Flash Sale! to get a free eCookbook with our top 25 recipes.

Kata Gus Baha, Jangan Merasa Paling Rajin dalam Beribadah

Kata Gus Baha, Jangan Merasa Paling Rajin dalam Beribadah

KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau biasa dipanggil Gus Baha merupakan seorang ulama yang lahir di Sarang, Rembang, Jawa Tengah, tahun 1970. Beliau merupakan putra seorang ulama pakar Al-Quran dan juga pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Quran LP3IA KH Nursalim Al-Hafizh dari Narukan, Rembang Jawa Tengah. Gus Baha dikenal sebagai ahli tafsir yang memiliki pengetahuan mendalam seputar Al-Quran.

Bukan hanya itu, kiai yang juga merupakan Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini dikenal sebagai ulama dengan ceramah yang lugas dan berpenampilan sederhana. Bukan sebuah kebetulan, namun kepintaran Gus Baha merupakan hasil didikan ayahnya sejak kecil dan menimba ilmu di beberapa Pondok Pesantren ternama, salah satunya di Pondok Pesantren Al-Anwar Rembang Jawa Tengah. 

Melalui video yang diunggah akun Instagran @SantriGanyeng, Gus Baha mengatakan, bahwa banyak ulama ketika Salat Tahajud dan witir tidak konsisten, karena takut ketika berpendapat menganggap orang lain itu jelek.

“Makanya jarang ulama beribadah berlebihan, sebab takutnya begitu, karena kalau ibadah berlebihan itu bisa membuat riya’ dan ujub,” ujar Gus Baha.

Gus Baha juga mengingatkan jika seorang tidak beribadah sama sekali, bisa membuat kerasnya hati. “Pokoknya kata Abdullah bin Mas’ud itu kalau seminggu sekali atau dua kali, setelah itu ya sudah, lalu ulangi lagi,” kata Gus Baha.

Beliau menceritakan bahwa Abdullah bin Mas’ud merupakan sahabat nabi yang ketika melihat orang melaksanakan Salat Dhuha setiap hari itu diamuk. Abdullah bin Mas’ud menganggap jika hal tersebut bukan begini ajaran nabi, yang mengharuskan Salat Dhuha setiap hari.

Akan tetapi, menurut beliau, ajaran ini tidak populer di Indonesia. Karena di Indonesia Istiqomah itu baik.

Lebih lanjut, Gus Bahan mengatakan ketika kita khusyuk baru dua minggu melakukan salat tahajud, dan melihat orang tidur kemudian mengejeknya seperti bangkai. Artinya zaman ketika seseorang belum tahajud, berarti orang itu termasuk bangkai juga.

“Berhubung sekarang sudah salat tahajud, lalu ketika melihat orang tidur, kamu anggap seperti bangkai,” tutur Gus Baha.

Ahmad Fairozi
Adalah alumni PP. Annuqayah Madura yang sedang menyelesaikan Sekolah Pasca Sarjana di UNUSIA Jakarta.