27 C
Indonesia
27 Juni 2019
Agama

Maulid Nabi Perspektif Al-Qur’an dan Sunnah


Peringatan maulid Nabi Muhammad SAW adalah acara rutin yang dilaksanakan oleh kaum muslimin untuk mengingat, mengahayati dan memuliakan kelahiran Rasulullah. Menurut catatan Sayyid al-Bakri, pelopor pertama kegiatan maulid adalah al-Mudzhaffar Abu Sa`id, seorang raja di daerah Irbil, Baghdad. Peringatan maulid pada saat itu dilakukan oleh masyarakat dari berbagai kalangan dengan berkumpul di tempat. Mereka bersama-sama membaca ayat-ayat Al-Qur’an, membaca sejarah singkat kehidupan dan perjuangan Rasulullah, melantuntan shalawat dan syair-syair kepada Rasulullah dan memenuhi pula dengan ceramah agama. [Al-Bakri bin Muhammad Syatho, I`anah at-Thalibin , Juz II, hal 364]

Peringatan maulid Nabi seperti mencerminkan tidak pernah terjadi pada masa Rasulullah juga sahabat. Karena alasan inilah, sebagian kaum muslimin tidak mau merayakan maulid Nabi, bahkan klaim bid’ah mesin perayaan maulid. Menurut kelompok ini seandainya perayaan maulid memang termasuk amal shaleh yang dianjurkan agama, mestinya pesta lebih banyak, mengerti dan juga menyelenggarakannya. [Ibnu Taimiyah, Fatawa Kubra , Juz IV, hal 414]. 

Oleh karena itu, penting untuk memperjelas hakikat perayaan maulid, dalil-dalil yang membolehkan dan memberi umpan terhadap yang membid’ahkan. 


Bukan Bid’ah yang Dilarang

Telah banyak terjadi kesalahan dalam memahami hadits Nabi tentang masalah bid’ah dengan mengatakan bahwa setiap perbuatan yang belum pernah dilakukan pada masa Rasulullah adalah perbuatan bid’ah yang sesat dan pelakunya akan dimasukkan ke dalam neraka dengan berlandaskan pada hadist berikut ini,

وإيَّاكم ومحدثات الأمور ؛ فإنَّ كلَّ محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة


Artinya: Berhati-hatilah kalian dari sesuatu yang baru, karena setiap hal yang baru adalah bid’ah dan setipa bid’ah adalah sesat ”. [HR. Ahmad No 17184]. 


Pemahaman Hadits ini bisa salah aliran tidak lupa dengan Hadits yang lain, yaitu,


من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد


Artinya: siapa saja yang membuat sesuatu yang baru dalam masalah kami, yang tidak bersumber darinya, maka dia ditolak. [HR al-Bukhori No 2697] 


Ulama menjelaskan bahwa yang berhubungan dengan أمرنا dalam hadits di atas adalah urusan agama, bukan urusan duniawi, karena dalam masalah dunia berlaku selama tidak bertentangan dengan syariat. Sedangkan kreasi apa pun dalam masalah agama tidak diaplikasikan. [Yusuf al-Qaradhawi, Bid`ah dalam Agama , hal 177] 


Dengan demikian, maka makna hadits di atas adalah sebagai berikut, 


“Barang yang berkereasi dengan memasukkan sesuatu yang nyata bukan agama, lalu diagamakan, maka sesuatu itu merupakan hal yang ditolak”


Dapat dipahami bahwa bid’ah yang dhalalah (sesat) dan yang mardudah (yang tertolak) adalah bid’ah diniyah. Namun banyak orang yang tidak bisa membedakan antara amaliyah agama dan instrumen keagamaan. Sama dengan orang yang tidak memahami format dan isi, sarana dan tujuan. Akibat ketidakpahamannya, maka dikatakan bahwa perayaan maulid Nabi sesat, membaca Al-Qur’an bersama-sama sesat dan seterusnya. Perayaan perayaan maulid berupa format, sementara hakikatnya adalah bershalawat, membaca sejarah perjuangan Rasulullah, melantunkan ayat Al-Qur’an, berdoa bersama dan kadang-kadang dengan ceramah agama yang mana perbuatan-perbuatan semacam ini sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an atau Hadits .


Dan lafadz كل pada hadits tentang bid’ah di atas adalah lafadz umum yang ditakhsis. Dalam Al-Qur’an juga ditemukan beberapa lafadz كل yang keumumannya di takhsis. Salah satu contohnya adalah ayat 30 Surat al-Anbiya`:


وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَي


Artinya: Dan kami jadikan segala sesuatu yang hidup dari udara. (QS al-Anbiya ‘: 30) 


Kata-kata yang ada pada ayat ini tidak dapat diartikan bahwa semua benda yang ada di dunia ini berasal dari udara, tetapi harus diartikan beberapa benda yang ada di bumi ini tercipta dari udara. Sebab ada benda-benda yang lain yang bukan dari udara, namun dari api, terang Allah dalam Surat ar-Rahman ayat 15:


وَخَلَقَ الْجَانَّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَار


Artinya: Dan Allah menciptakan jin dari percikan api yang menyala. 


Oleh karena itu, tidak semua bid’ah dibuangi sesat dan pelakunya masuk ke neraka. Bid’ah yang sesat adalah bid’ah diniyah, yaitu meng-agamakan sesuatu yang bukan agama. Seperti perayaan maulid Nabi rig termasuk bid`ah yang sesat dan melarang karena yang baru saja format dan instrumennya. 


Berkenaan dengan hukum perayaan maulid, As-Suyuthi dalam al-Hawi lil Fatawi menyebut redaksi sebagai berikut:


أصل عمل المولد بدعة لم تنقل عن السلف الصالح من القرون الثلاثة, ولكنها مع ذلك قد اشتملت على محاسن وضدها, فمن تحرى في عملها المحاسن وتجنب ضدها كانت بدعة حسنة “وقال:” وقد ظهر لي تخريجها على أصل ثابت.


“Hukum Asal petunjuk maulid adalah bid’ah yang belum pernah dinukil dari kaum Salaf saleh yang hidup pada tiga abad pertama, namun demikian petunjuk maulid terbukti bermanfaat dan lawannya, jadi barangsiapa dalam pesan maulid mencoba melakukan hal-hal yang baik saja dan menjauhi lawannya ( hal-hal yang buruk), maka itu adalah bid’ah hasanah ”. Al-Hafizh Ibnu Hajar juga mengatakan: “Dan telah menemukan dasar yang benar-benar tepat di atas dalil yang tsabit (Shahih)”. 


Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani, mengatakan:


والحاصل ان الاجتماع لاجل المولد النبوي امر عادي ولكنه من العادات الخيرة الصالحة التي تشتمل علي منافع كثيرة وفوائد تعود علي الناس بفضل وفير لانها مطلوبة شرعا بافرادها.


Ini adalah salah satu bentuk tradisi dari tradisi-tradisi yang baik, yang mengandung banyak manfaat dan faidah yang kembali kepada manusia, sebab keberadaan karunia yang besar. Oleh karena itu dianjurkan dalam syara ‘dengan agre pelaksanaannya. [Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki, Mafahim Yajibu An-Tushahha , hal. 340] 


Dari paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa perayaan maulid Nabi hanya formatnya yang baru, sedangkan isinya merupakan ibadah-ibadah yang telah ditetapkan dalam Al-Qur’an atau Hadits. Oleh karena itu, banyak ulama yang mengatakan bahwa perayaan maulid Nabi adalah bid’ah hasanah dan pelakunya mendapatkan pahala. 


Dalil-dalil Syar`i Perayaan Maulid Nabi


Di antara dalil perayaan maulid Nabi Muhammad menurut sebagian Ulama` firman Allah:


قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ


Artinya: “Katakanlah, dengan anugerah Allah dan rahmatNya (Nabi Muhammad Saw) inginlah mereka disambut dengan senang gembira.” (QS.Yunus: 58) 


Ayat ini mengasyikkan ke arah Islam agar-agar menyambut gembira anugerah dan rahmat Allah. Terjadi perbedaan pendapat antara ulama dalam menafsiri الفضل dan الرحمة. Ada yang menafsiri kedua lafadz itu dengan Al-Qur’an dan ada pula yang memberikan penafsiran yang berbeda. 


Abu Syaikh meriwayatkan dari Ibnu Abbas RA bahwa yang berhubungan dengan الفضل adalah ilmu, sementara الرحمة adalah Nabi Muhammad SAW. Pendapat yang masyhur yang menerangkan arti الرحمة dengan Nabi SAW karena ada isyarat Allah SWT yaitu,


وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ 


Artinya: “Kami tidak mengutus orang sebagai sebuah rahmat bagi alam semesta. (QS. Al-Ambiya ‘: 107). ”[Abil Fadhol Syihabuddin Al-Alusy, Ruhul Ma’ani , Juz 11, hal. 186] 


Menurut Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani Bergembira dengan adanya Nabi Muhammad SAW isak diucapkan Allah SWT pada surat Yunus ayat 58 di atas. [Sayyid Muhammad Al-Maliki Al-Hasani, Ikhraj wa Ta’liq Fi Mukhtashar Sirah An-Nabawiyah , hal 6-7] 


Dalam kitab Fathul Barikarangan al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolani diceritakan bahwa Abu Lahab mendapatkan keringanan siksa setiap hari karena ia menggembirakan kelahiran Rasulullah. Ini membuktikan bahwa bergembira dengan kelahiran Rasulullah memberikan manfaat yang sangat besar, bahkan orang kafirpun dapat merasakannya. [Ibnu hajar, Fathul Bari , Juz 11, hal 431] 


Riwayat senada juga ditulis dalam beberapa kitab hadits diabungkan Shohih Bukhori, Sunan Baihaqi al-Kubra dan Syi’bul Iman. [Maktabah Syamilah, Shahih Bukhari, Juz 7, hal 9, Sunan Baihaqi al-Kubra , Juz 7, hal 9, Syi’bul Iman, Juz 1, hal 443].


Ahmad Muzakki , Santri Mahad Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafi`iyyah Situbondo

Related posts

Penafsiran kata ‘Yatama’ dalam Keadilan Poligami

admin

Sudahkan Kita Baca Quran Hari Ini?

PENA SANTRI

Sambut Id Adha dengan 9 Kegiatan Sunnah

PENA SANTRI

Ngaji Hikam Pasal 1 (Jangan Sombong dengan Ibadahmu)

admin

Kajian Sejarah Nabi Dalam Karya KH Hasyim Asy’ari 5 : Bab kelahiran Nabi Muhammad dan Pertumbuhanya 2

admin

SIGNIFIKANSI KISAH PERTENGKARAN QOBIL-HABIL

admin

Leave a Comment