Flash Sale! to get a free eCookbook with our top 25 recipes.

K.H. Hosamuddin; Kiai Kampung yang Karismatik Pegiat Dakwah

K.H. Hosamuddin; Kiai Kampung yang Karismatik Pegiat Dakwah
Listen to this article

Mengenalkan ajaran Islam kepada masyarakat tentu tidak mudah bagi seorang tokoh agama. Untuk itu, tokoh agama mempunyai strategi dan metodenya masing-masing dalam menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat. Demikian bertujuan agar Islam berkembang dengan baik, setidaknya dalam kawasan yang dekat dengan tokoh tersebut.

Strategi dan metode mengenalkan ajaran Islam dikenal dengan istilah dakwah. Menurut Faizah dan Lalu Muhsin, dakwah adalah suatu kegiatan untuk menyampaikan dan mengajarkan serta mempraktikkan ajaran Islam di dalam kehidupan sehari-hari.[1] Disampaikan kepada masyarakat oleh seorang yang mempunyai ilmu agama lebih dibanding yang lain.

Di Sumenep, secara umum, kiai merupakan pendukung utama Islam tradisional.[2] Oleh karenanya banyak kiai di Sumenep yang melakukan dakwah dengan cara berbaur dengan masyarakat untuk akrab secara emosional dan kemudian menyisipkan cahaya Islam dan iman. Biasanya banyak dibuktikan dengan pembelajaran berbagai macam ibadah, terutama ibadah salat yang lima waktu, baru kemudian menyusul ilmu-ilmu yang lain seperti muamalah, jual-beli, dan sejenisnya.

Di Desa Gapura Timur[3] terdapat seorang tokoh masyarakat; agama dan pendidikan bernama K.H. Hosamuddin. Dalam sejarahnya, beliau berhasil memperbaiki masalah keagamaan dan berhasil menciptakan masyarakat yang sadar akan pentingnya pendidikan. Dengan demikian, beliau mempunyai peranan penting dalam menata keadaan sosial, agama dan pendidikan masyarakat. Beliau juga merupakan bapak masyarakat yang telaten mengajari masyarakat dalam ibadah, dibuktikan dengan seringnya beliau melakukan praktik ibadah di hadapan banyak masyarakat yang ingin belajar kepada beliau. Sehingga, bagi penulis, tidak salah kemudian jika beliau kemudian dianggap bapak ilmu fiqih bagi masyarakat setempat karena kebanyakan ilmu yang disampaikan oleh beliau kepada masyarakat adalah ilmu fiqih –meski ilmu yang lainnya juga beliau sampaikan tapi tidak sesering ilmu fiqih.

Dari berbagai hal di atas, dalam makalah ini, saya membahas mengenai cara berdakwah K.H. Hosamuddin kepada masyarakat yang waktu itu notabene keseluruhan beragama Islam tetapi tidak melaksanakan kewajiban Islam. Saya juga membahas sekilas tentang kehidupan pribadi beliau, baik dari keluarga dan riwayat pendidikan K.H. Hosamuddin.

Sekilas tentang K.H. Hosamuddin

K.H. Hosamuddin bernama asli Hesamuddin, biasanya lingkungan sekitar memanggil beliau dengan sebutan Bindhara[4] Hesa, sedangkan nama Hosamuddin disematkan setelah beliau melaksanakan ibadah haji . K.H. Hosamuddin merupakan putra pertama dari ayah K.H. Qasim dan Ny. Mutammimah. Beliau dilahirkan di Dusun Pangabesan, Desa Gapura Timur, Kecamatan Gapura, Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur pada tahun 1918 M/1336 H.[5]

Pada tahun 1941 M./1360 H., K.H. Hosamuddin menikah dengan Khadijah. Setelah satu tahun pernikahan beliau dikaruniai seorang putri bernama Muzayyanah, disusul kemudian dengan seorang putra bernama Mudabbir. Tetapi kedua putra-putri beliau meninggal dunia semasa bayi. Serta pada tahun 1950 istri beliau, Khadijah juga meninggal dunia. Dikarenakan pernikahan beliau dengan Khodijah tidak meninggalkan keturunan, selepas 50 hari setelah meninggalnya Khadijah beliau melamar Rahwiyah, yang merupakan adik kandung dari Khodijah. Dari pernikahan beliau dengan Rahwiyah, beliau dikarunia 4 orang anak, yaitu Hasiyah, Ahmad Dzaki, Alimah, dan Mukhtar. Selang beberapa pernikahan beliau dengan Rahwiyah, beliau sudah memulai dakwah beliau dengan bentuk membangun langgar.[6] Tetapi pada waktu itu, santri-santri yang mengaji hanya dengan metode kalong; pulang-pergi.

Riwayat Pendidikan K.H. Hosamuddin

Sebelum masuk pesantren, diketahui bahwa K.H. Hosamuddin pernah menempuh pendidikan formal Sekolah Rakyat (SR) di dusun Dik-Kodik.[7] Beliau kemudian meneruskan pendidikan di Pesantren Salaf, Karanganyar, Bangkalan. Masuk pesantren sejak umur 7 tahun diantar oleh ayahnya dan belajar dalam kurun waktu 14 tahun. Sebagaimana pesantren lainnya, pesantren Salaf, Karanganyar, Bangkalan  mempunyai Madrasah Diniah untuk belajar ilmu agama.

Selama di pesantren, beliau jarang mengikuti proses belajar-mengajar di Madrasah Diniah; berupa pengajian kitab kuning, beliau lebih sering mengurus segala urusan dapur dan sawah kiai. Akan tetapi kemampuan dalam mengaji dan ilmu agama lainnya tidak kalah dengan santri lainnya. Berdasarkan analisis dari sumber yang ada, beliau sering belajar pada sepertiga malam.

K.H. Hosamuddin menyelesaikan pendidikan di Pesantren Salaf, Karanganyar pada tahun 1940 M. Kemudian beliau pulang ke kampung halaman dan memulai mengamalkan ilmu yang telah beliau dapat di pesantren kepada masyarakat. Dalam satu kesempatan, K.H. Rahbini, kiai di pesantren tempat K.H. Hosamuddin belajar dan mengabdi, mengatakan kepada orang tua K.H. Hosamuddin bahwa ia mempunyai firasat kelak beliau akan menjadi orang yang disegani di masyarakat. sehingga terbuktilah perkataan beliau karena selepas K.H. Hosamuddin pulang kampung, beliau menjadi guru banyak masyarakat serta disegani.

Peran dan Kontribusi K.H. Hosamuddin di Masyarakat

Untuk mengetahui peran dan kontribusi K.H. Hosamuddin, baiknya dibagi menjadi beberapa bidang setidaknya ada dua bidang;

  • Keagamaan

Perlu upaya dan strategi yang banyak K.H. Hosamuddin untuk berdakwah di masyarakat karena keseluruhan masyarakat menganut agama Islam tidak lagi menjalankan syariat mereka. Masyarakat lebih menyibukkan diri untuk bertani. Jadi, masyarakat semuanya menganut agama Islam tetapi tidak menjalankan ibadah keagamaan yang telah diwajibkan kepada tiap-tiap orang Isalm.

  • Ibadah

Masalah pertama yang menjadi perhatian penting K.H. Hosamuddin adalah mengajak masyarakat untuk melaksanakan salat lima waktu.[8] Karena telah lama tidak tinggal di lingkungan Desa tersebut, K.H. Hosamuddin tidak bisa dengan serta merta langsung memerintah masyarakat untuk melaksanakan salat. Tetapi beliau melaksanakan beberapa strategi; pertama, berbaur dengan masyarakat dan lingkungan sekitarnya dengan cara namoi[9] ke rumah tetangga pada saat memasuki waktu salat. Bertujuan untuk menumpang salat di kediaman salah seorang tetangga, sehingga ketika didapati tempat salat yang digunakan oleh K.H. Hosamuddin dalam keadaan kotor karena jarang digunakan, maka yang punya rumah akan merasa malu atau segan. Praktik demikian, beliau lakukan dari rumah satu ke rumah yang lain.

Kedua, ketika K.H. Hosamuddin bersilaturahmi beliau tidak hanya membicarakan mengenai agama saja, tetapi beliau juga membicarakan mengenai pertanian; mulai dari cara mendapatkan hasil panen yang baik dan memanfaatkan halaman sekitar rumah untuk ditanami kebutuhan sehari-hari.

Ketiga, sebelum mengajarkan salat, terlebih dahulu K.H. Hosamuddin mengajarkan tata cara berwudu yang benar. Selain itu, beliau juga –dalam bersilaturahmi dan menjumpai masyarakat, mengingatkan dan membiasakan masyarakat untuk membaca basmalah dan hamdalah dalam memulai dan mengakhiri perbuatan.

Keempat, berteman dekat dengan para tokoh masyarakat yang berpengaruh di lingkungannya karena ketika beliau sudah diterima oleh tokoh masyarakat tersebut, maka segala urusan yang berkaitan dengan dakwah beliau menjadi makin mudah.

Dari beberapa strategi yang disebutkan di atas, dapat mengubah masyarakat kembali melaksanakan salat lima waktu.

Kompolan menjadi strategi untuk mengajak masyarakat untuk belajar agama. Awal mula kompolan ini bertempat di langgar yang beliau dirikan, bertujuan untuk memperbaiki bacaan salat dan bacaan Alquran, serta pembacaan surah yasin bersama-sama. Di akhir kompolan, dilakukan setoran bacaan salat langsung ke K.H. Hosamuddin satu per satu  dari jamaah.

Selang beberapa waktu, para jamaah meminta untuk menyelenggarakan kompolan di rumah mereka secara bergantian. K.H. Hosamuddin melakukan satu upaya agar masyarakat rutin mengikuti kompolan dengan cara arisan. Praktik arisan dengan masing-masing jamaah membawa uang 1 rupiah. Ketika uang sudah terkumpul, kira-kira 50 rupian dari jumlah jamaah 50 orang, uang tersebut dirupakan menjadi sarung yang kemudian diberikan kepada tuan rumah kompolan. Adapun kompolan beliau tidak hanya ada satu, tetapi lumayan banyak dan mempunyai jamaah berdasarkan desa tertentu. Sehingga beliau hampir setiap hari ada acara kompolan.

  • Problem Solver

Dari apa yang telah dilakukan oleh K.H. Hosamuddin sebelumnya menjadikan beliau mulai disegani, dihormati, dan dipatuhi oleh masyarakat. Sehingga apabila ada persoalan keagamaan yang kurang dipahami, masyarakat tidak segan untuk bertanya dan meminta pendapat kepada beliau.

  • Pembangunan Masjid

K.H. Hosamuddin tidak hanya berperan dalam memperbaiki kondisi keagamaan masyarakat yang meliputi mengajarkan salat, mengaji Alquran, kompolan, tetapi juga berkontribusi dalam pembangunan masjid di lingkungan tersebut. Prinsip yang beliau pegang dalam pembangunan masjid adalah tidak minta-minta dan tidak mengakali orang lain. Oleh karena itu, K.H. Hosamuddin hampir pada setiap lingkungan jamaah kompolan yang beliau laksanakan membangun masjid tergantung pada kondisi lingkungan ada atau tidak masjid di sekitar lingkungan kompolan tersebut.

  • Pendidikan

Masa itu, masyarakat masih belum memiliki kesadaran pentingnya pendidikan dan juga belum memiliki sarana pendidikan. K.H. Hosamuddin kemudian mulai menerapkan beberapa metode pembelajaran dan pengajian. Ada metode berupa pengajian dan ada juga yang berupa pendidikan.

  • Muslimat

Pengajian menjadi satu alternatif yang dijalankan untuk menarik minat masyarakat, karena tidak ada biaya yang dikeluarkan. Pelajaran pertama yang mula-mula diajarkan oleh beliau adalah kitab Sullam at-Taufiq. K.H. Hosamuddin mengajarkan masyarakat untuk tidak hanya memahami isi kitab tapi juga mengamalkannya.

Tak berselang lama, apa yang dilakukan oleh K.H. Homasuddin berhasil menenangkan hari masyarakat. bahkan saking antusiasnya masyarakat dalam mengikuti pengajian tersebut, ada permintaan dari jamaah perempuan untuk beliau mendirikan pengajian khusus untuk perempuan. Pengajian ini kemudian dikenal dengan pengajian Muslimat.[11] Dan jenis kitab yang diajarkan juga tambah waktu bertambah, seperti Dalil al-Nisa’, Bidayat al-Hidayah dan Wasiyatu al-Musthafa.

  • Salaf

Makin banyak masyarakat yang datang dan belajar kepada K.H. Homasuddin. Banyak pula orang tua yang menitipkan putra-putrinya. Karena semakin banyak yang dititipkan, beliau kemudian mendirikan pondok pesantren. Awal mula santri beliau berjumlah 10 santri.

Metode yang dilakukan beliau di pesantren antara lain, ceramah, praktik ibadah langsung dan mengaji kitab kuning. Santri beliau menjadi banyak dan tidak hanya berasal dari desa Gapura Timur tapi juga berasal dari desa-desa sekitar.

  • Formal

K.H. Homasuddin berhasil membuat masyarakat memiliki kesadaran pentingnya pendidikan, hingga masyarakat mendesak beliau untuk mendirikan lembaga pendidikan formal. Beliau kemudian mendirikan lembaga pendidikan pada tahun 1975 M dan menamai lembaga tersebut dengan Miftahul Huda.

Madrasah yang mula-mula didirikannya adalah Madrasah Ibtidaiyah dan bobot materi pelajarannya lebih banyak pelajaran agama daripada pelajaran umum. Pada masa selanjutnya, lembaga pendidikan ini berkembang menjadi lembaga yang lengkap mulai dari jenjang PAUD-TK-MI-MTS-MA.

Kesimpulan

K.H. Hosamuddin mempunyai latar belakang pendidikan pesantren cukup lama, kurang lebih 14 tahun. Dari ilmu yang beliau dapat, mampu diamalkan dan disampaikan kepada masyarakat dengan santun dan baik. Sehingga berpengaruh pada keberhasilan beliau dalam mengajak masyarakat berbuat kebaikan.

K.H. Hosamuddin memulai perannya memperbaiki keagamaan masyarakat yang waktu itu tidak melaksanakan kewajiban agama dan mempunyai kesadaran rendah terhadap pendidikan, meliputi mengajarkan bacaan salat, bacaan Alquran, cara berwudu, kompolan, pengajian kitab, pembangunan masjid, dan beliau juga menerapkan pembelajaran dalam pengajiannya.

Kontribusi beliau yang dapat dirasakan sampai sekarang antara lain kompolan, muslimatan, dan Lembaga Pendidikan Miftahul Huda. Bagi masyarakat yang lumayan jauh dengan lokasi beliau tinggal yang masih terasa sampai sekarang adalah mengenai ketelatenan beliau dalam mengajari masyarakat berbagai ilmu di kompolan.

Daftar Pustaka

Faizah dan Lalu Muhsin. Psikologi Dakwah. Jakarta: Prenadamedia Group, 2006.

Hefni, Muhammad. “Islam Madura (Resistensi dan Adaptasi Tokoh Adat Atas Penetrasi Kyai di Madura), Analisis, No. 1, Vol. XIII, (Juni 2013)

Nurul Hasanah, “K.H. Hosamuddin dan Perubahan Sosial di Gapura Timur, Sumenep, Madura (1940-1990).” Skripsi Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2019.


[1] Faizah dan Lalu Muhsin, Psikologi Dakwah (Jakarta: Prenadamedia Group, 2006), 7.

[2] Muhammad Hefni, “Islam Madura (Resistensi dan Adaptasi Tokoh Adat Atas Penetrasi Kyai di Madura), Analisis, No. 1, Vol. XIII, (Juni 2013), 15.

[3] Desa yang terletak di Kecamatan Gapura, Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur.

[4] Bindhara adalah bahasa Madura yang mempunyai arti sama dengan Gus di Jawa, yaitu sebutan untuk seorang yang secara silsilah keturunan Kiai.

[5] Hingga kini yang dapat diinformasikan hanya tahun kelahiran beliau, sedangkan untuk tanggal dan bulan belum ada informasi yang jelas.

[6] Langgar mempunyai musala.

[7] Wawancara dengan Alimah (putri kedua K.H. Hosamuddin) dan K.H. Mukhtar (putra bungsu).

[8] Nurul Hasanah, “K.H. Hosamuddin dan Perubahan Sosial di Gapura Timur, Sumenep, Madura (1940-1990).” Skripsi Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2019. 66.

[9] Namoi adalah bahasa Madura yang mempunyai arti bertamu.

[10] Kompolan adalah bahsa Madura yang bisa artikan secara harfiah perkumpulan. Tetapi maksud lebih jelasnya adalah perkumpulan yang dimaksudkan untuk majelis atau pengajian.

[11] Penamaan pengajian ini tidak ada kaitannya dengan Muslimat yang merupakan badan otonom NU. Penamaan tersebut didasari karena Muslimat berarti perempuan Islam.