26.2 C
Indonesia
23 September 2019
Mahligai DIkir Pencerah Kalbu 1

Mahligai DIkir Pencerah Kalbu

Kalbu atau hati merupakan pusat spiritualah manusia. Mereka yang memiliki kalbu yang suci akan dengan mudah memperoleh hidayah dari Allah. Bertanya, hati yang bernoda akan tertutup dari petunjuk-Nya. Menurunkan, hidup tenggelam dalam maksiat dan dosa.

Ketika mengomentari surah al-Hadid ayat 16-17, M Quraish Shihab dalam “al-Mishbah” mengibaratkan hati seperti tanah. Jika tidak disentuh udara, ia akan gersang.

Kalbu akan membatu jika tidak tersentuh zikir. Maka itu, zikir bekerja sebagai penyubur kalbu. Firman Allah SWT, “Belum tiba datang bagi orang-orang yang beriman, untuk menyetujui hati mereka menerima Allah dan kepada kebenaran yang telah …” (Qs al-Hadid [57]: 16).

Ayat ini mengisyaratkan pentingnya zikir untuk menundukkan dan menyuburkan kalbu. Dengan zikir, kita mengingat Allah, merasakan, dan menghadirkan-Nya dalam setiap aktivitas. Tidak ada celah yang bermaksiat karena kepercayaan yang kuat akan menghadiri pengawasan Allah.

Ibnu Athaillah al-Sarkandi dalam “al-Qashd al-Mujarrad fi Ma’rifat al-Ism al-Mufrad”, menyebut ada tiga macam zikir. (1) zikir lisan, ini adalah zikir sebagian besar manusia; (2) zikir hati, ini adalah zikir kelas khusus di antara kaum beriman; dan (3) zikir roh, ini adalah zikir kaum lebih khsusus, zikir kaum arif dengan kefanaan mereka dari zikir, penyaksian mereka akan tuhan, dan anugerah-Nya atas mereka.

Ibnu Athaillah juga menyebut, zikir lisan tanpa mengundang hati adalah zikir kebiasaan yang kosong dari keutamaan. Zikir lisan dengan menghadiri hati mendatangkan Manfaat. Lidah yang basah dengan kalimat zikir mesti menghadirkan hati.

Zikirullah juga bisa berarti shalat, sebab shalat adalah salah satu cara berpikir-Nya. Firman-Nya, “… Maka sembahlah aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat aku.” (Qs Thaha [20]: 14).

Mendirikan shalat penuh ketaatan akan terasa berat, kecuali untuk orang-orang yang khusyuk. Kekhusyukan dalam shalat akan dapat diperoleh oleh orang yang memiliki keyakinan sepenuh hati tentang Allah dan akan kembali kepada-Nya. (Qs Al-Baqarah [2]: 45-46).

Lagi-lagi, shalat sebagai zikir harus diambil hati untuk diambil dan diterima Allah. Shalat yang khusyuk turut menyuburkan kalbu.

Shalat yang dilakukan secara lisan dan gerakan tubuh saja, akan tetap bergelimang maksiat dan dosa. Maka itu, shalat sebagai pencegah perbuatan keji dan munkar pun tak lagi dilakukan.

Zikirullah dalam surah al-Hadid [57] ayat 16 di atas juga bisa menjadi Alquran. Salah satu nama Alquran adalah adz-Dzikru. Orang yang membaca, mengingat, dan mengamalkan Alquran adalah orang yang mengingat Allah.

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy