27.7 C
Indonesia
22 Oktober 2019
Jangan Masuk Surga Sendirian 1

Jangan Masuk Surga Sendirian

Jangan Masuk Surga Sendirian

KH. Mahrus Ali berkata kepada seorang kiai, yang merupakan sahabat beliau,

Kalau masuk surga itu, jangan sendirian. Masyarakat sekitarnya itu juga diajak.”

Bagaimana maksud panjenengan?” tanya sahabat beliau dengan penasaran.

Kalau membangun pesantren jangan hanya pakai uang sendiri. Ajak masyarakat agar ikut juga membantu.” jawab Kiai Mahrus.

Kiai tsb selama ini membangun pesantrennya murni dengan uang pribadi. Setelah mendengar dhawuh Kiai Mahrus, ia mempersilakan masyarakat sekitarnya untuk ikut membantu.

Saat Jenderal LB. Moerdani berkunjung ke Lirboyo, KH. Mahrus Ali dengan nada berkelakar berkata kepadanya,

Para kiai jangan disuruh ikut KB (Keluarga Berencana), karena putra keturunan kiai itu baik-baik. Maling-maling itu saja yang disuruh KB.”

Saat itu sedang gencar-gencarnya pemerintah ORBA mensosialisasikan pembatasan jumlah anak melalui program keluarga berencana.

Saya pernah ikut ngaji Fathul Wahab dan Tafsir Yasin kepada Kiai Mahrus,” tutur KH.Fathoni Syihabuddin Cirebon.

“Di masa itu, saya sering menyiapkan bangku, bantal dan sajadah beliau untuk mengaji.”

Suatu hari, ia duduk tepat di belakang Kiai Mahrus. Diam-diam ia mencoba mengintip dan melihat kitab Kiai Mahrus, “Saya penasaran, seperti apa sih isi kitab beliau?”

Meskipun beliau ‘alim benar dalam ilmu fiqih, ternyata kitab beliau masih dipenuhi tulisan-tulisan yang berisikan keterangan.
dalam hati saya bergumam bahwa tulisan beliau juga tidak terlalu bagus.

Tiba-tiba alangkah kagetnya saya, beliau seketika itu menghentikan bacaannya.”

Nek wong pinter iku biasane tulisane elek.”

Kalimat itu diucapkan Kiai Mahrus begitu saja. Sembari lalu. Namun justru kalimat itu tertanam benar di benak dan ingatannya.

Padahal saat saya mengintai tulisan beliau, posisi beliau sedang menghadap ke barat dan saya rasa beliau tidak mengetahui kalau saya mengintainya.”

Beginilah cara Kiai Mahrus memberi masukan, tanpa menyinggung perasaan orang lain.

Al Fatihah…

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy