25.3 C
Indonesia
16 Juli 2019
Galeri Santri

Libur Pesantren yang Jarang Disadari

2007 yang lalu, aku sempat ngeyel dengan dengan salah satu rilis lagu Al-Abror yang bertajuk moleyan ponduk. Bagaimana tidak? dalam liriknya dia bilang:

Bila dapak palemanan
santre ponduk asaragaman
ate bunga mole akodungan
notop aurat asarongan
 
angguyan klambi epetampe
baddai tas ayu’ pas mole
kamakam keae kellu nyalase
baru ka pasar nyare leolle
 
dapak ka roma seongkem reng towa
se andik bhakal songkem mattow
 

Ini yang membuat saya ilfil, “songkem mattowa”. Sebab sejauh ini saya belum punya “mattowa” . Jadi rasanya belum cukup rukun songkem bagi satri yang belum punya mertua. Tapi tak apalah, saya kadang melengkapinya dengan “Songkem Tanangga Pacara”. Allah, padalah ini tidak boleh. Enggak, gak pernah saya bohong.

Setelah 2017, detik detik terakhir di pesantren, lirik ini benar-benar memukul perasaan saya. Ternyata selama ini libur pesantren jarang saya sadari sebagai saat yang tepat untuk menularkan apa yang didapati selama di pasantren. Maka, liburan hanya menjadi hura-hara ketika hanya diisi dengan perbuatan yang tak sepantasnya, seumpama mencium tangan, pipi dan seluruh “aroma” pacar belaka. Naudzubillah!

Selama menjadi santri, dalam benak saya, dalam pikir pacar saya (sekarang mantan) dan bahkan (mungkin) dalam pikirmu juga “liburan adalah waktu istirahat”. Walau sesekali juga “sok” merasa untuk mengabdi kepada masyarakat. Tapi realitanya ini sedikit sekali. Faktanya, setiap libur pesantren agenda utama saya dan juga pacar saya, (mungkin) juga kamu adalah “bermain”. Bermain apa saja, termasuk bermain HP, motor, dan sebagian juga “Abi Ummian”.

Bila dipikir kembali, sejatinya kita belum menyadari hakikat dari “Libur Pesantren” itu sendiri. Setidaknya, ada dua catatan penting yang pernah dituliskan Syaikh Zarnuji tentang bagaimana harusnya memosisikan diri sebagai santri yang sedang pulang kampung. Pertama, mengabdikan diri kepada orang tua. Orang yeng mengabdikan dirinya kepada orang tuanya dan bahkan kepada masyarakatnya, maka bermanfatlah ilmunya.

Kedua, kembali pada gurunya. Dalam hal ini saya memahaminya dengan “kembali kepada guru asalnya di kampung” belajar, mengingat pelajaran yang telah berlalu. Maka santri yang di liburannya menempuh jalan ini, kata Syaikh Zarnuji akan betambah ilmunya. Bertambah dalam artian pelajaran yang (mungkin kita remehkan) sangat mendasar sekali, bisa diingat-ingat kembali dan atau diperdalam lagi.

Dua hal ini kerap kali tidak disadari oleh santri yang sedang pulang kampung, berlibur dari pesantren. Karena itulah saya dan pacar saya (mungkin juga kamu) hanya mengisi liburan dengan “bermain”.

Nah, sebelum terlambat, barangkali penting bagi santri yang sedang pulang kampung untuk menyadari hal apa yang sepantasnya dilakoni oleh kita yang kadung diposisikan sebagai “santri” oleh masyarakat kita. Saya rasa jika kita tidak mampu mengamalkan nasihat Syaikh Zarnuji di atas, maka lakukanlah “kepantasan”.

Harap Maklum, dan selamat berlibur, bulan Mei.

Djakarta, 3 Mei 2019

Related posts

Qurban Simbol Solidaritas

PENA SANTRI

Dipercaya Karena Kualitas

PENA SANTRI

Ciri Khas Keilmuan Santri yang Mondok di Jawa Barat

admin

Pesantren Al-Khoziny Waspadai Maraknya Paham Radikal

PENA SANTRI

Catatan Jelang Seabad NU di Surakarta

PENA SANTRI

Literasi PP Annuqayah

PENA SANTRI

Leave a Comment