23.3 C
Indonesia
18 Juni 2019
Esai

Kemurahan Rasulullah SAW


Al-Thabrani meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra yang bercerita, suatu ketika Rasulullah saw pergi ke penjual baju untuk membeli pakaian seharga empat dirham. Setelah mendapat pakaian yang dicari, Rasulullah kembali pulang. Namun di perjalanan pulang Rasulullah saw bertemu dengan seseorang dari kalangan Anshar yang menyapa beliau saw.
“Wahai Rasulullah saw, beri aku pakaian. Aku tidak memiliki pakaian yang layak kecuali yang aku kenakan ini. Semoga Allah swt memberimu pakaian dari surga”, mintanya kepada Rasulullah saw.
Tanpa berpikir panjang, Rasulullah saw pun langsung memberikan pakaian yang baru saja beliau beli beberapa menit yang lalu.
Kemudian Rasulullah saw kembali ke penjual baju sebelumnya. Beliau kembali membeli pakaian dengan harga yang sama yakni empat dirham. Sepulang dari sana, Rasulullah saw di jalan bertemu dengan seorang wanita menangis.
Rasulullah saw pun menyapanya, “Wahai nona, mengapa engkau menangis?”
“Wahai Rasulullah saw, suamiku telah memberiku dua dirham untuk dibelanjakan gandum. Namun uang dua dirham hilang entah ke mana. Aku bingung”, jawab wanita tersebut.
Kebetulan uang Nabi saw sisa dua dirham, setelah delapan dirham sebelumnya untuk membeli dua potong pakaian. Dengan segala kemurahannya, Rasulullah memberikan dua dirham kepada wanita yang sedang menangis tersebut.
Uang sudah diberikan akan tetapi wanita tersebut masih saja menangis. Rasulullah saw pun penasaran dan kembali menanyainya, “Mengapa engkau masih menangis? Bukankah engkau sudah mendapat dua dirham?”.
“Aku takut mereka (keluargaku) memukuliku, jika mereka tahu bahwa dua dirham yang mereka berikan aku hilangkan. Apalagi jika mereka tahu Rasulullah saw menggantikan dua dirham itu”, demikian wanita tersebut menjawab alasannya masih menangis.
Rasulullah saw pun berinisiatif untuk mengantarkannya pulang ke rumahnya. Setibanya di rumah wanita tersebut, Rasulullah saw mengucapkan salam. Namun tak terdengar jawaban salam dari dalam rumah. Hingga pada ketiga kali Rasulullah saw bersalam, terdengarlah jawaban salam dari dalam rumah.
Nabi saw bertanya, “Bukankah kalian mendengar salam yang pertama tadi?”.
“Iya kami mendengar wahai Nabi saw. Akan tetapi kami ingin engkau memberi salam (doa keselamatan) lebih banyak untuk kami”, jawab keluarga wanita itu.
Lalu apa gerangan yang membuat anda repot-repot datang ke gubuk kami, wahai Nabi saw?”, tanya suami dan keluarga wanita tersebut.
“Wanita ini khawatir kalian memukulnya, karena menghilangkan dua dirham yang kalian berikan sebelumnya”, jawab baginda Nabi saw.
Akhirnya kekhawatiran si wanita tidak terjadi berkat kemurahan sang Nabi dengan memberi dua dirham dan repot-repot mengantarkannya pulang ke rumah.
Sebelum Nabi saw beranjak pulang, mereka semua didoakan Nabi saw dengan segala kebaikan dan menjadi penghuni surga. Alangkah mulianmya budi pekerti sang Nabi saw. Kemurahannya mengalahkan segalanya. Kebahagian beliau saw itu saat berbagi. Ringan tangan dan ringan langkah untuk membahagiakan sesama.
Allâhumma shalli wa sallim ʻalâ Sayyidinâ Muhammad

Related posts

Nash Yang Benar Dan Akal Yang Sehat

admin

Merdeka dalam Keterjejahan Atau Sebaliknya

admin

Berkenalan dengan Nuansa Fikih Sosial

Ahmad Fairozi

Identitas Agama-agama Samawi dalam al-Quran

admin

Poligami Berkedok Sunnah Rasul

Aba Rosyid

Santri dan Kesederhanaan

PENA SANTRI

Leave a Comment