27.1 C
Indonesia
23 September 2019
Jalaluddin Rumi dan Fana Di abad Modern

Jalaluddin Rumi dan Fana di Abad Modern

Membicarakan tasawuf tidaklah hanya berkutat dalam teori belaka. Tetapi, ia merupakan sebuah ajaran yang bersifat rasa (Dzauqiyah), dan harus dialami bukan hanya sebuah pembicaraan semata. Memang dalam banyak literatur tasawuf tidaklah sama dalam menjelaskan tentang pendakian seorang hamba. Namun, startawalnya adalah merupakan sebuah konsensus dalam literatur tasawuf bahwa pendakian itu dimulai dengan taubah yang merupakan penyucian bagi seorang hamba. Dalam tulisan ini pula saya hanyalah sebagai pengantar saja tentang apa yang saya pahami walaupun yang harus diperhatikan, saya sama sekali jauh dari dzauqiyah yang dicitakan dalam tasawuf itu. Apalagi dari ajaran Jalaluddin Rumi dan Fana

Sebagaimana mafhum dalam dunia tasawuf, ajaran fana’ melahirkan pemahaman yang ekstrim dikemudian hari. Kita atau sebagian dari kita banyak mendengar cerita tentang Al-Hallaj yang pendakian spiritualnya sampai pada ke-fana’-an. Begitupula dengan Abu Yazid Al-Basthami. Walupun konsep teoritis keduanya berbeda, namun, mereka sama-sama mencapai taraf ke-fana’-an. Ketika mereka fana, mereka kemudian melontarkan kata yang seakan menyalahi aturan yang telah paten. Seperti  Al-Hallaj ketika ia mengatakan “Akulah Al-haq” dan perkataan inilah yang membuat Al-Hallaj harus menerima hukuman pancung. Walaupun begitu, kita tidak bisa mengenyampingkan akan adanya pengaruh sosial politik pada saat itu.

Ajaran Fana Jalaluddin Rumi

Fana’ merupakan hal yang bersifat rasa dari pada teori. Dan  menurut perspektif saya bahwa definisi apapun saja tak akan  mampu mewakili rasa itu. Namun ada hal yang menurut saya menarik mengenai konsep fana’ini ( Jalaluddin Rumi dan Fana ), yaitu apa yang digambarkan oleh Jalaluddin Rumi bahwa keadaan fana’ adalah seperti bayangan yang terkena cahaya, maka bayangan itu akan hilang dengan seketika ketika cahaya mengenainya. Rumi memang secara husus dalam Matsnawinya vol 3 membahas fana’ ia beranggapan bahwa wujud yang hakiki adalah wujud Tuhan, sementara adanya wujud manusia hanyalah merupak penisbatan semata, dengan adanya wujud hakiki yang dinisbatkan pada manusia maka manusia juga dikatan wujud dan wujud nisbat ini akan melebur pada wujud hakiki.

Analog yang diberikan Rumi ini serta ulasanya mengenai fana’ secara gamlang mampu kita pahami mengenai ekstase yang dialami hamba ketika fana’. Namun pertanyaannya sekarang adalah bagaimana untuk tidak menghilangkan dimensi sosial ketika seorang Mutasawwif dalam keadaan fana’? pertanyaan inilah yang mendorong saya untuk mengetahui sebenarnya tujuan ajaran fana’ ini itu apa?

Untuk menjawab pertanyaan di atas saya merasa perlu untuk mengutip perspektif ulama mutasawwif mengenai konsep fana’ ini. Imam Al-Junaid Al-Baghdadi yang merupakan guru dan kawan Al-Hallaj ketika ditanya mengenai fana’ beliau menjawab : fana’ adalah ketidak jelasan segalanya menjauh dari sifatmu dan kesibukan segalanya darimu dengan segala totalitasnya. Dalam hal ini dapat dipahami bahwa fana’_dengan berdasarkan difinisi ini dan apa yang dikatakan Rumi__ adalah segala yang berasal dari perbuatan seseorang sejatinya adalah bukan pekerjaannya, melainkan pekerjaan Tuhan. Kita dituntut disisni untuk selalu bersama Tuhan dalam keadaan apapun dan dalam segala perbuatan. Dengan demikian tujuan dari ajaran fana’ disini adalah hilangnya egoisme atau dalam psikologinya disebut sebagai Id menghilang dari kedirian kita. Lebih gampangnya kita merasa bahwa kita sama sekali takdapat berbuat apa-apa yang berbuat hanyalah Tuhan semata

Fana Menurut Ajaran Sufi

Dari sinilah saya menawarkan pamaknaan baru tentang konsep fana’ yaitu kita benar-benar membunuh ego kita dengan selalu merasa akan kehadiran Tuhan dalam setiap tindak tanduk kita, tanpa harus menghilangkan dimensi sosial sebagaimana terjadi pada Al-Hallaj atau Abu Yazid Al-Basthami. Dengan demikian, kita memperoleh dua hal sekaligus, pertama adalah dimensi sosial dan kedua dimensi keruhaniahan. Kita menolong orang lain misalnya, kita merasa bahwa yang menolong bukan kita tapi Tuhanlah yang pada waktu itu menjadi pelaku sejati. Sehingga  rasa sombong atau rasa telah berbuat baik pada diri kita menjadi hilang sebab pada waktu itu kita hanyalah sebuah media dan opratornya hanyalah Tuhan semata.

Dan hal ini juga senada dengan apa yang diperjuangkan oleh tarekat Syadziliyah yang menekankan untuk tidak mengenyampingkan sosial. Dengan pehaman fana’ dalam perspektif baru ini, kemudian memudahkan penerapan ajaran ini ditengah kehidupan sosial. Dan pemaknaan baru akan ajaran fana’ ini terinspirasi dari kitab Lathaiful Minan karya Abdul Wahhab Al-Sya’rani yang seakan beliau mengajak pembaca untuk selalu bersama tuhan dimanapun ia berada dan bertindak tanduk. Dengan kata lain kita diajak fana’ dari dunia dan baqa’ dengan tuhan tanpa harus meninggalkan tugas kita sebagai kahlifah fi al-ardh.

*Masyhuri Drajat, S.Ag. Mantak ketua Pengurus PP Annuqayah Lubangsa

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy