22 September 2020

Kajian Sejarah Nabi dalam kitab Karangan KH Hasyim Asy’ari 1 : Pengantar

Alam begitu bergembira ketika memasuki bulan maulid (penanggalan jawa, rob’iul awal penanggalan hijriyah). Kita mengetahui bahwasanya di bulan tersebut lahir manusia yang paling agung dan istimewa, karena dengan lahirnya beliau kita mengenal siapa tuhan kita yaitu Allah, dan lahirnya beliau juga merupakan sebab turunya rahmat Allah kepada semesta alam.
Beliau nabi Muhammad SAW lahir pada hari senin, malam 12 Robiul Awal tahun gajah, Prof Said romadhon albuti menyebutkan kenapa disebut tahun gajah, karena penanggalan hijriyah saat itu belum ada, dan juga pada tahun tersebut abrahah al-asyrom berusaha menyerang ka’bah dengan pasukan gajahnya. Tanggal 12 robiul awal kalau dikonversikan kedalam penaggalan masehi adalah 20 April 571. Ada sebuah fakta luar biasa yang harus diketahui mengenai tahun kelahiran nabi ini. Habib Ali Al-Habsyi dalam bukunya Simtud Duror mengemukakan bahwa ditahun kelahiran nabi semua wanita yang mengandung niscaya akan melahirkan bayi laki-laki. Ini adalah sebuah fakta yang sangat jarang diketahui oleh para penulis sejarah biografi nabi Muhammad, khususnya para orientalis (sarjana barat). Para sarjana barat yang mencoba memahami sejarah biografi nabi dengan nalar logika memandang bahwa hal ini tidak berterima, karena tidak mungkin ditahun tersebut semuanya bayi yang lahir adalah laki-laki. Akan tetapi mereka lupa bahwasanya tahun tersebut lahir manusia yang paling luar biasa, oleh karenanya ada mukjizat yang tidak bisa dilogika dengan nalar pikir yaitu sebuah kenyataan bahwa bayi yang lahir pada tahun itu adalah laki-laki.
Begitu mulianya nabi Muhammad, apapun yang berhubungan dengan beliau akan menjadi mulia juga. Dimulai dari sukunya, keluarganya, sahabat-sahabatnya tanggal, hari, bulan dan tahun kelahiranya. Hal ini seperti yang disampaikan oleh sayyid Muhammad bin alawi bahwasanya hari maulid nabi Muhammad SAW lebih agung dan lebih mulia dari pada ied. Iedul fitri dan iedul adha hanya berlangsung sekali dalam setahun, sedangkan peringatan maulid nabi, mengingat beliau dan sirahnya, harus berlangsung terus, tidak terkait dengan waktu dan tempat. 
Begitu mulianya bulan maulid ini, seyogyanya kita sebagai seorang muslim harus berbahagia menyambut kedatangan bulan kelahiran nabi Muhammad saw. Wujud ekrepesi muslim untuk mengungkapkan kegembiran menyambut bulan maulid sangat beragam dan beraneka cara. Akan tetapi beraka ragam wujud ekpresi tersebut tetap pada satu tujuan yaitu memperingati kelahiran nabi dan menunjukan rasa suka cita atas kelahiran manusia yang paling sempurna tersebut. Di Indonesia wujud kegemberiaan terhadap lahirnya nabi Muhammad dengan diadakan peringan mualid nabi yang disertai dengan pembacaan sejarah biografinya (ad-diba’, barjanji, simtud durror, dliyaul lami’ dll). Hal ini ada yang dilalukan satu bulan penuh selama bulan maulid, ada juga yang melakukanya dimulai dari tanggal 1 sampai tanggal 12.
Menurut KH Abdurahman Wahid peringatan maulid nabi yang pertama kali dilakukan oleh kaum muslimin adalah seruan sultan shalahudin al-ayubi dari dinasti mamalik yang berkebangsaan kurdi, dengan maksud untuk mengobarkan semangat kaum muslimin, agar menang dalam perang salib, maka ia memerintahkan membuat peringatan hari kelahiran nabi Muhammad SAW enam abad setelah rasulullah wafat. Peperangan ini sangat hebat antar kaum muslim dan kristiyani yang dipimpin oleh Richard dari inggris dan Charlemagne dari perancis untuk mempertanggungjawabkan mahkota mereka mereka kepada paus. Akan tetapi maksud dan tujuan diadakan maulid sesuai dengan berubahnya zaman menjadi berbeda, awalnya maulid bertujuan untuk mengorbankan semangat untuk menghadapi perang salib, dan sekarang maulid adalah bentuk ekpresi kegembiraan menyambut lahirnya manusia yang paling mulia yaitu nabi Muhammad SAW.
Maulid atau milad secara kajian bahasa arab adalah isim zaman dari kata kerja walada, yang menunjukan arti waktu atau hari kelahiran. Kalau diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia yaitu hari kelahiran (harlah). Akan tetapi secara istilah kata ini mengalami penyempitan makna. Kata maulid hanya digunakan untuk menyebutkan kelahiran manusia yang paling sempurna yaitu rosulullah, sedangkan kata milad untuk menyebutkan kelahiraan seseorang secara umum, atau hari lahirnya suatu instansi. Hal ini senada dengan penggunaan kata natal, yang secara bahasa adalah kelahiran, akan tetapi secara istilah mengalami penyempitan makna menjadi kelahiran yesus saja. Oleh karena itu dalam bahasa Indonesia mempunyai tiga istilah untuk menyebut hari ulang tahun, yaitu pertama maulid, yang kedua natal dan yang ketiga adalah harlah.
Sebagai salah satu wujud ekpresi kecintaan penulis terhadab nabi Muhammad,  insya Allah penulis ingin mengkaji kitab karangan ulama nusantara, yang membahas tentang sejarah nabi Muhammad. Sebenarnya ada banyak kitab yang membahas tentang hal ini, akan tetapi penulis memilih satu kitab karangan ulama’ nusantara yang sangat berjiwa nasionalis, yaitu Hadrotussyaihk Kh Hasyim As’ari, yang berjudul Irsyadul Mu’minin. beliau yang mengarang kitab yang tiga kitab yang membahas mengenai hal ini, pertama Nurul Mubin, sebuah kitab yang membahas mengenai bagaimana cara mencintai rosulullah secara benar, kedua Tambihat Wajibat Liman Yasna’u Mauli Al-Mungkarot sebuah kitab yang membahas mengenai larangan-larangan yang harus diperhatikan dan dihindari  dalam pelaksaan maulid nabi, dan yang ketiga Irsyadul Mu’minin, sebuah kitab yang membahas sejarah perjalanan nabi Muhammad, sahabat dan tabiin. Kitab ini yang insya Allah akan dikaji oleh penulis.
Semoga Allah memberikan pertolongan dan taufiq kepada penulis untuk bisa mengkaji kitab ini dan nasyrul ilmi tentang sejarah perjalanan nabi kepada para umat Islam.

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy