27.5 C
Indonesia
23 Oktober 2019
Jejak Syuhada, KH Abdullah Sajjad 1

Jejak Syuhada, KH Abdullah Sajjad

Alumni Berkah Temu

Sekitar tahun 2003 Pondok Pesantren Annuqayah Latee Guluk-Guluk Sumenepuluhan temu alumni untuk pertama kalinya. Salah satu hal penting yang dipersiapkan guna mensukseskan gawe ini adalah buku “Jejak Masyayikh Annuqayah”. 
Maka, disusunlah tim khusus yang membahas tentang sejarah Masyayikh Annuqayah dari para saksi yang masih hidup. Tim lalu bergerak ke beberapa daerah, seperti Karduluk, Kemisan, Kalabaan, dan sebagainya.
Kiai Haji Abdullah Sajjad. Saya adalah bagian dari tim. Saya pun meluncur ke daerah Guluk Manjung, Kapedi. Di sana ada seorang saksi hidup yang bernama H. ​​Abdurrahman. Masyarakat lokal biasa disebut “Kiai Rahman”. 
Kiai Rahman
Perawakannya agak tinggi, kulit kuning, kurus dan sedikit bungkuk karena dimakan usia, namun masih terlihat sehat dan lincah. Wajahnya cerah, tenang, dan bibirnya selalu basah, yang menyiratkan bahwa dia adalah seorang ahli ibadah.
Menurut pengakuannya, dia disambut 113 tahun. Saat itu dia tinggal bersama salah satu putrinya Dari salah satu bicara. “Lebih dari 10 perempuan yang pernah saya nikahi,” katanya sambil tersenyum.
Bagi masyarakat sekitar, Kiai Rahman tak lebih dari lelaki tua yang sudah uzur. Hal yang wajar karena ia lebih banyak menghabiskan waktu gagahnya di luar Madura, jadi banyak yang tidak mengenalnya secara mendalam. Selepas Agresi Militer Belanda tahun 1947, beliau berpetualang ke Jawa dan Kalimantan. Di mana bumi di pijak, di situlah ia membangun masjid. Terkait, di mana bumi di pijak, di situlah dia punya istri baru (Hmmm … mungkin ini yang bisa bertahan lama). Jadi wajar jika dia kemudian meninggalkan banyak masjid dan istri di daerah rantau. 
Masyarakat sekitar juga tidak banyak tahu tentang kejatuhan Soeharto, tahun 1998, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pernah mengunjungi Kiai Rahman ini. Hal ini dibenarkan oleh putrinya yang juga sudah lanjut usia. Tidak mungkin memilih bersepakat untuk mengambil.
Saat diajak berbicara, dia memuji sekali berkenaan dengan Annuqayah di masa lalu. Ingatan dan gelora perjuangannya seakan muncul kembali.
Saat Belanda Memasuki Annuqayah
“Saat aku ngaji ke Kiai Ilyas, putra-putri beliau masih kecil-kecil kecuali Kiai Khazin, aku masih ingat dulu aku sering menggendong Kiai Warits,” Kiai Rahman mulai ceritanya. “Kiai Khazin itu bagi saya adalah pendekar yang pemberani, malah sebaliknya nekad. Di antara aksi nekadnya adalah, jika menunggang kuda, ia tidak menghadap ke depan, tetapi ke belakang sambil menunggang kuda. Dan ia tidak pernah menaiki kuda saat menunggang,” tuturnya.
Saat Belanda datang pada tahun 1947, ada perintah dari KH Abdullah Sajjad selaku pimpinan laskar Sabil, maka Pesantren Annuqayah harus dikosongkan karena Belanda berhasil memulihkan pertahanan Sabil di Pakong dan telah bergerak menuju Guluk-Guluk. Menurut Kiai Rahman, Kiai Ilyas tidak juga merta mengosongkan pesantren. Bahkan katanya berkata, “Saya tetap di sini saja bersama santri.”
Benar saja, Belanda datang dan langsung melakukan penyisiran. Mereka menggeledah dan mengobrak-abrik semua tempat, tetapi yang dicari tidak ditemukan. Setelah puas mengobrak-abrik Pesantren Annuqayah, salah seorang pemimpin Belanda memberi tahu aba-aba bahwa pesantren kosong, dan mereka pun meninggalkan Annuqayah dengan tangan hampa.
“Aneh ..,” kata Kiai Rahman, “padahal waktu penggeledahan itu Kiai Ilyas sedang morok santri di Masjid Annuqayah, aku juga sedang ikut ngaji saat tubuh masih bermandikan keringat karena takut ketahuan Belanda,” imbuhnya. “Rupanya, Kiai Ilyas sedang menampakkan kejunilannya (karomahnya),” hela Kiai Rahman. Subhanallah ….
Belanda memang menggeledah semua tempat di Annuqayah, tetapi tidak sejengkal pun mereka menapakkan kaki di daerah Lubangsa. Menurut Kiai Rahman, mereka hanya tercengang kompilasi melihat daerah Lubangsa laksana melihat kolam besar yang penuh udara. Wallahu a’lam …
Kidung Kiai Sajjad
Nama “Sajjad” menurut Kiai Rahman adalah nama asli dari Kiai Haji Abdullah Sajjad bin KH Muhammad Syarqawi al-Kudusi, bukan nama gelar (di mana ia wafat dalam bahasa sujud dalam versi Ahmad Baso), sebab saat ini juga masih hidup seperti biasa “Kiai Sajjad “Dan pasukannya disebut” Pasukan Kiai Sajjad “.
Kiai Sajjad adalah orang yang paling dicari oleh Belanda. Mereka tahu itu dalang sekaligus aktor yang menggerakkan rakyat untuk melawan dan menghadang pergerakan Belanda di daerah Pakong adalah Kiai Sajjad. Jadi wajar jika Beliau selalu diburu oleh Belanda dengan berbagai cara. Akhirnya Kiai Sajjad bersembunyi (lebih bingung bergerilya) di daerah Karduluk.
Menurut Kiai Ali Wafa, seorang saudagar kaya di Prenduan yang pernah menyelamatkan Kiai Khazin Ilyas ke Sukorejo, bahwa Kiai Sajjad tidak pernah ingin diungsikan ke daerah Sukorejo juga, namun demikian terbukti. Dia tidak sudi menumbalkan rakyat hanya demi keselamatannya sendiri, sehingga dia tetap bertahan di Karduluk.
Saat dalam pengungsian, Kiai Sajjad tidak melupakan tugasnya sebagai pengayom dan guru umat. Dia masih sering morok kompilasi dianggap benar-benar aman. Materi yang sering dia berikan adalah tauhid.
Dia juga sangat kreatif menyusun syair-syair menyampaikan Madura yang dilantunkan bersama Shalawat Nabi. Saking seringnya syair-syair itu dilantunkan, banyak di antara laskar dan para pengiringnya yang hafal, termasuk Kiai Rahman. (Catatan: Tentang Kidung Kiai Sajjad ini pernah dimuat dalam buku “Jejak Masyayikh Annuqayah” dalam edisi terbatas).
Syair-syair itu terus beliau lantunkan, sampai kompilasi datanglah sepucuk surat yang dihantar oleh seorang kurir. Jika mengingat serta melantunkan Kidung Kiai Sajjad itu, Kiai Rahman laksana menyenandungkan kidung kematian, karena Kiai Sajjad senantiasa melantunkan kidung tersebut di masa-masa akhir hayatnya, sehingga tanpa terasa air mata Kiai Rahman meleleh di ujungnya.
Sebuah Pengkhianatan
Belanda yang masih bercokol di daerah Kemisan Guluk-Guluk terus berusaha mendapatkan Kiai Sajjad. Mata-mata pun disebar, termasuk mengerahkan kaum pribumi yang berhaknya bisa dibeli alias para pengkhianat.
Sebuah kabar angin menuturkan bahwa Kiai Sajjad bersembunyi di daerah Karduluk. Belanda pun menyusun siasat. Mereka tidak ingin buruannya lepas. Maka dipakailah siasat lama yang pernah digunakan Belanda untuk menjerat Pangeran Diponegoro, yaitu “Surat Damai”. Belanda kemudian mengirim seorang kurir untuk mengantarkan surat tersebut. Isi surat itu meminta Kiai Sajjad untuk kembali ke Annuqayah karena sudah aman dan Belanda menarik diri ke daerah Pamekasan.
Di sini Kiai Rahman mencoba berspekulasi. Menurutnya, surat itu sebenarnya bukan bikinan Belanda, tetapi bikinan pribumi pengkhianat yang meminta kematian Kiai Sajjad. Surat itu sengaja dibuat oleh seorang pengkhianat agar Kiai Sajjad keluar dari persembunyiannya dan kembali ke Annuqayah, kemudian setelah ia benar-benar pulang, dan pengkhianat lalu dikirim ke Belanda. Na’udzubillah …
Didorong oleh kerinduannya pada pesantren yang diasuhnya, Kiai Sajjad pun pulang ke Annuqayah. Dalam perjalanan, beliau merasakan kehadiran kedamaian tanpa curiga sedikit pun. Hingga menapakkan kaki di Annuqayah, masyarakat mengelu-elukan tibanya. Mereka datang silih berganti, siang dan malam, hanya untuk bertemu dengan beliau.
Setelah mengetahui bahwa Kiai Sajjad berada di Pesantren Annuqayah, maka Belanda langsung dapat ditangkap. Satu regu diterjunkan. Mereka bergerak senyap di malam hari menuju Latee. 
Suasana di Latee yang semula penuh haru biru, tiba-tiba berubah menjadi tegang karena memiliki pasukan Belanda dengan senjata laras panjang. Kiai Sajjad juga terlihat sedikit panik saat mengetahui bertemu Belanda. Dia menyelamatkan takut, tetapi berpikir mengapa Belanda dan bagaimana menyelamatkan masyarakat yang sedang bersama dia itu? 
Satu pimpinan regu nampak tersenyum kompilasi melihat Kiai Sajjad. Sambil bergerak maju, ia meminta Kiai Sajjad agar mau dibawa ke Markas Belanda di Kemisan untuk bermusyawarah. Masyarakat berang, mereka paham dengan siasat Belanda ini, pasti akan terjadi apa-apa jika dia sampai mau dibawa Belanda. Hal buruk pasti akan menimpa beliau. 
Masyarakat berontak, tetapi ditolak oleh Kiai Sajjad. Dia berhasil mempertahankan dan menjanjikan pada masyarakat bahwa tidak akan terjadi apa-apa pada dirinya. Meski dihantui rasa curiga, masyarakat pun rela melepaskan Kiai Sajjad untuk dibawa ke Kemisan. Dengan penuh ksatria, ia melangkah tanpa meminta pengawalan orang terdekatnya. Deru tangis kerabat, handai taulan, dan masyarakat mengiringi kepergian beliau.
Dan Darah Itu …
Sesampainya di Kemisan, di Kantor Kecamatan sekarang, Kiai Sajjad diinterogasi oleh Belanda. Awalnya Belanda menggunakan cara halus, dengan merayu. Menurut kabar, jika dia menyetujui pada Belanda, maka dia akan tetap dikukuhkan sebagai kepala desa. Namun beliau tidak mau. 
Lalu dengan pongahnya, Belanda menggertak Kiai Sajjad, tapi lagi-lagi dia tetap tidak bisa ditundukkan. Rupanya dia tetap berhasil untuk memenangkan Belanda di Bumi Pertiwi yang nyata-nyata sudah memproklamirkan kemerdekaannya.
Karena tidak mempan dengan rayuan dan gertakan, Belanda pun menggunakan cara pamungkas, yaitu mengeksekusi Kiai Sajjad. Tanpa rasa gentar sedikit pun, dia mau menerima sikap nonkooperatifnya dengan dua syarat, yaitu: Pertama, jika dia sudah dieksekusi, maka Belanda harus angkat kaki dari Guluk-Guluk. Kedua, beri dia kesempatan untuk shalat sebelum dieksekusi. Belanda menjanjikan akan memenuhi permintaan kedua Kiai Sajjad tersebut.
Malam itu, suasana di Kemisan benar-benar kaku dan mencekam. Masyarakat tidak ada yang berani keluar rumah dan menampakkan diri karena Belanda memberlakukan Jam Malam. Mereka hanya mengendap-endap di kegelapan malam. 
Kiai Sajjad Dibawa ke tanah lapang. Di tempat yang sudah ditentukan oleh Belanda, Kiai Sajjad melaksanakan shalat sunnah. Dia shalat dengan sangat khusyu ‘. Belanda hanya membahas dengan seksama. Setelah salam, Kiai Sajjad dibuka dan shalat lagi. Terus begitu sampai beberapa salam. Serdadu Belanda mulai gusar dan tak sabar menunggu shalat yang tak kunjung selesai itu. Merasa dipermainkan, seorang serdadu Belanda mengambil sikap seraya mengokang senjata laras panjangnya. Ia membidik Kiai Sajjad yang sedang shalat. Dan … Dor dor dor … !!! Tiga tembakan menembak menyalak memecah keheningan malam. Darah bersimbah membasahi sekujur tubuh Kiai Sajjad. Tiga butir timah panas menerjang menembus dadanya. Tubuh itupun tersungkur dalam posisi sujud menghadap Sang Ilahi. 
Oh … Darah itu …!
Demi melepaskan belenggu Ibu Pertiwi … 
Dan masa depan anak-anak negeri … 
Sang Syahid itu rela melepaskan diri … 
Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un …! 
Belanda tersenyum puas melihat jenazah Kiai Sajjad, dan di balik rimbun semak-semak di sana ada beberapa pasang mata yang tersenyum dalam. 
Menurut Kiai Rahman, tempat shalat sekaligus tempat eksekusi Kiai Sajjad adalah tempat yang sekarang dibangun tugu pahlawan. Setelah wafat, tubuh Kiai Sajjad diseret dan dipindahkan ke lapangan Kemisan, yang dulu pernah dibangun gardu dari kayu dan bambu.
Secara sembunyi-sembunyi, beberapa warga dan pihak keluarga ‘mengambil’ jenazah Kiai Sajjad untuk kemudian dibawa ke Pesantren Annuqayah. Bau wangi semerbak tercium dari darah Sang Syahid. Sesampainya di Annuqayah, jenazah beliau langsung dishalati di Masjid Annuqayah, Kiai Ilyas bertindak sebagai imam shalat. Lalu jenazah beliau disemayamkan di pesantren selatan. Lahul fatihah …!
Begitulah kisah Sang Syahid yang wafat karena pengkhianatan bangsanya sendiri, bukan karena hebatnya penjajah. Memang, setiap perjuangan akan melahirkan pahlawan setiap kali pengkhianat. Tapi, setiap tindakan akan memiliki partisipasi khusus. Terbukti, berkat perjuangan Sang Syahid, kini Annuqayah menjadi pondok pesantren terbesar di Madura. Tak kurang dari 10.000 santri yang menuntut ilmu setiap hari di pesantren ini, mulai dari tingkat TK hingga PT.  
Wallahu a’lam bi al-shawab
Dirgahayu Republik Indonesia Tercinta …!
Pamekasan, 4 Agustus 2019. 
(Ahmad Fauzan Rofiq)

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy