Flash Sale! to get a free eCookbook with our top 25 recipes.

Mabok Agama vs Mabok Komunisme

Mabok Agama vs Mabok Komunisme
Listen to this article
Lebih 400an tahun para wanita muslimah di Dompu, NTB memakai Rimpu Sampela yakni menutup seluruh tubuh bahkan wajahnya. Hanya orang yg mabok Komunisme saja yg mengatakan berhijab bagi muslimah adalah pengaruh Arab dan hanya trend setelah tahun 1980an. Netizen Muslim sebarkan..!

PENULIS mengawali sebuah tweet yang ditulis oleh Ustad Tengku Zulkarnain pada 15 Maret pukul 05.22 WIB yang disertai dengan gambar para perempuan yang memakai Rimpu Sampela. Menarik.

Rimpu Sampela merupakan pakaian tradisional yang berasal dari Nusa Tenggara Barat (NTB). Dilansir dari Kompas, rimpu merupakan pakaian adat Kabupaten Bima dan Kabupaten Dompu yang dipengaruhi oleh masuknya pengaruh Islam. Rimpu digambarkan dengan memakai sarung yang melingkar kepala dimana yang terlihat hanya pemakainya.

Bentuk rimpu ini bisa bermacam-macam, seperti perempuan yang sedang memakai cadar ataupun yang memakai jilbab. Hanya saja yang dipakai terbuat dari sarung. Menurut Rahman dalam Ayu Fitria:2019 Rimpu ini dikenakan setelah masuknya Islam yang ditandai dengan perubahan kerjaan menjadi kesultanan Islam yaitu pada abad XVII.

Dalam tulisan tersebut, ia juga menjelaskan bahwa Ajaran Islam masuk di Bima pada 15 Rabiul awal 1050 H bertepatan dengan 5 Juli 1640 M. Pembawanya adalah dua ulama asal Sumatera (Dato ri Bandang dan Dato ri Tiro) yang diutus oleh pihak kesultanan Gowa untuk syiar Islam di daerah Bima (Dou Mbojo).

Dalam beberapa pendapat yang lain, dijelaskan bahwa jilbab sampai di Indonesia pada abad ke-15 yang digunakan oleh para pahlawan perempuan seperti Rahmah El-Yunusiah, Nyai Ahmad Dahlan, H.R Rasuna Said, Tengku Fakinah, Cut Nyak Dien, dll. Hal tersebut juga dibuktikan dalam beberapa foto mereka menggunakan penutup kepala sebagai simbol penggunakan jilbab.

Dari berbagai perbedaan tentang sejarah penggunaan jilbab, tidak etis rasanya kalimat yang penuh kontroversial, berpotensi menimbulkan perpecahan tersebut diucapkan oleh seorang tokoh agama.

Meski demikian, menurut hemat penulis, pemaknaan jilbab erat sekali dengan interpretasi bermacam-macam, seiring dengan ajaran Islam yang mewajibkan menutup aurat  standart penggunaan jilbabpun kian ramai. Parahnya, standart pakaian ini dikaitkan begitu erat dengan kualitas keagamaan seseorang, dikaitkan dengan akhlak yang dimiliki seseorang. Parahnya ketika sampai pada pemahaman bahwa orang yang tidak menutup aurat (red:jilbab) dijadikan patokan menilai kualitas keagamaan yang dimiliki.

Pada tulisan yang lain, Lies Marcoes dalam artikel yang berjudul “merebut tafsir: de-syariatisasi jilbab” pada Mubaadalah 03/02/21 dijelaskan bahwa konteks keindonesiaan, jilbab merupakan fenomena sosial dan keagaman baru yang berkembang sebagai identitas politik pada masa revolusi Iran tahun 70-an. Terinspirasi dari Iran, di Indonesia sendiri jilbab mewujud menjadi fenomena yang rumit: tidak hitam putih dan mengarah terhadap kecenderungan kearah ortodoksi yang ditekankan sebagai aturan yang mengikat.

Mabok Komunisme vs Mabok Agama Menimbulkan Perpecahan

Redaksi mabok komunisme mengapa muncul? Dalam berbagai tweet yang dikritik oleh Ustad Tengku Zul selalu berkenaan dengan komunisme, China, tidak sejalan dengan Islam, dan label kafir lainnya? seolah-olah semuanya harus sejalan dengan Islam, hal kecil saja yang tidak sesuai dengan ajaran Islam maka seakan-akan haramlah negara Indonesia ini. Begitu kira-kira penulis memaknai fenomena yang terjadi.

Dikit-dikit komunisme, dikit-dikit kafir, dikit-dikit tidak sejalan dengan Islam. Barangkali kalimat semacam ini menjadi tepat untuk menggambarkan kelompok-kelompok yang selama ini phobia dengan apapun yang tidak ada dalam literatur keislaman yang dipahami.

Mengapa redaksi “mabok agama” inipun muncul? Barangkali ini juga berasal dari respons orang-orang yang memberikan statement tentang “mabok komunisme”. Berasal dari kegelisahan-kegelisahan melihat fenomena yang terjadi, narasi “mabok agama” ini sangat resah dengan melihat tingkah laku dari orang-orang yang gencar memproklamirkan “mabok komunisme”.

Dua term yang dimaksud yakni “mabok agama” dan “mabok komunisme” menjadi hal yang bertentangan, saling menuduh, dan menimbulkan dua kelompok yang akan merasa satu sama lain saling merasa benar sendiri antara satu dengan yang lain.

Tercipta sekat antara dua kelompok saling bersinggungan, lebih lanjut ketika membuat ketegangan sosial yang terjadi. Ini akan menggiring terhadap permasalahan baru, masyarakat awam yang justru taklid semakin dibuat bingung, sementara argument-argumen yang digencarkan begitu masuk akal. Padahal, selain masuk akal, perlu kebijaksanaan dalam memahami fenomena ini agar tidak menimbulkan keretakan. Wallahu a’lam.

Muallifah
Mahasiswi Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Bisa disapa melalui instagram @muallifah_ifa