23.3 C
Indonesia
18 Juni 2019
Ki Abi Sujak dan NU Sumenep
Ulama Nusantara

Ki Abi Sujak dan NU Sumenep

kiai Haji Abisyujak lebih dikenal sebagai salah satu ulama pendiri pesantren di Kampung Banasokon, Desa Kebunagung, Kecamatan Kota Sumenep. Di kalangan Nahdliyin Sumenep, Kiai Abisyujak juga dikenal sebagai pendiri Nahdlatul Ulama (NU) di Sumenep. Namun, tidak banyak orang yang tahu bahwa beliau adalah salah satu tokoh pejuang yang memiliki peranan penting dalam perlawanan mengusir penjajah di Sumenep.
“Beliau adalah pimpinan barisan pejuang dari kalangan santri di Sumenep,” kata Ainul Ashim, salah satu kerabat Kiai Abisyujak pada News Room. Kiai Haji Abisyujak lahir  di Sumenep tahun 1885 Masehi. Tidak ada catatan tertulis mengenai tanggal dan bulannya. Bahkan wafatnya pun hanya tercatat tahunnya, yakni 1948, tanpa ada keterangan lain.
Kiai Abisyujak adalah putra Kiai Haji Jamaluddin Kebunagung. Ayahnya adalah cucu Kiai Aqib atau Kiai Anjuk, yang juga kakek dari Kiai Haji Ahmad Bakri Pandian, salah satu ulama ahli tauhid di Sumenep. Sementara ibu Kiai Abisyujak adalah kakak dari Kiai Haji Zainal Arifin Terate.
Dalam sejarah hidupnya, Kiai Abisyujak tercatat nyantri ke Kiai Muhammad Khalil Bangkalan. Selepas dari menuntut ilmu, beliau mendirikan sebuah pesantren di atas bukit di Kampung Banasokon. Lokasi tersebut selanjutnya berubah menjadi dwi fungsi, yakni sekaligus juga sebagai markas pejuang di Sumenep.
“Kiai Abisyujak lalu memutuskan untuk berjuang secara total. Aktivitas di pesantren pun macet total, karena beliau selalu melakukan hubungan rahasia dengan para pejuang di Sumenep,”kata Ashim.
Lokasi pesantren Kiai Abisyujak sangat strategis sebagai markas perjuangan. Di situ juga dijadikan pusat latihan termasuk pembekalan para pejuang, seperti latihan bela diri, kekebalan, dan lainnya.
Menurut Moh. Faqih Mursyid, kerabat lainnya, posisi kiai atau ulama di waktu itu sebagai tempat meminta nasihat, petunjuk dan doa. Sementara Kiai Abisyujak disebut Faqih memilih langsung bergabung termasuk juga dalam kontak fisik dengan penjajah.
“Namun beliau memang sosok yang low profile, sehingga memang banyak kalangan yang tidak mencatat sejarah perjuangan beliau sebagai salah satu pejuang di Sumenep,” tambahnya. Kini pesantren peninggalan Kiai Abisyujak sudah tidak berjalan, karena tidak ada yang meneruskan.
Banyak keturunannya yang sudah tidak berdomisili di Banasokon. Salah satu putrinya menikah dengan Kiai Haji Usymuni, dan menetap di Tarate. Namun, sisa-sisa bangunan pesantren dan kediamannya saat ini masih utuh, berdekatan dengan makam beliau di puncak bukit Banasokon. ( Farhan, Esha )

Related posts

Mengenal Sosok Kiai Miftahul Akhyar

admin

Wasiat KH. Abdullah Faqih Langitan Tuban

admin

Kiai Subeki Inisiator Senjata Bambu Runcing Perjuangan

PENA SANTRI

Biografi Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari Kalimantan Selatan

admin

Kiai Soleh Darat Penerjemah al-Quran Pegon Masa Kolonial

admin

K. Munif Djazuli; Kesederhanaan dan Mode Penampilan

admin

Leave a Comment