Flash Sale! to get a free eCookbook with our top 25 recipes.

KH Bisri Syansuri, Kakek Gus Dur, Ulama Fiqih Hafidz Qur’an yang Jago Perang

KH Bisri Syansuri, Kakek Gus Dur, Ulama Fiqih Hafidz Qur'an yang Jago Perang
Sumber Gambar dari diunduh dari Tirto.id

KH. Bisri Syansuri (selanjutnya ditulis dengan Kiai Bisri) adalah seorang ulama Fiqih yang hafal Al-Qur’an. Kiai Bisri yang merupakan putra dari pangan ayah bernama Syansuri dan ibu bernama Siti Rohmah yang dikenal dengan sebutan Mariah dilahirkan di di desa Tayu Wetan, Pati, Jawa Tengah pada 18 September 1886.

Kiai Bisri adalah anak ketiga dari lima orang bersaudara. Konon sejak kecil ia disebut Mustajab atau Bisri dan ada yang memanggilnya Bisri Mustajab. Nama Bisri dipakai oleh Mustajab ketika pulang dari haji. Kiai Bisri belajar ilmu agama sejak kecil. Kiai Soleh dan Kiai Abd Salam dari Tayu, Kiai Kholil Kasingan Rembang, Kiai Syu’aib Sarang Lasem, hingga Kiai Kholil Bangkalan pernah menjadi tempatnya menuntut ilmu, sebelum akhirnya mengenyam pendidikan pondok pesantren di Tebuireng.

Sejak kecil Bisri dipengaruhi oleh tradisi membaca atau pendidikan Qur’an. Tradisi membaca al-Qur’an seperti ini adalah tradisi yang sudah berumur ratusan tahun di kawasan nusantara. Kawasan atau masyarakat santri yang melingkupi kehidupan Bisri di masa kecil itu memiliki pandangan Al-Qur’an adalah inti dari pembuktian kebenaran ajaran yang dibawa Muhammad, karena itu ia harus dipelihara sebaik-baiknya, dari cara membacanya hingga cara memahaminya serta penerapan pemahaman itu pada kenyataan hidup. Pendidikan menguasai bacaan al-Quran dengan sempurna itu, yang kemudian hari akan menjadi salah satu perhatian khusus Bisri dalam mendidik para santrinya, ditempuhnya hingga usia sembilan tahun.

Layaknya santri yang memiliki tradisi berkeliling, berkelana, mencari ilmu terus menerus dan dimana-mana, Bisri juga berkeliling dari satu kiai ke kiai lain dari satu pondok ke pondok lain. Kemudian berlanjut ke beberapa pesantren lokal, seperti milik KH Abdul Salam di Kajen, pesantren Kasingan Rembang untuk belajar kepada kyai Cholil Harun, KH Fathurrahman bin Ghazali di Sarang Rembang/pesantren Sarang kepada kyai Suaib.

KH Abdul Salam ini adalah seorang yang hafal al-Qur’an dan memiliki penguasaan yang mendasar atas fiqh. Kyai Abdul Salam ini sebenarnya masih termasuk keluarga dekat KH Bisri Syansuri dan membuka pesantren di desa itu. Dibawah asuhan kyai Abdul Salam, Bisri Syansuri digembleng dengan keras, sehingga mewarnai corak kepribadiannya kelak. Dengan kyai Abdul Salam ini Bisri Syansuri memelajari dasar-dasar tata bahasa arab, fiqh, tafsir al-Qur’an dan hadis nabi.

Di Tebuireng, Kiai Bisri belajar ilmu agama kepada Kiai Hasyim Asy’ari. Bersama kawan karibnya–yang kemudian menjadi kakak ipar–Kiai Wahab Hasbullah, Kiai Bisri belajar di Tebuireng selama enam tahun. Dia dan Kiai Wahab kemudian bersama-sama menyebarkan agama Islam melalui partai maupun lembaga keagamaan.

Usai menuntut ilmu di Tebuireng, Kiai Bisri dikenal menonjol dalam penguasaan ilmu agama, terutama dalam pendalaman pokok-pokok hukum fiqih. Kiai Bisri kemudian melanjutkan pendidikannya ke Makkah bersama Kiai Wahab.

Di Makkah, Kiai Bisri menikah dengan adik Kiai Wahab, Nur Khodijah. Pasca menikah, Kiai Bisri kemudian pulang ke Indonesia dan menetap di Tambak Beras, Jombang hingga dikarunia sembilan orang anak, salah satunya Sholihah yang kemudian menikah dengan Kiai Wahid Hasyim, ayah dari mantan Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Kiai Bisri, NU dan Sejarah Perlawanan Ulama

Kiai Bisri bersama Kiai Wahab, kemudian juga mendirikan perkumpulan-perkumpulan yang menjadi basis pergerakan nasional dan sebagai embrio lahirnya NU. Seperti Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) pada tahun 1916, Taswirul Afkar atau Nahdlatul Fikri (kebangkitan pemikiran) pada tahun 1918, dan Nahdlatut Tujjar, (pergerakan kaum saudagar) atau Taswirul Afkar.

Tak hanya dalam dunia pendidikan Kiai Bisri berdedikasi. Kiai Bisri juga turut aktif dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Dia pernah menjadi Kepala Staf Komando untuk menjadi penghubung antara gerakan massa yang dikerahkan oleh Bung Tomo dengan para kiai seluruh Jawa Timur menjelang peristiwa 10 November di Surabaya. Pada tahun 1946, Kiai Bisri juga terlibat dalam lembaga pemerintahan dimulai dengan menjadi anggota dalam Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) mewakili unsur Masyumi, tempat NU tergabung secara politis.

Kiai Bisri juga pernah menjadi Wakil Ketua Markas Ulama Jawa Timur (MODT) tahun 1947-1955 dan menjadi Ketua markas Pertempuran Hisbullah Sabilillah (MPHS) pada tahun 1947-1949. Tahun 1955-1959, Kiai Bisri menjadi anggota Dewan Konstituante (1955-1959).

Kiai Bisri juga dianggap banyak tokoh sebagai guru yang sangat berpengaruh, salah satunya oleh cucunya, Gus Dur. Dalam kisah yang diceritakan Gus Dur, Kiai Bisri yang merupakan orang yang teguh memegang fiqih (jurisprudensi Islam), tapi tak mempersoalkan kepemimpinan non-Muslim di desanya.

admin
Pena Santri adalah media dedikasi Santri Pejuang NKRI