22 September 2021
Jurnal Islam Nusantara Sebagai Antitesa terhadap Islam Radikal

Jurnal Islam Nusantara Sebagai Antitesa terhadap Islam Radikal

Jakarta – Prof James B Hoesterey, dalam bedah Jurnal Islam Nusantara menyampaikan antusiasme dan apresiasi terhadap i’tikad akademisi muslim UNUSIA yang telah menggagas hadirnya jurnal ini. Pihaknya memandang perkembangan Jurnal di Indonesia selalu ada progres yang istimewa, ini tercermin dalam Jurnal ini.

Pihaknya menilai kualitas Jurnal di Indonesia, semakin lama semakin ada kemajuan yang bagusn. “Saya melihat ada suatu hal yang istimewah dalam jurnal Ini. Jurnal ini cukup unik dan memiliki daya tawar yang tinggi ke depan”, tegas Prof James.

Selain itu, pihaknya juga berhadap agar jurnal ini publish dan menampung artikel-artikel luar negeri. “Apalagi kalau mampu menampung pemikir-pemikir dari luar akan semakin memperkaya kahazanah Islm Nusantara yang dikembangkan oleh kawan-kawan ini, sambnungnya.

Jurnal  Islam Nusantara sangat cocok untuk menjadi basis pengembangan khazanah socio logical masyarakat muslim di Indonesia selama ini. Pihaknya menaru harapan besar agar jurnal ini tidak hanya berkutat dalam bidang sejarah dan sosiological kaltul saja, tapi juga memperkaya pendekatan dari berbagai perpeltif.

Prof James juga menyampaikan bahwa Islam Nusantara sendiri sangat tepat untuk merespon trand Islamisme yang belakangan ini sangat marak di berbagai negara. “Memang ada bahayanya Islam radikal terhadap pola keislamn yang moderat,. 

Nusantara sejauh ini mampu memberi percontohan terhadap dunia sebagai masyarakat yang rukun dan moderat. “Bahkan beberapa ulama Nusantara, telah beberapa kali menghadiri kegiatan di luar negeri untuk menunjukkan pola keislaman masyarakat Nusantara selama ini,” sambungnya.

Menurutnya, hadirnya junal ini akan memberi sumbangsih yang menarik terhadap dunia, gagasan Islam Nusntara bisa didiskusikan dan dimatangkan melalui Jurnal ini. Dalam diskursus moderasi beragama, Islam Nusantara telah mampu menghadirkan pola keberislaman yang moderat sebagai antitesa terhadap streotip Islam yang keras.

“Moderasi beragama tidak harus dilihat dari perspektif barat, dengan cara-cara yang liberal. Akan tapi dengan cara khas yang dimiliki Islam Nusantara itu sendiri selama ini,” pungkasnya.

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy