21 September 2020

Masa Tua Seorang Jenderal

Lama engkau terpekur di depan cermin. Menatapi separuh badanmu dalam cermin yang kian lapuk dimakan usia. Rambutmu yang beruban, kulitmu yang kian lentur. Makanmu, cara berpakaianmu, tempat tidur dan doktermu menandakan bahwa engkau adalah orang terdidik dan tidak kurang suatu hal apa pun. Tapi matamu, mata sayu yang dilihat di depan cermin itu, mata cemas yang kau pandangi penuh iba, adalah ungkapan sederhana dari kesepian-kesepian yang selama ini dibiarkan memeluk harimu penuh ego. Adalah ungkapan sederhana dari kecemasan-kecemasan yang selama ini mengepungmu perlahan-lahan. Dan engkau hanya bisa pasrah meski sesekali berusaha.

Lama engkau terpekur di depan cermin, cermin yang kau beli dari gaji bulanan seorang jenderal. Yang selalu dikunjungi wajah istrimu bila hendak bersolek. Betapa, betapa panas di balik dadamu berletupan merindukan masa lalu itu! Masa saat anak-anak masih merengek minta gendong. Masa saat anak-anakmu berebut pelukanmu saat kau pulang kerja. Saat si bungsu bertengkar kecil masalah mainan, dan engkau membawanya ke kios di samping rumahmu. Engkau kian layu dimakan kenangan, dilumat kerinduan, dirundung kesedihan dan kecemasan.

Lama engkau terpekur di depan cermin. Cermin yang selalu membuatmu melongokkan kepala ke masa lalu. Sebelum ditinggal istri, sebelum kunyahmu tak lagi sempurna, sebelum penyakit-penyakit yang obatnya kau beli ke dokter menggerogotimu perlahan-lahan hingga engkau tertatih berjalan, sesak pernapasan. Sebelum urat-uratmu mulai mengendur, sebelum anak-anakmu besar dan lupa arti senja saat sore, sebelum langkah kakimu mulai limbung bila tak ikuti langkah gedung, sebelum engkau pandangi cermin dan kau temui wajah orang lain selain dirimu, lalu kau menangis sendirian, menyadari wajahmu yang tak lagi rupawan dan rambutmu yang kian beruban. Engkau menangis, air hangat di lubang matamu membasahi kulit keriputmu satu per satu. Engkau menangis, benar-benar merasa bahwa engkau adalah lelaki cengeng.

Lama engkau terpekur di depan cermin, menikmati hari-hari yang dingin dan penuh angan. Saat sedang sendiri begitu, engkau suka memikirkan kematian. Oh, di manakah sekarang berada. Sampai di mana ia berjalan menuju rumahku? Kira-kira, saat Izrofil datang menjemput, akan seperti apakah kematianku kelak? Akan seperti apakah sedih anak-anakku kelak? Begitu selalu yang engkau gundahkan, yang engkau bimbangkan. Apalagi masalah warisan. Padahal engkau telah sadar itu urusan dunia.

Dari seberang rumahmu, seorang muazin memanggil umat muslim lewat pengeras suara. Hatimu terasa pilu, sendu di matamu adalah urat-urat yang dulu kekar dan tiba-tiba kendur. Engkau menyiapkan diri, meraih kopiah di atas televisi, bergegas menuju deretan jalan yang penuh kenangan. Di simpang jalan, hatimu begitu teduh melihat lalu-lalang orang-orang menuju masjid. Dan engkau terus berjalan sambil bermunajat pada Tuhan. Engkau memang telah berhaji, tapi engkau merasa belum sepenuhnya tenang.

Besoknya, malam tiba-tiba turun dengan tergesa, rembulan murung. Engkau berjalan-jalan sendiri dalam rumah besar yang sepi. Pembantu yang seharian mengurusi rumah dan aturan gizimu tentu telah pulas. Saat tidurmu tak nyaman di malam hari, engkau suka berjalan di ruang tamu, memandangi foto-foto masa lalu saat masih tampan dan gagah. Seragam itu, seragam yang telah menggantung di balik pintu lemari selama bertahun-tahun. Engkau berlinang lagi. Betapa sepi di masa tuamu benar-benar mencabik ulu hatimu. Dan derap langkah anak-anakmu, cucu-cucu yang manis meski terlihat asing, istrimu yang begitu kau cinta, menyerbu dalam pikiran. Engkau kalut.

Malam itu kau berpikir keras sebelum menelepon anak sulungmu. Tiba-tiba engkau begitu ingin sekali memeluknya, bertemu dengannya, membincangkan banyak hal dengannya. Namun berulang kali kau tuju, panggilanmu selalu dijawab operator atau halo-halo Bandung. Engkau mengeluh, semakin sesak suatu hal di balik dadamu yang rapuh. Namun saat sedang bicara di telepon, engkau bahkan tak mampu untuk sekadar mengungkapkan segala resah yang menggulung di balik hatimu. Seperti percakapan bulan lalu. Engkau tak mampu.

“Ayo bicara sama Eyang,” bisik anakmu.

Engkau dengarkan si bungsu saat membujuk cucumu untuk mau bicara. Engkau bayangkan cucumu bergeming, menggeleng dengan rambut ekor kudanya yang menggoyang. Di sini, kau hanya tersenyum, membayang bahagia. Cucu-cucu yang gembul itu seharusnya telah menemani hari tuamu. Seharusnya telah membahagiakanmu dengan caranya, dengan tingkahnya. Seperti sinotron-sinetron televisi yang lihat tiap hari. Matamu kian panas, dadamu sesak. Ada wajah istrimu yang tiba-tiba mengapung pada setiap pandang matamu bertumpu. Ada air yang tiba-tiba menyembul dari ujung mata tuamu.

“Ayah sehat? Kalau kurang apa Ayah langsung bilang, ya?” Pertanyaan itu, pertanyaan yang agaknya kurang disukai olehmu. Yang selalu engkau jawab—iya dan tidak—saja. Bahkan engkau tak mampu untuk sekadar berucap rindu, bertanya kapan pulang, bertanya sehatkah suaminya, bertanya bagaimana sekolah cucumu, bertanya kapan nyekar bareng ke makam Ibu, hingga telepon ditutup dan engkau kembali merasakan sesak yang meletup-letup. Masa tuamu, masa tua yang menyedihkan. Masa tua yang dirundung kesepian. Dan engkau kesakitan sendirian.

Seperti malam itu. Malam ini, engkau bimbang untuk menelepon salah satu di antara ketiga anakmu yang berada di luar kota. Sekalipun rindu yang mencabik ulu hatimu tak tertangguhkan kau rasa perih. Engkau meringis melihat masa tuamu sendiri.

Di rumah besar itu engkau terperangkap sepi yang kian mengakar. Setiap hening di penghujung malam, sambil menunggui Subuh jatuh di teras rumah, engkau duduk di atas kursi putar hitam, di samping jendela. Kursi yang diminta istrimu saat kalian hendak menikah. Sambil memandangi gemerlap lampu perumahan dari lantai dua itu, engkau juga suka membuka-buka album kenangan saat sedang perjuangan, dalam medan pertempuran, saat sedang latihan, dan saat pose bareng teman-temanmu di lapangan. Seragam itu, seragam yang sekaligus menghantarkanmu pada istri dan anak-anakmu.

Kunjungan-kunjungan putrimu selama enam bulan sekali, atau selama tiga bulan sekali, tak lebih sebagai tamu-tamu asing dari luar kota yang kebetulan numpang bermalam di rumah teman karena menempuh perjalan jauh. Engkau yang seharusnya telah akrab dengan cucu-cucumu, tawa-tawa mungil itu malah menjadi orang asing di sekitarmu, di telingamu. Tingkah lucu cucu-cucumu malah menjadi hiburan yang terus kau rindukan namun tak mampu kau tangkap dalam sebuah dekap. Lagi-lagi, seperti saat kau menonton televisi. Engkau benar-benar menjadi eyang yang kesepian.

Engkau adalah tua renta yang kesepian. Rumah nan besar itu ternyata tak mampu menyenangkan hatimu. Saat panas punggungmu sebab terus berbaring, engkau membuka kulkas, dan kenangan tiba-tiba menyeruak begitu dingin menyentuh kening, menyentuh kelopak matamu yang rapuh, yang sayu. Ada yang terjatuh dari sudut matamu. Engkau tak kuasa, berjalan tertatih. Meraih gagang telepon. Rindu. Dorongan itu adalah bernama rindu pada anak-anakmu.

“Sekar, kamu kapan pulang?” Suaramu serak.

“Ayah sehat? Kenapa belum tidur?” Seketika binar di matamu meletup. Riang.

“Iya, belum. Kamu minggu depan pulang, ya?” pintanya pada si bungsu, setelah pertanyaan pertama belumlah dijawab.

“Aku pulang minggu kedua agak telatan ya, Yah. lagi banyak kerja, nih.” Keluh putrimu. Engkau teringat. Semasa SMA dia adalah putrimu paling manja, putrimu paling cerewet.

“Oohh…. Iya.” Keluhmu berat. Mencoba memahami untuk kesekian kali.

“Anak-anak baik, Yah, aset-aset lancar, berkat doa Ayah,” seru putrimu girang di kejauhan sana. Sementara engkau, engkau bersandar di kursi putar itu sambil menahan sesak yang kian menggebu. Engkau merasa, kenapa menahan air mata saat di balik dadamu bergemuruh panas lebih berat daripada menahan lapar dalam perut tuamu?

“Yah, jangan lupa check up, aku harus tidur, besok gantikan Mas Adlan rapat.” Dan percakapan berakhir dengan salam.

Saat engkau terbatuk-batuk usai telepon malam itu, pembantu rumah yang bertahun-tahun bekerja pada keluargamu, tetiba menyodorkan segelas air putih dan menyarankanmu untuk segera istirahat. Engkau mengangguk seraya menerima gelas itu, meneguknya, lalu menyuruhnya pergi.

Tengah malam selepas telepon itu, engkau terbangun dari mimpi yang belum usai. Mimpi yang mengantarkanmmu pada kecemasan-kecemasan berikutnya. Engkau segera meneguk air putih dan menekuri diri. Engkau lagi-lagi merenung, bertanya pada diri sendiri. Bila malaikat itu tiba, bagaimana rupa kematianku nanti? Siapa yang akan mengubur, memandikan, dan mensalatkan? Tubuhmu bergetar, takut. Takut kiamat kecil itu tiba-tiba datang dan engkau belumlah rapi menyambutnya, belumlah cukup amalmu yang kau tanam selama rentang usiamu nyaman. Air yang kau simpan di lubang mata tuamu menetes satu per satu. Begittu pilu engkau sendiri di rumah besar itu. Sambil memandangi foto-foto istrimu, foto-foto anak-anakmu. Hatimu kian rapuh, sepi.

Engkau setengah kesal setengah menyesal, karena lebih dulu mengajarkan anak-anakmu mengembangkan aset dan teknologi untuk tetap produktif dari pada belajar menghargai masa tua. Engkau setengah kesal setengah menyesal, karena lebih dulu mengajarkan anak-anakmu menabung uang untuk masa tua. Hingga kini, entah untuk siapa aset-aset itu. Engkau takut, amal apakah yang engkau tanam selagi muda. Engkau kalut, betapa dulu, sebenarnya engkau tak perhitungan soal pahala. Pikirmu kecut. Kalaulah sempat, engkau sumbangkan sandal untuk tempat ibadah agar menjadi amal jariahmu, kalaulah sempat engkau membeli sayur pada nenek yang luntang-lantung dan melebihkan uang padanya agar menjadi sedekahmu. Kalaulah sempat, di hari suci yang hanya datang satu kali satu tahun engkau makan bersama-sama di panti asuhan, agar engkau lebih paham bagaimana cara menghargai kemewahan. Kalaulah sempat, engkau belikan semen untuk pembangunana-pembangunan sekolahan, musala, dan lainnya. Kalaulah sempat. Tapi nyatanya kesempatan-kesempatan itu begitu terlambat. Dan engkau menyadarinya hari ini. Hari di mana masa tuamu sepi.

Selama satu minggu itu hatimu didesak pilu. Matamu lumur sayu. Engkau menyamai bunga-bunga yang seharian dipanggang terik dan tak mampu bangun dari layu. Ketiga anakmu yang sukses tak mampu menepikan hampa dan sepi di sudut hatimu, di lubang matamu. Rumah besar ber-AC tak mampu mengendapkan segala kenangan yang semakin hari semakin dingin. Cucu-cucumu yang gembul tak mampu mengusir hampa di matamu yang kian menganga.

Satu minggu itu, engkau lebih berdiam, lebih merenung, hingga dalam kemurungan engkau tersentak dari tidur. Anakmu, cucu-cucu lucu yang kau sayangi, yang ingin kau peluk satu-satu, tiga menantumu datang dengan wajah layu, dan engkau melihat laki-laki renta itu sedang terpejam, terbaring lemah di atas ranjang mengenakan baju koko putih dengan rambut juga memutih. Barangkali itu adalah dirimu. Bisik seseorang di telingamu, yang entah siapa. Engkau tak sempat memperhatikan siapa yang membisikimu hal itu, engkau tak peduli karena engkau lebih rindu anak-anakmu. Engkau melihat mereka yang terduduk dengan wajah sayu. Anak-anakmu yang tak sempat kau peluk dalam keadaan senang. Anak-anakmu yang, kau berikan segalanya semenjak kecil. Lalu engkau sadar betul, sedari kecil engkau tidak punya saudara kembar. Engkau adalah satu-satunya lelaki di antara dua kakak perempuanmu yang sudah meninggal. Engkau sadar betul, laki-laki itu begitu mirip denganmu. Baju koko itu, sarung kotak-kotak dan kopiah putih itu. Engkau juga sadar betul, engkau adalah laki-laki pertama yang lahir dari rahim ibumu. Bahkan, engkau tidak tahu, bagaimana Izroil memungut nyawamu. [*]

Annuqayah, Juni 2019

 
**Penulis
 
 
Nisa ayumida Merupakan nama pena dari Roydatun Nisa’. Mahasiswa Instika Guluk-guluk Sumenep. Tinggal di PP. Annuqayah Lubangsa Putri-Frasa. Salah satu nominator 12 cerpen pilihan Festival Sastra Bengkulu 2019. Alamat lain: taniyanlanjhangblogspot.com

 

 

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy