8 Agustus 2020
Hari pendidikan

Makna Pendidikan di Mata Masyarakat Modern

Saya mungkin akan terus ingat kata-kata, Jangan kau paksa ikan memanjat pohon seperti monyet. Yang kau dapat hanya kebodohan. Selamanya! Cukup sedih jika membayangkan pendidikan di belantara masyarakat Indonesia. Jika tidak diarahkan untuk menjadi pelayan kapitalis, peserta didik diarahkan menjadi manusia yang tercerabut daulatnya sendiri. Tetapi, itu semua tidak akan terjadi dalam kenyataan, hanya dalam bayangan yang akan tetap ada di tempatnya, asalkan pendidikan Indonesia melakukan perbaikan demi perbaikan.

Seperti yang pernah dikatakan oleh Murtadho Mutahari, manusia dalam komunitas sosial senantiasa belajar dari pengalaman demi pengalaman yang dilaluinya, untuk menemukan sistem sosial yang paling sesuai dengan kebutuhan zaman dan manusia itu sendiri. Sistem sosial ini juga termasuk sistem pendidikan yang senantiasa diharapkan menemukan momen terbaiknya untuk menghasilkan peradaban yang makin baik dan baik di setiap periodenya. Seperti maksud dari Azyumardi Azra, bahwa pendidikan berperan aktif mengonstruk peradaban di setiap periode zaman.

Harapan besar pada pendidikan tak bisa terwujud jika entitas pendidikan tak diperhatikan dan dipandang penting dalam dinamika perkembangan masyarakat. Kadang, jujur, saya masih menemukan kalimat ketidakpercayaan, Untuk apa sekolah tinggi-tinggi, toh dia bakal menjadi pengurus dapur, sumur dan kasur. Masih banyak sekali kalimat-kalimat yang bernada sama dengan kalimat di atas, hanya saja tak perlu dituliskan semua di sini. Ini mengindikasikan pendidikan mengalami eror enggine sehingga penumpangnya membikin statement seperti di atas.

Pendidikan yang mengalami eror enggine berakibat pada makna pendidikan yang merosot prestasinya. Makna pendidikan, yang seharusnya, sebagai jalan mengonstruk peradaban supaya lebih baik menjadi tidak dipercaya oleh masyarakat. Makna pendidikan, kemudian, bertengger pada peringkat bawah, entah ke berapa, yang membikin banyak orang berpersepsi buruk terhadapnya.

Sebenarnya, jika kita mau mengidentifikasi makna pendidikan dalam berbagai pandangan masyarkat, akan dijumpai beberapa pengertian. Makna pendidikan dalam pandangan masyarakat dapat dijelaskan dari poin besar: pertama, pendidikan adalah sesuatu yang penting; kedua, pendidikan adalah sesuatu yang tidak penting. Untuk memahami lebih dalam identifikasi makna pendidikan di lautan makna ini akan dijelaskan di bawah ini.

Baca Juga  Guru Dan Murid, Siapakah Yang Lebih Berkuasa…..?

Memaknai Pendidikan di Lautan Makna

Pertama-tama, perlu ditandaskan terlebih dahulu bahwa makna pendidikan secara luas adalah siapa pun yang mau melaksanakan proses pendidikan kepada yang terdidik. Artinya, pendidikan tidak selalu dimaknai sebagai bercorak formal, seperti sekolah formal. Pendidikan bisa dilakukan oleh siapa pun, kapan pun dan di mana pun. Yang terpenting syarat pendidikan terpenuhi; yaitu ada yang melakukan dan ada yang menerima proses perlakuan. Demikian makna pendidikan yang bisa dimiliki oleh siapa pun; yang intinya menjustifikasi dirinya melakukan proses dan upaya pendidikan.

Melanjutkan proposisi di awal, bahwa pendidikan dalam poin besarnya dapat diidentifikasi sebagai penting’ dan tidak penting, maka dalam sub judul ini akan dijlentrehkan sedikit terkait dinamika yang melatarbelakangi identifikasi. Tentu saja dengan meninggalkan makna pendidikan secara luas, dan mengambil sebuah definisi pendidikan untuk disepakati bersama: pendidikan adalah upaya secara sadar untuk membimbing manusia melalui pembelajaran supaya mampu menggunakan segenap potensinya untuk mencapai tujuan hidup. Dalam pendidikan ada guru dan murid, ada sistem pendidikan seperti kurikulum dan aturan pendidikan. Biasanya, dilakukan dalam bingkai lembaga pendidikan (yang formal).

Untuk identifikasi pertama terkait makna penting pendidikan bisa dinisbahkan pada upaya masyarakat untuk membendung berbagai ketidaknormalan suatu norma sosial dan norma yang melingkupinya, seperti norma agama. Artinya, pendidikan menjadi penting karena digunakan sebagai upaya mengembalikan suatu komunitas masyarakat kepada kondisi sesuai norma. Pentingnya pendidikan menjadi harga mati, yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Orientasi seperti ini biasanya mewujud pada komunitas sosial yang mengikatkan dirinya secara kuat pada sampul-sampul norma.

Sedangkan, untuk identifikasi kedua terkait makna tidak penting suatu pendidikan bagi masyarakat disandarkan pada kekecewaan mendalam pada pendidikan. Sebagaimana seharusnya, secara merata masyarakat memandang penting pendidikan, tetapi, pasca pendidikan berlangsung, hasil tidak sesuai dengan keinginan suatu masyarakat. Maka, kesimpulan dan sikap yang diambil lebih pada ‘tidak percaya’ pada pendidikan sebagai upaya mendidik masyarakat menuju pada sesuatu yang lebih baik.

Baca Juga  Gairah Suci Manusia

Sementara makna pendidikan dalam konteks hari ini, yang sering dinisbahkan pada sekolah atau pendidikan formal, juga mengalami hal serupa, sesuai identifikasi awal. Bahwa, banyak masyarakat percaya dan yakin terhadap pendidikan, bisa mengembalikan masyarakat pada norma yang diharapkan. Tetapi, dalam konteks modern seperti sekarang, orientasi pendidikan tidak hanya dalam problem mengembalikan pada norma normal suatu komunitas mayarakat, pendidikan justru membikin norma tersendiri, khususnya karena pengaruh zaman modern yang cukup positivistik.

Orientasi pendidikan menjadi matrealistik, bukan sekadar roh (norma masyarakat). Jadi, masyarakat menyekolahkan anak-anaknya bisa saja pada dua arah: menjadi bernorma dan berpunya harta (matrealistik). Tetapi, bisa saja hanya sebagian, yaitu berorientasi penuh pada matrealistik. Artinya, sekolah hanya untuk mencari kerja dan mendapatkan uang.

Pandangan ini berimplikasi serius pada berbagai sikap mayarakat di akar rumput. Sekolah atau lembaga pendidikan yang ada tidak lagi menjadi primadona dalam arti roh, ia menjadi primadona dalam arti matrealistik. Sudah dapat dipastikan, jika banyak sekolah kemudian melakukan perlombaan merias dirinya dengan gerlimang harapan matrealistik, dibanding moralitas, norma atau roh. Masyarakat juga ikut berpandangan seperti ini; mereka terperdaya untuk menyekolahkan anaknya pada sekolah yang memberikan janji paling menggiurkan pada dunia matrealistik.

Tetapi, tidak semua naas seperti dijelaskan di atas. Sebagian masyarakat juga masih ada yang percaya bahwa moral, norma dan roh yang ditawarkan dalam pendidikan adalah orientasi paling prioritas dibanding orientasi matrealistik. Contoh sederhana ini mungkin bisa dilihat pada dunia pendidikan pesantren. Dunia pesantren, seperti pertama kali berdiri selalu konsisten pada prinsip moralitas dan norma serta roh yang diinspirasikannya dari islam.

Baca Juga  Identitas Agama-agama Samawi dalam al-Quran

Kontestasi antara yang penting dan tidak penting, yang kemudian ditambahkan dengan orientasi moral, norma dan roh dengan orientasi matrealistik sangat kerasan akhir-akhir ini. Terutama karena pendidikan hari senantiasa digaungkan di setiap waktu; termasuk dengan berbagai tawaran-tawaran kecenderungannya. Alhasil, pendidikan segera melebur menjadi lautan makna yang menggulung pasir pantai (masyarakat).

Sebenarnya, kontestasi ini menandakan bahwa signifikansi pendidikan dalam kehidupan umat manusia menjadi sangat kentara. Terutama seperti sebuah kebutuhan yang tak bisa dilepaskan dari perjalanan sejarah umat manusia. Dalam ungkapan pertama, bahwa masyarakat memang setiap waktu selalu belajar pada pengalaman sehingga mereka menemukan sistem sosial, jika dalam konteks ini sistem pendidikan, yang sesuai dengan harapan dan hajat hidup manusia.

Pernyataan Murtadho Mutahari menemukan relevansinya ketika kita melihat klasifikasi makna pendidikan di masyarakat. Di mana jika kita melihat hasil identifikasi terdapat kelompok dengan pandangan terhadap pendidikan: penting dan tidak penting. Kemudian disusul pada orientasi pendidikan itu sendiri: orientasi moral, norma dan roh, serta orientasi matrealistik.

Identifikasi ini sesuai dengan kebutuhan masyarakat hari ini (modern) yang semakin memperjelas signifikansi pendidikan dalam suatu komunitas masyarakat. Begitulah pendidikan dan segala makna dan pemaknaannya, yang sangat beragam. Sedangkan, sistem pendidikan akan berpengaruh pada suatu peradaban: apakah ia akan diarahkan pada orientasi moral, norma dan roh atau sebaliknya, pada orientasi matrealistik.

Kebumen. Sabtu, 2 Mei 2020.

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy