23.3 C
Indonesia
18 Juni 2019
KH. Abdullah Sajjad, Ulama Nasionalis dari Madura
Ulama Nusantara

KH. Abdullah Sajjad, Ulama Nasionalis dari Madura

KH. Abdullah Sajjad Ulama Nasionalis dari Madura

Ahmad Baso*

KH. Abdullah Sajjad adalah pendiri Pesantren Annuqayah cabang Latee, Guluk-guluk, Sumenep, Madura, komandan Barisan Sabilillah-Hizbullah Sumenep di era Revolusi Kemerdekaan dan juga seorang ulama-penulis. Lahir di Guluk-guluk, Sumenep, Madura, sebagai anak keempat pasangan KH. Muhammad Syarqawi (wafat pada tahun 1329/1910) dan Nyai Qomariyah dari tujuh bersaudara. Tahun kelahiran tidak diketahui dengan pasti. KH. Muhammad Syarqawi adalah pendiri Pesantren Guluk-guluk (yang kemudian bernama Pesantren Annuqayah), Sumenep, Madura, pada tahun 1887. 

Sejak kecil KH. Abdullah Sajjad nyantri dari satu pesantren ke pesantren lainnya. Pernah nyantri di Pesantren Kademangan, asuhan Syaikhuna Cholil Bangkalan, kemudian ke Pesantren Tebuireng asuhan KH. Hasyim Asy’ari, dan juga di Pesantren Siwalan Panji Sidoarjo. Pada pesantren terakhir ini di bawah asuhan Kiai Chozin, KH. Abdullah Sajjad seperguruan dengan KH. Abdul Wahid Hasyim. Setelah itu belajar di Mekah bersama kakaknya, KH. Muhammad Ilyas (wafat 1959), mengikuti jejak ayahnya. 

Kembali ke Guluk-guluk, KH. Abdullah Sajjad melanjutkan perjuangan orang tuanya dalam mengembangkan pesantren. Beliau diberi kesempatan merintis pesantren sendiri di lingkungan Pesantren Annuqayah di Latee, sekitar seratus meter dari induknya, pada tahun 1923. IKemudian memperkenalkan sistem madrasah, mengikuti model yang dipelajarinya di Pesantren Tebuireng pada tahun 1935. Di Latee Kiai Abdullah Sajjad mengawali keuletan dalam membina pesantren. 

Sebagian besar waktunya diisi untuk mengisi pengajian kitab suai shalat jamaah. Kecuali setelah shalat maghrib dan shubuh yang digunakan untuk pengajian al-Quran. 

Kiai Abdullah Sajjad menikah dengan Nyai Sofiyah, dan dikaruniai putra-putri: Nyai Maemunah, Nyai Muadah (istri Kiai Khazin Ilyas), Kiai Ahmad Basyir (kini Rois Syuriah NU Sumenep), KH. Ishomuddin, Kiai Abdul Hafidz dan Nyai Arifah. Dengan isteri kedua, Nyai Aminah, Kiai Abdullah Sajjad dikaruniai putra dan putri yang kemudian melanjutkan pengembangan pesantren hingga kini: Nyai Maftuhah (isteri Kiai Fauzi), KH. Abdul Basith, dan Nyai Khabirah (isteri Kiai Abdul Muqsid, cucu Kiai Muhammad Syarqawi). Kiai Abdul Basith bin Abdullah Sajjad adalah putra yang istimewa. 

Melanjutkan kiprah ayahnya dalam penguatan masyarakat, Kiai Abdul Basith pernah menerima Hadiah Kalpataru di tahun 1981 dalam usaha penyelamatan lingkungan di Desa Guluk-guluk. 

Pengembangan masyarakat sebagai kelanjutan pengembangan pesantren adalah karakter perjuangan Kiai Abdullah Sajjad. Kalau kakaknya, Kiai Ilyas, lebih fokus pada pembenahan internal pesantren, Kiai Abdullah Sajjad lebih cenderung mengabdi ke masyarakat.
Merintis pengajian umum untuk masyarakat sekitar, yang dilaksanakan setiap Sabtu malam, Kiai Abdullah Sajjad dikenal dekat dengan masyarakat, serta punya jiwa sosial yang tinggi. 

Suatu kali beliau pernah mengajak beberapa santrinya untuk menjenguk seorang tetangga yang sakit. Para santri kemudian diminta untuk membacakan qashidah Burdah kepada tetangganya tersebut. Bahkan sang kiai ini pernah didaulat oleh masyarakat di awal tahun 1947 untuk menjadi klebon atau kepala desa di Guluk-guluk. 

Demikian pula, ketika muncul kelompok-kelompok yang membid’ahkan amaliyah-amaliyah warga pesantren dan masyarakat, Kiai Abdullah Sajjad tampil mengecam kelompok tersebut. Tegas dan berkarakter, serta tangguh dalam membela prinsip yang dipegangi, Kiai Abdullah Sajjad pernah menulis satu tulisan untuk membela amaliyah masyarakat Madura yang dominan bertradisi NU itu. 

Sebuah kitab karya Ibnu Arabi, Fushushu-l-Hikam, tidak lepas dari sorotan tajam sang kiai ini. 

Pernah suatu kali seorang putranya, Kiai Abdul Basith, mendapatkan kitab yang dikenal ekstrim pandangan tasawufnya itu dihiasi berbagai catatan pinggir kritis oleh ayahnya. Maksud Kiai Abdullah Sajjad adalah jelas: agar pembaca bisa berhati-hati dan cermat dalam membacanya, agar tidak muncul kesalahpahaman atau kesimpulan menyesatkan dalam membaca karya Ibnu Arabi tersebut. 

Dari perjuangan membela masyarakat, Kiai Abdullah Sajjad tampil pula dalam membela bangsa ini dari gangguan penjajah bangsa asing. Pasca Proklamasi Kemerdekaan negara kita, Belanda masuk ke Madura dalam rangka merebut kembali jajahannya sekaligus menciptakan negara boneka bernama Negara Madura. 

Kiai Abdullah Sajjad pun jadi gusar, lalu menghimpun kekuatan untuk menggagalkan rencana Kompeni itu.
Pimpinan laskar santri-ulama, Laskar Sabilillah, di Sumenep yang semula dipegang Kiai Ilyas, diserahkan kepada Kiai Abdullah Sajjad. Beliau keliling Madura, terutama di daerah Pamekasan dan Sumenep, mengajak masyarakat berjuang membela agama, negara dan bangsa. 

Masyarakat kemudian bergabung dalam Laskar Sabilillah dan Laksar Hizbullah. Yang pertama adalah barisan para kiai dan santri; sementara yang kedua adalah barisan anak-anak muda. 

Semuanya difungsikan untuk menggalang dan menghimpun kekuatan dalam menentang Belanda yang ingin menguasai Sumenep. Dibantu menantu dan keponakannya, Kiai Khazin bin Kiai Ilyas, Kiai Abdullah Sajjad membawa pasukannya bergerak di front terdepan. Bahkan sering terlibat pertempuran dengan pihak tentara Belanda di Pamekasan dan Sumenep sekitar bulan Agustus 1947. 

Namun demikian, kekuatan musuh ternyata lebih solid. Pasukan Sabilillah dan Hizbullah dipukul mundur. Kiai Khazin selaku pimpinan lapangan mengirim utusan agar Pesantren Annuqayah, yang waktu itu menjadi markas komando Barisan Sabilillah, dikosongkan. 
Kiai Ilyas mengungsi di dusun Berca, daerah pedalaman Guluk-Guluk. 

Sedangkan Kiai Abdullah Sajjad bersama para santri mengungsi ke Karduluk, daerah pegunungan sebelah timur Prenduan, Sumenep. Awalnya, Kiai Abdullah Sajjad disarankan untuk mengungsi ke Pulau Jawa. Namun beliau bertahan di wilayah Sumenep dengan pertimbangan tidak ingin meninggalkan santri dan rakyatnya. Hanya Kiai Khazin yang diminta mengungsi ke Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukerejo, Asembagus, Sitobondo. 

Pesantren asuhan KH. As’ad Syamsul Arifin (wafat 1990) ini dipilih karena pihak Belanda sendiri menganggap pesantren ini sebagai daerah keramat (heilige zone) yang terlarang untuk dimasuki sewaktu Aksi Militer Belanda Pertama di tahun 1947. Kiai Khazin kemudian wafat di pengungsian di tahun 1948 akibat sakit. 
Empat bulan kemudian, datanglah sepucuk surat yang ditujukan kepada Kiai Abdullah Sajjad. Surat yang dibawa oleh seseorang – asli Madura tapi ternyata adalah kurir Belanda! – itu bernada membujuk agar Kiai Abdullah Sajjad kembali ke Guluk-guluk, kembali ke pesantren, karena situasi sudah dianggap aman. 

Sejumlah pihak mencegah sang kiai untuk kembali dengan alasan surat itu jangan dipercaya dan itu hanya tipuan Belanda untuk menangkap beliau. Sementara pihak lainnya, terutama pimpinan Pesantren Annuqayah di pengungsian, sudah melakukan musyawarah dan menyetujui Kiai Abdullah Sajjad kembali ke Pesantren Annuqayah. 

Masyarakat pun segera menyambut dan menemui beliau di pesantren. Usai Shalat Maghrib berjamaah, tiba-tiba datang serdadu Belanda menangkap Kiai Abdullah Sajjad. Sang kiai lalu dibawa ke lapangan Guluk-Guluk, lalu dieksekusi dengan kejam oleh tentara Belanda. 

Konon, menurut cerita rakyat setempat, nama “as-Sajjad” dilekatkan kepada beliau, karena sewaktu syahid membela agama dan negara, beliau sedang sujud menghadap ke Hadirat Ilahi. Sebuah versi lain menyebutkan, dari pesantren Kiai Abdullah Sajjad dibawa ke markas Belanda di Kemisan, sekitar satu km di utara pesantren. Di sana sang kiai diinterogasi hingga diancam akan dibunuh. Namun beliau tetap pada pendiriannnya. 

Sebelum eksekusi dilaksanakan, Kiai Abdullah Sajjad minta izin untuk shalat sunnah. Permintaan pun dipenuhi. Di saat sedang shalat itulah, mungkin tentara Belanda sudah ingin segera menghabisi nyawanya, tubuh Kiai Abdullah Sajjad jatuh tersungkur dalam posisi sujud akibat terjangan peluru Belanda. Jenazahnya kemudian dibawa secara diam-diam oleh pihak keluarga lalu dimakamkan di lingkungan Pesantren Annuqayah sekitar Oktober 1947. 

Pembinaan pesantren di Latee kemudian dilanjutkan oleh KH. Moh. Mahfoudh Husaini (wafat 2009), menantunya, yang menikah dengan Nyai Arifah, putri bungsu Kiai Abdullah Sajjad. Setelah itu dilanjutkan hingga kini oleh kedua putranya, KH. Muhammad Ishomuddin (wafat 2012) dan KH. Abdul Basith. 

Selama hidupnya yang penuh pengabdian kepada masyarakat, Kiai Abdullah Sajjad masih menyempatkan diri menulis karya satu-satunya berjudul Manzhumatu-l- Masa’il (Syair tentang Masalah-masalah Keimanan). Teks ini berisi 98 larik nazham atau syair tentang cara beraqidah dan keimanan yang tepat, dalam bentuk tanya jawab. 

Berbicara tentang hakikat iman dan cara menjalankan keenam rukun iman, kitab ini ditulis pada tahun 1360 H/1941 M. Salah seorang putranya yang penuh bakat, Kiai Abdul Basith, kemudian memberi komentar singkat atau syarah ats kitab tersebut pada 1418 H/1997 M. Dengan nama samaran Abu Muhammad Zaqin al-Maduri, Kiai Basith memberi judul karyanya itu Idhahu-l-Afadhil Syarh Manzhumati-l-Masa’il (Madura, 1997).
Lahumul faatihah 
Sumber: Yai Ahmad Baso

Related posts

Biografi KH Sirojuddin Abbas Minangkabau

admin

Wasiat KH. Abdullah Faqih Langitan Tuban

admin

Gus Muwafiq: Kiai Muda NU Pakar Sejarah

PENA SANTRI

Prof. Dr. KH. M. SAHAL MAHFUDH, (1937 – 2013)

PENA SANTRI

Nyai Hj Aqidah Usymuni Perempuan Pesantren Visioner

PENA SANTRI

Kiai Soleh Darat Penerjemah al-Quran Pegon Masa Kolonial

admin

Leave a Comment