27 C
Indonesia
27 Juni 2019
Esai

Jangan Bosan Menjadi Orang Baik

(catatan untuk alumni Pesantren)
Oleh: Abdul Rosyid*
Beberapa kasus saya temui, alumni suatu pesantren tidak berperilakku sebagaimana layaknya alumni Pesantren. Dari cara berpekaian yang super gaul, tidak menutup aurat dengan semestinya, bahkan masalah shalat pun terabaikan. Padahal mereka dididik selama sekitar 3 atau 6 tahun di pesantren untuk mengenakan pakaian secara syar’i, melaksanakan shalat berjamaah 5 waktu dan berbagai kebaikan lainnya.
Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang mendidik santri-santrinya untuk mampu melaksanakan dan mengamalkan ajaran-ajaran  agama sebaik mungkin. Maka disusunlah berbagai aturan-aturan untuk membentuk watak dan kepribadian santri agar tumbuh menjadi pribadi-pribadi santun, berakhlaq karimah dan bertaqwa. Kehidupan santri di dalam lingkup pesantren rata-rata kondusif. Mereka terbiasa bangun shubuh, bahkan tahajjud. Berpuasa senin kamis, bahkan Dawud. Mampu menjagajarak dengan lain jenis, begitu ta’zhim dengan para ustadz ustadzahnya, yang yunior menghormati yang senior, terbiasa mandiri dan bertanggung jawab, dan lain sebagainya.
Namun harus diakui, bahwa belum semua santri melaksanakan berbagai aturan dan tata tertib ini dengan penuh keikhlasan dan kesadaran. Sebagian melakukannya dengan terpaksa karena takut mendapatkan sangsi dari pengurus maupun ustadz ustadzahnya. Namun sebagian lain sudah melakukannya dengan keikhlasan dan kesadaran yang muncul dari lubuk hatinya. Durasi waktu yang cukup lama menjadi santri, dengan pembiasaan-pembiasaan positif tersebut, dan juga bimbingan dan arahan dari para ustadz ustadzah, mampu mengubah pola piker para santri, meski harus diakui dengan jujur, tidak mutlak. Masih ada saja, santri yang hingga tamat pendidikan, belum memiliki kesadaran dalam melaksanakan berbagai aturan itu, sehingga selalu merasa terpaksa dalam melakukannya.
Santri-santri seperti inilah yang sering merasa bosan dalam melakukan kebaikan-kebaikan. Aturan yang dibuat untuk mendidik ke arah kebaikan dianggap sebagai kekangan yang menyiksa. Sehingga ketika mendapat kesempatan berlibur atau jika sudah tamat, mereka melampiaskan keinginan liar yang terpendam. Yang merasa terkekang dengan khimar penutup kepala, segera saja tidak bertutup kepala saat libur atau setelah menjadi alumni.Yang selalu merasa berat melaksanakan shalat jama’ah, segera saja mereka bermalas-malasan hadir ke masjid ketika tidak lagi ada pengurus atau pun ustadz yang menegurnya. Yang merasa bahwa aturan tidak boleh pacaran itu membikin dada mereka sesak, segera saja mereka berpacaran ria ketika kesempatan di luar terbuka.
Mereka menjadi generasi yang patut dikasihani, karena bosan menjadi orang baik. Sekian tahun dididik, seakan tidak ada bekas positif yang mengendap di dalam hatinya. Bahkan yang seperti ini, kadang lebih ‘liar’ dari mereka yang sudah biasa dengan kelonggaran iklim non pesantren. Maka kadang muncul pertanyaan, “Alumni pesantren kok malah seperti itu ya?”Sebuah pertanyaan keprihatinan dari lubuk hati yang dalam.
*Penulis adalah kolumnis, tinggal di Magelang

Related posts

Midadurahman, Kitab Tafsir Tertebal DI Dunia,

admin

Sholat Dan Asyiknya Ajaran Islam

admin

Agama, Cinta

admin

Usaha Memahami Tuhan

Ali Mukoddas

Tak Sembarang Orang Bisa Menjadi Guru

admin

Berdamai dengan Perbedaan

PENA SANTRI

Leave a Comment