23 September 2020

JALAN TAMAN AMIR HAMZAH

Oleh ahmad khalwani*

Sebuah roda kehidupan yang penuh misteri ini, akhirnya mengantarkan penulis sampai di jalan taman amir hamzah. Ada apa sebenarnya dengan jalan taman amir hamzah ini….?  Bagi kebanyakan orang, jalan ini sama dengan jalan lainya diberbagai tempat, tidak ada yang terlalu istimewa, bangunan disekitar jalan ini tidak terlalu megah, tidak ada gedung pencakar langit. Dan juga jalan ini tidak terlalu macet dan bising bila dibandingkan dengan jalan protokol ibukota seperti jalan gatot subroto. Namun bagi bagi bangsa indonesia, jalan ini mempunyai nilai historitas yang menarik untuk diketahui. Terlebih bagi penulis, jalan ini penuh dengan pembelajaran kehidupan.
Bagi penulis sendiri suatu kebanggaan bisa berada ditempat ini, karena disalah satu sudut jalan ini, terdapat sebuah bangun kecil, tempat dimana penulis menimba ilmu, bangunan berlantai empat yang semula merupakan markas besar nahdlatul ulama sebelum pindah di jalan kramat, yang pada akhirnya yang dijadikan sebagai kampus universitas nahdlatul ulama indonesia. Memang terlalu kecil suatu perkantoran yang dijadikan sebagai kampus, tapi bagi penulis bukanlah tempat yang menjadi acuannya, akan tetapi bagaimana iklim akademik disini yang sangat memadai untuk menunjang para akademisi yang ingin belajar dan melakukan riset.

Meskipun bangunanya tampak biasa tapi penghuni bangunan ini adalah manusia luar biasa, seperti Ulil Abshar Abdala, Muhammad Moqsid Ghazali, Zastrow El Ngatawi, dan tentunya penulis sendiri hehehe.

Suatu saat jalan ini akan menjadi kenangan tersendiri bagi penulis, karena jalan ini akan menyimpan kenangan dan cerita perjalanan akademik penulis. Disini penulis juga dikenalkan dengan berbagai aktifis yang sudah malang melintang di dunia pergerakan di indonesia. Dijalan ini pulalah yang mengantarkan penulis membuka cakrawala mengenai sejarah islam dan pergerakan di indonesia. Di jalan ini pulalah penulis diingatkan dengan organisasi pergerakan islam yang muncul di indonesia pada zaman kolonial yang didirikan oleh HOS Cokroaminoto pada tahun 1912 yaitu Sarekat Islam. Seperti yang penulis ketahui bahwa beliau ini merupakan guru sekaligus mertua dari proklamator republik indonesia, Ir Soekarno. Karena disalah satu sudut jalan ini terdapat sebuah gedung yang cukup kuno yang menjadi kantor pusat pergerakan tersebut.

Bagi penulis pergerakan ini merupakan pergerakan awal yang merubah cara perjuangan bangsa indonesia dari perjuangan fisik menjadi perjuangan diplomasi kebudayaan dan pendidikan. Dari pergerakan ini munculah orang-orang yang mengsisi kemerdekaan repubil indonesia seperti haji agus salim dan semaun.

Diujung ujung jalan ini juga terdapat sebuah masjid yang penuh kenangan bagi salah satu bapak proklamator indonesia yaitu Muhammad Hata. Masjid ini bernama masjid agung matraman. Bung hatta, seperti apa yang dituturkan oleh presiden keempat republik indonesia, KH Abdurahman Wahid merupakan seorang muslim tulen yang harus dijadikan percontohan, setiap jumat bung hatta selalu datang dahulu ke masjid ini, dan langsung menuju tempat yang sama dibaris yang sama.

Mobil bernomor B 17945 menjadi penghias setia halaman masjid ini selama tigapuluh tahun. Bahkan menurut KH Abdurahman Wahid, Kesantrian Bung Hatta yang penuh dengan jadwal waktu untuk beribadah kepada allah dijadikan contoh yang ditularkan dari mulut kemulut, dari guru kemurid. Jika ada yang tidak setuju dengan kerasnya pengeras suara yang mengumandangkan suara adzan dari masjid tersebut, mungkin bung hatta lah orang pertama yang besikap demikian. Penting rasanya bagi warga indonesia untuk napak tilas berkunjung ketempat ini untuk mengetahui bagaimana begitu pentingnya jalan ini bagi proklamator republik ini. 

Yang tidak kalah menarik untuk diketahui dari jalan ini adalah sebuah bangunan tua, yang merupakan tempat tinggal menteri agama pertama republik indonesia, KH Ahmad Wahid hasyim, yang merupakan putra pendiri Nahdlatul Ulama, KH Hasyim Asya’ari dan juga merupakan bapak dari presiden ke empat republik Indonesia, KH Abdurahman Wahid.

Seperti penuturan Prof Zamaksyari Dhofier, KH Wahid Hasyim merupakan santri tulen yang tidak menerima pendidikan ala barat akan tetapi mampu berpikris kritis yang melampaui pemikiran barat, perlu diketahui juga bahwa KH Wahid hasyim merupakan orang pertama yang mendirikan Departemen Agama dan menahkodainya sendiri. Dengan adanya departemen agama ini, indonesia terbebas dari negara sekuler, dan dengan adanya departemen agama ini beliau menjembatani  indonesia antara negara teokrasi dan negara sekuler sehingga lahirlah indonesia menjadi negara pancasila.

Dijalan taman amir hamzah ini, KH Abdurahman Wahid Dibesarkan Oleh ibunya Nyai Sholihah, selepas wafatnya KH Wahid Hasyim. Sejak kecil KH Abdurahman Wahid harus hidup mandiri karena beliau seorang yatim, akan tetapi semangatnya dalam belajar memarisi semangat bapaknya. Dan sekarang tempat ini dijadikan sebagai griya gusdurian, tempat nongkrongnya para pemuda, tempat dimana bertemunya berbagai lapisan masyarakat untuk berbagi dan bertukar pikiran, dan yang pasti tempat ini dijadikan sebagai pewaris pemikiran gusdur agar tetap lestari.
Akhirnya penulis simpulkan bahwa dari jalan ini munculah orang-orang yang mempunyai mimpi besar, seperti bung hatta yang mempunyai mimpi besar untuk menjadikan indonesia merdeka terbebas dari cengkreman kolonial, bahkan Bung Hatta sampai bernadzar tidak akan menikah sebelum indonesia merdeka. Juga seperti KH Abdurahman Wahid yang mempunyai mimpi besar untuk selalu memanusiakan manusia. Seperti yang beliau katakan dalam sebuah tulisannya bahwa mimpi besarnya akan dimulai dari berbagai progam pedesaan yang terpisah-pisah juga akan berakhir pada suatu yang universal.

Bahwa perjuangan kemanusian sekarang harus bermula dari mendengarkan suara pak tani yang menharapkan pinjaman modal empat ribu rupiah bagi istrinya untuk berdagang kecil-kecilan, membawa rinjing berjualan krupuk asin ke pasar terdekat.

Memang sulit menggambarkan bahwa berbincang dengan lurah tentang saluran air yang baru untuk desanya sama penting dan luas jangkaunaya dengan perbincangan anggota dewan di senayan. Memang sulit menunjukan bahwa kerja dipedesaan dalam sebulan proyek kecil sama hasil tranformatifnya dalam jangka panjang rapat yang dilakukan oleh pembesar negara.
Jalan taman amir hamzah ini ternyata melahirkan orang-orang besar yang mempunyai mimpi besar untuk bangsa dan negaranya, bukan sekedar mimpi untuk kepentingan sesaat. Dari jalan sempit ditengah ibukota inilah telah dimulai jalan besar untuk mewujudkan kejayaan bangsa indonesia. 

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy