3 Maret 2021
Kiai Said Ungkap Rahasia Surah Al Ikhlas

Kiai Said Ungkap Rahasia dan Keutamaan Surah Al Ikhlas

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang juga merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqafah Jakarta, Prof. Dr. K.H. Said Aqil Siroj, mengungkapkan rahasia dan keutamaan yang terkandung dalam Surah Al Ikhlas di salah satu kesempatan ceramahnya.

Dalam video yang diunggah pada Ahad (7/01/2021) itu, Kiai Said menjelaskan bahwa jika seseorang membaca Surah Al Ikhlas maka sudah dianggap seperti membaca sepertiga Al Qur’an. Hal ini juga sesuai dengan salah satu hadits yang berbunyi,

“Man qara a (qul huwallaahu ahad) fa ka annamaa qara a tsulutsal qur’aani.”

Artinya: “Barang siapa yg membaca ‘Qul huwallaahu ahad’ (Surah Al Ikhlas), maka seakan-akan dia telah membaca Sepertiga Al Qur’an.” (HR. Ahmad dan An Nasai).

Kiai Said menuturkan Surah Al Ikhlas (qulhuwallahu ahad) merupakan salah satu bagian dari tiga ajaran Islam, yaitu akidah, syariah, dan akhlak. Sehingga, pahala membacanya dapat dibandingkan dengan pahala membaca sepertiga Al Qur’an. “Kenapa-kenapa, karena agama itu ada tiga, akidah, syariah akhlak. Lha, qul huwallahu ahad itu apa? Akidah. Jadi kalau kita baca qulhu, berarti kita sudah membaca sepertiga quran,”  terangnya.

“Barang siapa membaca qulhu mendapatkan pahala seperti orang telah beriman kepada Allah, malaikat, kitabnya, para rasulnya dan diberi pahala juga seperti orang 100 mati syahid,” beliau menambahkan.

Kemuliaan Surah yang berjumlah empat ayat ini, lanjut Kiai Said, tidak terlepas dari salah satu kisah sahabat Nabi, yaitu Abu Dzar al Ghifahri. Beliau merupakan sosok yang dikenal oleh penduduk langit, sebab ketelatenannya membaca Surah Al Ikhlas.

“Sahabat Abu Dzar al-Ghifahri. itu di langit di alam malaikat itu terkenal, kenapa terkenal, karena rajin baca surah qulhu. Jadi kalau kamu pengen tekenal di tengah-tengah malaikat sana, sering-seringlah rajin-rajin baca qulhullah. Barang siapa rajin membaca qulhu, dikenal oleh malaikat, malaikat kenal semua itu,” jelasnya.

Rahasia Ayat Surah Al Ikhlas
Dalam kesempatan yang sama, Kiai Said juga sedikit menguraikan mengenai tafsir dua ayat pertama Surah Al Ikhlas. Pertama, surah ini bernama surah Al Ikhlas, turun di Kota Makkah, ayatnya ada empat sehingga bismillah-nya tidak dihitung. Qul huwallahu ahad. Setiap ada ayat quran yang ada qul itu berarti akan membawa berita penting. “Jadi kalo nggak penting nggak ada qul-nya. Tapi kalau pesan penting pasti ada qul,” jelas Kiai Said.

Bukan hanya berita penting, jika dalam suatu Surah terdapat kata qul, artinya semua orang juga memiliki tugas untuk menyampaikan pada orang-orang lain (dakwah). “Pertama, Allah kan perintah pada nabi, qul, Katakan Muhammad. Itu artinya kita juga yang jadi umatnya harus menyampaikan pada orang lain, dakwah-dakwah,” tuturnya.

Kedua, qul (katakan) bahwa huwallah (Allah satu). Jadi bukan Nabi Muhammad saja, semua umat Muslim juga diperintah, “qul atau katakan” untuk menyampaikan dakwah qul huwallah pada orang dan masyarakat, bukan hanya Nabi Muhammad. Huwallahu ahad, huwa itu dhomir “Dia”, kepercayaan di hati. .

Ketiga, Kiai Said menerangkan bahwa Allah itu Allahussomad, Allahuahad, Allah yang Maha Ahad. Allah itu adalah al ismu a’dhom, spesial hanya untuk Allah tidak untuk makhluk. Tidak boleh makhluk menggunakan kata Allah harus ada mudhofnya, Abdullah misalnya.

“Boleh nggak kamu dinamakan Allah? Tidak. Tapi kalau Latif, Karim, Ghofur, Rohim, boleh, boleh. Tapi kalau Allah dan Rahman, harus ada abdu, Abdullah hambanya Allah. Abdurahman, hambanya Maha Rahman. Sebab Rahman itu Dzat yang Maha belas kasih sayang, menyeluruh semua dikasih sayangi. Makhluk semua yang taat yang ga taat, yang muslim yang non-muslim, yang jahat yang kurang ajar, yang pinter, yang bodoh semuanya didapat rahmatnya Allah dari Rahman,” jelas Kiai Said.

Keempat, beliau juga menjelaskan makna kata ahad. Ahad maknanya tunggal, satu, tidak ada duanya. Ahad, beda dengan wahid. Ahad itu bukan permulaan perhitungan. Allah itu ahad, tidak memiliki juz (bagian), tidak murakab, dan Allah bukan jizim, bukan materi, bukan fisik, Allah juga bukan sifat, Allah adalah Dzatun mutlaqoh, Dzat Yang Maha Mutlaq, tanpa awal, tanpa akhir, tanpa permulaan, dan tanpa ujung.

“Makanya Allah itu satu-satunya yang Maha Mutlak, yang tidak butuh pasangan yang tidak memiliki lawan, tidak mempunyai padanan, hanya Allah. Jadi kalau kamu, pasti ada samanya walaupun secara keseluruhan beda. Ada saingan ada padanan,” pungkas Kiai Said.

Sumber : DakwahNU

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy