27.7 C
Indonesia
22 Oktober 2019
Mayat tanpa Bola Mata 1

Mayat tanpa Bola Mata

Mayat tanpa Bola Mata 10

Cerpen: Ardy Kresna Crenata*

Korban kali ini seorang model, seorang gravure idol yang sedang naik daun. Seperti empat korban sebelumnya, rongga matanya pun kosong; sepasang bola matanya telah diambil dan mungkin dibawa oleh si pelaku, dan mungkin dibuangnya di suatu tempat, atau dikoleksinya, atau bahkan dimakannya. Terkait dengan hal ini ada satu hal membingungkan yang sampai saat ini belum seorang pun mampu memecahkannya, yakni soal bagaimana si pelaku mengambil sepasang bola mata korbannya, membuat rongga mata korbannya itu kosong. Pasalnya, tidak ada noda darah ataupun bekas luka di seputar rongga mata itu. Dan bukan hanya itu, noda darah dan bekas luka itu juga tak ditemukan di sekujur tubuh korban; seolah-olah korban begitu saja kehilangan sepasang matanya begitu juga nyawanya.

Kasus aneh ini bermula tiga bulan lalu. Korban pertama adalah seorang office lady di sebuah perusahaan periklanan di pusat kota. Ia ditemukan sudah tak bernyawa di sebuah gang pada malam larut oleh seorang polisi yang sedang berpatroli. Mayatnya dalam keadaan baik-baik saja kecuali rongga matanya yang kosong itu. Setelah pihak kepolisian melakukan autopsi dan serangkaian penelusuran, diketahui bahwa korban semasa hidupnya tak punya riwayat kesehatan yang buruk seperti potensi terkena serangan jantung atau semacamnya, bahkan ia tipe orang yang gemar berolahraga dan jarang sekali sakit apalagi menjalani rawat inap. Terkait dengan lingkaran sosialnya sendiri, korban tergolong orang yang tak suka mencari masalah dan dikenal rekan-rekan kerjanya sebagai orang yang ramah. Kematian korban yang misterius ini sempat menjadi santapan media selama dua minggu penuh, sampai akhirnya korban kedua ditemukan.

Berbeda dengan korban pertama, korban kedua adalah seorang lelaki. Ia di pertengahan dua puluhan, sedang bekerja di sebuah perusahaan asuransi sebagai wiraniaga. Ia ditemukan telah meninggal di tempat parkir gedung kantornya, di dalam mobilnya sendiri, tentunya dengan rongga matanya yang telah kosong. Ia masih mengenakan pakaian kantornya-setelan jas-celana abu-abu dan kemeja putih dengan dasi merah polos. Yang menemukannya adalah seorang karyawan di kantor tersebut yang kebetulan sedang akan memasuki mobilnya sendiri, yang diparkir persis di samping kiri mobil korban.

Mendapati dua kasus ini memiliki satu kesamaan yang mencolok, yakni kosongnya rongga mata korban, media tentu saja terpancing untuk membahas kasus ini secara lebih mendalam. Pihak kepolisian sendiri, dalam jumpa pers yang digelarnya beberapa hari setelah korban kedua ditemukan, menjelaskan bahwa penelusuran yang tengah mereka lakukan benar-benar intens, tetapi mereka masih belum juga sampai pada penjelasan yang memadai soal mengapa dan bagaimana bisa sepasang bola mata kedua korban itu hilang. Terkait dengan hal ini seorang kriminolog ternama, di sebuah acara unjuk-wicara di televisi nasional, mengatakan bahwa pelaku sangat mungkin bukan individu, melainkan sistem; ini karena sulit dibayangkan seseorang, tanpa bantuan siapa pun, memiliki alat yang dapat digunakan untuk mengambil bola mata tanpa meninggalkan bekas luka dan noda darah.

Tanggapan yang lebih menarik (baca: liar) datang dari warganet. Banyak di antara mereka yang secara sukarela mengikuti kasus ini menawarkan pembacaan bernuansa fiksi-ilmiah atau fiksi-fantasi, seperti bahwa si pelaku bukanlah manusia, melainkan malaikat kematian atau alien, atau manusia yang karena satu dan lain hal telah berevolusi menjadi bukan-manusia, menjadi organisme yang lebih canggih dari manusia; mereka bahkan membuat situs-situs web tersendiri untuk menampung-dan menampilkan-setiap informasi dan pembacaan lainnya tentang kasus ini. Sebagian di antaranya, memanfaatkan antusiasme warganet ini untuk mengeruk keuntungan finansial, seperti membuat video-video penelusuran amatiran ke lokasi kedua korban ditemukan, bahkan juga ke tempat-tempat yang sering dikunjungi korban semasa hidupnya, lantas menayangkan video-video tersebut di kanal YouTube mereka.

Ketika korban ketiga ditemukan, sekitar satu bulan kemudian, pembahasan mengenai kasus ini di dunia maya semakin ramai, dan semakin liar. Muncul teori-teori konspirasi bahwa dalang di balik kasus misterius ini sesungguhnya adalah pemerintah, bahwa pemerintah secara diam-diam membentuk sebuah organisasi rahasia yang tujuannya menciptakan ketakutan secara berkala di masyarakat, yang dengan ini mereka bisa memperkuat posisi mereka sebagai pelindung dan penguasa-kebetulan pemilu akan dilangsungkan tahun depan. Tentu saja ini hanya sebatas teori, tapi bukannya tanpa pengaruh: perlahan-lahan fokus perhatian media massa pun mulai bergeser dari semula mencari tahu bagaimana korban-korban itu kehilangan bola mata mereka ke bagaimana kasus ini berdampak pada realitas yang berlangsung di negeri ini, khususnya di Kota A di mana korban-korban itu ditemukan. Sementara itu, pihak kepolisian sendiri tampak mulai lesu dan kehilangan muka; temuan-temuan dari penelusuran intensif mereka paling jauh hanya sampai pada algoritma pelaku dalam memilih target, itu pun masih sebuah dugaan yang kurang meyakinkan.

Dalam situasi seperti ini, seorang mangaka-komikus-muda memublikasikan sebuah manga-komik-buatannya yang mengangkat kasus tersebut, tentu saja dengan bumbu-bumbu fiksi yang ditambahkannya. Manga ini ia bagikan secara gratis sebagian kepada para warganet yang mengikuti situs web resminya; sisanya baru bisa mereka akses setelah membayar sekian ribu yen. Dalam beberapa hari saja manga ini sudah menjadi buah bibir di Kota A, bahkan di kota-kota lainnya di negeri ini. Perspektif dan pembacaan yang ditawarkan si mangaka lewat manga-nya ini memang menarik; terlampau menarik untuk diabaikan begitu saja.

Sederhananya begini, si mangaka memandang kasus misterius itu: si pelaku yang dicari-cari itu tidak ada, begitu juga teknologi canggih yang konon digunakan untuk mengambil bola mata korban, begitu juga para korban itu sendiri; semuanya itu hanya ilusi, hal-hal yang terasa nyata ada namun sejatinya tak pernah ada. Masalah yang sebenarnya dihadapi dengan demikian bukanlah adanya kasus itu, melainkan terkesan benar-benar adanya kasus itu, yang berarti upaya-upaya yang harus dilakukan bukanlah mencari si pelaku dan dalang di balik kasus tersebut, melainkan bagaimana supaya kita bisa keluar dari situasi ilusif ini.

Di mata sebagian orang, apa yang ditawarkan si mangaka ini tidak etis, tidak sensitif terhadap keluarga korban, bahkan juga dianggap tidak berguna. Seorang psikolog misalnya pernah mengemukakan di akun Twitter-nya bahwa yang dibutuhkan masyarakat Kota A saat ini adalah dorongan untuk terus berjuang menghadapi kecemasan dan ketakutan yang timbul sebagai efek samping dari mencuatnya kasus itu, sedangkan apa yang ditawarkan si mangaka sama sekali tak membantu, malah mendorong mereka untuk menjadi semakin cemas dan semakin takut, dan akhirnya putus asa. Respons negatif serupa datang dari semacam aliansi guru-guru di Kota A. Mereka bahkan meminta pemerintah kota mengeluarkan kebijakan agar manga kontroversial itu dihapus eksistensinya dan situs web si mangaka sendiri diblokir sampai batas waktu yang tak ditentukan.

Tentu saja kebijakan tersebut tidak dikeluarkan. Bagaimanapun mereka yang mendukung si mangaka dan sepemikiran dengannya sangat banyak. Oleh sebagian dari mereka, manga itu sendiri bahkan dinilai mewakili kecemasan dan ketakutan masyarakat Kota A yang sebenarnya, yakni ketidakmampuan mereka untuk keluar dari realitas palsu yang menjebak mereka, baik itu di dunia kerja maupun di kehidupan sehari-hari.

Korban keempat ditemukan seminggu yang lalu: seorang perempuan, usianya lagi-lagi dua puluhan. Tetapi tidak seperti korban-korban sebelumnya yang adalah para pekerja kantoran-korban ketiga bekerja di sebuah perusahaan kosmetik-korban keempat ini adalah seorang ibu rumah tangga. Dan tidak seperti korban-korban sebelumnya yang ditemukan tak bernyawa di luar rumah, korban keempat ini ditemukan tak bernyawa justru di dalam rumahnya sendiri, lebih tepatnya di kamar mandi, saat ia sedang berendam air hangat di ofuro-bathtub.

Sampai sejauh ini, terlihat sekali bahwa menganalisis karakteristik target si pelaku jauh lebih mudah ketimbang mencari tahu si pelaku itu sendiri. Korban selalu di usia dua puluhan; usia di mana seseorang umumnya sedang gamang memikirkan masa depannya. Jika dicermati baik-baik lingkaran sosial korban, akan didapati bahwa si pelaku selalu memilih orang-orang yang relatif tak menonjol, baik itu di lingkungan kerjanya maupun di kehidupannya sehari-hari. Mereka juga orang-orang yang ramah dan murah senyum, meski entah kenapa tidak memiliki banyak teman. Tentang kondisi finansialnya sendiri, mereka adalah orang-orang yang relatif aman dalam arti tak akan begitu terkena dampak apabila tiba-tiba perekonomian negeri ini dihantam krisis. Dan soal pandangan filosofis mereka, seperti soal bagaimana mereka memaknai hidup, mereka terbilang biasa saja. Tidak ada yang istimewa dalam cara mereka memandang dan menjalani realitas.

Jadi untuk sementara bisa disimpulkan seperti ini: korban yang disasar pelaku adalah seseorang di usia dua puluhan-umumnya perempuan-yang biasa-biasa saja, dalam arti tidak istimewa, baik dalam memandang realitas maupun menjalaninya. Tetapi bahkan dengan simpulan ini pun, masih menjadi misteri kenapa hanya mereka yang menjadi korban, sedangkan mestilah orang-orang seperti itu selain mereka ada banyak, begitu banyak. Tidak sulit untuk menemukan mereka.

Terkait dengan hal ini temuan-temuan dari pihak kepolisian tidak membantu; mereka kini bahkan dipusingkan dengan ditemukannya korban keempat di rumahnya sendiri, padahal sebelumnya mereka sempat menduga bahwa si pelaku beroperasi di pusat kota pada malam-malam larut, di tempat-tempat yang penerangan dan pengawasannya minim. Mereka telah menyelidiki suami korban tapi tak mendapati kemungkinan lelaki itu berkeliaran di pusat kota, juga tak menemukan juga motif yang mampu mendorongnya menghampiri para korban. Selain itu, secara psikis lelaki tersebut sehat-sehat saja.

Dan kini jatuh korban kelima, si gravure idol yang sedang naik daun itu. Usianya dua puluh lima dan ia ditemukan tak bernyawa di kamar apartemennya. Tak ada tanda-tanda ia telah meminum pil atau cairan tertentu yang berbahaya bagi kesehatannya; tidak juga ada tanda-tanda seseorang telah berada di kamar tersebut beberapa jam atau bahkan beberapa hari sebelum kematiannya. Rongga matanya kosong. Kosong dan benar-benar kosong. Korban sendiri ketika ditemukan, kata seorang karyawan apartemen yang memasuki kamar tersebut dengan paksa setelah penghuni kamar apartemen lain mengeluhkan adanya bau busuk yang menguar dari kamar tersebut, seperti sedang menatap sesuatu yang jauh. Menelentang di kasurnya yang lebar dan putih-bersih, korban seperti sedang menatap sesuatu yang jauh.

Satu bulan setelah korban kelima ditemukan, hal-hal misterius dari kasus ini masih belum juga terungkap. Penelusuran-penelusuran dari pihak kepolisian seperti berjalan di tempat; spekulasi-spekulasi media pada akhirnya cenderung kontraproduktif dan menambah keruwetan yang ada. Orang-orang semakin cemas bahwa jangan-jangan korban berikutnya adalah seseorang yang mereka kenal dekat, atau pasangan mereka, atau keluarga mereka, atau bahkan diri mereka sendiri. Pemerintah kota masih juga pasif dalam arti belum mengeluarkan kebijakan spesifik mengenai hal ini; mereka pun agaknya kebingungan dan tidak tahu harus melakukan apa. Di dunia maya, pembahasan-pembahasan tentang kasus ini semakin liar dan liar saja.

Seorang novelis, barangkali ia berpikir kasus ini tak akan terpecahkan, menawarkan sebuah perspektif lain. Lewat situs web dan akun-akun media sosial resminya ia mengumumkan bahwa dalam waktu dekat novel terbarunya akan terbit, dan novel ini mengangkat kasus tersebut dalam balutan absurditas dan eksistensialisme. Dibocorkannya bahwa tokoh-tokoh utama dalam novelnya ini adalah orang-orang yang kemudian menjadi korban-mereka yang ditemukan tinggal mayat tanpa bola mata itu. Eksplorasi di novel ini bukan pada bagaimana hal-hal misterius dari kasus tersebut terpecahkan, tapi bagaimana korban menjalani kehidupannya dan bagaimana pula kematiannya yang misterius itu membentuk ulang persepsi orang-orang terhadap mereka, terhadap kehidupan yang pernah dijalaninya itu. Tidak akan ada sosok seperti malaikat kematian atau yang semacamnya; kalaupun sosok itu ada, tidak akan dimunculkan secara eksplisit di cerita. Begitulah si novelis menjelaskan. Novel ini konon telah mulai digarapnya sejak hampir dua bulan lalu.

Reaksi warganet terhadap pengumuman dari si novelis ini beragam, tetapi ada satu benang merah yang menyatukan semuanya: mereka sama-sama ingin tahu bagaimana kasus ini berakhir.

Tetapi akankah kasus ini berakhir? Itu dia masalahnya. Tidak ada satu pun yang bisa memastikan-setidaknya sampai saat ini-bahwa kasus tersebut akan berakhir, bahwa kelak tak akan lagi ada seseorang yang tiba-tiba sudah tinggal mayat dengan rongga mata yang kosong. Dikaitkan dengan hal ini apa yang ditawarkan si novelis tadi cukup berharga, bahwa ia mengingatkan orang-orang di Kota A untuk lebih peduli pada orang-orang yang masih hidup ketimbang mereka yang sudah mati, untuk lebih peduli pada kehidupan yang tengah berlangsung ketimbang kehidupan yang telah berlalu, pada apa yang ada dan bisa digenggam saat ini ketimbang apa yang belum tentu ada di masa depan. Mungkin ketika akhirnya terbit nanti, novel ini akan disambut seperti halnya manga kontroversial tadi. Terlepas dari dampaknya bagaimana, beredarnya novel ini akan menjadi warna tersendiri dari realitas liyan yang tengah berlangsung di Kota A.

Satu minggu setelah novel itu terbit, korban keenam ditemukan: seorang aktris pendatang baru yang memulai kariernya di dunia hiburan sebagai idol-ia dulunya salah satu anggota paling terkenal sebuah idol group besar yang bermarkas di kota tersebut. Penelusuran-penelusuran kembali dilakukan pihak kepolisian; spekulasi-spekulasi kembali ditawarkan media; pembahasan-pembahasan mengenai kasus ini kembali ramai di dunia maya. Dan seperti biasa: semuanya sia-sia; sia-sia dalam arti tetap saja misteri-misteri itu tak terpecahkan.

Adapun novel itu sendiri laris-manis. Dan di antara orang-orang yang membacanya, banyak yang mengunggah kata-kata terakhir si narator di novel tersebut, baik itu di blog atau media sosial, atau bahkan YouTube. Apa yang dikatakan si narator itu sendiri adalah ini: Bagaimana jika yang mengambil bola mata dan nyawa orang-orang itu adalah kota ini sendiri, sedangkan kota ini ada karena kita membuatnya ada, karena kita selama ini (bersikeras) menjalani kehidupan di dalamnya? (*)

Bogor, 19-20 Februari 2019

*Ardy Kresna Crenata adalah manusia yang suka menulis cerpen, esai, dan puisi.
Karya ini telah di publikasikan di Tempo

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy