25.3 C
Indonesia
16 Juli 2019
Cerpen

Keif

Keif, besok kamu akan diantarkan ke pondokkakekmu dulu.
Ibumu sudah mengundang Pak Jhi Taufiq untuk memasrahkanmu ke pengasuh,
Nanti usai nyapu halaman sebelah, kamu pamit ke semua Paman dan kerabatm.
Mendengar perkataan tersebut Keif yang lagi duduk bersimpuh di depan ayahnya usai mengaji kitab Kailani Izzi mulai termagu. Wajahnya kusam  diselimuti mendung tak menentu. Hatinya dag-dig-dug. Wajah cantinya nan ayu mulai keriput. Ia masih ingin bersama dengan kelurganya di rumah. Jiwanya belum siap untuk bepisah dengan ayah dan mamnya. Ma, keif masih rindu belaian mama. Ku rindu kasih sayang ayah dan mama.
***
 
Hening, Tampa terasa semilir angin pagi hanyutkan Keif kedunia hayal. Pikirannya mulai melayang-layang ke jauhan angkasa sana. Menemui para malaikat sang pembawa anugerah kasih
“Keif, sana berangkat dulu,”
Seketika terdengar suara mamanya memanggil dari kamar belakang. Lamunannya mulai pecah konsentrinya boyar berantakan sebelum ia sempurnah melukis kehidupan di pondok pesantren besok pagi.
“Iya, ma,”
Lidahnya melantunkan jawaban indah terhadap panggilan mamanya. Sesungging senyum tampak dari kajauhan tatapan mamanyamampu menghangatkan susana embun pagi.
Ujung jarum jam berada pada titik 07.25 Ia segera mandi, menghias diri ayunya lalu beranjak ke kamar belakang, makan pagi bersama keluarga tercinta.
Dan bi,,bi,,
,,, bilang pada mereka kata ayah tidak usah rame-rame ikut ngan,,ngan,, tidak usah ikut nganter, mama gak ngundang mobil
Suara Sastro,ayahnya tersendat-sendat sambil mengunyah lauk-pauk menyampaikan pesan pada buah hatinya penuh kesan ditengah-tengah kebersamaan mereka.
“…… hem,”
Keif menganggukkan kepala.
Batinnya meronta-ronta, hatinya meraung-raung memberontak apa yang sudah jadi keputusan ayahnya. Namun apalah daya tak kuasa, Ia hanyalah seorang gadis kecil belum sampai usia baligh. Ia senantiasa tersenyum mencoba menerima semuah keputusan ayahnya.
Keif tahu tak ada orang tua yang akan mencelakakan anaknya, semua orang tua ingin yang terbaik bagi anaknya, begitu pun dengan orang tuaku. Tapi…….
 
***
“Assalamu alaikum”
Dari depan pintu gerbang halamannya terlihat Pak Jhi Taufiq sudah siap mengantarkan Keif ke pondok pesantren Quein Ainil Yaqin dengan PDnya mengendarai pespa.
Keif pun semakin meledak-ledak melihat kehadiran Kepala sekolahnya yang mau mengantarkannya ke penjara suci pagi itu. Sebentarlagi Ia sudah akan berteman dengan air mata kesepian. Perjuangan akan segera dimulai. Namaun Ia tetap saja tahan rasa  itu sehingga orang tuanya hanya melihat buah hatinya senyum-senyum kecil. Toh walaupun hati kecilnya sangat keberatan menerima itu semua. Selamat menempu hidup baru dan selamat berjuang Keif, pesan sahabatnya yang demian itu selalu mengingatkanny terhadap masa-masa indah dengan teman sekelasnya.
 ^_^  *_~  ^_^
          Usai mereka makan bersama mereka mulai beranjak berangkat ke podok pesantren dengan peralatan yanga tak ebuh dari hanya sekedar pas-pasan karena Ia memang merupakan keluarga mengeh kebawa, miskin. Kaif hanya diantar oleh paman dan ibunyua. Sementara Bapaknya hanya bisa mendoakan kepergiannya bersama tilawah malaikat penyayang melantunkan pujian serta doa atas hambanya yanga mau mencari ilmu tuhan.
Sekalipun keadaan mereka begitu sangat sempit denga segala kekurangannya mereka masih bisa melafadzkan kalimat-kalimat syukur ditengah perjalanannya. Karen sayap jibril tak henti-hentinya terkibar sebagai kendaraan mereka menuju pondok pesantren Quein Ainil Yaqin.
Usai ia dipasrahka kepada pengasuh Ia dicarikan kamar kosong sebagai tempat berteduh di kalah matahari mulai tidur dan sebagai tempat pergantian baju setiap mau kali berangkat sekolah pagi hari. Ia benar-benar dituntut mandiri ditengah kehidupan yang sarat dengan perundang-undangan tersebut.
Tak lain selama dua hari kerajaannya hanyalah murung mengurung diri dalam kamar. Toh walaupun ada beberapa orang yang ia kenal dari rumahnya kemarin ia tidak bisa bersama mereka. Jiwanya lemas, badannya putih pucat tidak kerasan. Anadai malam ini masih mendengarkan dongeng ibu sebagai engantartidur……, Ah,, entahla…
Dalm jangka waktu yang relatif pendek, empat hari di pondok pesanten, baju serta gaun yang Ia bawa sudah sedikit longgar, membesar. Ia sudah mulai mengurus tampa harus diet.
Air matanya habis. Suaranya parau akibat tangisan yang senatiasa ia tidak bisa tahan. Tak tahu kenapa mungkin kerena Ia terlalu dini atau  masih merindukan belaian ibundanya atau juga   malah Ia teringat teman-teman sekelasnya. Ah! entahah
Setelah seminggu berikutnya ia mengikuti tes masuk Madrasah Diniyah di pondok pesantren tersebut. Ia selalu pamit mau pulang kepada teman-teman yang juga berasal dari rumahnya. Namun mereka tas sesekali mengizininya pulang. Gingga terbersit sedikit marah di hati kecilnya. Nafsuh ammmarah berhasil membakar mutmainnah yang adem ayem.
Tak pelak Keif kecil.
Ibu dan bapaknya senantiasa tidak henti-hentinya mendoakan kesuksesan bagi anak biak karanya. Tahajjud serta dhuha tak sesekali pernah tertinggalkan hanya untuk mehon anaknya kerasan di rumah barunya.
Termnakasih ya Allah sampai saat ini akeif masih belum pernah ngasik kabar tentang keberadaannya di pondok pesantern sana saya yakin ia mendapat kehidupan yang layak serta nyaman tidak seperti apa yang ia bayangkan dulu 
 
***
          “Ya semoga saja,”
Dari balik daun pintu rumah bagian depan sontak terdengar jawaban dari seorang gadis mungil. Dipandanginya Keif sudah sampai dirumahnya dengan berkinangan air mata. Bapaknya pun terharu. Tubuhnya lemas tangannya gemetar sembari menghapus air mata Keif. Tiba-tiba dari sudut mata kudis ayahnya menetes embun kerinduan pada sang buain hati. Namun Keif masih belum bisa mengahiri ratapannya atas kerinduan.
Tiba-tiba Ia berpaling, membalikkan diri sambil lari-lari kecil menjahui ayah ibunya. Ditemuinya Zishafa, anakseorang kelurahan yang sedang berlalu lalang meu berangkat sekolah.
“Ai,,! Keif kangen, Keif pulang untuk Airen,”
Suaranya sendu dari balik tangisannya senyum manis tersungging setelah lima belas menit berlalu dalam pelukan mesra mereka.
“Huh, kkrrr,” Sastro, sang ayah kecewa gemeratak memukul-mukul badannya sendiri. 

Related posts

Ukhti, Izinkan Aku Mencintai Suamimu

admin

Cintaku Berakhir Tragis

admin

Ku Benci Hujan

admin

NEMORKARA [1]

A'yat Khalili

Sampah Seumur Hidup

Ali Mukoddas

Mewakili Kematian

Ali Mukoddas

Leave a Comment