21 Oktober 2020
ditikam penguasanya sendiri

Ketika Santri Ditikam oleh Penguasanya Sendiri

Akhirnya semakin tersadar bahwa kemeriahan hari santri tahun kemarin sangat kuat unsur politik praktisnya. Dimana-mana para pemegang tampu kekuasaan mengobarkan api semangat menggambarkan peran strategis santri dalam menjaga kedaulatan negeri.

Seperti halnya lelaki yang mengatakan kesetiaan pada wanitanya maka ia perlu diuji untuk memegang perkataannya tersebut, sebagaimana pemerintah yang tahun kemarin memberikan orasi-orasi hebat didepan podium ataupun pamflet poster yang tersebar maka sekarang adalah waktu pembuktiannya. Apakah selaras antara cara berfikirnya dalam menyampaikan orasi terhadap kebijakan yang diberikan kepada pesantren dan santri pada saat ini.
.
Pandemi covid19 ini sedang terjadi, sekolah mulai diliburkan dan diganti pembelajaran via online dirumah, provider tangan kanan pemerintah menggratiskan 30GB untuk mendukung pembelajaran model ini, namun tahukah bahwa pesantren mulai awal bulan ramadhan juga diliburkan? Para santri yang seharusnya belajar mengaji disuruh pulang kerumah karena pandemi ini.
.
Pondok pesantrenpun mulai mengikuti menggunakan pembelajarab online agar para santri tetap bisa mengaji, mulai dari kantongnya sendiri bahkan hpnya sang kiai yang biasa digunakan untuk dirinya sekarang berperan ganda juga sebagai media untuk menyiarkan kajian-kajian kitab kuning untuk para santri yang terkadang hpnya off sendiri karena hawa panas dan spesifikasi yang tidak mumpuni.
.
Pernah dengar pemerintah memberikan dukungan peralatan kepada pesantren dalam menunjang model online ini? Fakta dilapangan para santri sedikit yang memanfaatkan model pengajian online semacam ini? Yah harap maklum kelas santri ada yang menengah kebawah, bahkan sang santri membeli segelas kopi untuk diminum berjam-jam hanya sekedar untuk mengakses wifi gratis dari pemilik warung kopi.
.
Wajar jika komandan tertinggi dulu yang dikenal Syubbanul Wathan kemudian diganti nama ANO dan sekarang diganti lagi, mulai mengkritisi habis-habisan model kartu prakerja yang dimainkan oleh segelintir orang dinegeri ini. Yang satu anggaran dibuang-buang tidak sesuai kebutuhannya yang satunya ada yang sedang membutuhkan namun tidak dihiraukan.

Maklum habis manis sepah dibuang menangis penulis didalam hati.

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy