27.5 C
Indonesia
23 Oktober 2019
Kiai Emas, Inmemoriam Kiai Miming 1

Kiai Emas, Inmemoriam Kiai Miming

Catatan Kiai Dardiri
Seminggu sudah kiai miming mendahului kita. Kehilangan beliau hingga saat ini masih terasa. Menyesal sekali, sampai saat ini saya belum takziah. Sejak sebelum hari wafatnya saya memang tidak bisa kemana-mana karena sakit. Baru belakangan ini sudah mulai fit kembali. Meski mungkin lambat saya tetap berniat menuntaskan penyesalan saya karena tidak bisa hadir ketika dishalatkan dan disemayamkan. Setidaknya saya bisa membaca alfatihah di sisinya. 

Istri saya di hari ke 7 kemarin takziah duluan. Sepulang takziah  dia cerita bahwa istri kiai miming berpesan hingga 2 kali untuk disampaikan kepada saya agar salah dan dosa kiai miming dimaafkan. Tapi perkenankanlah saya bersaksi, tak ada dosa dan salah kiai miming kepada saya pribadi. Saya lah yang banyak dosa dan salah kepada beliau. Sengaja atau tidak. 
 
Seperti tak percaya, tadi malam saya bermimpi beliau. Beliau duduk di dalam Masjid bersama banyak orang, termasuk saya. Seperti biasanya beliau diam sambil mencermati pembicaraan orang. Acara belum selesai, saya keluar masjid menuju bilik pondok. Di belakang pintu, di gantungan baju saya tidak melihat baju kiai miming digantung. “Kiai miming mungkin mau nginep di masjid,” bathin saya. Sampai di sini saya tak mengingat lagi jalan ceritanya.
 
Sebenarnya saya memiliki 2 agenda penting yang ingin didiskusikan mendalam bersama kiai miming. Hingga wafatnya 2 egenda ini tak sempat dibicarakan. Pertama, bersama kiai Naqib sekitar 2-3 tahun lalu sempat berdiskusi soal kepemimpinan sosial para santri yang diharapkan bisa menjadi lokomotif gerakan sosial di masyarakatnya.
 
Perubahan yang demikian cepat saat ini di satu sisi, dan makin termarginalisasinya masyarakat desa yang menjadi basis sosiologis kaum santri membutuhkan penyiapan para santri yang memiliki tipe kepemimpinan kuat, mengakar, penggerak, terampil mengkonsolidasi dan memiliki ketajamam memahami masalah basisnya. Ini butuh disiapkan. Dengan kiai naqib, saya sudah sepakat untuk mendiskusikan soal ini, salah satunya, bareng kiai miming. Sayang karena kesibukan masing-masing kita tak pernah bertemu, hingga kiai miming wafat. 
 
Kedua, di pesantren NASA yang diasuh kakak saya ada keinginan untuk mereplikasi BMT tanpa bunga yang sudah berhasil dijalankan kiai miming di pesantren Annuqayah Guluk-Guluk. Kiai miming sudah siap membantu. Hingga beliau wafat, soal ini juga belum sama sekali ditindaklanjuti. 
 
Saya sering satu forum bersama kiai miming. Paling intens ketika saya masih di Lekpesdam NU Sumenep tahun 2000-2010 dan beliau di Biro Pengabdian Masyarakat (BPM)Pondok Pesantren Annuqayah. Terakhir  saya satu  forum bersama beliau ketika sama-sama menjadi pemantik diskusi di kegiatan bedah majalah Fajar Instika soal Visit Sumenep Year, di Kanca Kona Kopi.
 
Jika ada pepatah “diam itu emas”, kiai miming lah orangnya. Beliau tipikal kiai pendiam. Tak banyak berbicara jika tidak perlu. Lain tentu kalau di forum. Pikiran-pikiran beliau cerdas, kritis, dan tak terduga. Semua itu merupakan kristalisasi dari kemampuan beliau yang mengusai khazanah turats, menguasai filsafat dan pemikiran-pemikiran kritis (kiri), serta pendamping dan penggerak masyarakatnya(dalam pengertian sebenarnya). 
 
Emas tentu saja benda berharga. Emas tak perlu mengunggulkan diri dan mendeklair bahwa ia emas. Sekalipun disembunyikan da tak pernah pamir, emas ya emas. Itulah kiai miming. Hidupnya habis dimanfaatkan untuk melayani masyarakatnya, terutama menjadi penggerak ekonomi santri sehingga muncul kanca kona kopi, BMT tanpa bunga, Assalam (eksperimentasi pesantren merespon lingkungan hidup serta ekonomi kerakyatan), penggerak sastra, dan tentu banyak lagi. Sekali lagi hal ini dilakukan tanpa publikasi, nyaris senyap tapi luar biasa menginspirasi. 
 
Satu hari di tahun 2018, saya diundang dalam FGD (lupa themanya) kerjasama BPM Annuqayah dan Wahid Foundation. Saya nyumbang pikiran soal gerakan ekonomi kerakyatan. Intinya saya bilang, “gerakan ekonomi yang perlu kita bangun yang bisa membuat kita kaya semua. Kira-kira, kalau mau kaya ayo kita kaya bareng-bareng”.
 
Rupanya kiai miming meledek saya. “Mas dardiri karena pengurus NU takut bilang bahwa ia setuju sama ekonomi sosialis”.
 
Selamat jalan kiai. Dalam diammu, kami betul-betulmenemukam emas. Emas warisanmu ini semoga bisa kami lanjutkan. Maafkan, meski kiai tenang di sana, kami di sini masih sulit menerima kepergian cepatmu. 
 
Muridmu
 
Adz
 
Sumenep, 19 Pebruari 2019

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy