28 November 2020

Memahami Islam Nusantara?

Dari ruang kelas yang tak lebih 20 orang, hanya ada satu yang saya infil kepadanya. Seorang dosen yang sangat cerdas, pinter dan terbuka, terutama untuk menyalahkan. Dari ke-20 teman kelas saya, hanya satu orangn yang cocok dan seakan benar terus kepadanya.
Ia adalah dosenku. Dengan segala pengetahuan dan pengalaman yang ia gandrungi, setiap saat ia memberi kami banyak pengetahuan dan trik-trik. Wajar saja, ia telah lama bergelut dengan dunia paradigma pemikiran.
Suatu saat, kami ditanya tentang proposal tesis yang kemarin diajukan sebagai persyaratan. Semua sahabat kelasku sontak mengajukan jawaban satu persatu. Setalah giliran pertanyaan di padaku, aku menjawab serius dan jujur saja “Posal Tesisku Tentang Agenda Politik Islam Nusantara”. 
Mendapati jawabanku yang sepertinya asal-asalan, dia menegur-membantahku dan sempat mukanya memirah setalah saya ulur panjang pertanyaan beliau.
Bagi saya, Islam Nusantara adalah Islam yang benar-benar konsekuen dengan nilai dan pesan moral yang diinginkan Rasul Muhammad. Kenapa? Karena saya melihat Islam Nusantara sebagai suatu varian Islam yang fleksibel dan kontestif.
Islam Nusantara adalah perwujudan dari Islam akomudatif yang mempu merangkul Agama serta juga budaya. Islam Nusantara, bagi saya, tak ubahnya adalah Islam Nabi periode Madina yang teoleran, beradab serta juga beradat.
Sepertinya, Islam Nusantara hanyalah istilah yang disinyalir dari tema Muktamar NU ke-33 di Jombang tahun alalu. Seakan Islam Nusantara adalah aliran baru yang baru lahir tahun 2013 itu. Maka saya katakan “tidak”.
Bersamaan dengan itu, di tengah-tengah masyarakt luas, Islam Nusantara banyak dipersoalkan oleh banyak lapisan masyarakat, terutama kalangan Islam “Salaf”. Sebab itulah para kecendekiawan muslim sibuk mencari-mendefinisikan hingga mengkopsikan apa itu sejatinya Islam Nusantara.
Nah oleh karena Islam Nusantara ramai diperbincangkan bahkan ditolak mulai Muktamar NU yang bertemakan “ISLAM NUSANTARA”, maka kalangan NU-pun merasa terpanggil untuk menerangkan apa itu Islam Nusantara yang sesungguhnya.
Bagi saya, tindakan yang demikian ini hanyalah salah satu cara yang mesti dilakukan oleh kalangan NU untuk menerangkan apa itu Islam Nusantara. Namun selebihnya yang tak kalah penting adalah melanjutkan corak keberislaman kita selama ini, tampa harus ‘ngeh’ mencari dan memahami. Dan juga tanpa harus ada alasan. Kalau tidak mau lagi, lalu maunya bagaimana?
Perlu ditegaskan, memahmi dan bahkan mencari alasan untuk menjustis gagasan Islam Nusantara, adalah lakon ilmuan dan lebih kecendekiawan yang sedang ingin naik daun menuju Profesor. Lalu, apakah realitas masyarakat kita adalah berpredikat ini semua? tidak.
Maka, Islam Nusantara menjadi tidak penting untuk di(cari)pahami,  jika berhadapan dengan orang awam. Sebab bagaiamanapun juga diterangkan mereka tidak akan paham. Sekalipun dikalukan berulang-ulang, hingga paham, akan tetapi yang paling pernting adalah melakukan. Maka, apakah untuk melakukan agama seorang harus paham dulu? tidak.
Kedua, Islam Nusantara tidak usah dipahami jika berhadapan dengan orang “Salafi” yang notabeni hanya menyalahkan. Sebab sudah jelas, walau bagaimanapun juga mereka akan tetap menolak segala apa yang tidak mereka kehendakai. 
Ketiga, bagi kalangan cendekiawan muslim yang lebih suka betah dibangku diskusi. Sebab bagi mereka gagasan-gagasan besar tetang Islam Nusantara, biasanya hanya berakhir pada retorika dan diskusi-diskusi belaka. Sementra pengaplikaisannya masih menunggu usainya diskusi yang tak berkesudahan.
Padahal melanjutkan amalan dan praktek-praktek pola keberislaman kita adalah bentuk taktis dari penerimaan atas isu/gagasan Islam Nusantara itu sendiri.
Maka, saya sarankan bagi teman-teman yang sedanga berhadapan dengan seorang yang selalu banyak omong dan bahkan mempersoalkan Islam Nusantara, tak usah dihiraukan. Cukup ajak mereka akdakan pnengajian rutinan, hadiri salat jamaah dan jangan lupa ajari mereka cinta kasih dan bakti bukan caci maki dan iri hati apalgi ilusi-ilusi diskusi.

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy