26.1 C
Indonesia
18 Agustus 2019
Marx dan Amanat Gelunggung 1

Marx dan Amanat Gelunggung

 
Amanat Gelunggung dan Marx adalah dua Sosoilog yang pada memliki konsep masyarakat Ideal. Sumbangan Marx (1818-1883) bagi sosiologi terletak pada teorinya mengenai kelas. Marx berpandangan bahwa sejarah masyarakat manusia merupakan sejarah perjuangan kelas. Menurut Marx, perkembangan pembagian kerja dalam ekonomi kapitalisme menumbuhkan dua kelas yang berbeda, yaitu kaum proletar dan kaum borjuis.
Kaum proletar adalah kelas yang terdiri atas orang-orang yang tidak mempunyai alat produksi dan modal sehingga dieksploitasi untuk kepentingan kaum kapitalis. Kaum borjuis (kaum kapitalis) adalah kelas yang terdiri atas orangorang yang menguasai alat-alat produksi dan modal. 
Menurut Marx, pada suatu saat kaum proletar akan menyadari kepentingan bersama mereka sehingga bersatu dan memberontak terhadap kaum kapitalis. Mereka akan memperoleh kemenangan yang akan mengakibatkan terhapusnya pertentangan kelas sehingga masyarakat proletar akan mendirikan masyarakat tanpa kelas.
Marx memandang ada kekuatan supranatural yang melatari terbentuknya suatu peradaban masyarakat. Yaitu apa yang oleh Marx disebut sebagai Materialisme Dialektis. Semua orang dalam susunan masyarakat dibentuk pola pikirnya akan kpentingnya meteri yang melatar belakangi keberadaanya yang sekarang.
ini berbeda dengan Amanat Gelungung. Dalam kakawinnya, Amanat Galunggung membeberkan ajaran moral dan aturan sosial–sebagaimana Marx–yang harus dipatuhi di tengah-tengah masyarakat utamanya urang Sunda, sebagai latar balakang Amanat Gelunggung. Bahkan, dalam naskahnya, Amanat Gelunggung, sebagaimana yang tertulis dalam baris-baris kalimat yang menyatakan pentingnya masa lalu sebagai “tunggak” (tonggak) atau “tunggul” untuk masa berikutnya, maka dari itu seyogyanya generasi kini harus tetap menghormati nilai-nilai yang diwarisi generasi sebelumnya. 
Berikut petikan dan terjemahannya:
Hana nguni hana mangke
tan hana nguni tan hana mangke
aya ma beuheula aya tu ayeuna
hanteu ma beuheula hanteu tu ayeuna
hana tunggak hana watang
tan hana tunggak tan hana watang
hana ma tunggulna aya tu catangna


(Ada dahulu ada sekarang
bila tidak ada dahulu tidak akan ada sekarang
karena ada masa silam maka ada masa kini
bila tidak ada masa silam tidak akan ada masa kini
ada tonggak tentu ada batang
bila tidak ada tonggak tidak akan ada batang
bila ada tunggulnya tentu ada catangnya)
Jangan menjadi bangsa yang ahistoris !
Amanat Gelunggung dan Marx secara sosiologis memiliki kesamaan dalam memosisikan histori (sejarah) sebagai motivasi yang melatar belakagi suatu keadaan. Namun demikian, antara keduanya memiliki sisi-sisi perbedaan.
Dalam sosiologi Marx kondisi yang terjadi di masa ini adalah hasil bentuk dialektika manusia dengan materi-materi yang melingkupi gerak hidup manusia. Ajaran ini kerap kali disebut sebagai Materialisme Dialektika Historis (MHD). Bahwa keadaan manusia ditentukan (tidak dapat dipisahkan) dengan pergulatan dialektika materialis yang  melingkupinya.
Secara lebih detil konsep Materialisme Dialektika Historis (MDH) Marx dapat dirinci sebagaimana berikut.
Materi adalah satu-satunya landasan hidup. Dan materialisme dipahami sebagai kerangka filosofis kehidupan berbangsa dan bernegara. Materialisme adalah satu-satunya dasar, pondasi, latarbelakang yang—segala sesuatu keadaaan apapun—tidak dapat dipisahkan dengan materi itu sendiri. Gampangnya, MDH Marx mengatakan bahwa Semuanya bergantung pada meteri sebagai kerangka filosofisnya.
Dialektika dalam (MDH) Marx diposisikan sebagai kerangka metodologi(nya) dari materialisme itu sendiri. Maka, secara sosiologis dapat dikatakan bahwa masyarakat yang ada ini sebab adanya dialektika meteri (persoalan materi yang terus saling berdialektika satu sama lain).
Sedangkan yang dikaksud historis (Sejarah) dalam MDH Marx dipahami sebagai praktek hidup. Praktek hidup (histori ini) adalah bentuk pengejawantahan dari dialektika materi (material dialektis) itu sendiri.
Konsep ini tentu berbeda dengan ideal tipe Amanat Gelunggung. Dalam Amanat Gelunggung, Sejarah dipahami sebagai rentetan waktu yang saling terkait dan saling memberikan refrensi antara satu fase dan fase selanjutnya. Suatu fase di masa lalu harus menjadi landasan yang memberi arti, memberi penguruh pada fase sekarang. Dan fase sekarang untuk fase yang akan datang. Maka Amanat Gelunggung memiliki kesadaran sejarah yang sangat tinggi yang disebut dengan ajaran moral.
Ajaran moral, kesadaran sejarah dan penghormatan kepada pembuat sejarah masa masa sebelumnya menjadi sangat penting karena menurut Amanat Gelunggung sejarah adalah Refrensi dan kode etik. Sejarah adalah harga diri. Sejarah adalah bukti eksistensi suatu masyarakat itu sendiri.
Dalam Amanat Gelunggung ada konsep trilogi pemegang kekuasaan sebagai integrator sosial. Pertama, Rama. Yaitu tokoh masyarakat yang memiliki kekuatan spiritualitas tinggi. Kedua, Resih, adalah orang berilmu, cerdik pandai orang yang ahli dalam ilmu agama. Dan ketiga, Ratu. Yaitu penguasa yang bertanggungjawab atas kesejahteraan rakyat. Ketiga elemin inilah yang senantiasa menjaga integrator sosial.

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy