9 Juli 2020

Kartini dan Benih-Benih Islam Nusantara di Dalamya

Oleh Muhammad Khasbi M

Pendahuluan

“Habis gelap, terbitlah terang!”

Memotret perjuangan Kartini memang bukan pekerjaan mudah. Sebab Kartini telah menyejarah bersama ingatan kolektif masyarakat Indonesia. Bukti sejarah dan perjuangan Kartini sebenarnya bisa dilihat secara sepintas lalu melalui ditetapkannya Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Indonesia pada 2 Mei 1964. Pemberian gelar pahlawan dilakukan Presiden Soekarno tentu saja bukan tanpa alasan yang jelas. Seperti halnya pahlawan yang lain, Katini juga punya nilai perjuangan kemerdekaan tersendiri, sehingga ia menyabet gelar pahlawan itu.

Sebagai generasi muda yang lahir pasca kemerdekaan, kita akan lebih sulit lagi untuk mengetahui secara persis apa-apa saja yang dilakukan oleh Kartini. Selain karena Kartini meninggal muda, tulisan-tulisan pemikirannya juga banyak direduksi oleh kaum orientalis Belanda. Surat-surat Kartini yang banyak dikirim ke sahabatnya di Belanda, menurut para pemerhati banyak dianggap telah diselewengkan. Terutama dengan banyaknya surat yang hilang karena dibakar. Alhasil, kita seperti berjarak terlalu jauh dengan sosok Kartini.

Syahdan, menyingkap perjuangan Kartini makin sulit. Bukan saja karena problematika seperti dijelaskan sebelumnya, tetapi juga karena generasi sekarang banyak memilih untuk acuh tidak acuh terhadap perjuangan Kartini. Mereka—generasi yang lahir terakhiran—lebih mengidolakan artis (Korea, India, Amerika) dibanding pahlawan terdekat mereka, yaitu Kartini. Seperti kacang lupa pada kulitnya, generasi sekarang lupa bahwa dirinya diperjuangkan mati-matian demi kehidupan bebas dan meredeka.

Kondisi di atas menunjukan beberapa poin mendasar. Pertama, kita kehilangan semangat nasionalisme. Lebih memilih role model dari luar lingkungan terdekatnya. Kedua, ada masalah tersendiri dengan kebudayaan asli kita, sehingga banyak generasi muda memilih budaya asing. Ketiga, globalisasi dan wasternian itu ternyata tak disaring dengan baik. Pada akhirnya, kita kehilangan identitas diri.

Beberapa kondisi seperti dijelaskan di atas kemudian banyak direspon oleh para pemikir. Para pemikir mencoba mencari solusi yang tepat untuk menghadapi serangan globalisasi yang semakin parah. Seperti misalnya dalam islam. Banyak intelektual islam yang cukup tanggap menghadapi beberapa perubahan radik ini.

Dalam islam, wacana yang banyak muncul terakhiran sebenarnya memberikan harapan segar bagi kita. Seperti misalnya wacana Pribumisasi Islam Gus Dur dan lain sebagainya. Sementara itu, yang dimaksud wacana terakhir yang memberi harapan bagi kita, lebih dari sekedar pribumisasi islam ialah wacana Islam Nusantara. Menurut Ulil Absar Abdala, Islam Nusantara didasarkan pada tiga aspek besar: kontiunitas dengan budaya lokal, nasionalisme dan penerimaan ‘urf internasional (Guntur Romli: 2016).

Baca Juga  Islam Minangkabau (Bagian 3, Habis)

Mudah saja memahami maksud Ulil di atas, pertama: islam yang diharapkan oleh wacana Islam Nusantara ini adalah islam yang mampu berasimilasi dengan kebudayaan yang ada di sekitarnya. Kedua, islam yang diharapkan oleh wacana Islam Nusantara ini adalah semangat nasionalisme yang mewujud dalam konteks perjuangan kemerdekaan, misalnya (atau yang lainnya, yang intinya semangat nasionalisme). Sedangkan untuk yang terakhir, islam yang diharapkan oleh wacana Islam Nusantara ini adalah islam yang menerima kesepakatan internasional, soal kemanusiaan dan inti-inti dasar berkehidupan. Untuk yang ketiga ini, biasanya disandarkan pada maqasid syariah. Yaitu menjaga akal, menjaga jiwa, menjaga harta, menjaga keturunan, dan menjaga kesehatan.

Dengan adanya wacana Islam Nusantara yang mengedepankan ketiga unsur tadi, Kartini dan potret perjuangannya bisa digali kembali. Bahkan, jika tidak keberatan untuk kita sepakati, Kartini adalah salah satu contoh tokoh Islam Nusantara. Ia laksana cermin ketiga unsur pokok dari Islam Nusantara yang dibeberkan oleh Ulil Absar Abdala di atas. Sehingga tidak ada salahnya, jika Kartini disebut sebagai tokoh Islam Nusantara.

 

Intelektual Islam Indonesia

Kartini bisa kita lacak asal-usulnya melalui nasab dan keturunannya. Kartini adalah keturunan bangsawan. Ia mendapat julukan sebagai Raden Ajeng karena lahir di pusaran bangsawan. Ayahnya adalah Raden Adi Pati Aryo Sosroningrat, Bupati Jepara. Sementara ibunya adalah M.A. Ngasirah anak seorang Kyai di Telukawur, Surabaya bernama Kyai Haji Madirono dan istrinya bernama Nyai Haji Siti Aminah. Jika dilacak, Raden Ajeng Kartini masih keturunan Hamengkubuwana VI. Jalur ini didapatkan dari ayahnya.

Kartini ditakdirkan lahir pada Senin, 21 April 1879 di Jepara dan meninggal pada 17 September 1904 di Rembang. Terlahir dari bangsawan, Kartini tak seperti yang lainnya. Dalam dirinya tertanam perlawanan atas ketidakadilan. Ia membawa semangat mementaskan kebodohan dengan jalan pendidikan. Sampai persoalan cukup menyita perhatian, kala ia meminta Kyai Soleh Darat dari Semarang untuk menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam bahasa Jawa. Dan di titik inilah, ada semacam benih Islam Nusantara di dalam pemikiran Kartini. Benih pemikiran Islam Nusantara sebenarnya begitu gamblang dimiliki oleh para intelektual islam Indonesia yang pernah disebutkan oleh Nor Huda.

Potret intelektual islam Indonesia pernah dibeberkan oleh Nor Huda dalam bukunya Islam Nusantara: Sejarah Sosial Intelektual Islam di Indonesia, yang dimulai dari para murid kelahiran Nusantara yang belajar ke Mekkah. Sampai yang paling modern seperti HOS Tjokroaminoto, Soekarno sampai Gus Dur (Nor Huda: 2013). Sebenarnya sah-sah saja mengklasifikasikan nama-nama yang disebutkan itu dalam geneologi intelektual islam Indonesia. Kebanyakan, yang ditulis oleh Nor Hoda adalah mereka yang punya pemikiran tentang islam sekaligus mereka juga beragama islam. Artinya, klasifikasi intelektual islam Indonesia yang dibuat oleh Nor Huda didasarkan pada dua aspek tadi: beragama islam dan punya pemikiran islam.

Baca Juga  Islam Madura (Bagian V)

Melihat Kartini yang juga perduli terhadap dunia islam, membuat keunikan tersendiri bagi sosoknya yang kritis dan egalitarian. Kartini, dengan segenap potensi intelektualnya mengharapkan islam supaya tidak beku. Ia harus mencair di setiap tempat dan waktu. Dengan analisis terhadap permintaan Kartini kepad Kyai Soleh Darat, bisa disimpulkan bahwa pemikiran keislaman Kartini mirip dengan pemikiran para intelektual islam Indonesia lain. Kemiripan ini didapatkan dari corak pemikiran itu sendiri. Rata-rata, setelah menganalisis buku Nor Huda, intelektual islam Indonesia itu berorientasi pada upaya pembaharuan pemikiran. Misalnya saja HOS Tjokroaminoto yang mengintegrasikan keilmuan islam dengan keilmuan barat macam Marxisme dalam upaya pemahaman keislaman. Atau sebut saja, Gus Dur yang tidak hanya sudah katam membaca buku Das Kapital semenjak SD, Gus Dur mengintegrasikan keilmuan lain yang dirasanya cocok untuk memahami islam. Sehingga, terciptalah islam yang dengan pemahaman yang baru. Islam yang sesuai dengan konteks. Islam kontekstual.

Kartini dengan pemikiran kesilaman yang kontekstual (menginginkan Al-Qur’an untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa supaya bisa dipahami oleh orang Jawa) juga bukan pemikrian yang ujug-ujug. Dinamika intelektual Raden Ajeng ini juga hasil persentuhan pemikiran antara murni pikiran dan pemikian dari luar dirinya. Seperti misalnya, feminisme atau kesetaraan gender. Alhasil, Kartini mempunyai setting berpikir yang kritis dan kontekstual, sekaligus anti penindasan.

 

Menyongsong Peran Perempuan dalam Islam

Memang kurang bisa dibilang kurang bijaksana menempatkan sosok Kartini dengan banyak intelektual Islam Indonesia. Namun, di satu sisi, tidak sepenuhnya sikap seperti ini adalah ketidakbijaksanaan. Jika Kartini dianggap pahlawan oleh bangsa Indonesia, pasti ia sangat terikat dengan bangsa Indonesia. Keterikatan itu bisa apa saja, termasuk sumbangan pemikiran dan upaya perlawanan terhadap segala bentuk penindasan yang ada.

Jika kita melihat dinamika ini dalam dunia islam sendiri, banyak tokoh-tokoh islam yang ikut berperan untuk memerdekakan Indonesia. Kyai Hasyim As’ari dan teman-teman seperjuangannya. Termasuk juga Soekarno yang seorang nasionalis itu, di sebenarnya juga ikut menggunakan khazanah intelektual islam sebagai spirit kebangkitan bangsa versinya.

Baca Juga  Islam Nusantara: Resolusi Santri Untuk Perdamaian Dunia

Tetapi, di sisi yang lain, peran perempuan sebagai orang penting dalam dinamika intelektual maupun kebangkitan menuju kemerdekaan cukup memprihatinkan. Bisa dihitung jari peran para perempuan dalam dunia intelektual dan dinamika kebangkitan menuju kemerdekaan. Yang lebih memprihatinkan adalah, khazanah intelektual yang berkembang di zamannya, banyak didominasi oleh kaum laki-laki. Jelas ini menunjukan peran perempuan yang sedikit terpinggirkan dalam kancah intelektual itu sendiri.

Kartini, selain seorang intelektual, ia juga seorang pejuang kemerdekaan. Kendatipun bisa diperdebatkan lebih lanjut soal perannya dalam memerdekakan bangsa Indonesia, tetapi wujud nyatanya dalam sumbangsih pemikiran keislaman seperti di jelaskan sebelumnya patut untuk kita apresiasi. Kita cukup sepakat jika perempuan dalam kontestasi intelektual memang memprihatinkan, sehingga melalui upaya pengkultusan Kartini (tidak menutup kemungkinan bagi yang lain) bisa membangkitkan kesadaran akan pentingnya peran perempuan dalam dunia intelektual.

Dalam peradaban islam, kita juga agaknya sepakat jika peran perempuan kurang diperhatikan. Kendati masih ada Aisyah dan beberapa nama mentereng lain yang mewakili peran perempuan, tetapi masih saja ada yang mengganjal. Melalui Kartini, dan seperangkat pengetahuan dan seabrek ingatan kolektifnya, kita bisa mengawali untuk melakukan gebrakan itu. Peran perempuan, tidak hanya dalam islam, tapi dalam dunia yang luas bisa segera tercapai dan terimplementasikan. Asalkan, kita berani dan mau mengakui identitas kita sebagai manusia dan sekaligus sebagai orang yang hidup dalam suatu komunitas bangsa-bangsa.

 

Penutup

Bukan hendak mereduksi upaya dan peran perempuan lain, selain Kartini, tulisan ini justru hendak menggugah kesadaran akan pentingnya peran perempuan dalam menggerakkan perubahan. Islam sendiri juga mengamini perubahan, terutama dalam konteks non doktrinal. Artinya, islam bisa menjadi alat yang terukur untuk merogoh peradaban yang lebih maju dan humanis lagi. Selain itu, islam juga memang punya watak dasar yang “rahmatan lil ‘alamin”  yang disebut dalam bahasa Kartini sebagai “Habis gelap, terbitlah terang.”

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy