27.7 C
Indonesia
22 Oktober 2019
Melawan Nafsuh: Perang yang Sesungguhnya 1

Melawan Nafsuh: Perang yang Sesungguhnya

Al-Qur’an diyakini sebagai kalam Tuhan. Sebagai kalam Al-Qur’an bersifat verbal, bukan teks. Penyampaian dalam bentuk teks tentu berbeda kesannya dibandingkan penyampaian dalam bentuk verbal. Karena, bahasa verbal akan selalu menunjukkan intonasi dan stressing yang melahirkan beragam makna.

Pernyataan tersebut bukan bermaksud meragukan orinalitas dan sakralitas Al-Qur’an. Sebagai muslim saya tetap yakin Al-Qur’an adalah kalam Tuhan yang tidak dapat diragukan, kendatipun sekian orientalis mengusik orisinalitas Al-Qur’an melalui penelitian yang mereka tekuni. Dengan pernyataan tersebut sesungguhnya saya mengajak untuk membuka khorizon pengetahuan pembaca teks Al-Qur’an dalam memahami ayat-ayat yang menyinggung perang.

Ada banyak ayat yang berbicara tentang perang lalu disalah pahami oleh sekian orang. Karena itu, banyak peperangan yang terjadi di muka bumi dengan mengatasnamakan agama. Agama seakan dikambinghitamkan. Padahal, agama menghendaki perdamaian antar sesama, bukan perseteruan. Karena makna damai seakar dengan kata “Islam” yang terambil dari kata “Salam” yang menunjuk makna “damai”. Artinya, Islam itu damai, bukan perang.

Jika agama tidak menginginkan perang, terus bagaimana dengan perintah perang yang terekam sekian banyak dalam Al-Qur’an? Pertanyaan ini mengajak saya berpikir ulang dalam memahami pesan Al-Qur’an saat dihadapkan dengan beragam situasi. Dulu perang dipahami dengan pertempuran antar kaum muslimin dan kaum musyrikin karena kaum musyrikin yang menyerang, sementara kaum muslimin mencegah serangan itu. Kini perang tidak lagi dipahami dengan pertempuran melawan orang kafir, tetapi lebih dipahami dengan “pencegahan dari segala hal yang merugikan”. Karena sekarang adalah masa kemajuan yang dibuktikan dengan perkembangan teknologi dan pengetahuan. Perang orang milenial tentunya berbentuk pencegahan dari kebodohan sehingga hidupnya terus-menerus berkembang seiring perkembangan zaman dan perangnya dibuktikan dengan keterbukaan menghadapi dan mengikuti perkembangan zaman.

Perhatikan pesan Allah Swt. dalam surah al-Baqarah ayat 244: “Dan berperanglah kamu sekalian di jalan Allah, dan ketahuilah sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Perintah perang di sini tidak lagi dipahami sebagai pertempuran dengan pedang melawan orang yang dianggap kafir, namun perintah perang ini dipahami dengan mencegah kebodohan atau ketertutupan pemikiran dari perkembangan zaman. Karena itu, ayat ini mengajak siapa saja, termasuk umat Islam untuk menjadi generasi milenial yang maju.

Bagaimana dengan ayat yang memerintahkan memerangi orang kafir atau musyrik? Sebelum menjawab pertanyaan ini, alangkah lebih baiknya merujuk ayat yang menyinggung perang melawan orang musyrik. Allah Swt. menyebutkan dalam surah at-Taubah ayat 5: “Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi maha Penyayang.”

Secara tegas, ayat tersebut berbicara tentang perang melawan orang musyrik. Agar tidak salah paham menafsirkan ayat tersebut dan berujung pada pertempuran, penting diketengahkan dengan pandangan filsuf Jerman Heidegger tentang tafsir. Menurutnya, tafsir hendaknya dibangun dengan semangat penafsirnya, bukan pengarang teks, karena penafsir lebih tau di mana teks itu dipahami. Karena itu, ayat perang melawan orang kafir hendaknya dipahami sesuai dengan sosio-historis di mana sang penafsir hidup. Indonesia, misalkan, termasuk negara pluralistik yang merangkul perbedaan keyakinan, sehingga tidak bisa orang yang tidak beragam Islam disebut sebagai orang musyrik atau orang kafir, sehingga dengannya mereka wajib diperangi.

Orang musyrik seharusnya dipahami sebagai orang yang ateis (tidak beragama) dan orang politeis (beragama banyak). Mereka yang berhak diperangi. Bagi saya, orang musyrik sebenarnya bukanlah orang lain, tetapi hawa nafsu sendiri yang setiap waktu ada dalam diri manusia, sehingga dengannya manusia cukuplah memerangi kemusyrikan nafsu yang selalu mengajak melakukan sesuatu yang syirik, seperti mempercayai uang melebihi kekuasaan Allah. Jadi, perintah perang pada ayat tersebut lebih menekankan pada perang melawan hawa nafsu, bukan memerangi orang yang berbeda keyakinan.

Maka, perintah perang dalam Al-Qur’an memiliki medan tafsir yang amat luas. Dari hamparan tafsir yang terhidang, pilihlah yang paling baik, yaitu perang melawan hawa nafsu.[] Shallallah ala Muhammad.

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy