3 Desember 2020
Keutamaan Memuliakan Malam Nisfu Sya’ban

Keutamaan Memuliakan Malam Nisfu Sya’ban

Penasantri.id – Bulan Sya’ban termasuk salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam. Nabi Saw. memuliakan bulan Sya’ban dengan menambah amalan ibadah melebihi hari-hari pada umumnya. Sehingga meningkatkan amalan ibadah pada bulan Sya’ban dan terutama sekali pada malam nisfu sya’ban sangat dianjurkan sebagaimana telah dicontohkan oleh Nabi Saw. dan para Sahabatnya.

Apabila pada hari-hari bulan Sya’ban dianjurkan meningkatkan amal ibadah, maka pada malam Nisfu Sya’ban yang jatuh pada Rabu malam 8 April besok, lebih dianjurkan lagi, karena terdapat banyak hadis yang diriwayatkan dari Nabi Saw. tentang keutamaan malam nisfu Sya’ban melebihi hari-hari yang lain pada bulan yang sama.

Keutamaan Nisfu Sya’ban dalam Islam

Ada beberapa hadis Nabi Saw. yang menunjukkan keutamaan malam Nisfu Sya’ban dengan kualitas hadis yang berbeda-beda, sebagian shahih, ada pula yang dha’if. Hadis-hadis tentang keutamaan bulan Sya’ban tersebut sebagai berikut:

Pertama, pada malam Nisfu Sya’ban Allah mengampuni seluruh makhluk-Nya kecuali orang yang menyekutukan Allah dan orang yang bermusuhan. Hal ini sebagaimana hadis riwayat al-Imam al-Thabrani dan Ibnu Hibban dari Mu’adz bin Jabal dari Nabi Saw, beliau bersabda:

 يَطَّلِعُ اللهُ إِلَى خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيْعِ خَلْقِهِ إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ

Artinya; “Allah Saw melihat kepada makhluk-Nya pada malam Nisfu Sya’ban, lalu memberikan ampunan kepada seluruh makhluk-Nya kecuali kepada orang yang menyekutukan Allah atau orang yang bermusuhan.”

Kedua, memperbanyak doa kepada Allah. Permintaan yang dipanjatkan di malam Nisfu Sya’ban akan diterima oleh Allah. Hal ini berdasarkan hadis riwayat al-Imam al-Baihaqi dari Usman bin Abi al-‘Ash dari Nabi Saw., beliau bersabda:

إَذا كَانَ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ نَادَى مُنَادٍ: هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ فَأَغْفِرُ لَهُ؟ هَلْ مِنْ سَائِلٍ فَأُعْطِيْهِ؟ فَلاَ يَسْأَلُ أَحَدٌ شَيْئًا إِلَّا أُعْطِيْ إِلَّا زَانِيَةً بِفَرْجِهَا أَوْ مُشْرِكًا

Artinya: “Apabila datang malam Nisfu Sya’ban, ada pemanggil (Allah) berseru: “apakah ada orang yang memohon ampun dan Aku akan mengampuninya? Apakah ada yang meminta dan Aku akan memberinya? Tidak ada seseorang pun yang meminta sesuatu kecuali Aku akan memberinya, kecuali wanita pezina atau orang musyrik.

Ketiga, melaksanakan shalat sunah malam di malam Nisfu Sya’ban. Anjuran ini berdasarkan hadis riwayat al-Albaihaqi dari ‘Ala’ bin Haris, dia berkata:

عن عَائِشَةَ، قَالَتْ: قَامَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم مِنَ الَّليْلِ يُصَلِّيْ فَأَطَالَ السُّجُوْدَ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ قَدْ قُبِضَ، فَلَمَّا رَأَيْتُ ذَلِكَ قُمْتُ حَتَّى حَرَّكْتُ إِبْهاَمَهُ فَتَحَرَّكَ، فَرَجَعْتُ، فَلَمَّا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ السُّجُوْدِ، وَفَرَغَ مِنْ صَلَاتِهِ، قَالَ: ” يَا عاَئِشَةَ أَوْ يَا حُمَيْرَاءَ ظَنَنْتَ أَنَّ النَّبِيَّ خَاسَ بِكَ؟ “، قُلْتُ: لَا وَاللهِ يَا رَسُوْلَ اللهِ وَلَكِنِّيْ ظَنَنْتُ أَنَّكَ قُبِضْتَ لِطُوْلِ سُجُوْدِكَ، فَقَالَ: ” أَتَدْرِيْنَ أَيُّ لَيْلَةٍ هَذِهِ؟ “، قُلْتُ: اَللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: ” هَذِهِ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَطَّلِعُ عَلَى عِبَادِهِ فِيْ لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِلْمُسْتَغْفِرِيْنَ، وَيَرْحَمُ اْلمُسْتَرْحِمِيْنَ، وَيُؤَخِّرُ أَهْلَ اْلحِقْدِ كَمَا هُمْ “.

Artinya; “Sayyidah A’isyah berkisah: “Suatu malam Nabi Saw shalat, kemudian beliau bersujud panjang, sehingga aku menyangka bahwa Nabi Saw telah diambil (wafat), karena curiga maka aku berdiri dan aku gerakkan telunjuk beliau dan ternyata masih bergerak. Setelah Nabi Saw selesai shalat beliau berkata: “Hai Aisyah, apakah engkau menduga Nabi Saw tidak memperhatikanmu?”

Lalu aku menjawab: “Tidak ya Rasulullah, aku hanya berpikiran yang tidak-tidak (menyangka Nabi Saw telah tiada) karena engkau bersujud begitu lama”. Lalu beliau bertanya: “Tahukah engkau, malam apa sekarang ini”. Aku menjawab, “Allah dan RasulNya yang lebih tahu.” Nabi Saw berkata, “Malam ini adalah malam nisfu Sya’ban, Allah mengawasi hambanya pada malam ini, maka Ia memaafkan mereka yang meminta ampunan, memberi kasih sayang mereka yang meminta kasih sayang dan menyingkirkan orang-orang yang dengki”

Kaum muslim sejak generasi salaf selalu menghidupkan malam Nisfu Sya’ban ini dengan berbagai macam bentuk ibadah, terutama ibadah shalat. Bahkan Ibnu Taimiyah ketika ditanya tentang shalat di malam Nisfu Sya’ban, beliau menjawab;

وَقَدْ سُئِلَ ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى عَنْ صَلاَةِ لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَأَجَابَ : إِذَا صَلَّى اْلإِنْسَانُ لَيْلَةَ النِّصْفِ وَحْدَهُ أَوْ فِيْ جَمَاعَةٍ خَاصَّةٍ كَمَا كَانَ يَفْعَلُ طَوَائِفُ مِنَ السَّلَفِ فَهُوَ حَسَنٌ.

Artinya; “Ibnu Taimiyah ditanya tentang shalat malam Nisfu Sya’ban, maka ia menjawab: “Apabila seseorang menunaikan shalat pada malam Nisfu Sya’ban, sendirian atau bersama jemaah tertentu sebagaimana dikerjakan oleh banyak kelompok kaum salaf, maka hal itu baik.”

Berdasarkan keterangan di atas, sangat dianjurkan sekali untuk menghidupkan malam Nisfu Sya’ban dengan aneka ragam ibadah dan kebaikan seperti beristighfar, mengerjakan shalat sunnah secara berjamaah, membaca surah Yasin dan diakhiri dengan doa kepada Allah.

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy