena tidak semua yang berbau Arab itu baik dan tidak semua orang Arab itu muslim. Tak perlu jadi Arab. Tap perlu jadi Wahabi. Tak usah jadi HTI.

Baca Juga  Mengenal Suhuf Musa A.S

*Penggerak Aswaja Sumatra Selatan.

Terima kasih sudah mendukung channel kami:

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy