27 C
Indonesia
27 Juni 2019
Agama

Memahami Nama dan Sifat Kontradiktif Tuhan


Tidak mudah memahami nama-nama dan sifat-sifat Allah SWT, apalagi memahami hakikat Zat-Nya. Nama-nama Indah Allah SWT (Al-Asma Al-husna) yang juga daripadanya melekat sifat-sifat-Nya, selama ini kita hafal, tetapi masih banyak di antara kita belum kenal dan mendalami satu sama lain.
Kalaupun kita mencoba mendalami, seringkali kita terbentur pada nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang berhadap-hadapan satu sama lain. Sebagai contoh, di satu sisi Ia Mahabatin (al-Bathin), tetapi sisi lain Ia Mahadzahir (al-Dzahir). Ia Mahaagung (al-Quddus), tatapi Ia juga Mahakasih (al-Rahman). Ia Mahakuat (al-Qawyy), tetapi juga Mahalembut (al-Lathif), dan beberapa lagi lainnya.
Kesulitan pemahaman sesungguhnya dapat teratasi jika kita dapat memahami struktur dan pengelompokan nama-nama Allah tersebut. Pengelompokan itu meliputi: 1) Nama-nama yang berkenaan dengan Esensi Allah SWT, 2) Nama-nama yang berkaitan dengan sifat-sifat-Nya, dan 3) Nama-nama yang berhubungan dengan segenap perbuatan-Nya.
Nama-nama Esensi menunjukkan Allah SWT dalam diri-Nya sendiri, tidak bisa diterapkan dengan tepat pada sesuatu selain Allah SWT. Lafaz Allah disebut lafaz Al- Jalalah karena tidak ada nama lain selain diri-Nya.
Tidak satu pun makhluk-Nya berhak menggunakan nama-Nya, apalagi nama “Allah”, yang kita kenal dengan lafaz Jalalah. Seseorang boleh menisbahkan nama-nama Allah, tetapi ditambahkan kata hamba (Abd), misalnya Abd Rahman, Abd Rahim, dan Abd Shamad.
Nama-nama yang dari seluruh sifat yang menegaskan hubungan intrinsik dengan Allah SWT, sekalipun tidak harus berhubungan dengan segenap makhluk-Nya, seperti Maha Hidup (al-Hayy), Maha Mengetahui (al-Alim), Maha Berkehendak (al-Murid), Maha Kuasa (al-Qadir), Maha Mendengar (al-Sami’), dan Maha Melihat (al-Bashir). Lawan dari nama-nama ini tidak bisa dikenakan kepada Allah SWT.
Nama-nama perbuatan merujuk pada hubungan Allah dengan semua makhluk-Nya. Kebalikan dari nama-nama itu bisa juga dikenakan kepada Allah SWT, seperti Mahapengasih (al-Rahman) dan Mahapemaksa (al-Qahhar), Mahalembut (al-Lathif) dan Mahaangkuh (al-Mutakabbir), Mahaindah (al-Jamal) dan Mahaagung (al-Jalal), Mahamembimbing dan Mahamenyesatkan, Mahamemuliakan dan Maha Menghinakan (al-Quddus).
Juga Mahapengampun (al-Ghafur) dan Mahapendendam (al-Muntaqim), Maha pemberi Manfaat (al-Nafi) dan Mahapemberi Kerugian (al-Dhar), Mahamenghidupkan (al-Muhyi), Mahapemberi (al-Wahhab) dan Mahamenolak (al-Mani’), Mahamematikan (al-Mumit), Mahameluaskan (al-Wasi’), dan Mahamenolak (al-Mani’).
Ada sejumlah nama lainnya dapat dikategorikan lebih dari satu kategori, tergantung konteksnya, bagaimana nama-nama itu didefinisikan atau dipandang.
Misalnya, nama-nama dari suatu perbuatan dapat dipandang sebagai nama dari sifat atau nama dari esensi. Misalnya Mahapengasih (al-Rahmann), yang dipandang sebagai nama dari perbuatan, mempunyai lawan yakni Maha Pemurka.
Namun demikian, sebuah hadis sahih menuturkan, “Rahmat Allah SWT mendahului kemurkaan-Nya.” Semangat beberapa ayat dalam Alquran juga menegaskan bahwa rahmat Allah SWT meliputi segala sesuatu, bukan sebagian. Allah SWT lebih menonjol sebagai Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang ketimbang Maha Penyiksa dan Pendendam.
Meskipun Allah Mahapemurka, tetapi sesungguhnya tetap mengandung rahmat. Ibaratnya, seperti orang tua yang memarahi anaknya. Marah bagi orang tua kepada anak-anaknya pada umumnya berarti tanda sayang. Sekeras-kerasnya seorang ayah pasti memiliki kelembutan. Selembut-lembutnya ibu pasti memiliki kekerasan.
Seandainya seorang ibu sepenuhnya diliputi kasih sayang, maka masih ada ayah yang menyimpan ketegasan untuk kemuliaan anaknya. Di balik kejantanan Yang pasti terselip kelembutan Yin. Sebaliknya, di balik kelembutan Yin pasti terselip kekerasan Yang.
Sebagaimana halnya nama-nama Allah, sifat-sifat Allah juga dapat dikelompokkan ke dalam sifat-sifat Ijabiyyah dan sifat-sifat Salabiyyah. Sifat-sifat Ijabiyyah ialah sifat-sifat yang dapat diafirmasikan kepada allah SWT. Makna dari kebalikannya tidak mengandung sesuatu yang noneksistensi.
Sifat-sifat ini terbagi dua, ada yang bersifat hakiki seperti Mahahidup (al-Hayy), sifat ini tidak memerlukan aktualisasi dalam bentuk perwujudan makhluk, tetapi sudah merupakan abstraksi dari Hakikat Wujud dalam Maqam Wahidiyyah.
Yang lainnya ialah sifat Ijabiyyah yang bersifat idhafiyyah, yakni abstraksi nama-nama dan sifat-sifat-Nya memerlukan perhatian kepada selain diri-Nya.
Sehubungan dengan ini dapat dibagi dua, yaitu Idhafiyyah murni seperti kemahaawalan (awwaliyyah) dan kemahaakhiran (akhiriyyah). Yang kedua, Idhafiyyah yang melibatkan unsur lain dan terkait dengan diri-Nya seperti sifat-sifat ketuhanan (rububiyyah) dan keilmuan (ilm); sifat- sifat ini bisa diabstraksikan dari Hakikat Al-Wujud ketika dihubungkan dengan makhluk-Nya. Sebab, bagaimana bisa disebut Rabb tanpa marbub atau ‘Alim tanpa ma’lum.
Sifat-sifat lainnya ialah Al-Salabiyyah, yaitu suatu sifat yang arti dan kebalikan arti itu terkandung arti noneksistensi, seperti al-Gina (Mahakaya), dapat diartikan secara negasi, yaitu suatu Zat yang tidak mempunyai kebutuhan kepada selainnya.
Beberapa nama dan sifat Allah SWT yang mafhumnya tidak ada masalah jika diartikan sebaliknya. Dengan kata lain tidak semua nama dan sifat Allah SWT saling berkonfirmasi dengan makhluk. Misalnya, Ia Mahabatin (al-Bathin) tetapi sisi lain Ia Maha Dzahir (al-Dzahir) dan Ia Maha Awal (al-Awwal) dan sekaligus Maha Akhir (al-Akhir).
Pengelompokan lain nama-nama keindahan dan feminin (Jamaliyyah) dan nama-nama keagungan dan maskulin (Jalaliyyah), sebagaimana pernah diuraikan terperinci di dalam artikel terdahulu. Inti Nama-nama Jamaliyyah menuntut kedekatan Allah dan nama-nama keagungan mengisyaratkan kejauhan Allah dari hamba-Nya. Keindahan punya keagungannya sendiri dan keagungannya punya keindahannya sendiri.
Nama-nama yang berhubungan dengan Jamaliyyah-Nya, antara lain, Mahapengasih (al-Rahman), Mahapenyayang (al-Rahim), Mahalembut (al-Lathif), Mahasabar (al-Shabur), Mahapengampun (al-Gafur), Mahapenerima Taubat (al-Tawwab), Mahaindah (al-Jamal), dan Mahapemberi (al-Wahhab). Sedangkan nama-nama Jalaliyyah-Nya, antara lain, Mahapendendam (al-Muntaqim), Mahaangkuh (al-Mutakabbir), dan Mahapemberi Kerugian (al-Dhar).
Jika berhadapan dengan nama-nama atau sifat-sifat Allah SWT yang berhadap-hadapan satu sama lain, selain dapat diselesaikan dengan pendekatan di atas, masih bisa juga diselesaikan dengan sebuah pengelompokan lagi, yaitu pendekatan yang disebut oleh Al-Qaisary dengan Al-Mumkinat dan Al-Mumtani’at.
Oleh: Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA

Related posts

Membaca Kitab Kitab Tentang Bid’ah

Moh Faiq

Memetik Perdamaian dan Toleransi dari Ibadah Shalat

admin

BERGURU KEPADA KYAI SAID

admin

Apakah Agama Memperbolehkan Ambisi?

PENA SANTRI

Feminisme Paksaan?

Ahmad Fairozi

Nadirsyah Hosen: Istilah Khilafah Tidak Ada dalam Alquran

admin

Leave a Comment