23.3 C
Indonesia
18 Juni 2019
Membaca Kitab tentang Bid'ah
Agama

Membaca Kitab Kitab Tentang Bid’ah

Membaca kitab kitab tentang bid’ah karya Syaikh Abdul Ilah Arfaj, Syd. Abdullah Mahfudh al Haddad, Syd. Abdullah al Ghumari, Syaikh Saif al Ashri dan Syaikh Abdul Fattah Al Yafii akan memberikan kita pemahaman yang lebih luas tentang pemahaman ulama’ prihal bid’ah.

Kesimpulan secara umum ialah

1. Bid’ah dalam arti bahasa (yakni perkara baru) telah ada sejak masa Nabi, dan sikap Nabi terhadapnya beragam.

Ada yang positif (memuji, menganjurkan bahkan menyebutnya sebagai sunnah). Seperti sikap Nabi terhadap doa i’tidal seorang sahabat, kemudian sikap Nabi terhadap sahabat yang meruqyah dengan al Fatihah, ada pula sahabat Bilal yang berwudlu’ setiap akan adzan dan sholat dua rakaat setelah wudlu’, dan di lain hikayat kita tahu, sahabat Khubaib yang sholat 2 rakaat sebelum dihukum mati, lalu tentang sahabat sahabat yang berkumpul untuk berdzikir dan teralhir sikap Nabi terhadap sahabat yang mengimami dengan selalu membaca Surat Al Ikhlash.

Ada pula yang negatif (melarang, mengecam hingga cuma menegur), contoh seperti sikap Nabi menyalahkan sahabat yang mengimami lama, atau sholat sampai diikat untuk menahan kantuk, atau sahabat yang bertekad tak menikah, tidak tidur malam dan berpuasa seumur hidup.

Ada juga yang netral (membiarkan), seperti sikap Nabi pada sahabat Kholid bin Walid yang memakan binatang biawak Arab.

Sayyid Abdullah Mahfudh Al Haddad merinci beragam riwayat soal sunnah Nabi menghadapi bid’ah ini dalam kitab beliau al-Sunnah Wa al-Bid’ah.

Semua riwayat ini sebenarnya adalah dalil yang sangat kuat tentang adanya bid’ah hasanah dan bid’ah sayyiah, bahkan mubahah.

Semua riwayat ini sebenarnya juga menegaskan bahwa melarang perkara baru hanya karena dia baru, adalah sesuatu yang bertentangan dengan sunnah Nabi dalam menghadapi bid’ah alias perkara baru. Sehingga pemaparan ini adalah sebuah bentuk bid’ah dalam menyikapi bid’ah.

2. Makna bid’ah dalam Kullu Bid’ah Dlolalah adalah makna istilahi alias terminologis, bukan makna bahasa. Lalu apa makna istilah untuk bid’ah ?

Di sini ada beragam pendapat,

Namun sepertinya kebanyakan ulama menyepakati definisi Imam Syafi’ie. Beliau menyatakan bahwa bid’ah yang dimaksud dalam hadits itu adalah bid’ah sayyiah, yaitu : sesuatu yang bertentangan dengan al Qur’an dan Sunnah.

Definisi ini tentu saja akan berbeda implikasinya dengan definisi yang sekarang dipegang salafi kontemporer, yang mana mereka mendefinisikan bid’ah adalah sesuatu yang tidak ada dalam sunnah. Definisi yang sebenarnya lebih dekat dengan makna bahasa, yang kalau tak dibatasi akan menjadikan barang baru seperti HP,  mobil dan sebagainya yang merupakan  bagian dari bid’ah. Maka mereka lalu mengembangkan pembagian baru : bid’ah dalam urusan ibadah dan non ibadah. Satu pembagian kontemporer yang tidak dikenal di masa salaf dulu.

Dengan definisi ini maka salafi kontemporer akan menolak suatu perkara hanya dengan dalil tak dilakukan di zaman Nabi, walaupun mereka tak bisa sepenuhnya konsisten dengan sikap ini.

Ulama mayoritas ikut definisi Imam Syafie, yaitu Setiap perkara baru akan diuji : apakah sesuai dengan Qur’an Sunnah atau bertentangan dengan Qur’an Sunnah, bukan apakah ada atau tidak ada dalam sunnah.

Disinilah ijtihad berkembang, dan Islam menjadi luas dan luwes. Pemahaman inilah yang menurut hemat kami sesuai dengan pemahaman Nabi dan para salaf. Sementara pemahaman pertama sebenarnya banyak dibangun berdasar pendapat ulama kholaf seperti Ibn Taimiyah dan asy-Syathibi.

Wallahu a’lam

Ahmad Halimi (Sekretaris LD NU Sumenep)

Related posts

Harlah, Maulid, dan Natal

PENA SANTRI

Sufisme

admin

Non-Muslim Atau Kafir’ Versi Yusuf Al-Qaradhawi

PENA SANTRI

Memahami Arti Syirik dengan Benar

khalwani ahmad

Prihal Sujud Sahwi dalam Safinatussolah

admin

ASAL USUL IBADAH WUDHU

PENA SANTRI

Leave a Comment