29 Oktober 2020
Membaca Peta Sosial Keagamaan Masyarakat Madura

Membaca Peta Sosial Keagamaan Masyarakat Madura

Dari sisi solidaritas sosial etnis, masyarakat Madura sangat kuat. Terutama mereka yang berada di tanah rantau. Banyak sekali forum persatuan kesukuan masyarakat Madura seperti di Jakarta, Kalimantan dan bahkan di Saudi Arabia. Mereka bersatu oleh ikatan Bahasa atau kekeluargaan yang kental dan khas dengan slogan taretan tibhi’. Sikap fanatisme yang kuat menyebabkan masyarakat Madura relatif  kuat menfilter budaya baru, Mereka tegas menolak budaya luar yang dipandang bersebrangan dengan tradisi local, Akan tetapi, kuat menjaga tradisi tidak berarti melepas begitu saja estetika budaya, orang madura sangat menghormati tradisi namun juga fanatik dalam beragama.

Kebaikan yang diperoleh oleh masyarakat Madura akan dibalas dengan serupa atau lebih baik. Namun, jika dia disakiti atau diinjak harga dirinya, tidak menutup kemungkinan mereka akan membalas dengan yang lebih kejam. Banyak orang yang berpendapat bahwa masyarakat Madura itu unik, estetis dan agamis. Dapat dibuktikan dengan banyaknya masjid-masjid megah berdiri di Madura dan tidak hanya itu saja, kebanyakan masyarakat Madura termasuk penganut agama Islam yang tekun, ditambah lagi mereka juga berusaha menyisihkan uangnya untuk naik haji, dari hal tersebut tidak salah kalau masyarakat Madura juda dikenal sebagai masyarakat santri yang sopan tutur katanya dan kepribadiannya.

Masyarakat Madura masih mempercayai dengan kekuatan magis, dengan melakukan berbagai macam ritual dan ritual tersebut memberikan peranan yang penting dalam pelaksanaan kehidupan masyarakat Madura. Slah satu bentuk kepercayaan terhadap hal yang berbau magis tersebut adalah terhadab bendah pusaka yang berupa keris atau jenis tosan aji dan ada kalanya melakukan ritual Pethik Laut atau Rokat Tasse (sama dengan larung sesaji).

Tradisi Masyarakat Madura

Di Madura, Islam dan budaya saling mempengaruhi satu sama lain yang secara teoritis mengikuti langkah langkah metode sejarah bahwa sinergi antara kebudayaan lokal dengan keagamaan masyarakat setempat selalu terintegrasi secara alami[1] yaitu heuristik, verifiksasi, interpretasi dan historiografi.

Ada konsep yang menghubungkan antara sistem makna dan sistem nilai, yaitu sistem simbol. Sistem makna dan sistem nilai tentu saja tidak bisa dipahami oleh orang lain, karena sangat individual. Untuk itu maka harus ada sebuah sistem yang dapat mengkomunikasikan hubungan keduanya, yaitu sistem simbol. Melalui sistem simbol itulah sistem makna dan sistem kognitif yang tersembunyi dapat dikomunikasikan dan kemudian dipahami oleh orang lain.[2]

Secara keseluruhan kebudayaan masyarakat Sumenep dibagi menjadi tiga (3) bagian: Pertama, seni musik atau seni suara yaitu tembang Tembhang Mamaca, musik Saronen, Gendhing Madure dan musik ghul-ghul. Kedua, seni tari atau gerak yaitu Tanmuang Sangkal dan tari Duplang. Ketiga, upacara ritual yaitu Sandhur Pantel, Nyadaran, Muludan, Kerapan sape, Sape sonok dan banyak lagi budaya local lainnya yang memiliki kekhasan nan unik. Akan tetapi agar pembahasan tidak terlalu meluas maka penelitian ini akan focus pada satu pembahasan yaitu tradisi tembang mamaca yang ada di kabupaten Sumenep.

Pada masa kejayaan kraton Sumenep hingga awal masa kolonial, kraton pernah dijadikan sebagai pusat kajian sastra Arab dan Jawa. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya berbagai tradisi Madura yang menggunakan media bahasa Arab dan Jawa, di samping bahasa sendiri yang terus mengalami dinamika paradoksal: kemajuan dan kemunduran sekaligus[3] tidak bisa dihindari. Itulah sekilas mengenai kondisi kehidupan masyarakat Sumenep dari berbagai sudut sehingga dalam penelitian ini muncul gambaran bangaimana tembang mamaca tumbuh subur di Sumenep hingga saat ini.

[1] Priyadi.Sugeng, sejarah lokal,(jogyakarta: ombak, 2015), 35-43

[2] Ignaz Kleden, “Dari Etnografi ke Etnografi tentang Etnografi: Antropologi Clifford Geertz dalam Tiga Tahap” dalam Clifford Geertz, After the Fact. (Jogyakarta: LKiS, 1998), IX-XXI

[3] Abdurrahman Suryomiharjo, Pembinaan Bangsa dan Masalah Historiografi, (Jakarta: Idayu Press. 1979), h. 2.

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy