28.9 C
Indonesia
17 Juni 2019
Agama

Jangan Biarkan Tuhan Bekerja Sendiri

Apakah Anda pribadi yang tumbuh dewasa dengan mengimani sebuah prinsip bahwa kerja keras adalah ukuran dari kepribadian seseorang? Apabila jawaban Anda “ya”, maka Anda akan selalu mencari alasan untuk bekerja lebih sungguh-sungguh dan berusaha lebih giat. Mengapa? Karena Anda tidak membiarkan Tuhan bekerja sendirian! Anda tidak pernah menunggu perintah dan teguran untuk menjadi baik.
Jika orang lain hanya menulis buku, maka Anda menulis sekaligus memasarkannya. Apabila kebanyakan orang meninggalkan pekerjaan mereka di kantor, Anda malah bekerja di tengah-tengah liburan. Bila kebanyakan orang di luar sana hanya menjadi peratap, pengeluh dan perengek, maka Anda berusaha untuk tidak menjadi seperti mereka, sebab mengeluh tidak pernah menyelesaikan persoalan.Sepanjang hari, Anda diburu oleh purbasangka bahwa begitu pekerjaan selesai lebih awal, Anda bisa segera bersantai bersama keluarga, tetapi nyatanya, pekerjaan yang lain sudah menanti dan tentu saja kian menantang. Bukankah selalu ada di antara kita yang “memilih” mengerjakan tugas orang lain, bukan semata-mata karena mampu, tetapi kerena memang tak bi(a)sa menganggur?.

Percayalah bahwa orang dengan tipe semacam ini, lebih stress menganggur dari pada bekerja. Contoh sederhana, Anda sudah membayar taksi, tetapi Anda masih pula membantu sopir itu mengangkat tas ke bagasi sembari menyelipkan beberapa alasan bahwa (1) sopir itu nampak lelah, (2) Anda ingin berolah raga, (3) Anda tidak ingin terlambat ke Bandara, dll. Sementara sopir itu terkesan dan memberi layanan ekstra kepada Anda, pada saat yang sama Anda akan lebih menyukai diri Anda sendiri. Dan, inilah modal utama untuk maju.
Acapkali kita mengabaikan keelokan hati dan kecantikan rohani yang sesungguhnya. Mau bukti? Seberapa sering Anda melakukan pembiaran manakala orang lain meyakinkan Anda bahwa Anda tidak berharga dan pemalas? Apakah nyaris selalu Anda mempercayai pendapat (baik dari diri sendiri maupun orang lain) bahwa Anda pecundang? Padahal “pendapat” dan “kenyataan” sama sekali berbeda. Kabar buruknya adalah, setiap kali Anda mengkritik diri sendiri, setiap itu pula Anda sedang membenci diri Anda sendiri. Inilah biang segala kemunduran. Akibatnya, tak jarang pula kita membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Hasilnya? Selalu kita yang kalah, tak pernah seri dan apalagi menang.
Musim silih berganti, teman dan musuh datang dan pergi, pasang-surut kehidupan terus mewarnai, kemarin pagi Anda dipecat, hari ini Anda mendapat pekerjaan baru dengan gaji yang lebih layak. Atau bahkan, Anda tidak pernah dipecat karena memang tidak bekerja. Apapun itu, jika Anda bekerja untuk dan demi diri dan orang-orang terkasih Anda, jika Anda mencintai pekerjaan Anda, tidak ada yang bisa memecat Anda dari diri Anda sendiri!
Hanya saja, yang harus senantiasa dipersiapkan dan disadari sejak dini adalah perubahan—hidup adalah perubahan. Dan, karena tak juga siap dengan perubahan itu, acap kali Anda berujar kepada pasangan hidup Anda, “kau tak secantik dulu, you are not you were!”, “Tempat ini tak seindah dulu”, “kopi ini tak senikmat pekan lalu”, dll.
Orang-orang sibuk mencari pencerahan dan kebijaksanaan, namun demikian, ukuran pencerahan Anda tidak terutama karena bermeditasi seluruh purnama, puasa sepanjang siang dan salat sampai larut pagi. Ukuran dari kebijaksanaan Anda adalah jika berdamai dengan segala perubahan serta menerima orang-orang yang berbeda dengan Anda. Mereka yang bahagia adalah mereka yang menerima perubahan dan perbedaan.
Lantas, bagaimana menyikapi perubahan? Ke mana pun Anda melangkah, ambillah langkah kecil dan sederhana, berhenti menyalahkan nasib dan keadaan, lalu jadikan kesuksesan sebagai kebiasaan Anda. Memang, Tuhan itu bukan pengangguran, tapi jangan biarkan Dia bekerja sendirian. Setidaknya, inilah cara bersyukur atas anugerah hidup. Mana kopi?


(Penulis buku best Seller Peradaban Sarung dan Kondom Gergaji)

Related posts

Penafsiran kata ‘Yatama’ dalam Keadilan Poligami

admin

Yang Boleh Menyandang Gelar Sufi

PENA SANTRI

Kenapa Datangnya Malam Lailatul Qodar Disamarkan Allah?

admin

Feminisme Paksaan?

Ahmad Fairozi

Bolehkah Sejajar Shof Wanita dan Laki-Laki Dalam Sholat….?

khalwani ahmad

Rahasia Bersuci : Mengapa ketika Hadats Kecil Wajib Wudlu dan ketika Hadats Besar Wajib Mandi ?

admin

Leave a Comment